Penulis :   https://twitter.com/Stoppcovid19/status/1250803723212746758 Kejadian ini terjadi ketika narasumber sedang kkn, karena tak...

Cermis : Omah Lawas Samber Duren



Penulis :  https://twitter.com/Stoppcovid19/status/1250803723212746758
Kejadian ini terjadi ketika narasumber sedang kkn, karena takut menyamai cerita kkn di desa p*nari maka narasumber mengajukan judul yang q pake ini. Karena lokasi dari semua kejadian horror ini adalah di omah lawas samberduren.
oke selesai intronya.. jujur saya merinding pas nulis cerita ini.. gaes, nama tempat dan nama2 yang ada di cerita ini sengaja di samarkan karena cerita ini sebenarnya secret story.. next masuk cerita.. ayo ramein #omahlawassamberduren biar makin semangat nulis

Kejadian ini terjadi tahun 2011 silam,bertempat di jawa bagian timur yang plat nomornya AG. Di daerah tersebut terdapat kampus swasta yang cukup banyak memiliki mahasiswa dari dalam dan luar kota.
Kampus tersebut mengirimkan mahasiswanya untuk menjalankan program kkn yang berada di kabupaten yang tempatnya masuk ke daerah desa yang berkembang sehingga program2 dari mahasiswanya diharapkan mampu untuk membuat desa tersebut terbantu. Dan desa yang dipilih adalah desa Samberduren.
Perkenalkan nama saya kus, salah satu dari 15 orang yang berada di kelompok kkn 1+8 yang di tempatkan di desa Samberduren. saya ingat hari itu hari sabtu, kami sekelompok mengadakan survey ke lokasi kkn yang harus di mulai pada hari senin,
kami semua datang sore hari sebelum ashar karena perjalanan yang cukup jauh dr kampus.
Setelah sampai di desa yang dituju kami segera bertanya ke penduduk sekitar dimana letak kantor kepala desa. Setelah bertanya kami segera menuju ke kantor desa yang ternyata tidak jauh dari tempat pemberhentian kami tadi.
Sesampainya di depan kantor desa kami langsung di sambut oleh lelaki paruh baya yang dari pakaiannya terlihat dia baru pulang dr lading atau sawahnya, ketua kelompok kami pak yori langsung mendekat
dan bersalaman dengan lelaki tersebut sedangkan anggota kelompok yang lain cuma mengamati dr motor masing2. “enek opo iki kok rame2” “ada apa ini kok rame2” itu yang terucap dr lelaki tersebut,
pak yori langsung membalas dengan sedikit cengengesan “hehehe niki lho badhe madosi pak lurah” “ini lho mau nyari pak lurah” dan lelaki paruh baya itu tertawa “hahaha enek opo kok goleki aku, yo aku iki lurahe, sadewo” “hahaha ada apa mencari saya,saya ini kepala desanya, sadewo”
setelah itu pak yori menjelaskan maksud dan tujuan kami panjang lebar kepada pak sadewo yang selanjutnya di panggil pak Wo. Setelah mendengarkan penjelasan dari pak yori, pak wo menatap tajam ke semua anggota kelompok yang mengamati dari motor masing2,
kali ini matanya tertuju kepadaku, tatapannya lama sekali tidak seperti menatap anggota kelompok yang lain. Setelah itu pak Wo bertanya ke pak Yori “siapno sangu sing akeh, dungo sing akeh, nek kene perlu kui” “siapkan bekal yang banyak, do’a yang banyak, disini perlu itu”.
Kata2 yang jelas2 membuat kami bingung apa maksudnya. Setelah itu pak Wo mengantar kami untuk survey tempat tinggal kami selama kkn.
Kami langsung menuju tempat itu yang jaraknya sekitar 2KM dari balai desa, sesampainya disana kami disuguhkan pemandangan yang menurut kami aneh. Rumah ini sangat besar,ciri khas rumah jaman belanda, rumah ini terbagi menjadi 2 bagian,
bagian rumah utama dan bagian kedua adalah ruang dengan luas sekitar 15 X 30 meter.
Pak wo mengetuk pintu dan keluarlah si pemilik rumah yang bernama ibu Ut beserta 2 anaknya yang sudah remaja, kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah utama ibu Ut, pak Wo memulai pembicaraan dengan ibu Ut yang intinya mohon ijin untuk tinggal selama kkn berlangsung
setelah itu pak Wo pun pulang,. kami masih berbincang2 mengenai rencana kami dan masing2 memperkenalkan diri.
