"20 tahun lalu, saya adalah sopir pengantar tebu" kata pak Sarip, "waktu itu maghrib. saya, sedang tidur di dalam tr...

Cermis : Para Penghuni Pabrik Gula - Bagian 2




"20 tahun lalu, saya adalah sopir pengantar tebu" kata pak Sarip, "waktu itu maghrib. saya, sedang tidur di dalam truk, terlalu capek setelah menempuh perjalanan jauh untuk mengambil tebu dari kebun pabrik di kota sebelah. lalu. tiba2, ramai orang berteriak, sayapun terbangun" "bergegas saya mencari tahu, apa yang terjadi, tapi tak seorangpun mendengar, akhirnya, saya ikut berlari dengan yang lain"
Pak Sarip masih menatap kosong, sembari menyesap kopi hitamnya, beliau menatap saya yang tampak serius mendengar ceritanya.
"kamu percaya dengan adanya demit?" tiba2 pak sarip bertanya seperti itu.

saya yang pernah berurusan dengan makhluk seperti itu, hanya mengangguk, lebih ke terganggu dengan pertanyaanya.

"nggih pak lek, saya percaya" kata saya ragu.

Pak sarip mengangguk, puas dengan jawaban saya.
"kalau rajanya demit?" tanya beliau lagi.

dan disinilah, beliau bercerita semua.
Malam ini. saya akan tulis semua dari sudut orang yang pernah atau mengenal lokasi pabrik jauh lebih lama dari saya. sebelum saya mulai, gak ada salahnya kalian melihat apa yang ada di samping kanan, kiri kalian, mungkin mereka sedang berdiri memperhatikan. ingat, kita tidak pernah sendiri
"hari sudah petang, penerangan di dalam pabrik tidak terlalu bagus, namun saya masih mengejar beberapa orang, sampai akhirnya mereka berhenti di satu titik" pak Sarip menyesap kopinya kembali.

"disana, rupanya sudah banyak sekali orang, mereka berdiri diam menatap sesuatu"
"saya yang tidak tau apa2, ikut menatap ke arah mana mata mereka tertuju" kata pak sarip "sampai akhirnya saya tau, di atas pohon Waru, tepat di samping bangunan utama produksi, ada yang melayang tertiup angin"

"itu, adalah karyawan pabrik yang gantung diri" ucap pak sarip pelan.
saya yang mendengar itu, sejenak terdiam, pikiran saya menerawang jauh, seolah2 saya melihat apa yang di ceritakan pak sarip ada di depan mata saya langsung.

kini beliau mengambil sesuatu di kantongnya, sebatang rokok kretek.
"sejak kecil, saya bisa melihat hal2 seperti itu, bahkan, waktu saya nyopir di banyuwangi buat ambil tebu, saya gak pernah takut, sampai saya di temani pocong di alas purwo, saya biasa aja, toh apa sih yang bisa di lakukan oleh pocong, palingan cuma bikin kita kaget dan bau pesing"
pak Sarip mulai menghisap rokok kreteknya. "tapi petang itu, hawanya benar2 tidak biasa. seperti ada sesuatu yang sangat menakutkan, jauh lebih menakutkan ketimbang, genderuwo, kuntilanak, pocong, alah iku yo mek ecek2"

"TAPI YANG DISINI" mendadak pak Surip mengeraskan suaranya.
saya semakin tegang mendengarnya. "BUKAN SEKEDAR DEMIT, konon, Sopo wani ndelok demit iki, nyowo taruhane" (Siapa berani melihat iblis ini, nyawa taruhanya)

"itu apa to pak lek?" kata saya penasaran.
"Rojone Dedemit nang kerajaan iki" (rajanya demit yang ada di kerajaan ini)

"kerajaan apa maksudnya pak lek?" saya masih penasaran.

"ngger, tak kasih tau, di dalam pabrik ini, ada sebuah kerajaan tak kasat mata, sebenarnya saya tau dari dulu, sudah terasa setiap masuk kesini"
"tapi, tidak ku sangka, yang ada disini rupanya adalah Aji manunggal" kata pak Surip.

"apa itu Aji manunggal?" kata saya

"dulu, yang seperti ini sudah jadi bagian budaya kita orang jawa, nyembah mereka, dan tempat mereka memang seharusnya gak disini, tapi sejak di usik"
"sejak di habisi, kemudian agama mulai di kenal, mereka akhirnya menyebar, manunggal itu cuma kiasan, yang artinya, makhluk ini sudah hidup jauh sekali dari usia manusia, bisa di bilang, tempatnya mungkin dari tempat yang jauh semacam pelarian"
"jadi, raja demit ini, bukan asli dari tanah ini"

pak Sarip mengangguk, lebih ke terpaksa, terpaksa agar saya tidak bertanya lagi, beliau akhirnya melanjutkan.

"kamu tahu ngger, kalau orang kendad (gantung diri) bagaimana matinya?"

