Kisah ini terjadi di Hulu sungai kapuas, sekitar 30 tahun yang lalu. Sumbernya tak terlalu ingat, antara 1993-1995.  Usia Zain 23 tah...

Cermis : Teror Perempuan Gua Layang



Kisah ini terjadi di Hulu sungai kapuas, sekitar 30 tahun yang lalu. Sumbernya tak terlalu ingat, antara 1993-1995. Usia Zain 23 tahun waktu ia merantau dari ibukota Provinsi ke Kampung nun jauh di hulu sungai kapuas. Aneh memang, orang dari kota merantau ke kampung. Tapi kepergiannya itu karena ia mendengar kabar betapa besarnya upah menjaga Gua burung Layang-layang.
Saya akan menjelaskan dulu tentang gua layang ini. Nama gue layang ini murni rekaan saya karena gue itu tak bernama. Gua layang mengacu pada gua tempat burung layang-layang bersarang. Umumnya disebut burung Walet.
Sarang burung walet memiliki nilai jual sungguh tinggi. Berbeda dengan sekarang dimana burung walet dibudidayakan, zaman dulu untuk mendapatkan sarangnya orang-orang harus mencari di gua-gua. Di hulu kapuas banyak gua sejenis ini.
Dahulu, orang mencari gua yang berisi burung walet. Biasanya penemu pertama akan mengklaim gua tersebut. Maka agar tak dipanen orang lain, ia akan membayar para penjaga yang akab menjaga gua berbulan-bulan sampai sarang siap dipanen.
Nah menjaga gua ini bukan tak beresiko. Mereka harus jago beladiri karena ada kemungkinan saat tiba masa panen gua akan di rampok. Para perampok tak segan membunuh para penjaga. Artinya mereka harus siap mati.
Tapi karena iming2 upah yang besar Zain siap menerima resiko itu. Dia diajak temannya, Mat Lawat, perantau dari hulu yang mendapat pesan dari pamannya untuk pulang. Pamannya barusaja menemukan gua walet.
Dari Pontianak ke kampung Mat Lawat ditempuh paling tidak 15 jam. Bis yang mereka tumpangi harus melalui jalan tanah yang becek. Bau bensin menguap, itu pertamakalinya Zain bepergian sejauh itu.
Di kampung Mat Lawat Zain dikenalkan dengan pamannya, Pak Ujang Kadir. Pak Ujang mengajak Zain menginap di rumahnya. Besok pagi ia akan dipertemukan dengan 4 penjaga lainnya. Kebetulan mereka penjaga berpengalaman. Mereka tinggal di kampung berbeda.
Malam itu Zain tak dapat tidur. Posisi kampung yang terletak di dataran tinggi membuat udaranya jauh lebih dingin. Ia merapatkan sarung untuk menahan dingin, badannya masih terasa remuk. Sementara itu ia tak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, dan setelahnya.
Dari balik dinding papan tercium aroma tembakau. Di luar, Pak Ujang dan Mat Lawat masih bercakap-cakap soal persiapan besok. Mat Lawat diminta sebagai penanggung jawab, sebagai keluarga tentu Mat Lawat adalah yang paling bisa dipercaya.
"Gua ini berbeda?" Kata Pak Ujang
"Beda bagaimana pak su?" Tanya Mat Lawat.
Pak Ujang menghisap rokok tembakaunya dalam.
"Besok pak su ceritakan".
Pak su adalah sebutan untuk paman paling bungsu.
Besoknya, dengan ransel di pundak Zain, Mat Lawat, dan Pak Ujang naik mobil Pick Up menuju kampung tempat gua itu berada. Mobil terguncang-guncang melalui jalan berbatu. Pak Ujang menanyakan tentang diri Zain, kabar Pontianak, juga memastikan kesiapan Zain untuk ikut dalam tugas.
Zain menunggu pembahasan tentang hal yang "beda" dengan gua itu, tapi sampai pick up itu berhenti di sisi sebuah kampung bahasan itu tak juga muncul. Ia ingin bertanya namun takut dianggap lancang telah mencuri dengar.
