- Si Bocah Penunggu Rumah Tua - Based on true story Sumber  :  https://twitter.com/koreyan666/status/1219640721751314433 Penulis...

Cermis : Si Bocah Penunggu Rumah Tua



- Si Bocah Penunggu Rumah Tua -
Based on true story
Penulis : https://twitter.com/koreyan666 (𝕲 . 𝙱 𝚛 𝚒 𝚗 𝚍)


Cerita ini berasal dari kakak aku, bukan kandung. Kakak ketemu gede
Berlatar di tahun 2010 tepatnya dibulan November dan bertempat di desa yang diberi nama Tanah Merah (bukan nama asli)
Tanpa perlu berlama-lama lagi,
Siapkan teman baca kalian, kerupuk atau yang lainnya
Hanya saran "Jangan dibaca sendiri ditempat gelap"
Kalau merasa takut dan pusing silahkan ambil air wudhu bagi yang muslim, dan berdoa sesuai keyakinan masing-masing
Lihat kembali sekeliling kalian

Mungkin saja ada anak kecil yang tersenyum nanar menatap kalian
--------------
Malam itu, Vero (kakakku) dan suaminya Tomo, baru saja mengemas barang-barang yang akan dipindahkan dirumah baru mereka, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah bapak dan ibu Vero, hanya berjarak 10km saja
Singkat cerita, sampailah mereka dirumah barunya, ya, mereka hanya berdua, karena memang beberapa barang besar sudah dipindahkan terlebih dahulu
"Mas, omah e apik yo, murah pula tahunane"(mas, rumahnya bagus ya, murah pula tahunannya) kata Vero sumringah
"Alhamdulillah dek, rejeki anak iki" jawab Tomo tersenyum sembari mengelus-elus perut Vero yang membesar
Tomo pun membereskan beberapa barang yang masih berantakan, dan Vero membereskan pakaian di lemari
Belum terjadi apa-apa, semua berjalan lancar
Waktu berjalan, jam menunjukan pukul 11 malam dan mereka sudah tertidur, bisa jadi karena lelah
Tiba-tiba saja, Vero tersentak karena ada sesuatu yang jatuh dikakinya
Saat Vero melihat ternyata hanya serpiha kayu, Vero melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu
Tak berapa lama,
ada sesuatu yang sedang mengelus perutnya, Vero sadar akan hal itu, namun ia hanya berpikir bahwa itu adalah Tomo, jadi Vero membiarkan hal itu
Hingga ia terlelap dalam kenyamanan
Setiap malam dan hampir seminggu hal itu terjadi, dengan jam yang sama, hingga Vero iseng untuk
bertanya kepada Tomo
"Mas, kok seko awak pindah, mas amben mbengi ngelus wetengku teros, ngopo ee, tapi aku seneng sih," (mas, kok dari kita pindah, mas tiap malam ngelus perutku terus, kenapa? Tapi aku senang sih,) tanya Vero dipagi hari saat sarapan
"Maksud e?" Tanya Tomo balik
"Kok maksude pie sih, yo kan mas saben mbengi ngelusi wetengku toh yo"(kok maksudnya gimana sih, ya kan mas tiap malam ngelus perutku toh ya) sahut Vero tersenyum
"Ora e, ngelindor kue dek"(nggak ya, ngigau kamu dek,) jawab Tomo
"Kok ngelindor pie sih, jelas-jelas iyo"(kok
ngigau gimana sih, jelas-jelas iya) jawab Vero sengit
"Halah weslah, mungkin dirimu stress dek, yo wes ngko mbengi mas elus-elus wetenge yo"(halah sudahlah, mungkin dirimu stress dek, ya udah nanti malam mas elus-elus perutnya ya) kata Tomo meredam Vero yang sedikit jengkel
Vero hanya menanggapinya dengan senyum kecut
Tomo tidak mau berdebat, dan memutuskan untuk segera pegi bekerja
Selang beberapa jam kemudian, Vero duduk menikmati pagi di teras rumahnya dengan segelas teh hangat
Terdengar suara cekikikan anak kecil, yang menemani paginya
Tawa riang anak kecil terdengar keras dan cukup dekat, Vero hanya diam saja dia hanya berpikir itu hanya anak tetangga yang sedang bermain
Dia tidak berpikir macam-macam
Malah ia berkhayal akan selucu apa anaknya nanti, "pasti akan seriang mereka yo nak" sembari mengelus perutnya
(Bentar aku makan dulu, lapar)
Selaras dengan suara tawa itu, mendadak terdengar suara menjerit seperti meronta kesakitan
Mendengar suara itu, Vero langsung beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan pelan menahan badannya menuju ke depan
Namun, saat Vero melihat kedepan, tak terlihat siapapun
Bahkan, orang lewat pun tidak ada, hanya angin yang berhembus kala itu
Vero masih mencoba skeptis saat itu
Hingga matanya terpaku pada satu anak kecil yang berada didepan rumah dan tersenyum ramah menatap Vero
Melihat itu, Vero mendekati anak itu dan bertanya
"Nggolek i sopo ndok, kok dewean?"(nyari siapa dek, kok sendirian?) tanya Vero
Anak kecil itu hanya mengangguk dan masih tersenyum; dia anak perempuan

"Jenenge sopo?"(namanya siapa?) tanya Vero lagi
"Ayu" jawab anak kecil itu masih tetap tersenyum kepada Vero
"Omah e nandi?"
(rumahnya dimana?) tanya Vero
Anak kecil yang bernama Ayu itu hanya diam dan menunjuk kearah barat, tepatnya kearah belakang rumah Vero
Vero menyuruh anak tersebut untuk masuk kedalam rumahnya, dan berniat membuatkan segelas susu full cream untuk anak tersebut
Saat Vero sedang membuatkan susu, terdengar suara seorang perempuan, lebih tepatnya ibu-ibu yang memanggil-manggil nama Ayu

Batin Vero, "oh mungkin itu anaknya," Vero langsung keluar tanpa menyelesaikan minumannya
Saat Vero berjalan keluar rumah, Vero tidak mendapati Ayu berada
didalam rumah, Vero masih tetap berjalan keluar, dan melihat-lihat kemana Ayu pergi juga mencari sumber suara yang didengarnya tadi
Benar sekali, ada seorang ibu-ibu berambut panjang, dan berpakaian ala ibu-ibu seperti mana biasanya dirumah saat pagi menjelang siang,
"Buk!?" Sapa Vero berteriak
Ibu-ibu tersebut menoleh kepada Vero dan mulai mendekat
"Nggolek i Ayu buk?"(cari Ayu Buk?) tanya Vero
"Iyo, enek ketok bocah e ora yo?" (iya, ada nampak anaknya nggak ya?) tanya ibu tersebut dengan wajah yang terlihat cemas yang amat sangat
hingga menggambarkan raut wajah sedih, Vero saat itu mendadak merasa aneh dengan ekspresi wajah ibu tersebut, ia berpikir, mungkinkah akan secemas dan sesedih itu wajahnya ketika anaknya sedang keluar dan bermain diluar rumah
"Ono buk, mau bocah e nang omahku, tapi saiki embuh nandi, paling petuk kancane, njuk terus dolan,"(ada buk, tadi anaknya dirumahku, tapi sekarang entah kemana, mungkin ketemu temannya, dan langsung terus pergi main) terang Vero
Tanpa ba-bi-bu ibu tersebut langsung pergi
tanpa basa-basi sama sekali, terimakasih atau salampun tidak
Vero hanya diam menatap ibu tersebut, sampai akhirnya menjauh dari rumah Vero "hoooo wong gendeng! Rak nde totokromone, opo yo ngene penduduk deso iki? Haaaah pie Indonesia arep rukon, mbek tonggo tenan pola ngono kui"
(Hoo orang gila! Gak ada tatakramanya, apa ya begini penduduk desa ini? Haaaaaah gimana Indonesia mau rukun, sama tetangga saja kelakuannya begitu) gumam Vero yang sedari tadi menahan umpatannya agar tidak terdengar oleh ibu tersebut, dan lalu menutup pintu rumahnya
Vero kembali ke aktivitasnya sehari-hari, setelah membereskan bagian rumah yang kotor, Vero mulai duduk bersandar dan menjulurkan kakinya (selonjoran: bahasa indonesianya aku gak tau😁) dan mulai merajut benang perlahan-lahan, tangannya bergelut dengan benang dan jarum rajut,
sedang matanya menatap layar televisi,