"mboten pak lek" kata saya.
"kebanyakan, mereka mati dengan mata terbuka, lidah mereka biasanya melet, karena kesakitan sesaat sebelum gantung diri" pak Sarip menghembuskan asap rokonya, "tapi yang satu ini, dia meninggal dengan wajah ketakutan, sebegitu ketakutanya, sampe wajahnya tegang mengeras"
"trus pak lek, hubunganya apa?"

pak Surip kali ini menatap saya, di wajahnya penuh guratan yang menandakan kini beliau sudah berada di usia yang tidak muda lagi, "Apalagi kalau bukan karena, di TEROR"

saya cuma bisa mendengar kalimat itu, sembari terngiang di telinga saya. "TEROR"
suatu hari, saya punya kesempatan buat bercengkrama dengan keluarga besar saya, disana, lengkap dimana ada bu de dan pak de, termasuk, de no yang lagi ngobrol sama pak lek yono, jadi saya pun ikut bergabung.

masih teringat peristiwa dimana de no menunjukkan kasih sayang beliau sama saya
jadi saya tiba2 ngomong sesuatu yang entah kenapa seperti di prediksi oleh de no.

"ojok kuatir, gak bakalan onok seng ganggu awakmu maneh" katanya sembari tersenyum yang buat saya ngeri, de no adalah orang yang tidak pernah tersenyum, tapi saya pikir, saya perlu tau, maksud ucapan beliau
"Pak De, kerajaan yang dulu pak de pernah ceritakan itu asli tidak?" kata saya,

"gak usah takok, awakmu yo gak bakal paham" (gak usah tanya, kamu juga tidak akan bisa paham) dengan nada ketus.

"pak De, bisa ceritakan itu lagi"

belum selesai saya ngomong, de No tiba2 ngomong.
"koncomu wes bakal pincang seumur hidup"

"Endah pak de namanya" kata saya, "siapa yang melakukan itu pak De"

"Rogo Joglok, iku jenenge" kata de no

"apa itu pak De" kata saya

"Wani ndelok ta awakmu, nek wani ayok tak jak engkok bengi" (berani lihat ta kamu, kalau berani nanti ikut)
"mboten pak de" kata saya, menolak keras2

"cah bagus"(pinter) , "gak banyak orang berani lihat Rogo joglok, sebenarnya, koncomu itu beruntung, yang dia temui baru Rogo Joglok"

saya langsung bingung. "beruntung piye to pak de, koncoku di gepuk sampe cacat"

"salahe koncomu" kata de no
"salah pripun pak de"

"sak iki takok" (sekarang aku tanya) "lapo awakmu nyedeki Karayatan (kerajaan) demit nek gak onok perlune"

"nyari layangan pak de, kebetulan layanganya terbang kesitu"

"Goblok berarti kamu" kata de No, semakin ketus. "Layangan regane piro?"
(harga layangan berapa?)

"500 ripis pak de" jawab saya.

"nyowomu mok regani 500 ripis" (nyawamu kamu hargai 500 rupiah)

saya terdiam cukup lama, apa yang de no katakan, memang tidak salah, dan saya jadi sedikit malu akan hal itu.

"onok Jembrong ireng sing luwih kudu mok waspadai"
"Jembrong ireng" saya mengulangi, entah kenapa, nama itu seperti tidak asing.

"awakmu eroh nek gok kunu pusat'e" (kamu tahu kalau di situ adalah pusatnya) jawab de No

"Mboten de" (tidak pak de)

"kena tak kandani" (sini tak kasih tau)

saya bisa melihat de no mulai tampak serius
"Rogo joglok itu adalah kepercayaan dari maha ratu, jadi ketika ada manusia mendekati tempat itu, yang pertama dia temui ya pasti makhluk itu" kata de no, matanya melotot ke arah saya.

"tau? bagaimana wujudnya?"

saya cuma menggeleng.
"bentuknya besar, di kepalanya ada tandur kerbau, gak cuma itu, matanya merah menyala, kulitnya hitam legam, bahkan orang yang pernah melihatnya tidak akan pernah berani untuk menemuinya, apalagi mengajaknya bicara" de no mulai menceritakan.

"sedangkan jembrong ireng pak de? "
"Jembrong ireng?" de no sempet terdiam beberapa saat. "dulu, sebelum pak de menggantikan mbah Minto, juru kunci pabrik yang sudah meninggal, pak de hanya pernah bertemu sekali dengan Jembrong ireng"

"wujudnya pak de tidak tahu jelas" saya bisa melihat, wajah pak de berubah.
"yang pak de tau, kakinya panjang, panjang sekali, sekali dia jalan dia bisa melangkah sejauh 300 meter. tidak cuma itu, bulunya berwarna kemerahan, tapi satu yang pak de ingat, suaranya sangat mengerikan, bila pak de ingat, hampir seperti suara macan"
lantas saya bertanya "pak de, mbah Narno sering mengatakan maha ratu, apakah rajanya ini perempuan?"

de no hanya melirik saya sebelum mengatakan, "tidak ada yang tahu persis seperti apa dia. ada yang bilang perempuan ada yang bilang pria, yang pak de tahu, dia berbahaya"
"kenapa pak de gak tau, bukanya pak de yang di percaya menjaga pabrik ini?" saya yang tidak puas dengan jawaban de no mulai protes, namun hanya di tanggapin dingin.