Di sisi kampung itu telah menunggu 4 orang lain yang siap ikut menjaga Gua Layang. Dua pemuda bertubuh tegap, satu bapak-bapak penuh tato di badannya, lalu satu pria tua berbaju serba hitam. Mengingat tugas ini cukup berat. Zain agak heran dengan keberadaan pak tua itu.
Pak Ujang hanya ikut mengantar mereka sampai sisi Desa. Dari sisi desa itu mereka harus masuk ke hutan, melalui beberapa bukit, hingga kemudian sampai ke gua itu.
"Gua ini bukan gua biasa. Ada yang jaga di sana" kata Pak Ujanng. "Yang lain mungkin sudah akrab dengan hal begituan, tapi nak Zain yang dari kota mungkin agak asing. Tak apa, di sini ada Ai Midun. Ai Midun yang akan menjaga kalian dari gangguan itu"
Itu menjawab rasa penasaran Zain. Zain tidak terlalu takut, baginya kepercyaan yang demikin tak lebih dari takahayul. Mitos demikian dibuat agar manusia lebih berhati-hati dalam mengelola alam. Ketimbang makhluk halus, ia lebih takut pada cerita soal rampon sarang walet.
Di Pontianak Zain memang ikut bela diri, tapi melawan rampok itu lain hal. Tapi ia tak punya banyak pilihan, pekerjaan ini pilihan terbaik untuknya.
Maka berangkatlah mereka dengan berjalan kaki melalui hutan, kebun karet, bukit, ladang, kebun lagi, hutan lagi, lalu bukit lagi. Zain tak habis pikir, orang-orang itu bisa berjalan dengan sangat cepat. Sementara ia sudah terengah-engah.
"masih jauh kah?" Tanya Zain pada Mat Lawat. "Ndaklah, sebatang rokok pun tak habis kita sudah sampai ke sana" Martop, salah satu pria yang bertubuh besar yang menyahut. "Yaiyalah, rokoknya dipegang ndak dibakar. Hahaha" sahut Isnen, pria bertubuh besar lainnya.
"Kebun-kebun ini tak dijaga?" Tanya Zain ketika melewati Durian.
"Tak ada, yang punya hanya akan datang di musim berbuah. Lagipula orang tak berani macam-macam karena rata2 kebun di sini dipasangi Sakang?"
"Sakang?"
"semacam jimat. Kalau ada yang usil, maka bijinya akan bengkak"
Membayangkan kantung menyan bengkak membuat Zain bergidik. Ada-ada saja kepercayaan orang kampung pikirnya saat itu.
Hari beranjak sore saat mereka tiba di depan mulut gua. Mulut guanya tak seperti yang dibayangkan Zain, hanya ada lubang kecil yang muat satu badan manusia.
"kita menginap di depan sini dulu, besok baru kita periksa ke dalam" kata Pak Kardi, pria dengan penun tato itu.
Malam itu mereka menggelar tikar di mulut Goa. Udara dingin menusuk. Inilah yang akan dilalui Zain 6 bulan ke depan. Udara dingin berhembus membuat bulu kuduk Zain berdiri.
"Kalian jangan kemana-mana malam ini. Kalau mau buang air cari semak di sekitar. Jangan terlalu jauh. Jangan lupa minta izin" kata Ai Midun.
"Udahlah Ai, kasian ni si Zain jadi takut. Kalau cuma hantu kuntilanak, dah biasa kita" Isnen menggoda Zain. Zain tidak merespon, ia lelah.
Seusai makan malam dengan ikan sarden kalengan, Zain tertidur. Sementara Mat Lawat, Martop, dan Isnen masih bercakap-cakap. Ai Midun duduk sedikit jauh, duduk bersila sambil memejamkan mata.
Pukul tiga pagi, Zain dibangunkan Mat Lawat. Zain masih setengah sadar saat Mat Lawat berteriak panik padanya, Bang Kardi hilang!
Tiga jam sebelumnya Kardi bilang ke Ai Midun bahwa ia mau pergi buang air. Sejam pergi, ia tak kunjung pulang. Ditemani Martop dan Isnen, Ai Midun berusaha mencari di sekeliling Gua. Tapi tak ada tanda-tanda.