Beberapa jam kemudian, suara adzan Dzuhur terdengar merdu diseluruh penjuru desa
Vero segera bergegas untuk mengambil air wudhu, dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat
(FYI: rumah yang dihuni Vero dan Tomo hampir mirip dengan rumah ini, Insha Alloh jika tidak lupa, dan ada kesempatan, foto rumah tersebut akan ada di akhir thread, kita lanjut besok malam 🙏)
Vero yang sudah selesai mengambil air wudhu, segera melaksanakan sholat, dipertengahan sholat, tepatnya pada rakaat ke 3, telinga Vero mendengar sesuatu yang mengganggu kosentrasinya, suara anak kecil yang kembali tertawa, tapi kali ini suara itu berasal dari dapur, tidak jauh
dari tempat Vero sholat, suara itu tertawa dan terkadang terdengar langkah kaki berlari lalu lalang
Vero yang terganggu dengan hal itu, mengumpat dalam hatinya meskipun ia sedang sholat, "ki sapa bocah, mlebu rak kulonuwon"(ini bocah siapa, masuk gak kulonuwon) umpat dalam hati
Selepas ia selesai sholat, tanpa doa terlebih dahulu, Vero langsung beranjak dan melihat siapa sebenarnya masuk kedalam rumahnya
Saat dilihat Vero tidak menemukan siapapun
"Kok rak ono bocah, anak e sopo jane, rak sopan men"(kok gak ada bocah, anaknya siapa sebenarnya, gak sopan
banget) gumam Vero
Merasa bahwa dirinya sedang dikerjai oleh anak kecil, Vero mengunci semua pintunya, dan masuk kedalam kamar, lalu menciba untuk tidur

Saat setelah Vero terlelap, ia kembali terganggu dengan suara berisik, suara itu adalah suara ibu-ibu yang lagi-lagi menyebut
nama Ayu

"Ah kae sopo toh, mbrebeki kupeng!"(ah itu siapa toh, mekain telinga!) umpat Vero
Tak berapa lama pintu rumah diketuk oleh seseorang yang entah siapa, Vero kembali mengumpat karena merasa mengganggu tidur siangnya
Dengan wajah kesal, Vero beranjak dari tempat tidurnya
dan membukakan pintu rumahnya
"Sopo yo?"(siapa ya?) tanya Vero kepada seorang bapak-bapak menggunakan peci hitam
"Oh aku RT nang kene mbak, berhubung mbak e baru pindah, kudu didata mbak,"(oh aku RT disini mbak, berhubung mbaknya baru pindah, harus didata mbak) terang bapak tsb.
Pembicaraan berlangsung seperti selayaknya seorang ketua RT didesa, meminta data keluarga Vero agar bisa lebih aman berada di RT tersebut, sampai pada basa-basi yang membuat Vero sedikit bingung dan berpikir keras
"Oh iyo mbak, mau enek ndelok wong wedok sing nyeluk i jenenge Ayu
ora yo?"(oh iya mbak, tadi ada lihat perempuan yang manggil nama Ayu gak ya?) tanya Pak RT tersebut
"Oh iyo pak, mau enek dua kali lewat omah iki, lah pie pak?(oh ya pak, tadi ada dua kali lewat tuma ini, memangnya kenapa pak?) tanya Vero balik
"Ora dikon mlebu omah toh mbak"(ga
disuruh masuk rumah kan mbak) kata Pak RT seolah ada yang akan disampaikan lagi, Vero hanya menggelengkan kepala menyatakan jawaban tidak
"Oh syukurlah, yo ati-ati wae mbak, nak deknen lewat meneh, ojo dicelok opo maneh dikon mlebu, wonge secanteng kurang"(oh syukurlah, ya
hati-hati saja mbak, kalau dia lewat lagi, jangan dipanggil apa lagi disuruh masuk, orangnya secanting kurang(pribahasa mengungkapkan bahwa orang tersebut gila)) terang Pak RT, membuat Vero mendelik kaget
"Teros Ayu kui sopo Pak?"(teros Ayu itu siapa Pak?) tanya Vero menyelidik
"Oh iku anak e, yo sing penting ati-ati, ojo ne mbak e isih ngandung, dijogo nggeh, aku tek keliling maneh mbak,"(oh itu anaknya, yang penting hati-hati, apalagi mbaknya masih mengandung, dijaga ya, aku mau keliling dulu) kata Pak RT itu sembari beranjak dari kursi lalu pamit
Vero merasa tidak puas dengan penjelasan Pak RT tadi, tapi, apa dikata, orangnya harus bertugas, mungkin lain waktu lagi Vero bisa bertanya

Vero kembali mencoba untuk tidur lagi, meskipun terkadang suara ibu-ibu yang memanggil nama Ayu itu tadi
Sore berganti malam, Tomo sudah pulang sedari 4 jam yang lalu, obrolan romantis dari sore menghiasi bahtera rumah tangga mereka, hingga adzan demi adzan berkumandang, mereka tak lupa untuk sholat berjamah bersama

Lagi, Vero kembli mendengar suara anak kecil itu, pada rakaat ke 3
Tomo pun demikian, ia sadar bahwa sebenarnya ada yang tak nyata sedang berada dirumahnya
Namun, Tomo pandai untuk membuat Vero tetap tenang dan membuat Vero tidak berpikir aneh

Sebenarnya hal itu dirasakan Tomo selama ia tinggal dirumah itu, namun Vero baru merasakan siang tadi
Tomo bersiasat untuk kembali mengingat ucapan Vero pagi tadi, tentang perut Vero yang dielus olenya, maka malam itu, sejak jam setengah 11 Vero sudah tertidur lelap, dan Tomo sengaja untuk tidak tertidur, dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi
Benar saja, saat mata Tomo sedikit dipejamkan, samar-sama terlihat anak kecil yang masuk kedalam kamar, dan mendekati Vero, lantas mengelus kembali perut Vero, sosok menyerupai anak perempuan, dengan tangan mungilnya, seolah sedang menantikan kehadiran adiknya sendiri lahir
Tomo tidak melakukan apa-apa, ia hanya mengintip dari sela-sela picingan matanya, lama sekali anak tersebut berdiri dan mengelus perut Vero, Tomo yang geram dan terganggu, mencoba untuk ikut mengelus perut Vero, ya serupa mengelabui anak kecil, Tomo pura-pura tidur
Hal yang tidak menyenangkan malah justru terjadi saat Tomo menyentuh perut Vero, samar-samar terlihat, anak perempuan itu memasang raut wajah yang marah, seakan tak terima, tanpa ba-bi-bu lagi, Tomo bangun dan memelototi anak perempuan itu
"Muleh kue! Ojo ganggu anakku"(pulang
kamu! Jangan ganggu anakku!) kata Tomo dalam hatinya, dengan mata melotot kearah anak kecil tersebut
"Iki adiku,"(ini adikku) balas anak kecil itu membalas melotot kepada Tomo, dan lebih gahar dari pada Tomo, melihat perubahan wajah anak itu, Tomo sedikit beringsut mundur
Malam berlalu, setalah anak kecil tersebut membantah ucapan Tomo dan langsung menghilang

Hari ini Tomo sengaja untuk tak pergi bekerja, ada yang harus ia ketahui
"Siapa perempuan kecil itu"
"Dek, dolan gene mamak dino iki yok," (dek, main tempat ibuk hari ini yuk) ajak Tomo
"Waaah ayok mas, aku yo kangen mbek mamak"(wah ayuk mas, aku ya kangen sama ibuk) jawab Vero sembari tersenyum girang

Tak lama setelah sarapan, Vero membereskan beberapa pakaian untuk 2 hari
Ya, mereka pasti akan menginap, dan itu adalah tujuan Tomo
Saat memasukan beberapa pakaian kedalam tas, Vero seakan melihat anak kecil yang sedang berdiri memperhatikan dia
Dan benar saja, Vero melihat Ayu berdiri diluar rumah, tepatna didepan jendela kamar,
"Eh Ayu, ngopo nang kono ndok, mlebu oo rene" (eh Ayu, ngapa disana dek, masuk sini) kata Vero basabasi menyapa Ayu

Namun, Ayu hanya berdiri lantas berlari pergi, "dasar ca cilik"(dasar anak kecil) gumam Vero

"Ngomong mbek sopo dek?"(ngomong sama siapa dek?) tanya Tomo
"Iku loh mas, si Ayu anak e tonggo sebelah, cae sering rene, mung sayang e mamak rodok gemblong"(itu loh mas, si Ayu anaknya tetangga sebelah, dia sering kesini, tapi sayangnya ibuknya agak gila) terang Vero masih dalam keadaan berkemas
Tomo hanya diam saja, tak berkomentar apapun
Mereka pun pergi dari rumah, tal lupa pula mengunci pintu sebelum meninggalkan rumah

Tak sampai setengah jam Vero dan Tomo sampai dirumah ibunya, tepatnya dirumah mertuanya Tomo

Seperti mana biasanya seorang anak yang datang kerumah
ibunya, dan seorang menantu yang datang kerumah mertuanya, berbincang-bincang seadanya, dan tak lupa pula makan,
Hingga selepas melaksanakan sholat dzuhur berjamaah, Tomo pamit untuk pergi kerumah temannya
Singkat cerita Tomo sampai dirumah temannya yang bernama Riko