"gini ngger, apakah lantas kamu di kasih kunci, bisa semena2 masuk ke rumah orang yang memberi kamu mandat?"
"dunia kita sama mereka ndak sama, apa yang kamu lihat sekarang bisa jadi berbeda sekali dengan apa yang mereka lihat, yang jadi pertanyaan, bisakah kita hidup berdampingan tanpa sebuah konflik dengan mereka" kata de no, yang langsung menutup argumen saya.
jadi, bisa di bilang hingga saat ini saya gk tau bagaimana rupa rajanya. tidak ada yang tahu, yang jelas, kawasan tempat rajanya saja di jaga ketat oleh ajudan2nya, tapi, saya pernah denger, ada satu kisah, dimana ada seseorang yang memiliki pengalaman mengerikan di pabrik itu
beliau adalah saksi dari sebuah kebakaran hebat yang pernah terjadi di kawasan zona selatan, namun, malam ini, cukup sampai disini dulu..
Maaf ya, 2 hari ini gk muncul, karena sudah 3 hari ini badan saya demam, drop abis, alhamdulillah sudah agk mendingan sekarang.

sesuai janji saya, saya bakalan ceritain tentang kebakaran yang pernah terjadi di zona selatan, alasan itulah kenapa zona ini yang paling berasa ngerinya
well. cerita ini di ceritakan bapak dari Mas Anton, karena latar waktu ceritanya waktu bapak masih kecil, berarti umur mas Anton jauh lebih tua dari bapak, tapi saya panggil mas Anton buat memudahkan kalian memahami, isi ceritanya.
tragedi kebakaran ini sendiri terjadi jauh sebelum saya lahir, jadi daripada saya kebanyakan intro mari kita mulai ceritanya..

mas Anton adalah pemuda dari semarang, beliau pertama kali menginjakkan kaki di pabrik ini setelah mendapat rekomendasi dari pamanya yang kebetulan memegang jabatan sebagai salah satu mandor. waktu itu, semua sektor di pabrik ini masih bekerja, belum ada sektor atau zona yang stop
mas Anton sendiri mendapat bagian sebagai satpam karena latar belakang pendidikan, beliau masih terhitung sebagai karyawan kontrak.

mas Anton tidak sendiri, karena beliau di terima bersama mas Fadhil, putera kota sebelah. disini, karena mereka berdua dari luar kota maka..
wajib hukumnya bagi mereka menempati rumah jaga atau markas Satpam yang ada di area tengah.

meski namanya rumah jaga, namun kondisi dari luar, Rumah ini lebih dari layak, mirip rumah Belanda untuk pejabat tinggi, hanya saja.. tentu saja. angkernya gak tanggung2
saya bakal jelasin pelan2, biar kalian merasakan betapa merindingnya saya waktu bapak cerita ketika mas Anton menceritakan pengalaman beliau sewaktu tinggal disana, dan tragedi aneh sebelum kebakaran itu terjadi.
siang hari terik, mas Anton di antar dengan mobil lama, setelah baru di jemput dari stasiunt. ketika pertama kali melihat pabriknya, ia tergugah, megah dan besar pabrik tempatnya akan bekerja.

rasa senang setelah menganggur lama membuat mas Anton bersemangat.
tanpa bisa menyembunyikan rasa senangnya, mas Anton antusias menyambut uluran tangan pak Edi, kepala satpamnya.

rupanya, suatu kebetulan, karena pak Edi juga kedatangan calon satpam baru yang lain, namanya, mas Fadhil.
mas Anton segera menyambut tangan mas Fadhil. mereka langsung bisa akrab.

Siang itu, Pak Edi menjelaskan prosedur kerja satpamnya yang akan di bagi menjadi 3 shift dalam kurun satu minggu kerja. mas Anton dan mas Fadhil hanya mendengarkan, sampai, pak Edi berkata. "semoga betah"
meski dengan ekspresi tersenyum, rupanya, kalimat itu cukup menganggu mas Anton.

Pak Edi juga menjelaskan, ada 7 satpam yang saat ini bertugas, dengan jam kerja yang sudah di atur, termasuk jam kerja mas Anton dan Fadhil yang akan sgera di beritahu.
untuk tempat tinggalnya, Pak Edi mengajak berkeliling di markas Satpam yang menyerupai rumah itu, semua fasilitasnya sangat lengkap, ketika mas Anton mengajukan pertanyaan dimana yang lain, dan kenapa rumah ini tampak kosong, Pak Edi mengatakan, "yang tinggal kalian berdua saja"
dengan alasan mereka dari luar kota dan agar tidak perlu mencari kost pak Edi sudah mengatur markas ini untuk mas Anton dan mas Fadhil.

"bapak juga akan ada disini kan?" tanya mas Anton,

"mboten, saya ada keluarga di rumah" jawab pak Edi ramah

disini, mas Anton melihat sesuatu
wajah mas Fadhil pucat pasi.

karena mas Anton masih baru dan dia tidak mau bertanya lebih banyak akhirnya mereka menerimanya.

Mas Anton memlih kamar dekat ruang tamu sedangkan mas Fadhil memilih kamar di belakang, rupanya ada alasan kenapa mas Fadhil memilih kamar itu.
karena bosan, Mas Anton menghampiri Mas Fadhil di dalam kamar, waktu itu, beliau lagi beres2 tas dan keperluanya. baru menginjak tekel di kamar mas Fadhil mas Anton mencium wangi melati yang menyengat sekali.