"Bang Kardi memang begitu, tapi dengan tato sebadan, Bang Kardi pasti baik-baik saja. Eman moyang iblis juga takut dama dia" kata Martop.
"Hush! Mulutmu itu" kata Ai Midun kesal. Sejak datang ia dapat merasakan energi yang besar di sekitar situ.
Orang yang pertama kali di ajak ke gua itu oleh Pak Ujang adalah Kardi. Kardi lah yang kemudian merekrut Martop, dan Isnen. Ai Midun direkrut Pak Ujang setelah mengetahui bahwa gua itu angker.
Pukul 3 pagi, pencarian di sekitar gua kembali dilakukan. Mereka mencari bersama, tak satupun terpisah. Namun setelah berkali-berkali berkeliling dan memperluas pencarian, hasilnya masih nihil.
Baru hari pertama, dan semua sudah mulai kacau. Zain bergidik.
Pukul 5, semua memutuskan berhenti mencari. Semua kembali ke tempat tidur, istirahat. Besok pagi mereka akan kembali menyusuri hutan dan kebun, Martop akan ke kampung mencari bantuan.
Pukul 6 pagi, semua kaget terbangun oleh suara Bang Kardi.
"Darimana saja kalian? Kalian mengerjai saya ya?" Sergahnya. Dari wajahnya tampaknya ia barusaja terbangun.
"Kau yang darimana bang? Semalaman kami mencarimu" kata Mat Lawat.
"Jangan mengada-ngada kau Lawat. Tadi malam selesai buang air, aku melihat kalian menghilang. Tak satu orangpun ada di sini. Aku berusaha mencari kalian berjam-jam, tapi tidak ada. Jadi kuputuskan untuk tidur dan menunggu kalian di sini" beber Mat Lawat.
"Aneh sekali, bagaimana mungkin...." Mat Lawat tak melanjutkan kalimat karena dipotong Ai Midun. "Ssst. Sudah jangan dibahas. Nanti dia merasa diperhatikan. Kita lupakan saja semua ini" kata Ai Midun.
"Dia! Dia siapa?" Zain bertanya dalam hatinya. Benar-benar tidak masuk akal.
Matahari sudah naik. Mereka kembali fokus ke pekerjaan. Bang Kardi gesit menyiapkan tali tambang untuk masuk ke dalam gua. Walau memiliki mulut gua yang kecil, namun di dalam ada rongga yang cukup luas untuk tubuh orang dewasa. Bang Kardi yang akan masuk, ia sudah berpengalaman.
Sampai hari beranjak sore, semua baik-baik saja. Dari hasil pengamatan Bang Kardi, paling tidak mereka harus menjaga gua itu selama 4 bulan sampai sarang walet bisa dipanen. Zain menarik nafas panjang, sepertinya itu akan menjadi hari-hari yang panjang.
"Lawat, kita mandi dimana?" Tanya Zain. Badannya mulai terasa gatal oleh keringat.
"Haha, mandi? Di sana, turun bukit dan temukan sungai. 30 menit dari sini."
"Hah sejauh itu?"
"Iya, kita akan jarang mandi di sini"
Langit memerah, senja merah di ufuk barat. Zain tak akan mandi hari ini. Gua di atas bukit yang penuh bebatuan itu, seperti mengirim rnergi gelap yang semakin malam semakin membuat Zain tak nyaman.
Mereka telah membangun "pongkal", atau kita menyebutnya gubuk. Siang tadi, saat Bang Kardi masuk, Lawat, Martop, Isnen dan Zain mencari kayu di hutan sekitar. Kayu2 itu diikat dan didirikan hanya untuk tempat memasang atap. Masih beralaskan tanah, Zain tertidur lelap.
Pukul 3 pagi Zain terbangun karena tubuhnya yang gatal. Ia terduduk dan mengamati sekitar. Semua masih tertidur, kecuali satu orang yang tak ada di sana, Bang Kardi. Apakah dia buang air?. Zain kembali merebahkan badannya. Sampai setengah jam ia masih terjaga. kardi belum pulang.