Pembicaraan sudah dimulai dan minuman penghangat tubuh pun sudah melengkapi obrolan mereka
"Ngene Ko, koyok e kontrakanku rodok rak beres loh"(gini ko, kayaknya kontrakanku agak gak beres loh) ujar Tomo
"Gak beres pie Tom?"(gak beres gimana Tom?) tanya Riko menyelidik
"Enek cah cilik e,"(ada anak kecilnya) jawab Tomo
"Teros? Koe wedi mbek cah cilik? Cemen tenan ke"(terus? Kamu takut sama anak kecil? Cemen banget kamu) kata Riko
"Uduk iku masalahe"(bukan itumasalahnya) kata Tomo
dengan raut wajah khawatir
"Cah iki koyok ngincer anakku"(anak ini kayaknya ngincer anakku) lanjut Tomo
"Tenane?"(beneran) kata Riko memastikan ucapan Tomo
"Iyo, soale pas tak tegor, malah dee ngelawan, ngomong nak iku adik e"(iya, soalnya pas aku tegur, malah dia melawan, bilang
kalau itu adiknya)terang Tomo pucat

"Ya wes ngko mbengi awak rono"(ya udah nanti malam kita kesana) jawab Riko santai dan menyeruput kopinya

Tomo dan Riko sepakat, mereka akan melihat rumah itu nanti malam
Hingga obrolan tak penting menemani hari mereka sampai Tomo pulang
(Maaf tadi makan dulu)

Malam harinya Tomo sengaja pamit dari rumah mertua untuk pulang kerumah karena ada sesuatu yang tertinggal, ya itu alibinya
Selepas sholat isya, Tomo menjemput Riko dan langsung tancap gas kerumah Tomo

Selama perjalanan tidak ada gangguan apapun
Karena masih terbilang sore pada saat itu, belum terlalu malam
Dedemitpun enggan untuk menampakan dirinya, kalaupun ada demitnya mungkin hanya iseng dengan orang yang penakut, begitu kata Tomo dan Riko jika bergurau

Singkat cerita sampailah Tomo dan Riko di rumah Tomo
Hawa dingin sudah menyelimuti suasana desa malam itu

Gelap dan pekat, embun yang serupa dengan asap tebal terlihat mengepul dikejauhan
Belum terlihat tanda-tanda adanya sosok menyeramkan saat itu

Tomo dan Riko langsung masuk kedalam rumah, dan membuat sgelas kopi untuk mereka
Sembari menunggu kedatangan hal yang aneh, Tomo dan Riko menikmati kopi sambil menonton TV
Jam menunjukan pukul 9 lewat 35 menit, disitulah hal aneh terjadi

Samar-samar terdengar suara anak kecil memanggil-manggil nama "Dek"
Karena suara tv yang cukup keras
Tomo dan Riko hanya berpikir itu adalah orang sebelah

Tapi semakin lama suara itu semakin kencang, hingga cukup mengganggu acara tv yang masih seru
Riko yang geram dengan suara itu, berdiri dan mencari kesumber suara

Riko sudah berkeliling ternyata tidak ditemukan siapapun
Saat Riko kembali keruang tv, matanya terpaku oleh sosok anak kecil berambut panjang dan menggunakan baju berwarna merah
Anak kecil itu tersenyum ramah, namun wajahnya pucat, dan jelas itu bukan manusia tentunya

Tomo tak menyadari hal itu, karena sebenarnya, perempuan kecil itu
berada tepat disamping Tomo
"Cah ayu sopo jenenge? Bali yo"(anak cantik, siapa namanya? Pulang ya) sapa Riko kepada anak kecil tersebut,
Mendengar hal itu, Tomo langsung meloncat kaget, separuh takut
"Cok, kon ngopo ee"(cok, kue ngopo ee) sahut Tomo yang terkejut
"Kui ca e"(itu anaknya) kata Riko dengan santai dan menunjuk tepat diarah Tomo duduk sebelumnya
Tomo spontan memukul kepala Riko,
"Pant*k, aku yo rak ketok mbol"(pant*k, aku ya gak nampak mbol) kata Tomo yang gemas
"Hooo ngeplaki ndas, tak kon jupok anakmu iki bocah e, gelem ke"
(Hoooo mukulin kepala, aku suruh ambil anakmu ini bocahnya, mau kamu) sahut Riko ikut geram
"Yo wes karepmu tek mbok apake lah, kon lungo sing penting"(ya udah terserah mau diapakan, suruh pergi yang penting) jawab Tomo
"Cah ayu, mulih yok, wes wengi"(anak cantik, pulang yuk,
udah malam) kata Riko
Anak perempuan itu masih terdiam dan tersenyum ramah menatap Riko
"Weh kok ngedeni yo, malah gor mesem cok,"(weh kok ngeri ya, malah cuma senyum cok) kata Riko sedikit takut saat itu
"Opo jalukanmu?"(apa maumu) tanya Riko pada anak kecil yang tersenyum itu
Nahas! Hanya tatapan senyum dingin dari anak perempuan itu yang menjadi jawaban dari pertanyaan Riko

Entah apa maksud dari senyuman itu, Riko bingung dengan keadaan malam itu, harus bagaimana dia bisa berinteraksi dengan anak kecil itu
"Jalok opo tak takon?"(apa maumu aku tanya
?) tanya Riko lagi
"Aku mung njalok adikku"(aku cuma minta adikku) jawab anak kecil itu
"Ra iso! Iku dudu adikmu! Muleh kono"(gak bisa! Itu bukan adikmu! Pulang sana!) ujar Riko membentak anak kecil tersebut

Semula wajah anak kecil yang mekar dengan senyum dingin
kini berubah menjadi wajah yang seolah kejam dan marah
Wajahnya berubah seolah bukan lagi dirinya
Anak kecil itu kini menatap Riko dengan tatapan penuh amarah, benar! Mendadak angin kencang yang entah datang dari mana, berhembus kearah wajah Riko,
melihat hal itu Tomo hanya bingung "cok jane pie iki, aku ra iso ndelok!"(cok gimana ini, aku gak bisa liat!) sahut Tomo yang sedari tadi bingung
"Yakin kon pengen ndelok?"(yakin kamu mau lihat?) Tanya Riko meyakinkan Tomo
"Yakinlah, iki tentang anakku cok"(yakinlah, ini tentang
anakku cok) jawab Tomo yakin
"Yo wes"(ya udah) kata Tomo
Entah ajian apa yang disebut Riko, Tomo kini bisa melihat anak kecil itu
Ia tak takut, bahkan terkejutpun tidak, hanya amarah yang ada dalam pikiran Tomo saat itu, ditambah melihat wajah lucu yang sangat menyebalkan
dari anak kecil itu
"Jadi koe sing nggaroni bojo mau isuk?!"(jadi kamu yang mengganggu istriku tadi pagi?!) tanya Tomo dengan nada emosi
"Dee gowo adikku, aku kudu jikok adikku"(dia bawa adikku, aku harus ambil adikku) jawab anak kecil tersebut dengan nada emosi pula
"Edan po adikmu! Demit edan!"(Gila apa adikmu! Demit gila) maki Tomo
Anak kecil itu hanya menatap marah Tomo dan Riko
Tidak ada yang bisa dilakukan, lebih tepatnya mereka bingung apa yang harus dilakukan
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara tangis dari anak itu
"Heh malah nggareng!"(heh malah nangis) sahut Riko mendengar suara anak kecil tersebut,
Riko komat kamit membaca beberapa mantra yang entah apa yang ia sebut,
Selaras dengan itu anak kecil tersebut pergi, menghilang secara perlahan
Tomo dan Riko kebingungan apa yang harus dilakukan, justru malah Riko yang cemas akan terjadi sesuatu dengan Vero bukan malah anaknya
"Aku malah wedi cah cilik iku nyerang Vero,"(aku malah takut anak kecil itu nyerang Vero) kata Riko
"Kok iso ngono, jare anakku,"(kok bisa gitu, katanya anakku) jawab Tomo bingung
"Ngene, cah cilik iku kan nganggep anakmu koyok adik e, nah saiki adik e iku enek njero wetenge bojomu, po yo ora bojomu sing bahaya, yo jelorone bahaya, mung aku lebih ngeri iki kenek neng Vero"
(Gini, anak kecil itu kan menganggap anakmu sebagai adiknya, nah sekarang adiknya itu ada didalam perut istrimu, apa ya gak istrimu yang bahaya, ya keduanya juga bahaya, tapi aku lebih ngeri ini kena di Vero) terang Riko
Tomo hanya terdiam sedih dan cemas memikirkan hal itu
Tomo dan Riko akhirnya pulang dengan hasil yang tidak memuaskan bahkan tidak membuahi hasil

Riko hanya menyarankan masalah ini dibantu oleh yang lebih pintar, seperti orang yang memang lebih tua ilmunya
Tapi, siapa?
Riko bukanlah sejenis paranormal yang hebat dalam hal seperti itu, ia hanya orang yang diberi anugrah dari kecil bisa melihat makhluk halus
Ia hanya bisa berinteraksi dan bernegosiasi, bukan untuk menyembuhkan ataupun mengusir, kelebihannya hanya itu serta membuka mata batin
orang lain,
Sedangkan Tomo ia hanya orang yang tidak kenal takut dengan hal semacam itu, perihal melihat dedemit itu hanya kebetulan atau ketidak sengajaan, kalaupun bertemu hanya diabaikan jika tidak mengganggu
2 hari berlalu, Tomo terpaksa menceritakan hal yang telah terjadi pada Vero, walau bagaimanapun, ia juga berhak tahu
Vero hanya bertanya anak kecil siapa? Tomo hanya menjawab "ya anak kecil/dedemit"