Tanpa disadari tak ada satupun dari kami yang mendengar adzan ashar padahal jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sehingga waktu untuk sholat ashar sudah terlewati. Padahal pak yori ini orangnya agamis banget.
Setelah perbincangan dirasa cukup kami diajak untuk melihat ruangan sbelah yang akan menjadi basecamp kami selama kkn besok senin, kami masuk ke dalam rumah ibu Ut dan tanpa disadari saya melihat ke langit2 rumah dan
langsung merinding ketika melihat dirumah itu banyak sekali yang digantung di kayu utama atap rumah (blandar dalam bahasa jawa), ada kain putih yang pasti saya tebak itu adalah kain kafan, ada 2 buah gentong kecil, serta bungkusan yang entah apa isinya.
Masih dalam rumah utama itu aura yang berbeda mulai saya rasakan, semakin masuk ke dalam semakin kuat aura itu. Ruang demi ruang kami lewati dan sampailah kami di pintu yang menghubungkan rumah utama dan ruang sebelah.
Ibu Ut berhenti di depan pintu dan tanpa berbalik badan beliau bilang “mas2 dan mbak2 ojo rame ya iki surup” “mas2 dan mbak2 jangan berisik ini sudah senja (mau maghrib)”
fyi gaes SURUP merupakan pintu gerbang yang menjadi masih menjadi hal menakutkan di jawa karena disaat surup lah setan2 dan makhluk halus lainnya akan segera keluar ibarat napi yang bebas. Makin merinding ni gaes saya nulisnya..
Setelah itu kami semua terdiam menuruti apa yang bu Ut katakan, ibu Ut membuka pintu itu dan menyuruh kami masuk. Saya jd orang terakhir yang masuk dan seketika bulu kudukku berdiri setelah selangkah memasuki ruangan yang luas namun tak terawatt itu.
Di dalam ruangan itu ada 3 ruangan kosong yang kami jadikan tempat menaruh baju2 kami, 1 ruangan untuk para cewek dan 1 ruangan untuk cowok, sedangkan satu ruangan lainnya terdapat sebuah mobil kuno yang dari bentuknya terlihat seperti mobil jaman belanda,
kata bu Ut mobil itu peninggalan ayahnya. Stelah kami berkeliling ruangan itu kami di ajak untuk segera meninggalkan ruangan itu karena matahari sudah hampir tenggelam.
Entah kenapa bu Ut seperti panik dan menyuruh secepatnya meninggalkan ruangan itu. Setelah itu kami pun pulang kerumah masing2 dengan masih membawa tanda tanya besar kenapa bu Ut panik sekali tadi.
Dan hari H tiba, kami memulai kkn di desa samberduren, pagi hari kami sudah berada di rumah ibu Ut untuk bersih2 agar siap untuk di tempati karena kata bu Ut, ruangan itu sudah 5 tahun tak di jamah manusia walaupun hanya bersebelahan dengan rumah utama bu Ut.
Di hari pertama ini keanehan yang q rasakan mulai semakin Nampak, penduduk yang lalu lalang di depan rumah tadinya pelan2 setelah melihat kami membersihkan rumah itu langsung menambah kecepatannya,
entah apa yang mereka lihat tp semakin menambah rasa was2 dan penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini, bersih2 selesai pas jam menunjukkan jam 14.00.. ruangan ini sangat luas sehingga ada bagian ruangan yang Nampak gelap walaupun siang hari,
dan bagian gelap itu terletak di ruangan yang digunakan untuk mobil dan kamar cowok. kami beristirahat sejenak dan menyiapkan diri untuk rapat kelompok malam nanti..
Saya duduk di sebelah pintu yang menghubungkan antara rumah bu Ut dan ruang luas ini, ku nyalakan rokokku dan sambil ku amati sekitar siapa tau masih ada yang perlu di bersihkan, perhatianku tertuju pada kursi goyang yang berada di samping mobil kuno pak Yori sedang tidur disana,
spertinya pak Yori sedang menikmati istirahatnya setelah seharian bersih2, kursi itu bergerak perlahan, tapi lama kelamaan geraknya semakin cepat seperti ada yang sedang sengaja mengayunnya dari belakang,
pak Yori masih terlelap dalam tidurnya seakan akan keenakan seperti bayi yang sedang di ayun2 oleh ibunya. Otakku berpikir apakah mungkin orang yang sedang tidur bisa mengayun kursi goyang sekencang itu?