"wewangianmu ta iki mas?" (parfumu kah ini mas)
mas Fadhil cuma tersenyum seolah mengiyakan, namun, mas Anton merasa tidak nyaman di kamar itu

"Aneh yo mas, kok markas seapik iki gak onok seng ngenggoni, iki kan fasilitas pabrik, lumayan hemat duwit kost" (Aneh ya mas, kok gak ada yang nempati tempat ini, padahal lumayan hemat)
Mas Fadhil masih tersenyum mengiyakan, disini mas Anton berpikir mungkin mas Fadhil orang pemalu dan pendiam, atau, dia menyembunyikan sesuatu.

Sore hari, Pak Edi datang, beliau meminta tolong salah satu dari mereka harus bertugas malam ini, karena satu satpam sedang sakit.
Mas Anton dan mas Fadhil memandang satu sama lain, sampai akhirnya mas Fadhil mengajukan diri. maka, bertugaslah mas Fadhil malam itu. mas Anton berterima kasih akan hal itu, karena beliau merasa belum siap saja.

mas Fadhil hanya memberi pesan aneh. "habis sholat isya, tidur"
rupanya pesan mas Fadhil menjadi semacam beban pikiran bagi mas Anton, setelah sholat isya di kamar, mas Anton malah tidak bisa tidur, sampai wewangian itu muncul kembali.

"Fadhil" panggil mas Anton saat sekelebat ada yang melewati pintu kamarnya yang terbuka, mas Anton berdiri..
beliau keluar kamar, bingung. kenapa Fadhil malah balik ke rumah bukanya kerja. takut terjadi apa2, mas Anton menuju kamar mas Fadhil, rupanya wangi melati yang menyengat itu memang dari kamarnya mas Fadhil, namun, mas Anton tidak yakin, kalau ini bau parfum.
di bukanya pintu kamar, tidak ada siapa2 di dalamnya, namun, wewangianya menyengat sekali.

rasa penasaran dari mana bebauan itu membuat mas Anton lancang masuk kamar mas Fadhil, beliau mencari kesana kemari, sampai, ia mendengar, suara wanita tertawa terkikih
merinding, bulukuduk mas Anton berdiri. ia yakin mendengar suara wanita tertawa, namun, tidak ada siapapun disini, sampai, mas Anton membuka almari, bau melati berubah menjadi bau cendel mati(anak tikus). begitu almari di buka, mas Anton terpekik kaget, ada kepala terpajang dsana
kepala wanita yang nyengir lebar menatap mas Anton.

besoknya, mas Anton sudah terbangun di atas kasurnya. ia masih ingat wajah itu di kepalanya, mas Fadhil baru saja pulang, dan ketika beliau pulang, di sambut wajah kaget mas Anton.

"Mas, onok ndas kelontong gok lemarimu"
(mas ada batok kepala di lemarimu)

Mas Fadhil hanya memandang mas Anton, tampak tidak terkejut. "wingi lak wes tak warah, mari sholat turu ae gok kamar" (kemarin kan sudah tak bilangin, selesai sholat tidur saja)

rupanya, mas Fadhil sudah tau.

beliau tau, penghuni di rumah ini
mas Fadhil akhirnya menceritakan semuanya, katanya, alasan kenapa memilih kamar di belakang karena kamar itu penghuninya yang paling jahil, dan memang suka menganggu, namun, kamar lain penghuninya lebih ke tidak ramah, mas Anton yang mendengar itu, wajahnya jadi tegang
mas Fadhil mikir mas Anton, karena kalau mas Anton dapat kamar yang di belakang takutnya bisa di jahilin habis2an

"lho terus nggok kamarku ra onok ta mas?" (lalu yang di kamarku memang gak ada ta mas?)

"onok. tapi nek aku ngomong, awakmu isok girab2"
(ada, tapi kalau tak kasih tau, takutnya nanti kamu bisa kepikiran terus)

hari itu juga, mas Fadhil bercerita, katanya, ada sesuatu yang gak kasat mata dan ini di atas pengetahuanya tentang pabrik ini. "sampeyan tau eroh seng jenengane, Kerajaan demit" kata mas Fadhil
"Kerajaan opo to mas" (kerajaan apa maksudnya mas?)

mas Fadhil bercerita, rupanya kemarin ia berjaga di zona selatan, pas ia berjaga, rupanya ia ketiduran, ia di bangunkan oleh seorang kakek2, sekali lihat mas Fadhil tau, dia bukan manusia.
mas Fadhil juga tau, tidak ada energi negatif pada diri kakek2 itu. di tanyalah sama mas Fadhil, "Panjenengan griyane pundi pak, ngapunten kulo mboten gadah niat ganggu" (anda rumahnya dimana pak, mohon maaf tidak ada maksud menganggu saya)

si kakek menunjuk pohon gede.
disinilah si kakek menjelaskan segalanya. rupanya, sang kakek tertarik dengan mas Fadhil, beliau adalah seorang yang berilmu, karena ia mempelajari kebatinan sejak kecil, namun, perlu di garis bawahi, bahwa, semua penunggu disini, ada yang sangat membenci orang seperti mas Fadhil
yang jadi masalah adalah, yang benci dengan orang berilmu kebatinan ini adalah para Panglima di kerajaan Demit ini.