Vero terdiam, juga cemas dengan kandungannya, takut terjadi apa-apa
Akhirnya, dengan terpaksa, Vero harus tinggal terlebih dahulu di rumah ibunya untuk sementara sampai nanti anak kecil itu bisa pergi
Entah kapan lamanya Tomo pun tak tahu, Tomo pun sebenarnya tak enak hati tinggal bersama mertua, tapi apa harus dikata, ini juga menyangkut cucunya
Sore itu, sepulang kerja Tomo yang sedang membuat kopi, tiba-tiba dipanggil oleh mertuanya,
"Bapak ndue kenalan, jajal mengko mbengi awakmu merono, mana tau, wonge iso mbantu"(bapak punya kenalan, coba nanti malam kamu kesana, mana tau orangnya bisa bantu) kata Bapak mertuanya
"Wong endi e pak?"(orang mana e pak?) tanya Tomo
"Wong Batu Lapang"(orang Batu Lapang) jawab Bapak mertuanya
"Sopo jenenge pak?"(siapa namanya pak?) tanya Tomo
"Jenenge Pak Yok, kon tekon ae mbek wong kono, pas weroh iku, bapak ora iso ngenterno, mergo mesin pabrek rusak"
(Namanya Pak Yok (ingat dong ya dengan orang ini) kamu tanya saja dengan orang sana, pasti tahu itu, bapakgak bisa nganter, karena mesin pabrik rusak) terang Bapak mertuanya

Tomo pun meng iyakan ucapan mertuanya, dan kembali menikmati kopinya di sore hari dengan istri tercintany
Malam hari setelah itu, tepat setelah sholat Isya, Tomo pergi menuju ke desa Batu Lapang untuk menemui orang yang bernama Pak Yok,
Selama perjalanan ternyata diluar dugaan Tomo, beberapa lelembut muncul melintas ditengah jalan, bahkan ada yang mengikuti,
Beruntunglah Tomo
bukan orang yang penakut, hal semacam itu dianggapnya sebagai angin lewat, tapi tidak dengan apa yang ia temui tepat di gapura desa Batu Lapang, sosok hitam tinggi besar mengejutkan jalannya
"Wedan, demit gede men cok"(gila, demit besar kali cok) umpat Tomo
Tak lama setelah melintasi gapura tersebut, dan bertanya pada warga sekitar, dan dengan gampang ia menemukan rumah Pak Yok, disana ternyata banyak kendaraan parkir
"Woh, wong sakti iki, rame sing berobat"(woh orang sakti ini, rame yang berobat) gumam Tomo sembari turun dari motor
Dengan sopan Tomo mengetuk pintu rumah Pak Yok dan mengucapkan salam, dan syukurlah Pak Yok berada dirumah,
Yang membuat Tomo tercengang adalah, ia tidak menemukan satu orang yang berobat, melainkan hanya gerombolan anak-anak muda yang berada disana
"Iki padepokan Langgam Jiwo, duduk nggon berobat le,"(ini padepokan Langgam Jowo, bukan tempat berobat nak) kata Pak Yok dengan senyum ramah,
Ia sadar bahwa ternyata anak-anak muda disana semacam menimba ilmu batin dipadepokan ini
Tomo hanya mengangguk dan terseyum
"Jenenge sopo? Kene lunggoh"(namanya siapa? Sini duduk) tanya Pak Yok dan mempersilahkan Tomo untuk duduk
"Tomo pak" kata Tomo sembari duduk bersila disebelah Pak Yok dan dikelilingi oleh anak-anak muda yang juga berada disana
(Maaf🙏harus lanjut besok lagi, masih dalam tahap pemulihan badan, maaf atas ketidak nyamananya, see you😘)
Malam itu, Tomo menceritakan semuanya yang terjadi dirumah kontrakannya
Pak Yok yang mendengar hal itu hanya mengangguk seolah paham akan ucapan Tomo
"Anak karo bojo mu rak bakal celoko, mung omahmu sing emang bermasalah"(anak dan istrimu gak bakal celaka, cuma rumahmu yang
memang bermasalah) ujar Pak Yok tenang sembari menyesap rokoknya
"Njok aku kudu pie Pak? Mosok aku rak iso turu omah karo bojoku!?"(trus aku harus gimana Pak? Masak aku gak bisa tidur rumah sama isitriku!?) jawab Tomo menahan kesal
"Ngene, sesok nterno aku nang ngomahmu, awak
delok, koyok ngopo bocah e"(gini, besok antarkan aku kerumahmu, kita lihat, kayak apa bocahnya) terang Pak Yok menenangkan Tomo
Keesokan malamnya Tomo dan Pak Yok pergi kerumah kontrakannya, sepanjang perjalanan kerumah, Tomo dan Pak Yok diikuti sosok penari berpakaian hijau, dan sedang menari-nari tepat dibelakang Pak Yok yang memang membonceng Tomo
Tomo melihat penari itu, sedikit merinding dibuatnya
"Wes rak usah wedi, koncoku iku"(udah gak usah takut, temanku itu) ujar Pak Yok menenangkan Tomo
"Koncone riko demit po pie Pak? Ngedeni"(teman anda demit apa gimana Pak? Nakutin) tanya Tomo
"Heeeh! Wes rak usah nyangkem, menengo,"(heh! Gak udah bacot, diam aja) jawab Pak Yok sed
-ikit meninggi, mungkin ia kesal karna Tomo yang jelas terlihat tak sopan
Ya walaupun itu sesosok hantu atau makhluk halus, tetapi, ia juga perlu dihargai, ditambah sosok itu setia dengan Pak Yok dan tidak membahayakan, jelas saja Pak Yok sedikit kesal dengan ucapan Tomo
Sesampainya dirumah, pukul 9 malam, Pak Yok pun langsung turun dan melihat-lihat sisi kanan dan kiri rumah

Tomo yang merasa menjadi tuan rumah, langsung membukakan pintu rumah dan membuatkan minum untuk Pak Yok
Pak Yok pun duduk dan mengamati sisi ruangan rumah
"Sopo sing ndue omah iki Mo?"(siapa yang punya rumah ini Mo?) tanya Pak Yok
"Enek wong mburi Pak, Lek Satyo jenenge"(ada orang belakang Pak, Lek Satyo namanya) jawab Tomo yang sembari menyuguhkan kopi yang sudah dibuatnya
"Weh lamak kopi ne koyok e iki"(weh enak kopinya kayaknya ini) ujar Pak Yok mencairkan suasana agar tak terlihat serius dan seram
"Jadi pie Pak?"(jadi gimana Pak?) tanya Tomo
"Sak werohku, omahmu enek kuburan e Mo"(sepengetahuanku, rumahmu ada kuburannya Mo) terang Pak Yok
"Tenane Pak?"(beneran Pak?) tanya Tomo menyelidik
"Iyo, mung dudu kuburan bioso"(iya, cuma bukan kuburan biasa) jawab Pak Yok meyakinkan Tomo
Mendengar hal iu Tomo langsung berpikir, apa mungkin ada kuburan kramat dirumahnya? Tomo hanya berani menebak-nebak dalam hati
"Weroh kuburan opo?"(tahu kuburan apa?) tanya Pak Yok
"Weroh koyok e Pak"(tahu Pak) jawab Tomo
"Opo?"(apa?) tanya Pak Yok lagi
"Kuburan Kluron opo Pak?"(Kuburan Kluron apa Pak?)
Pak Yok mengangguk isyarat Benar
Ternyata ada kuburan Kluron yang ada dirumah Tomo, tapi kenapa dia
menginginkan anaknya Tomo? dan apa hubungannya dengan kuburan itu,
"Hubungane mbek anakku opo nggeh Pak?"(hubungannya sama anakku apa ya Pak) tanya Tomo
"Iku sing harus mbok golek Mo, bocah iki rak bakal iso lungo seko omah iki, dee bakal tetep neng kene,
coba mbok takoni sing ndue omah, enek opo sebenere, aku yakin, kae wong sing ndue omah iki mesti weroh, seenggak e kue weroh opo sing kedaden pas seurunge kue manggon neng kene"(itu yang harus kamu cari Mo, bocah ini gak bakal bisa pergi dari sini, dia bakal tetap disini
coba kamu tanya yang punya rumah, ada apa sebenarnya, aku yakin, itu orang yang punya rumah ini pasti tau, setidaknya kamu tau apa yang terjadi sebelum kamu tinggal disini) terang Pak Yok dan Tomo hanya diam seolah mengiyakan ucapan Pak Yok
"Bocah iku rak bakal jikok anakmu,
tenang ae, sesk gawe o sukuran, rajin-rajin ngaji, meskipun dee rak minggat, yo seenggak e dee rak bakal nyelok konco lan ngganggu, insha Alloh"(bocah itu gak bakal ambil anakmu, tenang saja? Besok buatlah sukuran, rajin-rajin ngaji, meskipun dia gak pergi, ya setidaknya dia
gak manggil temen dan mengganggu, Insha Alloh) terang Pak Yok menenangkan Tomo
"Nggeh Pak"(baik Pak) jawab Tomo singkat