Hatiku dag dig dug memikirkan apa yang sedang terjadi dan tiba2 saya di kejutkan oleh suara temanku pak Dana yang menepukku di pundak
sambil berkata “heh,awan2 ojok nglamun pak Kus, rokok disumet tok gak di sedot, mbok dadekno obat nyamuk ta?” “heh, siang2 jangan melamun pak Kus, rokok Cuma dinyalakan tapi gak di hisap, kamu jadikan obat nyamuk ya?”
saya yang masih dag dig dug dg spontan menjawab “iyo e nyamuk e sak laler” “iya nyamuknya besar seperti lalat”.
Tanpa ku sadari rokok yang sudah ku nyalakan tadi habis tanpa ku hisap lagi karena fokus ke kursi goyang tadi. Setelah pak Dana menjauh kembali q memperhatikan kursi goyang itu dan booom kursi itu kosong. Pak Yori sudah tidak ada disana, saya pun clingak clinguk mencari namun zonk.
Ah sudahlah lebih baik saya mandi saja toh hari sudah sore, begitu gumamku dalam hati, lalu saya mengambil perlengkapan mandiku dan bergegas menuju kamar mandi yang berada di rumah utama bu Ut, dan ketika saya sampai di depan kamar mandi, pak Yori keluar.
“loh kok cepet to pak adusmu? Tangi turu kok langsung adus” “loh kok cepat sekali mandinya pak? Bangun tidur kok langsung mandi” tanyaku kepada pak Yori, dan dia menjawab
“turu piye to, saya bar resik2 mau langsung umbah2 klambiku reget trus langsung adus,gung sempat turu pak” “tidur gmn,selesai bersih2 tadi saya langsung nyuci baju kotor saya lalu mandi,jd belum sempat tidur”.
Bagai petir di siang bolong mendengar jawaban pak Yori, lalu yang tidur di kursi goyang tadi siapa pikirku. Ah mungkin saya terlalu lelah jd muncul macam2 halusinasi. Saya mandi dan berwudhu, bersiap untuk sholat ashar.
selesai sholat tak lupa Saya berdo’a agar dilindungi dari makhluk makhluk ghaib rumah ini. agar lancar kegiatan kkn yang kami jalani.
Senja datang tak lama kemudian maghrib pun tiba, syetan dan para sekutunya melepaskan diri untuk berkeliaran. Termasuk yang berada di rumah lawas itu.
Dan seperti sebelumnya,saat surup tiba bu Ut mendatangi kami dan tepat di depan pintu penghubung kedua rumah itu bu Ut berkata “mas2 mbak2 saiki wes surup, ojo rame disek ya!” “mas2 mbak2 sekarang sudah maghrib,jangan berisik dulu ya!”
Merinding lg gaes.. istirahat dulu... besok sambung lg.. silakan komen dan rt biar makin semangat nglanjutin nulis... ramein #omahlawassamberduren
Setelah mendengar itu kami saling pandang dan kebingungan, bukan karena ucapan atau karena suara bu Ut yang lumayan kenceng tp kami semua melihat sesosok bayangan hitam lewat dibelakang bu Ut ketika beliau ngomong tadi.
Saking shock nya kami semua terdiam dan ketakutan kami di buyarkan oleh bunyi adzan maghrib yang memecah ketakutan kami. Seakan adzan menjadi malaikat penolong kami.
. Lalu kami melanjutkan kegiatan kami masing2, setelah semuanya siap kami bersiap untuk melakukan rapat perdana, semuanya duduk berkeliling di tengah ruangan luas ini. Pintu penghubung antara rumah bu Ut dan ruangan ini di tutup agar tak mengganggu keluarga bu Ut.
Rapat pun d mulai, di pimpin oleh pak Yori sang ketua kelompok.
Kebetulan saya duduk d tengah antara pak yori dan bu April teman sekelasku di kampus, tanpa disengaja kami duduk menghadap ke arah jendela samping yang menghadap keluar dengan view pagar rumah.