mas Fadhil langsung tau maksud kakek itu. "lalu harus bagaimana saya mbah?" tanya mas Fadhil.
si kakek hanya menasehati, ada beberapa titik dimana mas Fadhil tidak boleh sering2 kesana. termasuk, titik dimana ia sekarang sedang tidur.

rupanya, itu adalah tempat singgah si panglima, dan panglimanya sendiri adalah 6 Macan putih. namun saat ini, mereka hanya mengamati
mas Anton yang mendengar itu bingung. ia tidak tau lagi harus bagaimana, jarak semarang dan tempat ini cukup jauh, dan sungguh hal yang memalukan bila ia harus pulang padahal belum juga mendapat gaji pertamanya.

ini lah maksud kalimat pak Edi. "Semoga betah ya"
mas Fadhil menenangkan mas Anton, bahwasanya mereka tidak akan menganggu atau mencelakai bilamana kita tidak mencari gara2 terlebih dahulu, terkecuali yang memang jahil, mereka jahil hanya untuk mencari perhatian, bila di biarkan, mereka akan capek sendiri.
jaga lisan dan perbuatan dimanapun, tetap berdoa dan meminta perlindungan pada zat yang maha tinggi, maka, akan di jauhkan dari godaan setan.

namun kalimat hanya sebatas kalimat, bila menghadapi kejadian yang terjadi, kalimat itu akan terdengar seperti angin lalu,
saat, mas Anton mulai bekerja di malam pertamanya.

di Pabrik, gula umumnya saat malam memang tidak ada aktifitas apapun, kecuali satpam yang bertugas dan beberapa karyawan yang memiliki kepentingan.

mas Anton mendapat tugas untuk mengecek sektor 6 dan 7 yang berada di zona produksi
ia menggunakan sepeda ontel untuk memeriksanya, rupanya, sepeda yang ia kendarai lebih berat dari yang ia kira.

mas Anton mulai membaca ayat2 suci, dan sepedanya kembali normal, namun untuk beberapa saat saja. karena setelah itu, ia harus mengayuh lebih kuat lagi.
berbekal nekat, mas Anton melirik apa yang ada di belakangnya, rupanya, di boncengan sepeda ontelnya ada pocong yang duduk ikut menemaninya.

ia akhirnya kembali ke tempat teman2 jaganya, dengan wajah pucat, ia bercerita tentang apa yang terjadi, namun, semua memasang wajah biasa2 saja
"Oalah, mek pocong Ton Anton" kata teman jaganya. "Aku tau, di ikuti genderuwo biasa ae"

entah bercanda atau tidak, namun obrolan itu tampak serius meski di iringi gelak tawa.

malam itu, ia jadi satu2nya yang tetap terjaga sementara yang lain tidur di pos jaga.
namun, dari semua kisah mas Anton, ada satu kisah yang tidak akan pernah saya lupain, waktu bapak cerita dulu.

entah itu malam jumat kliwon atau apa, sejak keluar dari rumah, mas Anton merasa firasatnya tidak enak.
ia berjalan menelusuri jalan pabrik yang remang2, bergerak menuju pos jaga yang jaraknya 2 km, dari rumah jaganya. mas Fadhil yang di ajak tukar shift menolak beralaskan badanya sedang meriang padahal, ia tau, malam itu adalah malam dimana semua penghuni sedang ramai.
di perjalanan, mas Anton mendengar suara orang menabuh gamelan, seperti ada pertunjukkan ludruk atau wayang, yang di pikirkan mas Anton, siapa yang mengadakan hajatan itu? desa tetangga kah?

namun, ia terdiam, manakala, mengamati, ada sesuatu di hadapanya.
seseorang tengah menari, di sebuah lahan rumput yang gelap gulita, siluetnya menyerupai penari jaipong, namun, suara gamelan terdengar di mana2.

mas Anton mendekatinya perlahan, rasa penasaran sudah membuang akal sehatnya.
rupanya, penari itu tidak sendirian, di kanan dan kirinya ramai orang yang melihat.

kaget, mas Anton semakin mendekatinya. bagaimana mungkin ada pesta malam begini di dalam pabrik, sewaktu mendekati, mas Anton mencium wangi daun kemangi bercampur wewangian bunga kamboja
ketika tanpa sadar, mas Anton terus mendekati lahan itu, ia mulai merasa tidak bisa mengendalikan diri untuk pergi. ia tau, ada yang tidak beres waktu itu, suara anak2 dan orang tua yang tertawa di iringi lagu2 jawa menambah keinginanya untuk ikut, sampai..
Pak Edi, menyadarkanya.

"Ton. iki guk nggonmu jogo, lapo nang kene?" (Ton, ini bukan tempatmu berjaga, ngapain kamu disini)

mas Anton segera menunjuk apa yang ia lihat, namun ketika ia melihat lahan itu lagi, ia baru sadar, sudah menunjuk lahan dengan cerobong pabrik di depanya
yang lebih mengejutkan lagi, tempat itu gelap gulita tanpa ada satu orangpun disana.