Malam itu tidak ada yang terjadi, menurut penuturan Tomo yang diberitahu Pak Yok, bocah kecil itu tidak menampakan diri karena takut dengan penari yang Pak Yok
bawa, dan bocah tersebur hanya sesekali mengintip dari sebalik pintu kamar terkadang pintu dapur,
Tapi Tomo bersyukur, bocah kecil itu tidak menampakan dirinya, hingga ia tidak bertambah kesal,

"Sesok aku mbalek! Mbok ganggu anak bojoku, tak untal ndasmu"(besok aku kembali!
Kau ganggu anak istriku, kumakan kepalamu) ujar Tomo lirih sebelum mengunci pintunya
Ucapan itu Tomo tujukan untuk anak kecil yang mengganggu anak istrinya, sedangkan Pak Yok sudah berada ditepi jalan menunggu Tomo menutup dan mengunci pintu, sebelum mereka meninggalkan rumah itu
Keesokan hariny, Tomo dan Vero kembali kerumah mereka, Tomo mengajak sekaligus meminta ibu mertua untuk tinggal dirumahnya selama satu minggu, selain untuk menjaga Vero yang sedang mengandung dan perutnya yang semakin membesar, juga dapat membantu menyiapkan perlengkapan syukuran
Syukuran yang diadakan hanya mengundang beberapa tetangga saja, seperti pada umumnya, dan memang selama Tomo dan Vero tinggal disana, belum diadakannya syukuran atas rumah yang mereka tempat walaupun hanya mengontrak
3 hari kemudian, diadakanlah sebuah syukuran untuk rumah tersebut, selama 3 hari itu pula tidak ada kejadian aneh yang terjadi dirumah tersebut, Tomo merasa heran, kemana anak kecil tersebut, Vero pun tidak melihat sosok Ayu selama kembali kerumah

"Mungkin dia sedang bermain"
(Maaf sedikit lambat updatenya, jaringan sedang tidak baik disini, mohon pengertiannya 😘
Siapkan beberapa cemilan, atau kopi secukupnya, jangan bayangkan yang terjadi dalam cerita, hidupkan lampu, periksa sekitar tempat tidurmu, mungkin AYU sedang tersenyum disampingmu)
Setelah sholat isya, beberapa tetangga sudah berada di rumah Tomo, mereka pun disambut senyum bahagia oleh keluarga kecuali bapak mertua Tomo

Lantunan Surat Yasin berkumandang merdu disetiap sudut rumah, bahkan terdengar hingga beberapa meter dari rumah
Seusai membaca Yasin dan berdoa beberapa makanan pun dihidangkan untuk para warga
Menit berganti jam, kini para tamu kembali kerumah mereka masing-masing dengan senyum kenyang tentu saja

Tomo dan Ibu mertuanya membereskan piring-piring yang masih tergeletak dibawah
Sedang Vero dilarang ibunya untuk membersihkan semuanya, maklum perutnya sudah besar, bergerak pun cukup susah
Jam menunjukkan pukul 10.40 malam, Ibu mertua sedang menyusun piring-piring yang baru saja ia cuci, ditengah-tengah aktivitasnya, ia dikejutnya oleh suara tawa
siapa lagi kalau bukan tawa anak kecil,
"Eh sopo iku?"(eh siapa itu?) tanya Ibu mertua Tomo sedikit terkejut
Tidak ada jawaban, bahkan suara tawa itu menghilang
"Moo, Tomo, mreneo le," lanjut ibu mertua memanggil Tomo
"Pie buk?"(gimana buk?) sahut Tomo
"Kae anak e sopo mbengi-
mbengi cekikikan?"( itu anak siapa malam-malam cekikikan?) tanya Ibu mertua (sebutlah ibu mertua bernama Bu Jum)

"Anak e wong sebelah paling buk, urung turu paling, wes iki men tak siapno, ibuk tunggoni Vero wae, dewean dee"(Anaknya orang sebelah paling buk, belum tidur paling,
sudah ibu temani Vero saja, dia sendirian) ujar Tomo menenangkan Bu Jum,
Sejujurnya Tomo tahu siapa itu, tapi tentu tidak mungkin untuk diucapkan yang sebenarnya, meskipun Tomo sudah berkata sebelumnya bahwa rumahnya sedang tidak baik-baik saja,
Bu Jum mengiyakan ucapan Tomo, dan pergi menemani Vero yang sedang tertidur, baru saja Bu Ju membuka pintu kamar, matanya dikejutkan oleh anak perempuan yang sedang asyik mengelus-elus perut Vero
Sontak saja Bu Jum berlari menghampiri Tomo
"Mo, bocah e mbalek"(Mo, bocahnya balik)
"Ndi buk!?"(mana Buk!?) tanya Tomo mendadak terlihat marah saat mendengar kata "anak itu"
"Kae nang njero kamar"(itu dalam kamar) ujar Bu Jum

Tomo langsung berjalan cepat menuju kamar, saat masuk kamar tentu saja tidak ditemukan anak itu,
"Bu, turu wae nang kene yo,
men aku turu nang jogan, nak ono opo-opo gek ndang mbengok wae"(bu, tidur saja disini, biar aku tidur didepan, kalau ada apa-apa cepat teriak aja) ujar Tomo

Entah dapat pikiran dari mana Tomo berinisiatif untuk memanggil anak tersebut menggunakan boneka yang ia dapat digudang
Tomo keluar membawa segelas susu dan boneka, ia taruh tepat dikursi teras, Tomo tidak pergi melainkan menunggu anak itu datang
Hal tersebut ia dapat dari menonton film sebenarnya, "mana tahu berhasil" begitulah katanya

"Wes saiki rene, ndok, aku rak bakal nguntal ndasmu?"(sudah
sekarang sini dek, aku gak bakal makan kepalamu) kata Tomo berujar kepada anak kecil tersebut, dengan mengucap Bismillah sebelumnya

Cukup lama Tomo menunggu kedatangan anak kecil itu
Namun sampai jam setengah 12 pun tidak kunjung datang
Tidak! Tomo tidak menyerah, ia membuat kopi kebelakang agar tidak terasa mengantuk dan dapat menunggu kehadiran anak itu
Saat ia kembali dengan kopinya, apa yang ia lihat sungguh membuat ia tambah jengkel,
Susu yang memang dihidangkan untuk anak itu, mendadak habis tak bersisa
"Rene o ndok, ojo isen"(kesinilah dek, jangan malu) panggil Tomo dengan nada lembut dan menyeruput kopinya

Mungkin bagi orang awam dan normal, yang dilakukan Tomo adalah hal yang tak masuk akal

Tapi, tidak ada salahnya dicoba bukan, demi anak tercintanya
Benar! Ia tidak sia-sia, diujung pandangannya terlihat sosok siluet kecil dari kejauhan, perlahan mendekat dan semakin dekat
wajah nyaris saja terlihat sempurna, dan benar itu anak kecil perempuan yang ia tunggu
"Sopo jenengmu?"(siapa namamu?) tanya Tomo dan agak merindik
"Jenengku Ayu"(namaku Ayu) kata anaka kecil tersebut
"Ngopo mbok ganggu bojoku?"(ngapa kamu ganggu istriku?) tanya Tomo
"Aku nggak pernah ganggu bojomu, aku mong pengen weroh adikku"(aku gak pernah ganggu istrimu, aku cuma pingin lihat adikku) kata Ayu dengan nada dingin
Tomo kini takut dengan wajah Ayu yang berubah menjadi seperti marah, dingin dan seakan penuh kebencian, Tomo juga kesal dengan ucapan Ayu yang selalu menyebut adiknya
Banyak pertanyaan yang tersimpan dibenak Tomo "ada apa sebenarnya?"
Ayu hanya menatap Tomo dingin, Tomo hanya diam, mengamati Ayu
Tak lama setelah itu, ia tertawa, disusul dengan ucapannya yang membuat Tomo semakin takut dengan suasana saat itu
"Bojomu rak bakal tak gowo, aku mung njalok adikku melu karo aku,"(istrimu gak bakal aku bawa, aku cuma
minta adikku ikut dengan aku) kata Ayu
"Gendeng! Adik! Adik! Ndasmu! Iki anakku! Nyanti mbok dmek anakku, tak obong koe!"(gila! Adik! Adik! Ndasmu! Ini anakku! Sampai kau pegang anakku kubakar kau!) kata Tomo kesal
Ayu hanya tertawa, dan lantas menghilang dengan suara tawanya
Malam itu setelah pertemuan singkat dengan bocah kecil yang menyebalkan, Tomo menjadi kepikiran dan tidak bisa tidur

Masalah ini harus diselesaikan, begitulah gumam hati Tomo, ada sesuatu yang jelas bersemayam dirumah itu, ada hal yang memang disembunyikan oleh tuan rumah asli
Keesokan harinya tepat setelah pulang dari bekerja, Tomo langsung datang kerumah pemilik kontrakan, yaitu Pak Satyo atau yang dipanggil Lek Satyo oleh Tomo