Pagi harinya, Bang Kardi sudah tampak batang hidungnya. Matanya tampak lelah. Zain tak terlalu khawatir lagi. Sementara Ai Midun juga tak banyak bicara. Kalau ada apa-apa seharusnya ia yang paling tahu.
Orang-orang kembali beraktifitas. Ada yang memasak, ada yang mencari kayu bakar, ada yang mengangkut air dari sungai. Zain mengangkut air karena ia ingin sekalian mandi. Badannya sudah sangat gatal.
Zain pergi bersama Lawat. Masing2 membawa 2 ember. Mereka menuruni bukit lalu melalui hutan yang rindang. Setelah setengah jam, mereka sampai. Sungai yang dimaksud ternyata hanya aliran air dari sebuah mata air.
Zain menyiram tubuhnya dengan air. Ia tak pernah merasakan air sesegar itu. Begitu bersihnya air itu hingga ia dapat melihat dasar sungai. Sementara Zain menikmati kesegaran mandi di mata air, lawat berkeliling, mencari buah-buahan hutan katanya.
Saat itulah tiba-tiba muncul seorang wanita membawa sebuah ember. Zain sempat kaget namun bisajadi wanita itu adalah warga dari kebun sekitar. Zain menatap wanita itu malu. Wanita itu membalas tatapan Zain sambil tersenyum.
"Kamu bukan orang sini?"
"Iya bukan, dari pontianak" sahut zain.
"Dayang, aku Dayang"
"Saya Zain"
"Oh Zain. Kamu harus berhati-hati. Ini bukan tempatmu" kata Dayang sambil mengambil air dengan ember alumunium yang di bawanya.
"Terimakasih, boleh tahu kamu kenapa ada di sini?"
"Aku tinggal di sekitar sini, di sana!" Katanya sambil menunjuk ke arah datangnya dia tadi. Lawat memang pernah cerita, ada orang-orang yang lebih memilih tinggal di kebun untuk menjaga kebun mereka.
Lawat menepuk pundak Zain.
"Kamu kenapa?" Tanya Lawat.
"Kenapa bagaimana? Kamu tidak lihat aku sedang mengob..." Zain tidak meneruskan kalimatnya. Dayang tak ada di depannya lagi. Ia berusaha menatap ke sana ke mari, nihil.
"Dari tadi kulihat kau mengobrol sendiri" kata Lawat. Zain terdiam.
"Tapi sudahlah, jangan dipikirkan. Mungkin kamu berhalusinasi. Aku paham semua kejadian di sini rasanya tak masuk akal" tambah lawat.
"Lihat, aku menemukan empakan" katanya sambil menunjuk buah mirip durian. Zain segera menyelesaikan mandinya. Sedangkan Lawat membuka empakan dengan parangnya.
Empakan memang mirip durian namun isinya tidak. Warnanya lebih orange, rasanya tidak terlalu manis, aromanya tidak menyengat. Itu pertamakalinya Zain makan empakan. Lezatnya empakan membuatnya sedikit lupa dengan peristiwa barusan.
Dari yang awalnya skeptis dengan hal-hal ghaib, Zain kini mengalami sendiri hal-hal yang aneh. Sepanjang jalan ia memikirkan kemungkinan2 lain yang bisa terjadi.
Beberapa hari kemudian semua berjalan normal. Kejadian-kejadian yang sudah lewat mulai dilupakan. Ai Miun juga sudah bisa memastikan bahwa tempat itu sudah aman.
Namun di hari ke sepuluh, peristiwa aneh kembali terjadi. Bermula dari Bang Kardi yang masuk ke gua untuk memeriksa sarang.
Hari sudah sore saat Bang Kardi hendak keluar. Namun saat ia hendak naik dengan berpegang pada tali tambang, ia merasakan sesuatu menariknya. Bang Kardi panik dan berteriak. Zain dll yang menunggu di luar kaget. Mereka berusaha menarik tali tambang, namun terasa begitu berat.
Dengan susah payah Bang Kardi mencapai mulut Goa. Mukanya memerah. Namun tarikan itu mengendor dan ia dapat keluar dari sana. Zain berusaha memahami apa yang barusaja terjadi.