Pak Edi, segera membawa mas Anton pergi, di antarnya ia ke pos jaga, ketika akhirnya ia melihat teman2 jaganya ia bercerita.

semua yang mendengar, baru kali ini memasang wajah tertarik, sampai
mas Anon bercerita, bila ia tidak di sadarkan pak Edi, mungkin besok ia sudah lenyap.

semua temanya, saling menatap satu sama lain. "Pak Edi opo maksudmu?" (Pak Edi apa maksudmu?)

"Pak Edi" kata mas Anton menegaskan "iki lho wonge" (ini loh orangnya)
namun, tak seorangpun berdiri disana.

mas Anton baru di beritahu, Pak Edi, tidak akan jaga malam hari ini, ia sedang ada di rumah, anaknya sedang sakit.

mas Anton hanya terdiam, termangu memikirkan siapa yang sudah menemaninya malam ini.
setelah malam itu. mas Anton jatuh sakit, mas Fadhil mengatakan seharusnya mas Anton bersyukur, siapapun yang menyerupai pak Edi berniat baik dengan menjauhkan mas Anton dari pusat yang seharusnya memang tidak ia datangi.
seharian mas Anton hanya tiduran di dalam kamar, badanya letih, masih tidak bisa menerima ini begitu saja, namun, kemudian ia ingat, sekarang, ia di rumah ini sendirian setelah mas Fadhil pergi untuk bekerja di shift sore
hari mulai petang. mas Anton bergegas mengambil air wudlu kemudian masuk ke dalam kamar. di bentangkan sajadahnya di samping tempat tidur, kemudian berniat untuk menunaikan shalat maghrib, namun, petang ini, ia tau, dirinya tidak sendirian di dalam kamar ini.
mas Anton berniat, lalu menunaikan shalat maghrib di dalam kamar, namun, jangankan untuk mengkhusyukkan diri, untuk membaca al- fatihah saja beliau beberapa kali harus mengulanginya, karena, seseorang seperti melihatnya entah dari sudut mana. yang mas Anton ingat, ada byangan wajah
bayangan wajah itu seolah tertawa melihat ia menunaikan kewajibanya sebagai seorang muslim, benar saja, baru satu rakaat, tiba2, sesuatu menepuk bahunya, ia yakin, bahwa yang baru saja ia rasakan adalah sebuah tepukan di bahu.
sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim, ketika ia shalat sendiri di surah atau masjid, bila seseorang menepuk bahu maka itu adalah perintah bahwa ia harus menjadi imam untuk seseorang yang menepuk bahu, masalahnya, siapa yang ingin bergabung shalat ketika mas Anton menunaikan
shalat di dalam kamar.

takut dan kengerian seperti masuk begitu saja untuk menggoyahkan iman mas Anton, namun sebagai muslim yang baik beliau mulai mengeraskan suaranya untuk membaca al fatihah, menunaikan shalat seolah2 ada orang di belakangnya
ktika tahiyat akhir dan di tutup engan asalamualikum, sebagai penutup sholat, mas Anton terkejut bukan main, karena rupanya, tidak ada siapapun yang berdiri di belakangnya. detik itu juga, mas Anton hnya bisa berisstighfar, berharap siapapu yang menganggunya akan berhenti melakukanya
semenjak tinggal di rumah itu, mas Anton sadar, bahwasanya memang ada makhluk selain manusia yang bersifat ghaib dan di agamanya di ajarkan akan hal itu, namun, dalam batinya yang paling dalam, mas Anton tau, ia tidak dapat menyembunyikan ketakutanya.
berbeda dengan mas Anton, bukan berarti mas Fadhil tidak pernah di ganggu, sebaliknya, mas Fadhil mendapat gangguan berupa serangan fisik, namun, ia lebih menahan diri dan tidak menceritakan ini pada mas Anton, kelak, ketika mas Fadhil sudah tidak sanggup, mas Fadhil bercerita
setiap malam, wanita yang tinggal di dalam kamarnya, akan menemaninya, berdiri di sampingnya, dengan kepala di letakkan di samping bantal tempat mas Fadhil tidur, bahkan ketika mas Fadhil shalat malam, akan tercium aroma busuk dan menyengat, serta tawa yang mengejek.
hal itu menjadi keseharian bagi mas Fadhil, namun, ketika ia bekerja, disinilah, para penghuni yang memiliki aura lebih gelap, kadangkala menyambutnya dengan teramat tidak ramah.

pernah, ketika mas Fadhil berangkat ke pos penjaga, ia di cegah oleh makhluk hitam besar,
bermata merah menyala dengan bulu lebat di tubuhnya, ia senantiasa bersuara layaknya orang yang amat marah, setiap mas Fadhil mengucap kalimat permisi, ia akan di cekik, namun, mas Fadhil masih bisa menjaga diri, karena ia yakin, bahwa ada yang lebih tinggi dari sekedar makhluk
penuh amarah seperti ini.