Sesampainya dirumah Pak Satyo, tak lupa Tomo mengetuk pintu rumahnya dengan sopan, saat dipanggil dan terus mengetuk pintu
Tak satupun suara yang keluar dari dalam rumah, seolah sedang tidak ada orang disana,
"Nandi begejil iki?"(kemana begejil ini) gumam Tomo
"Golek i sopo mas?"(cari siapa mas?) tanya seorang lelaki yang keluar dari balik pintu rumah sebrang
"Matane rak mlek po aku nang ngarep omahe
sopo"(matanya gak liat apa aku didepan rumah siapa) geruru Tomo yang kesal dalam hatinya
"Golek i sing ndue omah Pak"(cari yang punya rumah Pak) jawab Tomo kepada lelaki tersebut yang ternyata adalah Pak RT
"Wong e isih lungo kui mas, sesok baru mbalek, mrene mas mlebu sik"
(Orangnya masih pergi itu mas, besok baru balik, kesini mas masuk dulu) terang Pak RT mengajak Tomo masuk
"Weh mayan iki, entuk kopi, mbok menowo wong e yo weroh karo omahku"(weh lumayan ini, dapat kopi, siapa tahu orangnya tahu tentang rumahku) kata Tomo lagi dalam hatinya
"Oh iyo Pak," jawab Tomo mendekati rumah pak RT dan masuk kedalam rumah
Selayaknya seorang tamu, Tomo dipersilahkan untuk duduk dan dibuatkan minuman, dan sesuai harapan Tomo, ada secangkir kopi yang menjadi temannya mengobrol dengan Pak RT nanti
"Iki mas, disambi wedang e,
Sepurane iki, rak enek roti opo panganan"(ini mas disambi minumnya, maaf ini, gak ada roti atau makanan) kata Pak RT sangat ramah
"Lah pak kok repot-repot, kopi yo wes cukup, malah aku sing ngerepoti"(Lah pak kok repot-repot, kopi ya udah cukup, malah aku yang merepotkan)
Obrolan pun dimulai, mulai dari pekerjaan hinggan pengalaman sudah dibicarakan
Tomo pun tergerak untuk ikut terbuka dengan Pak RT yang kelihatan sangat baik dan dapat dipercaya
"Oh iyo pak, aku arep takon oleh?"(oh iya pak, aku mau tanya boleh?) tanya Tomo antusias
"Yo oleh toh"
(Ya boleh toh) jawab Pak RT
"Tapi rodok aneh sih,"(tapi agak aneh sih) kata Tomo
"Wes takon wae, piepie? Enek opo"(udah tanya aja, gimana gimana?) tanya Pak RT yang terlihat santai namun penasaran
"Ngene loh pak, koyok e enek sing ora beres karo omah kontrakane lek Satyo kui"
(Gini loh Pak, kayaknya ada yang gak beres sama rumah kontrakannya Lek Satyo itu) terang Karto
"Oh iku, lah sampean pie? Isih betah?"(oh itu, lah kamu gimana? Masih betah?) tanya Pak RT yang membuat Tomo bingung
"Lah?! Maksud e pie e pak?"(lah?! Maksudnya gimana ya pak?)
tanya Tomo mengernyitkan dahinya, ia benar-benar tidak paham dengan ucapan Pak RT
"Wes ngene ae, sampean di ganggu ayu toh"(udah gini aja, kamu diganggu ayu kan?) tebak Pak RT yang membuat Tomo heran sekaligus semakin yakin dengan ketidak baikan rumah itu
"Loh kok weruh Pak?"(loh kok tahu Pak?) tanya Tomo menyelidik
"Sampean uduk sing pertama mas, sakdurunge wes ono kejadian podo koyok sampean, mung mergo wonge gor ngontrak sesasi, jadi iso gek ndang lungo, lah opo yo ora curiga sampean iku, omah sak ono gedine dikontrak murah,
nak rak enek apa-apane yo rak mungkin toh yo"(kamu bukan yang pertama mas, sebelumnya sudah ada kejadian yang sama kayak kamu, cuma karna orangnya hanya ngontrak sebulan, jadi bisa cepat pergi, lah apa ya gak curiga kamu, rumah segede itu dikontrak murah, kalau tidak ada apa-apa
ya gak mungkin toh ya) terang Pak RT yakin dengan yang ia ucapkan
"Lah emang enek opo Pak?"(lah memabg ada apa Pak?) tanya Tomo penasaran
"Yo mung enek kuburan kluron tok, nangeng masalah sakdurunge iku sing jadi masalah gede"(ya cuma ada kuburan kluran saja, cuma masalah sebelum
-nya yang jadi masalah besar) jawab Pak RT
"Tahun wingi, enek bocah mati nang omah iku, nah sing mati iku jenenge Ayu"(tahun kemarin, ada bocah mati dirumah itu, nah yang itu namanya Ayu) kata Pak RT seakan tertahab dengan ucapannya, seolah masih ada yang ingin ia sampaikan
(Selamat siang semuanya, berhubung besok aku ada ujian, jadi nanti malam kita tunda dulu updatenya ya, kita bertemu lagi malam minggu😘 doakan lancar lur😘)

(FYI : ada alasan kenapa semalam gak dilanjutkan, karena sepertinya Ayu datang, tapi aku gak tahu pasti)
(Selamat malam bagaimana weekendnya?

Mari kita lanjutkan ceritanya)
Tomo menunggu Pak RT yang tak kunjung bersuara lagi, padahal terlihat jelas dari notasi bicaranya yang menggantung, dan raut wajahnya yang seakan menyimpan segudang rahasia mengenai Ayu

"Kok mandek Pak?"(kok berhenti Pak?) tanya Tomo menyelidik
"Miris wae, bocah cilik ngono
matine rak apik"(miris aja, bocah kecil gitu matinya gak bagus) jawab Pak RT menahan sedih
"Pie toh pak? Kok malah mbulet ngene"(gimana sih pak kok malah membingungkan gini) sahut Tomo geram
"Jadi ngene, sui sak durunge omah dikontrak e,omah iku dipanggoni wong sing jenenge Wati"
(Jadi begini, jauh sebelum rumah itu dikontrakkan, rumah itu ditempati orang yang bernama Wati) terang Pak RT sembari menyeruput kopinya
"Wati iki, anak e Pak Satyo, yo sakjane ncen uayu bocah e, mung watak e rak podo koyo raine"(Wati ini, anaknya Pak Satyo, ya sebenarnya cuantik
anaknya, cuma wataknya gak sama dengan rupanya) terang Pak RT lagi
"Lah hubungan e mbek Ayu opo pak?"(lah hubungannya sama Ayu apa Pak?) tanya Tomo semakin bingung dan tambah penasaran
"Ayu iki anak e Wati,"(ayu ini anaknya Wati) jawab Pak RT dengan raut wajah yang teringat akan
masa saat itu,
Tomo hanya mengangguk angguk seolah sudah paham dengan permasalahan tersebut
"Ayu mati e kepie Pak?"(Ayu matinya gimana Pak) tanya Tomo menyelidik sembari mengernyitkan dahinya
"Bunuh diri" jawab Pak RT singkat
"Ah mosok! Bocah umbelen iso weroh bunuh diri"
(Ah masak! Anak ingusan bisa tahu bunuh diri) sanggah Tomo seakan tak percaya, memang secara logika hal itu tak masuk akal, tetapi Pak RT denan santai menjawab "yo pas mayite ditemukan dee wes nggantong nang plapon"(ya pas mayatnya ditemukan dia sudah menggantung diplafon)
"Aku yo isik rodok bingong, kok iso cah sak meno bunuh diri, gendeng, wong gendeng ae rak bakalan juga bunuh diri"(aku ya masih agak bingung, kok bisa anak segitu bunuh diri, gila, orang gila aja gak bakalan juga bunuh diri) terang Pak RT yang kini raut wajahnya menjadi serius
"Lah iyo pak" sahut Tomo santai
"Tapi, ngunu iku jarene keluargane Pak Satyo, awak yo moh gawe berita aneh-aneh, mung yo weroh dewe lambene tonggo, enek sing ngomong dipateni, enek sing ngomong yo diracuni, mulo kui si Ayu iki rak iso tenang"(tapi, gitu itu kata keluarganya
Pak Satyo, kita ya gak mau bikin berita aneh-aneh, cuma ya tau sendiri mulut tetangga, ada yang bilang dibunuh ada yang bilang diracuni, makanya itu si Ayu ini gak bisa tenang) terang Pak RT
"Hooo yo nak ngono teros rak bakal nggadek kontrakane,"(ho ta kalau begitu terus gak
bakal bener kontrakannya) kata Tomo
"Karo omonge tonggo sebelah kui, si Wati iki, meteng meneh, rak weroh lanange sopo, jenenge cah cilik, toh, mamak e meteng anak e yo seneng ndue adek baru, nah jarene meneh, anak sing dikandung iku dipendem neng omah iku"(sama
katanya tetangga sebelah itu, si Wati ini, hamil lagi, gak tahu lelakinya siapa, namanya anak kecil toh, mamaknya hamil anaknya ya seneng punya adik baru, nah katanya lagi, anak yang dikandung ini dikubur dirumah itu) terang Pak RT serius
"Jarene teros Pak,"(katanya mulu Pak)
sahut Tomo malah menjadi ragu dan bingung "tapi loh Pak, memang enek sih kadang-kadang aku kerungu suoro cah cilik ngguyu yo nanges, teros wingi tak celokno dukon, yo memang enek kuburan kluron"(tapi loh Pak 'emang ada sih kadangan aku dengar suara anak kecil ketawa dan nangis,
lalu kemarin aku panggilkan dukun, ya memang ada kuburan kluron) terang Tomo
"Iki masalah e ora mung bojomu Mo, wong wedok sing meteng sejak kejadian iku sering dipetuk i Ayu, jarene iku adik e"(ini masalahnya gak cuma istrmu Mo, perempuan yang hamil sejak kejadian itu, sering
dihantui Ayu, katanya itu adiknya) terang Pak RT
"lah lah, koyok cerito nang film pak,"(lah lah, kayak cerita di film Pak) sahut Tomo tersenyum