Ada 4 jendela yang berjejer dsitu, kami sengaja menaruh sepeda motor kami dsitu agar kami bisa mengawasi walapun kami di dalam ruangan.
Rapat berlangsung dengan lancar sebelum bu April yang duduk disebelahku tiba2 berteriak “huaaaaaa sopo kae” “huaaaaaa siapa itu” sambil menunjuk ke arah jendela, kami semua langsung melihat kearah jendela dan tak melihat ada yang mencurigakan disitu.
Pak Dana dengan sigap mengambil senter di kamar dan berjalan mendekati jendela itu, lalu menyoroti ke luar memastikan tak ada apa2. “gak enek opo2 ki lho bu” “gak ada apa2 kok bu”.
Anggota kkn yang lain menenangkan bu April dengan memberinya minum dan menyuruh pindah tempat duduk, sekarang pak Dana yang duduk disebelahku. Kami kembali melanjutkan rapat, karena sudah terlalu lama rapat dan jenuh saya berniat merokok untuk menghilangkan kejenuhan,
korek apiku habis,saya meminjam pada pak Dana dan saya menyalakan rokokku, entah kenapa ketika ku nyalakan korek api itu mataku tertuju ke luar ruangan Nampak dengan jelas sesosok hitam besar berdiri mematung sambil memandangku.
Jelas sekali itu bukanlah manusia karena Nampak di badannya bulu2 yang tumbuh lebat memenuhi sekujur tubuh, matanya merah dan rambutnya acak acakan. Ku matikan korek itu ku lihat lagi di tempat yang sama ternyata makhluk itu sudah tak ada,
saya mencari menengok ke kanan dan kiri memastikan dia benar2 tak ada namun sayangnya saya salah, dia sudah berada dalam ruangan, tepatnya di pojok ruangan, tetap berdiri mematung dan memandangku. Berdebar dan tak karuan rasanya,
pak Dana yang disebelahku menyolek pahaku, sambil berkata “wes ojok mbok sawang pak” “sudahlah jangan dilihat pak”. Saya terkejut, pak Dana pun melihatnya, apakah anggota kelompok yang lain juga melihat? Ternyata tidak.
Saya pun penasaran dan ku lihat lagi di tempat terakhir dia berdiri, ternyata dia sudah menghilang lg. waktu menunjukkan jam 21.45 namun karena banyak sekali pembahasan dalam rapat rapatpun belum selesai,
di akhir rapat pak Dana menambahkan “bapak ibu kita perlu adaptasi dengan rumah ini, jadi tolong jangan kemana2 sendirian, agar tak terjadi hal2 yang tidak di inginkan” akhirnya rapat selesai dan kami pun bersiap untuk istirahat.
Sesuai petunjuk pak Dana kami berkelompok ke kamar mandi yang tempatnya di rumah bu Ut, tak ada satupun yang sendirian karena kejadian tadi dan menuruti apa kata pak Dana, lalu kami pun bersiap tidur,
ketika semuanya sudah siap tidur tiba2 listrik padam, “astaghfirullah opo neh iki’ “astaghfirullah apalagi ini” ucapku. Sesaat setelah listrik padam kamar sebelah yang di tempati mobil kuno itu seperti di tendang temboknya “dung” “dung” “dung”
kami sekamar bangkit dari posisi rebahan dan saling pandang dan menghidupkan senter di hape masing, kami masih saling pandang dan suara itu muncul lg “dung” “dung” “dung”. Pak Yori dan pak Dana segera bangun saya mengikuti mereka dari belakang,
kami bertiga memeriksa ruang sebelah, tak Nampak apapun yang berada di ruang itu, kosong. Cuma ada mobil dan kursi goyang. Kami segera berbalik badan untuk kembali ke kamar dan selangkah kami berjalan pak Dana menyuruh kami berhenti
“mandek sek” “berhenti dulu”, “deloken kae” “lihat itu” sambil menunjuk kursi goyang yang tadinya diam sekarang bergerak sendiri, pelan namun semakin lama semakin jelas ada bayang2 putih yang tengah duduk diatas kursi goyang itu, semakin lama semakin jelas,
ya sesosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang menutupi wajahnya.