"Lawat, bolehkah aku minta izin untuk pulang. Semua ini benar-benar tak masuk akal. Kata Zain pada lewat pada malam kesebelas. Malam itu langit dipenuhi cahaya bintang. Tak ada sedikitpun awan.
"Sudah jauh-jauh kau ke sini, dan sekarang kau mau menyerah" nasihat lawat.
"Di sini hal seperti ini biasa, tak perlu dibesar2kan. Lagipula ada Ai Midun, semuanya aman. Kita cuma perlu bersabar" lanjut Lawat.
Zain terdiam. Ada benarnya. Lagipula, yang selalu diganggu adalah Bang Kardi. Ia harusnya merasa lebih aman.
Malam pukul 3, kaki Zain terasa begitu dingin. Ia terbangun, dan alangkah kagetnya ketika ia terbangun dan menemukan bahwa ada sesosok perempuan berdiri di kegelapan. Ia mengenal pakaian itu, ia pernah melihatnya. Itu Dayang.
"Ini bukan tempatmu, pulanglah" kata Dayang. Zain hanya diam, ia sama sekali tak dapat berkata apa-apa. Badannya kaku.
Dayang berjalan menjauh, semakin ia jauh semakin lega rasanya tubuh Zain. Saat Dayang sama sekali tak tampak, zain berhasil menggerakkan badannya. "Kenapa dia bilang begitu?" Zain tak habis pikir. Ia tak bisa tertidur sampai shubuh.
Panjang juga ya, dan ini entah cerita capek banget nulisnya. Kayak terkuras gitu energi. Ini ada yang nyimak?
Ikan cucut ikan belut, yuk kita lanjut. Yang mau nyimak cerita2 lainnya boleh follow ya. Jangan lupa like dan retweet, biar kayak youtuber.
Zain galau. Paginya disampaikan keinginan Zain untuk pulang. Tapi lawat tetap mencegahnya. "Kalau kau pulang sekarang, kau pulang sendiri. Kami tetap berjaga di sini. Tunggulah paling tidak sampai akhir bulan. Pak Su Ujang akan datang membawa makanan. Kau bisa pulang bersama"
"Benar juga" pikir Zain. Ia bisa saja tersesat. Sungguh dilematis. Tapi tak banyak pilihan, yang bisa ia lakukan hanya tetap tinggal.
Tapi Zain butuh kejelasan apa yang sebenarnya terjadi. Saat yang lain sedang istirahat siang, Zain menemui Ai Midun yang sedang merokok di bawah pohon tak jauh dari Gua.
"Kau pasti menyimpan banyak pertanyaan bukan?" Kata Ai Midun. Bara tembakau yang terbakar tertiup angin.
"Mungkin susah dimengerti, tapi begitulah Tuhan menjaga alamnya agar tetap seimbang. Agar manusia tak sembrangan, maka makhluk2 itu dibiarkannya bebas mengusik kita. Agar kita tak merusak apa yang telah Ia ciptakan" kata Ai Midun
"Lalu kenapa kita di sini? Kenapa kita tidak pergi?" Tanya Zain heran.
"Tugas saya adalah bernegoisasi. Selalu ada manusia yang ingin melalui batas. Orang seperti saya bertugas bernegoisasi, mencari jalan keluar yang layak." Jawab Ai Midun.
"Transaksi?" Tanya Zain.
"Kira-kira begitu"
"Berarti ada pertukaran?" Tanya Zain.
"Benar"
"Apa yang kita tukar?" Tanya Zain penasaran.
"Itu urusan saya. Kau tenanglah, semua akan baik-baik saja" Ai Midun meyakinkan. Dada Zain sedikit lapang. Ia merasa lebih tenang.
Zain terbangun lagi pada suatu malam pukul 3. Ia seperti mendengar suara Dayang memanggil-manggil. "Zain...Zain" suara itu terdengar lirih. Zain berusaha mencari sumber suara. Suara itu seperti terdengar dari mulut gua. Zain memberanikan diri untuk mendekat. Suara semakin jelas.