Obroloan mereka terhenti dengan adzan maghrib, tak pula terasa bahwa maghrib sudah datang, Tomo pun pamit dan meminta Pak RT untuk
datang kerumahnya selepas isya agar dapat melanjutkan atau menemukan titik terang dari misteri bocah kecil ini

Kadang, ketika kita membicarakan orang yang sudah mati, ia akan merasa dan datang, benar, Ayu datang duduk didepan teras rumah saat Tomo baru sampai dirumah nya, lantas
Tersenyum dingin, dan menghilang perlahan-lahan
Tomo yang mengakui dirinya adalah pemberani, ia menjadi takut dan ngeri saat melihat senyum dingin dari sosok bocah kecil bernama Ayu ini, raut wajahnya seakan menyimpan sesuatu, tapi Tomo hanya bisa menduga-duga tentang bocah ini
Adzan isya berkumandang merdu diseleuruh penjuru desa
Tomo dan Vero beserta Ibu mertuanya melaksanakan sholat isya berjamaah

Seperti biasa, seperti malam sebelumnya, setiap rakaat akhir, terdengar suara tawa anak kecil, yang terdengar jelas seperti suara anak perempuan
Tomo dan Vero sudah menduga bahwa itu adalah Ayu, yang selalu mengganggu setiap rakaat akhir, namun beda dengan Ibu, ia hanya menduga itu adalah anak tetangga yang belum tidur dan masih bercanda dengan saudara atau orang tuanya

Salam penutup telah terucap,
Lantunan doa ikhals terucap dari lisan Tomo, lantas di Aminkan oleh Vero dan Ibu mertuanya

Selang beberapa saat setelah melaksanakan kewajibannya, Tomo duduk didepan TV dan Vero masuk kedalam kamar yang ditemani oleh Ibunya

Tak lama setelah itu, datanglah orang yang ditunggu
Pak RT datang dengan membawa bungkusan makanan, "mung jajan,"(cuma jajan) kata Pak RT yang sebelumya sudah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Tomo

Tomo pun kebelakang membuatkan kopi untuk Pak RT
Setelah kembali Tomo mempersilahkan Pak RT untuk menikmati kopinya
Obrolan ringan dimulai, hingga beberapa jam mereka berbicara ngalor ngidul, bercanda sesuka hatinya, tapi tetap tidak berusaha mengganggu yang sedang istirahat

Mereka pun kembali membahas pembicaraan mereka yang tadi sempat terjeda, yaitu mengenai Ayu
Saat nama itu disebut oleh Tomo, entah kenapa Tomo sendiri merasa suasana dirumah menjadi berubah secara mendadak
Seakan-akan dirinya sedang diperhatikan oleh banyak orang, dan seakan menjadi pusat perhatian karena sebuah kesalahan
Belum ada yang berbicara setelah nama Ayu trucap
Hening seketika, begitu pula Pak RT, wajahnya mendadak menjadi pucat ketakutan, matanya menerawang kesetiap dindiang dan sudut rumah, berusaha ingin mendapatkan sesuatu
Lebih tepatnya memastikan kalau tidak ada apa-apa
Saat mata mereka beradu pandang seolah film india
Barulah keluar suara dari mulut Pak RT "kok ujuk-ujuk ngedeni yo Mo"(kok tiba-tiba menakutkan ya Mo) kata Pak RT sembari memeluk tubuhnya sendiri
"Iyo Pak, suasanane jadi ngeri, jncok! Kok aku jadi weden ngene sih"(iya Pak, suasananya jadi ngeri, jncok! Kok aku jadi penakut sih)
jawab Tomo juga sama sembari memeluk tubuhnya sendiri

Kembali tidak ada suara yang terdengar, tidak ada sama sekal, bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar, lantas kesunyian itu malah dipecahkan oleh suara tawa dan jeritan dari luar rumah,
Tomo dan Pak RT terkejut mendengar
hal itu, buru-buru mereka beranjak dari tempat duduk dan melihat dari balik tirai jendela, apa yang mereka dapat, ternyata Nihil
Namun, suara tawa itu masih terdengar, dan sangat mengganggu sekali
Kebetulan pula, Vero dan Ibunya sudah tertidur pulas
"Ssssssttttt" suara bersesis dari luar rumah, suaranya seolah mengisyaratkan mereka untuk diam
Padahal mereka tidak bersuara sama sekali, hanya suara angin yang terdengar,
Selaras dengan menghilangnya suara mendesis itu, pintu rumah mendadak terbuka dengan sendirinya
Perlahan namun pasti, pintu itu seakan terbuka dengan mulus, dan perlahan terbuka semakin lebar,
sontak saja, melihat hal ganjil itu, Tomo dan Pak RT beradu pandang, "Mo opo iku ntes Mo?"(mo apa itu tadi mo?) tanya Pak RT yang gemetaran, keringatnya sudah mulai keluar dari sela
sela pori kulit dahinya, padahal malam itu sangat dingin sekali

"Embuh Pak"(gak tahu Pak) kata Tomo singkat
Mereka pun memutuskan untuk mendekati pintu dan memeriksa mungkinkah itu orang iseng, yang sepertinya tidak terlintas sama sekali diotak Tomo
Dipikirannua hanya ada Ayu
Saat mata kedua lelaki tersebut menerawang kegelapan didepan pintu rumah, dan berjalan pelan menuju teras, tak disangka, pintu rumah mendadak ditutup secara dibanting
Suaranya keras sekali, Tomo langsung bergegas menuju knop pintu,
Heran dan aneh, pintu pun seperti dikunci
Tidak bisa dibuka, Tomo tak berhenti mencoba membuka, selaras dengan itu pula suara jeritan keras seakan kesakitan terdengar keras dari dalam rumah, dan Tomo kenal suara itu, itu Vero
Tomo menjadi panik, ia mencoba untuk mendobrak rumah pintu rumahnya, nihil, tidak membuahkan
hasil, Tomo berlari menuju ke jendela kamar, "Dek! Dek! Ono opo? Kok njeret! Buka i iki"(dek! Dek! Ada apa? Kok teriak! Bukakan ini) teriak Tomo dari luar
Syukrlah jendela bisa terbuka, Vero ada didepan Tomo saat ini terisak tangis dan takut
Tomo langsung meloncat dari lewat
jendela, memeluk tubuh sang istri, apa yang terjadi? Ibu Vero berdiri sembari melotot menunjuk Vero dengan tatapan bengis
"Ono opo dek?"(ada apa dek?) tanya Tomo kepada Vero
"Embuh mas, ujuk-ujuk wae mamak mencet wetengku, sakit njok aku mbengok"(gak tahu mas,
tiba-tiba saja mamak nekan perutku, sakit makannya aku teriak) terang Vero masih dalam tangis dan pelukan sang suami
"Kosek Mo, tak celokno pak ustad wae,"(sebentar Mo, aku panggilkan pak ustad saja) kata Pak RT yang bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Tomo
"Koe Ayu?"(kamu Ayu) kata Tomo kepada sosok yang ada didalm tubuh Ibu mertuanya
Ia hanya mengangguk lantas tersenyum dingin, dan Tomo yakin benar kali ini, itu Ayu, senyumannya sama dinginnya seperti yang sering ia lihat
"Jane opo karepmu? Iki bojoku! Iki anakku! Dudu adimu"
(Sebenarnya apa maumu? Ini istriku! Ini anakku! Bukan adikmu) bentak Tomo yang membuat perubahan pada wajah ibu mertuanya, sosok itu seakan tak terima dengan ucapan Tomo, ia mulai mendengus, dan perlahan mulai menangis, serupa anak kecil yang direbut paksa mainannya
Tomo yang tidak tahu berbuat apa, hanya bisa memeluk untuk melindungi istri dan anak tercintanya