sebelum kejadian kebakaran itu terjadi, mas Fadhil sudah mendapat firasat buruk, bahwa akan ada bala bencana, di mulai dari setiap malam, ia mendengar suara menangis dari luar kamarnya, kemudian tepat pada jam2 dimana malam menjadi gelap gulita
terdengar suara anjing kemureng (berekor 2) saling menyalak, ketika di lihat mas Fadhil, anjing itu akan pergi, konon, dulu di desa2 jawa, siapa yang melihat anjing ini, harus di lempar dengan batu, karena kedatanganya, biasanya membawa bala bencana
namun dari serangkaian tanda itu, ada satu tanda yang membuat mas Fadhil harus segera mengundurkan diri dari tempat ini, apalagi bila bukan, ketika ia di sukai oleh Abdi dalam, konon, ketika mas Fadhil bercerita bagaimana wujudnya, ia tidak berhenti berucap istighfar selama melihat
wujudnya adalah seorang wanita, dengan kaki panjang, ia seringkali mengikuti mas Fadhil, tampak malu2, namun yang mengerikan adalah satu kakinya tampak pengkor, sehingga ketika berjalan, ia seperti menyeretnya.

mas Fadhil menduga, makhluk ini tinggal jauh di zona timur
lalu, bagaimana bisa makhluk ini begitu suka dengan mas Fadhil, menurut mas Fadhil, aromanya tercium seperti aroma kunir yang di peras, sehingga wewangian tubuhnya seperti aroma bau langu, masalahnya, mas Anton berkata bau mas Fadhil biasa saja, mas Fadhil bercerita bahwa
hanya beberapa orang yang dapat mencium baunya, karena sebenarnya, bau ini adalah bebauan yang di sukai oleh jin penggoda, apa yang membuat mas Fadhil di ikuti terus.

jadi, karena mas Fadhil mendalami ilmu kebatinan, sejak dulu, banyak jin yang ingin menjadi bagian dari mas Fadhil
namun, ia menolak karena itu adalah awal dari kesyirikan, mas Fadhil mempelajari ilmu kebatinan seraya hanya untuk menjaga diri dari marabahaya bukan untuk mendapat ilmu yang kelak akan menyusahkan raga manusia ketika mati kelak.

jadi, makhluk ini, kini terus menggoda mas Fadhil
mas Fadhil akhirnya resign, setelah ia tahu, bila terus berada disini, akan membahayakan dirinya, terlebih ketika di salah satu mimpinya, mas Fadhil melihat gurunya yang sudah meninggal menyuruhnya pulang dan membuka ladang, ketika pamit dengan mas Anton. mas Fadhil hanya berujar
"tetap dekat sama yang kuasa, jangan hiraukan mereka, insya allah kamu kuat Ton"

namun, disinilah, awal dari tanda2 balak (bencana) mulai bermunculan..

semua orang pasti tahu bagaimana pabrik gula berproduksi, umumnya, pabrik gula tidak akan menjadwalkan untuk masuk di shift malam, ini termasuk untuk karyawan, namun, ada sebuah pengumuman baru, dimana akan di berlakukan shift malam bagi para pekerja
anehnya, para pekerja yang di maksud adalah pekerja yang bukan berasal dari karyawan pabrik, melainkan karyawan borongan, mas Anton mendapat instruksi untuk mulai fokus berjaga di pos Selatan, dimana nanti zona inilah yang akan bertugas memproduksinya.
setiap malam, mas Anton kepikiran akan hal ini, karena pada umumnya pabrik gula akan mulai sibuk saat kemarau dimana produksi tebu melimpa ruah sebagai bahan baku gula yang akan di produksi, yang jadi masalah, untuk apa pabrik mempekerjakan borongan pada musim hujan?
setiap kali mas Anton bertanya kepada pak Edi, pak Edi selalu menjawab tidak tau.

disinilah, semua ini seolah menjadi beban pikiran mas Anton, rupanya firasat mas Anton semakin lama semakin menganggu, di tambah, setiap malam, mas Anton mendengar ada hal yang gk beres
ini terjadi, ketika, suatu malam, ada yang menggedor2 pintu rumahnya. disini, mas Anton sampe bingung, siapa yang bertamu malam2 begini, maski sudah di acuhkan, ketukan pintu seolah2 terus terdengar.
karena penasaran, mas Anton mengintip dari celah jendela utama di ruang tamu, namun, tidak ada siapapun disana, kecuali kegelapan kosong di halaman rumah. akan tetapi, ketukan itu akan terdengar lagi dan lagi setiap mas Anton berada di dalam kamar.
semua orang jawa tau akan sebuah pertanda yang bernama "Dayoh" atau berarti tamu, bila seseorang mengetuk pintu namun tak ada siapapun disana, hal itu bisa menjadi sebuah pertanda akan adanya sesuatu yang akan terjadi
hari itu juga, mas Anton sampai harus menunaikan shalat malam, karena firasatnya seolah2 terus mengganjal pikiranya, dan benar saja, di samping jendelanya, mas Anton mendengar suara anak2 kecil tampak sedang bermain
disini, mas Anton langsung menyimpulkan, mendengar suara anak kecil adalah suatu pertanda yang paling buruk, karena konon dalam sejarah tanah jawa, anak2 adalah simbol kepolosan, mendengar suara mereka adalah arti dari sebuah ajal yang kian dekat
pagi harinya, mas Anton mendapatkan kabar, bila orang tuanya sedang sakit, mendengar itu, mas Anton meminta ijin untuk pulang, namun di tolak oleh pak Edi dengan alasan, pabrik sedang kekurangan tenaga penjaga, sedangkan jadwal tugas di mulai malam ini.
malam pun tiba, sejak sore, mas Anton merasa ada yang akan terjadi dalam waktu dekat, namun setiap ia memikirkan apa, seolah2 apa yang ia takutkan tampak kabur. di lihatnya para pekerja borongan yang rupanya berasal dari luar kota, ketika mas Anton berjaga, ia seperti mendengar suara
sebuah suara seseorang tengah berteriak2 meminta tolong, namun, tidak ada wujud apapun di hadapanya, hanya pos penjaga dimana beliau melihat aktifitas dan suara mesin para pekerja.