"Berhenti Zain, itu suara perempuan iblis. Jangan sampai terpanggil. Kau akan menyesal" seru Ai Midun. Ternyata Ai Midun juga terbangun. Zain tersontak. Badannya lunglai. Ia tumbang dan pingsan.
Pagi pukul 9 Zain baru sadar. Teman-teman yang lain duduk menungguinya. Ai Midun membakar semacam ramuan di dalam mangkuk kecil.
"Istirahatlah. Semua akan baik-baik saja" kata Ai Midun.
"Ternyata ada iblis perempuan yang merayumu untuk pulang. Pantas kau tampak gelisah Zain" bisil Lawat.
"Ai Midun sudah cerita, ia sedang mencari cara melindungimu dari Perempuan itu" bisik Lawat. Zain tercenung, peristiwa demi peristiwa telah menghancurkan mentalnya.
Malam harinya Ai Midun mengikatkan gelang pada Tangan Zain. Gelang yang dibuat dari biji-biji saga merah itu terasa mencengkram tangannya.
"Dengan ini kamu akan aman" kata Ai Midun. Zain baru menyadari, gelang yang sama juga dipakai oleh Bang Kardi.
Benar saja, selama 3 bulan semua berjalan normal. Zain diajak Lawat mengeksplor banyak hal di sekitar situ. Ia banyak menemukan buah yang tak pernah ia temukan di kota. Pekerjaan itu sama sekali tak lagi terasa berat.
Selama itupula Pak Ujang sudah 2 kali datang membawa bahan makanan. Pak Ujang selalu datang sendiri. Zain sungguh salut membayangkan pak Ujang berjalan sejauh itu dengan banyak barang, sendirian.
Suatu malam dilakukan rapat rencana panen sarang burung walet. Karena lubang yang kecil, maka tim akan dibagi dua. Tim pertama berada di dalam, bertugas memanen sarang. Sarang dimasukkan ke dalam ember dan ditarik oleh tim yang berada di luar.
Sebelum hari pemanenan. Tim dalam akan turun ke dalam Gua untuk mengamati sarang-sarang yang siap panen. Bang Kardi dan Zain yang harus turun. Bang kardi membawa pisau untuk memanen sarang walet.
Itu pertamakalinya Zain masuk ke dalam Goa. Ia harus melalui lorong yang sempit sebelum sampai ke sisi gua yang cukup lebar. Di langit gua, sarang burung walet berderet-deret menempel. Di siang hari, burung walet biasanya keluar dari sarang.
Zain terkaget saat kakinya tersandung sesuatu. Ia mengarahkaj senter yang ia pegang ke arah benda yang menyandungnya. Tampak seonggok tengkorak dengan potongan2 kain yang tampak ia kenal.
Persis pakaian yang dikenalaj Dayang. Zain terhenyak.
Istirahat dulu, lanjut malam. Serius ini capek banget nulisnya. Kayak ada yang nyerap energi.
Boleh bantu dukung dengan like dan retweet ya. Terimakasih.
Energinya abis karena puasa hahaha. Jangan berpikir aneh-aneh teman. Yuk lanjut lagi yuk! Bisa yuk!
Saat itulah Zain berbalik menatap Bang Kardi. Bang kardi menatap Zain dengan tatapan yang tak biasa.
"Sudah sadar kau Zain?" Bang Kardi mengangkat pisau pemanen sarang walet.
"Ini saatnya bertukar" suaranya memantul di dinding2 gua.
Zain menyadari sesuatu. Keberadaannya di situ tak lebih dari seorang "tumbal". Bulu kudukny bergidik. Tak pernah terbayangkan nasibnya akan berakhir di sebuah gua di antah berantah.
Tubuh besar Bang Kardi berlari ke arahnya, dengan jurus silat yang ia punya Zain berusaha menghindar. Namun Bang Kardi tak kalah lincah, satu sabetan mengenai lengannya. Darahnya mengucur.
Tapi walau demikian kini Zain balas menerjang. Tinjuannya mendarat ke wajah Bang Kardi. Tubuh Bang Kardi sempat oleng. Zain tak dapat lari kemana-mana. Yang dapat ia lakukan hanya melawan.