Tanganku secara reflek menggosok2 mataku seakan akan tak percaya yang q lihat ini adalah kuntilanak, saya menggeser posisiku yang tadinya di belakang kini di samping pak Dana, pak Yori terdiam matanya tajam menatap makhluk itu, sedangkan pak Dana komat kamit entah apa yang dibacanya.
Tiba2 kuntilanak itu menghentikan kursi goyang itu dan kepalanya mendongak tak lagi menunduk, “kowe kabeh iki sopo? Wani wanine mlebu kerajaanku tanpo pamit” “kalian semua ini siapa? Kok sangat berani masuk kerajaanku tanpa permisi”.
“ngapunten, kulo niki lare kuliah badhe mbantu deso niki supados sae, mboten wonten maksud mengganggu” “maaf,kami ini anak kuliah mau membantu desa ini supaya lebih baik,tidak ada maksud untuk mengganggu” ucap pak Yori.
“kowe kabeh gak ndue toto kromo, wong tuomu gak ngajari unggah ungguh, kowe kabeh wes mlebu kerajaanku, ojo arep2 iso metu iseh selamet, amargo kowe wes wani nganggu saya”
“kalian semua tak punya tata karma, orang tua kalian tidak mengajarkan sopan santun, kalian sudah masuk kerajaanku jangan berharap bisa keluar dengan selamat, sebab kalian sudah berani menggangguku"
dan kuntilanak itu hilang dengan suara khasnya. Kami bertiga saling pandang dan meneguk ludah. Dan memutuskan untuk kembali ke kamar dan tiba2 di sekeliling kami berubah menjadi sebuah istana
yang sangat besar dan megah dengan pintu emas yang posisinya tepat di pintu penghubung antara rumah bu Ut dan ruangan ini.
Ada penjaga di samping kiri kanan pintu itu, kami melihat ke segala arah istana itu, singgasana yang amat sangat indah tepat di posisi kursi goyang yang tadi ditempati kuntilanak itu. Pak dana duduk bersila dan membaca sesuatu
dan tidak lama kemudian istana itu menghilang dan kembali menjadi rumah yang kami tempati, di sebelah kiri kanan pintu yang tadinya ada penjaga istana kini berubah menjadi dua sosok pocong yang tegak berdiri. Tepat di belakang tempat yang saya duduki sore tadi, Sial sekali.
Pak Dana bangkit dari duduknya dan segera mengajakku dan pak Yori kembali ke kamar. Karena masih dalam kondisi ketakutan saya tak berani berbaring seperti yang lain, Tak lama kemudian listrik menyala,
aku sempat melihat jam yang ada di hapeku ternyata sudah pukul 01.18. saking capeknya rasa takutku hilang dan tertidur dalam kondisi duduk. Ternyata gangguan penghuni omah lawas tak berhenti disitu.
Dalam tidurpun aku di datangi oleh seorang perempuan yang menyuruhku berdiri dari dudukku, saya merasa tak asing dengan sosok itu namun tak jelas wajahnya, semua di sekitarku putih seperti awan, dia menggandengku dan seperti kerbau yang d cucuk hidungnya saya pun mengikutinya,
tba2 lokasinya brubah menjadi sebuah jln aspal,kami berdua melayang menyusuri jlan itu,iya,tak menyentuh jalan aspal sama sekali, dia tetap menggandengku dan saya di belakangnya, rasanya jln ini tak asing bagiku, y benar saja, itulah jln aspal rusak dr balai desa menuju rumah bu Ut
di depan pintu rumah bu Ut kami berhenti dan masuk tanpa membuka pintu. Kami berjalan memasuki rumah dan berhenti tepat dibawah blandar (kayu utama penyangga rumah) tempat bu Ut menggantung gentong kecil, bungkusan2 kecil dan kain kafan yang di lilitkan ke blandar itu,
wanita itu tiba2 menoleh ke arahku dan ternyata itu adalah bu April, ya saya sangat kenal wajah itu karena bu April adalah teman sekelasku d kampus.