mas Anton sempat bertanya darimana para karyawan pabrik
namun rupanya, tidak ada satupun karyawan pabrik padahal seharusnya mereka ada, karena yang menjadi tenaga ahli adalah mereka, semua keganjilan ini rupanya terjawab pada malam ke 4. ketika mas Anton di datangi seorang wanita tua.
beliau mengatakan bahwa ia tersesat, namun, mas Anton tahu, bagaimana bisa seorang wanita tua tersesat di dalam pabrik.

curiga, rupanya wanita tua itu mengatakan sesuatu yang membuat mas Anton begidik ngeri.

"Tumbal kanggo Maharatu"
kaget.. mas Anton ijin pamit. beliau menggigil semalaman, masih teringat wajah nenek tua itu.

hari itu, mas Anton meminta ijin untuk tidak bekerja satu malam, awalnya pak Edi enggan memberi ijin, sampai melihat kondisi mas Anton yang benar2 tidak dapat di paksa bekerja
disinilah, petaka itu terjadi.

pada pukul 2 dinihari, terdengar ledakan keras dari suara mesin yang tengah beroperasi, anehnya, kondisi pintu tidak seharusnya tertutup, namun malam itu, seolah2 pintu tertutup dan terkunci dengan sendirinya, api mulai menyebar dan membakar gudang
pekerja borongan yang terjebak di dalam gedung akhirnya terpanggang hidup2, mas Anton yang mendengar nyala api dari halaman rumahnya, langsung segera menyusul,

ketika sampai disana, ia hanya bisa menatap kosong gedung itu, berkobar dengan suara teriakan meminta tolong.
setelah kejadian itu. mas Anton meminta ijin untuk resign namun di tolak pak Edi, meski begitu, setelah di bujuk lama, mas Anton akhirnya bertahan namun ia tidak mau lagi tinggal di rumah itu

karena semenjak saat itu, setiap ia tidur, suara minta tolong itu seperti menghantuinya
tidak hanya itu. Zona selatan mulai di tutup, dan menjadi tempat satu2nya yang terbengkalai, yang di ingat mas Anton dari peristiwa itu, gedung2 disana , bekas kebakaran, konon selalu ramai, suara tawa, tangis, bahkan teriakan kadang menggema, bila di lihat dari luar,
energinya benar2 negatif. sejauh yang mas Anton tahu, kabarnya, pekerja borongan itu baru saja di datangkan oleh pemilik pabrik, bukan untuk mengejar target produksi, melainkan, sebagai tumbal untuk raja demit yang sebelumnya barusaja mengundang para tamunya.
mas Anton teringat saat malam ia melihat, keramaian di pusat. rupanya, semua ini berhubungan satu sama lain,

namun rumor tetaplah rumor yang kelak akan menjadi mitos sebelum berdebu menjadi sejarah kelam.

Mas Anton akhirnya meninggalkan rumah itu, meski kenangan buruk akan
terus tertanam dalam batinya.

yang ia tahu, adalah, apapun yang telah terjadi, ia berharap kejadian seperti itu tidak akan terjadi lagi, nyawa manusia tetaplah sama berharganya dari apapun. kini, ia membagi kisahnya pada bapak, kemudian bapak membagikanya kepada saya.
yang bisa saya tangkap hanya satu.

"terkadang, manusia bisa menjadi lebih jahat bahkan dari iblis sekalipun" terlepas dari rumor itu, saya berharap, korban kebakaran itu, akan tenang di tempat yang seharusnya mereka berada.
so, well. akhir2 ini badan saya drop abis. sampe kemarin saya gk bisa bangun dari tempat tidur. berikutnya saya mau post thread lain, dimana kejadian ini baru saja terjadi, "TIANG KEMBAR (KETIKA JODOH MAUT BERTEMU) tapi saya mau minta ijin temen saya dulu, karena kejadian ini, menimpa
keluarga beliau.

Akhir kata, saya cuma mau minta maaf buat yang udah mau bela2 in nunggu, dan terimakasih sudah menyediakan waktunya buat membaca "Para Penghuni Pabrik gula" doakan biar saya di beri waktu buat bisa nulis thread lain, dan semoga ada hikmah yang bisa di ambil
Akhir kata, saya @SimpleM81378523 PAMIT.

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.