Bang Kardi bangkit. "Pisau ini butuh darahmu, gua ini butuh nyawamu" katanya berang. Ia menyerang Zain, zain menghindar tapi terlambat. Kaki Bang Kardi menghantam perutnya, Zain meringis kesakitan.
Saat itulah Bang Kardi menikam pundaknya berkali-kali. Zain tertunduk, darah mengalir di sekujur tubuhnya. Malaikat maut seolah2 sudah berdiri di hadapannya. Saat itulah Zain teringat seseorang.
Zain menarik lepas gelang di tangan Bang Kardi. Begitupula gelang di tangannya. Suasana mendadak hening. Tak ada suara apapun. Terdengar tetes air perlahan mendekat. Wajah bang Kardi memucat.
Saat hendak menikam Zain untuk yang kesekian kalinya tiba-tiba tangan Bang Kardi tertahan. Dayang berdiri di sana.
"Darahmu Kardi yang akan mengalir di sini. Darahmu!" Suara Dayang berubah. Bukan seperti suara yang pernah Zain kenal.
"Bangsat kau Dayang, kenapa kau tidak pergi dari sini?"
"Kau bang yang meninggalkan aku di sini, sekarang kau yang akan tinggal bersamaku". Pisau di tangan Bang Kardi terlepas. Dayang memegang dada Bang Kardi. Matanya terbelalak.
Maka sekiam detik kemudian, seperti orang mabuk kendaraan, Bang Kardi memuntahkan darah dari mulutmya. Tubuhnya kejang lalu tumbang. Zain hanya terpaku menatap kejadian barusan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Zain dalam hati. Dayang mendekat. "Kau akan tahu Zain".
Zain seperti sedang bediri di gua yang sama. Tapi di depannya tampak seorang mirip Bang Kardi dengan tato yang lebih sedikit sedang mencekik Dayang. Di belakangnya, Ai Midun yang tampak lebih muda berdiri mengamati.
Lalu semua kembali gelap.
Pukul 7 malam, Zain terbangun. Ia berada di sebuah gubuk di tengah kebun. Seorang nenek tua menungguinya. Luka-luka Zain diikat dengan kain bekas dan dilapis daun-daun. "Sudah sadar kau nak?"
Nenek itu menemukan Zain sore tadi, pingsan di depan gubuknya. Ia barusaja balik dari ladang. Karena letak rumahnya yang jauh dari pemukiman, ia memutuskan untuk merawat Zain. Cucunya yang berusia belasan tahun segera bergegas menghubungi petugas desa di kampung.
Dan begitulah, setelah zain menceritakan semua yang dialami, petugas desa melapor pada polisi. Polisi berhasil menemukan tengkorak Dayang di gua itu. Martop, Isnin, dan Lawat ditemukan sedang berjalan pulang. Ai Midun hilang.
Martop, Isnen, dan Lawat sama sekali tak tahu menahu tentang rencana Bang Kardi dan Ai Midun. Orang lain yang kemudian ditangkap adalah Pak Ujang.
Pak Ujang tahu keberadaan gua itu dari kardi. Mereka sepakat berbagi keuntungan apabila berhasil. Maka mereka berbagi tugas, Kardi yang akan mengeksekusi, dan Pak Ujang yang mencarikan korbannya.
Lawat bilang, saat terdengar teriakan dari dalam Ai Midun langsung turun ke bawah. Tapi setelah itu Ai midun tak keluar lagi. Karena takut, mereka bertiga lari.
Setelah pulih, Zain kembali ke kota. Itu adalah pengalaman paling aneh dalam hidupnya. Semakin diingat, semakin ia tak percaya.
Saya pernah bertemu Lawat 13 tahun lalu waktu ia menumpang di rumah kami sebelum ia terbang ke jawa untul menjual barang antik.
Disitulah Zain dan Lawat mengulang cerita itu, cerita yang saya setengah percaya setengah tidak.
Dan soal gua itu, benar kalau ada penunggunya. Sesuatu yang lebih dashyat, tapi tak menunjukkan diri karena Dayang telah mengabdikan diri pada makhluk itu. Ia membiarkan Dayang menyelesaikan urusannya.

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.