Bu April menatapku, wajahnya pucat, ia mendekatkan wajahnya ke arah telingaku
dan berbisik “ngunduh wohing pakarti” “akibat dari perilakunya sendiri” saya tak paham apa maksud sebenarnya dari kata2 itu yang pasti suara bu April tak seperti biasanya yang cempreng, kali ini lebih serak dan berat,
saya msih berdiri terdiam dan bu April tba2 mencium leher kananku, lalu bergeser ke bibirku, lalu bergeser lagi ke leher kiriku, tangannya membuka kaosQ yang bergambar band favoritku Marjinal, masih di ciuminya leherku, skarang telingaku yang di jilatinya, saya tak membalas sedikitpun,
hanya berdiri mematung tanpa kaos dan hanya mengenakan sarung dan celana pendek di dalamnya, bu April semakin menggila, di bukanya sendiri bajunya, ya baju yang sama ia kenakan ketika rapat tadi.
Nampaklah buah dadanya, ditariknya kepalaku ke arah bibirnya dan kamipun berciuman. Digesernya kepalaku ke arah buah dadanya dan di tekannya kuat2 ke arah buah dadanya yang sebelah kanan, aku tak bisa bernafas, saya menggeliat, meronta2 seperti ikan yang tak lagi didalam air,
dengan jelas ku dengar bu April tertawa namun bukan ciri khas tertawa bu April yang biasanya ku dengar di kelas. Masih saja saya di benamkan di buah dadanya kali ini dia lebih kencang dia mendorongku lebih kencang lg tepat di putingnya, kali ini saya tak sanggup menahannya lagi,
masih saja saya memberontak dari pelukan dan tangannya yang membenamkan kepalaku kearah buah dadanya. Hampir habis tenagaku sudah, tiba2 saya di merasa kepalaku ditarik oleh seseorang dan melepaskanku dari buah dada bu April tadi,
lalu saya mendengar suara ribut dan banyak yang memanggil manggil namaku, saya membuka mataku dan semua anggota kelompok kkn sudah mengelilingiku, saya berada di tempat yang sama, masih di bawah blandar itu.
Pak Dana masih berkomat kamit di belakangku sambil memegang kepalaku dari belakang, Pak Yori memakaikan lagi kaosku, lalu saya pun disuruh minum oleh bu Ut yang berada di sampingku, semuanya seperti terheran2 melihatku, ada yang menangis, saya pun bertanya apa yang terjadi.
Pak Yori menjelaskan “sampean ujuk2 bengok2 pak Kus, pak Dana sing eroh sampean metu kamar di kiro nek jeding, ujuk2 malah bengok2 nek kene karo udho”
“kamu tiba2 berteriak pak Kus, pak Dana yang tau kamu keluar kamar, di kira kamu mau ke kamar mandi tapi tiba2 malah teriak2 sambil telanjang”.
ya ternyata tanpa disadari saya sudah telanjang, sarungku telah berpindah ke kepalaku, celana pendekku entah kemana. Sarung itulah yang membuatq tak bisa bernafas.. lanjut besok ya.capek.ramein dong #omahlawassamberduren biar saya semangat nulisnya, bukan malah #toge ato #PesanSambat
Hari pertama kkn sudah berakhir dengan kejadian2 yang mengerikan disebabkan oleh gangguan makhluk makhluk yang merasa terganggu dengan kehadiran kami, akhirnya setelah mandi pagi pak Yori memutuskan untuk rapat kelompok
dan keputusannya adalah kami memanggil seorang kiai yang berada di desa sebelah untuk mengatasi kegelisahan dan ketakutan kami. Tentunya dengan seizin dari bu Ut yang punya rumah.
Setelah sholat dhuhur pak kiai datang dengan membawa harapan bagi kami agar segera tenang tanpa gangguan. Pak kiai masuk rumah, melihat sekeliling dan langsung berjalan menuju ruangan kosong tempat mobil kuno dan kursi goyang.
Beliau berkata “Subhanallah.. bener jare wong2, tibake iki kerajaan jin dan setan sing selalu ngganggu penduduk sekitar” “subhanallah.. betul kata orang2, ternyata ini kerajaan jin dan syetan yang selalu mengganggu penduduk sekitar”.
Ternyata benar yang di katakan kuntilanak malam itu, kami masuk kerajaannya tanpa permisi. Pak kiai menyuruh sebagian anggota kelompok untuk menunggu di luar, karena beliau akan melakukan sesuatu yang kami tidak paham.
Kami berada di kamar cowok, sedangkan Beliau mengeluarkan sajadah dan duduk di depan ruangan kosong itu. Tidak lama berselang bu Ut keluar dari rumahnya dan mendekat ke arah pak kiai, mereka membicarakan apa yang akan dilakukan,
dan dari obrolan mereka dapat di ambil kesimpulan bahwa pak kiai tidak mengusir jin dan syetan yang ada di rumah ini namun Cuma mohon ijin agar tak di ganggu. Ternyata jin dan syetan yang ada dirumah ini berhubungan dengan masa lalu yang menimpa keluarga bu Ut.
Begini asal muasalnya, keluarga bu Ut adalah seorang darah biru, banyak yang menginginkan untuk menikah dengan bu Ut, dan karenanya keluarganya pernah di serang oleh santet yang dikirim oleh orang yang menjadi lawan suaminya untuk mendapatkan cinta bu Ut,
tahun pertama pernikahan aman dan woles2 aja, namun menginjak tahun kesembilan tepat di malam jum’at kliwon bulan ketiga terdengar suara ledakan di atas rumah ketika mereka sedang terlelap tidur, mereka terjaga dan memeriksa apa yang terjadi namun nihil.
Sejak saat itu tingkah dan sifat suami bu Ut berubah yang tadinya lemah lembut jadi kasar dan tempramen seperti cewe ketika pms, berbulan bulan sejak kejadian itu bu Ut tak pernah disentuh suaminya, jangankan disentuh, saling pandang pun tak pernah lagi.
Dan puncaknya ketika menginjak bulan ke 9 tahun itu. Tiba2 suami bu Ut muntah darah, di bawa ke dokter dan rumah sakit namun tak ditemukan penyakitnya, setelah di bawa ke dukun yang berada di kampong ini beliau menyuruh mengambil sesuatu di bawah kasur yang ditempati suaminya tidur,
ternyata disitu banyak paku, kawat dan jarum yang sudah berkarat, bu Ut mengubur semua benda2 yang ditemukan tersebut dan suaminya normal kembali, 3 hari setelah itu hal yang mengejutkan terjadi,
suami bu Ut meninggal dalam keadaan bunuh diri dengan gantung diri di ruangan kosong yang di tempati mobil dan kursi goyang.
Setelah itu bu Ut mendatangi dukun itu lagi namun kejadian yang sama, dukun itu tewas di dalam sumur rumahnya. Penduduk sekitar mulai menjauhi dan mengucilkan bu Ut karena takut kejadian seperti yang terjadi kepada dukun dan suaminya itu mengenai mereka
Tetapi ada salah satu warga yang kasian dan menyarankan untuk datang ke desa G disitu ada dukun sakti yang bisa menangkal itu semua,
akhirnya setelah mendatangi dukun tersebut bu Ut di beri tugas untuk menggantung kain kafan, gentong kecil berisi tanah dan keris serta kurungan burung yang kosong
sejak saat itu tak ada lagi kejadian aneh dirumah itu namun sang dukun punya syarat lagi, yaitu ruangan kosong yang kami tempati ini tak boleh berisik,
nah makanya bu Ut selalu mengingatkan kami tak boleh berisik ketika surup karena itu lah syarat dari mbah dukun yang di datangi bu Ut, bu Ut juga di beri tau bahwa rumahnya akan aman selama barang2 itu di gantung,
karena barang2 itulah yang menjadikan jin dan syetan dirumah itu tak bisa keluar namun menjaga kondisi rumah..
Akhirnya setelah pak kiai mendapat penjelasan dari bu Ut kondisi rumahnya maka pak kiai melaksanakan tugasnya. 2 jam sudah entah apa yang dibacanya dan beliau sempat terpental dari sajadah yang di dudukinya, namun beliau mampu bangkit kembali dan meneruskan apa yang dilakukannya.
Beliau ngos2an dan mendatangi kami “wes mari mas,pokoe welingku 2 ya, lek surup ojo rame karo jendelo sing gedhi kae ojo di sawang pas malem jum’at kliwon ba’da maghrib”
“sudah selesai mas, pokoknya pesanku 2 ya, ketika senja jangan berisik dan jendela yang besar itu jangan di lihat pas malam jum’at kliwon setelah maghrib”.
Sejak saat itu kami menerapkan apa yang dikatakan pak kiai dan semuanya berjalan lancar, meskipun terkadang di jendela itu seperti ada yang sedang menengok kami dan mengawasi kami. tamat.


Sumber : https://twitter.com/Stoppcovid19/status/1250803723212746758

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.