Selang beberapa saat pak Ustad pun datang, lebih tepatnya orang yang dituakan, dan sering menjadi imam dimasjid
"Mo iki ustad e, Mbah Sugi jenenge"(Mo ini ustadnya, Mbah Sugi namany)
kata Pak RT dengan nafas yang masih tersengal,
"Gowo metu bojone Mas,"(bawa keluar istrinya Mas) kata Mbah Sugi
"Ora iso Mbah, pintu ngarep rak knek kebuka"(gak bisa mbah, pintu ngarep gak bisa kebuka) jawab Tomo
"Wes manuto, iso iso"(sudah nurut aja, bisa-bisa) kata Mbah Sugi
Tomo pun berjalan menuntun Vero dari kamar dari kamar menuju kedepan rumah
Sosok Ayu yang ada dalam tubuh ibu mertuanya pun ikut berjalan mengikuti Tomo dan Vero dan masih dalam keadaan menangis
"Koe neng kene wae! Rak usah melu metu! Bocah ndablek!"(kamu disini saja!
Gak usah ikut keluar! Bocah Bandel!) bentak Mbah Sugi
"Aku rak ndue urusan karo koe! Aku mung njokok adikku"(aku gak ada urusan sama kamu! Aku cuma njemput adikku) kata Ayu tak mau kalah membentak Mbah Sugi
"Kon gendeng yo! Bocah rak knek kandanane! Adikmu wes mati dipendem neng
kene!"(kamu gila ya! Bocah gak bisa dibilangi! Adikmu sudah mati dikubur disini!) kata Mbah Sugi sambil menghentak-hentakkan kakinya
Seolah memberi petunjuk baha kuburannya berada tepat dibawah kaki Mabh Sugi
"Ora, adikkku isih nang njero weteng!"(nggak! Adikku masih dalam perut)
kata Ayu lagi membentak
Geram dengan ucapan Ayu, Mbah Sugi pun masuk melalui jendela, lantas menjambak rambutnya, rambut Ibu lebih tepatnya
Sedang Pak RT pergi kedepan untuk menemani Vero dan Tomo, tanpa disangka, ternyata sudah ramai orang yang berada didepan rumah Tomo
hanya sekedar penasaran dengan apa yang terjadi, seolah sedang ada campur sari malam itu, hal semacam ini menjadi tontonan banyak orang
Pak Rt tidak menggubris para tetangga yang melihat, ia malah khawatir dengan keadaan Vero dan juga Tomo

"Sabar yo Mo" kata Pak RT menenangkan
#malamjumat nih, mari kita lanjutkan
Diluar masih ramai orang-orang menonton kejadian ini, ada yang kasihan ada pula tentunya yang tidak peduli hanya mencari hiburan dikala malam, sedang didalam rumah Mbah Sugi masih bergelut dengan sosok bocah berbadan dewasa yang begitu bandel dan kekeh akan persepsi salahnya
Ayu masih menjerit dan menangis kesakitan kala dipegang kepalanya oleh Mbah Sugi, Mbah Sugi yang sudah biasa menyembuhkan orang kesurupan kali ini merasa kewalahan dengan sosok bocah ini,
Seperti mana dikehidupan nyata, bukan bocah namanya jika bisa diatur dan bernegosiasi dengan
sosok anak kecil bukanlah perkara mudah, begitulah yang diutarakan Mbah Sugi
Ayu masih menjerit ingin lepas dari cengkraman Mbah Sugi, walau menangis, ia tetap melawan
Mulut Mbah Sugi tak berhenti berucap, ntah ajian apa saja yang sudah diucapkan, tetap saja, Ayu tidak ingin
keluar dari tubuh itu

"Aku moh metu!" Bentak Ayu sembari menangis kesakitan
Namun, entah apa yang diucap oleh Mbah Sugi, tiba tiba saja tubuh itu lunglai tak berdaya,
Belum, Ayu belum keluar, dia masih dalam tubuh itu,
Mbah Sugi keluar menemui Vero dan Tomo,
"Celokno mamak e"
(Panggilkan ibunya) kata Mbah Sugi kepada Pak RT
"Mamak e sopo mbah?"(ibunya siapa Mbah?) tanya Pak RT bingung
"Mamak Ayu toh Te,"(ibunya Ayu toh Te) kata Mbah Sugi (Fyi: Te = erTE)
"Hooo yo mbah, nak misale, Vero nang omahku wae pie Mbah, men dijogo karo bojoku
kasian neng kene didelok wong akeh, pie Mo?"(hooo ya mbah, kalau misalnya Vero dirumhku saja gimana Mbah, biar dijaga sama istriku, kasian disini diliat banyak orang, giman Mo?) ujar Pak RT sembari bertanya kepada Mbah Sugi dan Tomo
"Ojo, wedine, bocah kentir kae malah rono,
lah koe ketua RT, yo mbok kon muleh wargamu, barang koyo ngene kok dadi tontonan, opo yo ra do ndue tv nang omah e"(jangan, takutnya, anak itu malah ksana, lah kamu ketua RT, ya mbok suruh pulang wargamu, hal kayak begini kok jadi tontonan, apa ya gak punya tv dirumah) kata Mbah
Sugi keras, bahkan terdengar oleh warga
Karena sadar, satu persatu warga berjalan pulang dengan wajah malu dan ada pula yang kesal tentunya
Tapi memang ada benarnya, hal semacam itu tidak harus jadi tontonan, lagi pula, kasihan melihat Vero yang mengandung dan menjadi tontonan
"Eh loh Pak, si Satyo kan lungo isikan, wong kae, nak lungo yo gowo si Wati"(eh loh Pak, si Satyo kan masih pergi, orang itu, kalau pergi ya bawa si Wati) kata Pak RT yang baru saja melangkah lantas teringat bahwa Pak Satyo pergi
"Wadoh, gawat iki, kae bocah durung metu seko
rogone mamak e mbak iki, mrengkel mbianget kae tenanlah, heee Satyo Satyo gawe pola wae kerjananmu"(wadoh, gawat ini, itu bocah belum keluar dari raga ibunya mbak ini, bandel banget itu, beneran, hee Satyo Satyo) kata Mbah Sugi seakan emosi dengan keadaan dan juga oleh Pak Satyo
Selang beberapa saat kemudian, Tomo dan Vero masih terdiam bingung harus melakukan apa, wajah Vero serupa orang stress, pikirannya melalang buana, sedang Tomo hanya cemas melihat kondisi Vero yang sedari tadi terdiam setelah selesai menangis
Pak RT juga diam, Mbah Sugi
masih berada dibelakang membuat teh hangat untuk Tomo dan Pak RT termasuk pula Vero
"Gur nggo angetno awak, diumbe ndok"(cuma buat ngangetib badan, diminim nak) kata Mbah Sugi kepada Vero
Vero menyambut teh tersebut dan menyeruput secara perlahan, namun wajahnya tak berubah
tatapannya kosong, namun, pikirannya berkelan entah kemana
Mungkin ia cemas dengan ibunya, dan juga buah hati yang sedang ia kandung
"Oalah mas, jabang bayi mung gari pirang sasi iso lahir, malah enek wae sing arep njokok,"(oalah mas, anak cuma beberapa bulan bisa lahir, malah
ada saja yang mau ambil) geruru Vero dengan tatapan kosongnya, tak terasa airmatanya mulai menetes pelan, berjalan dipipinya, melewati pori kulitnya, menggumpal didagu, lantas perlahan menetes diperutnya
"Sabar yo dek, iki tantangan go awak men kuat"(sabar ya dek ini tantangan
buat kita biar kuat) kata Tomo menenangkan Vero sekaligus menghapus air matanya
"Iyo ndok, sabar, bayimu aku sing jamin selamet, insha Alloh"(iya nak, sabar, bayimu aku yang jamin selamat, insha Alloh) sahut Mbah Sugi juga menenangkan Vero
Vero hanya diam tak menjawab, bahkan
tak pula merubah ekspresi wajahnya

Selang beberapa menit kemudian, suara tawa dari dalam kamar terdengar nyaring, dan itu Ayu

"Wes Vero karo Tomo nang kene wae, koe melu aku Te"(sudah Vero dan Tomo disini saja, kamu ikut aku Te) kata Mbah Sugi mengajak Pk RT untuk iku melihat
(Maaf belum bisa update banyak, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, maaf pula sudah membuat menunggu, kita bertemu malam besok, doakan semoga lekas kelar, agar bisa cepat menyelesaikan thread ini, thanks, see you😘)
Didalam kamar, Ibu Jum alias Ayu yang berada dalam tubuhnya berteriak marah dengan manusia yang berada dirumah itu, hal yang membuat Mbah Sugi semakin geram adalah ketika Ayu tidak bisa dikendalikan bahkan mengancam hal yang tak jelas
"Nak kon ora ngekekno adikku,
Men aku mati wae"(kalau kalian gak memberikan adikku, biar aku mati saja) kaya Ayu sembari menangis dengan tatapan marah
"Hooooo bocah gendeng! Kon wes modar yo!"(hoooo bocah gendeng! Kamu udah mati ya!) bantah mbah Sugi
Ayu masih menangis dan menjerit, sampai memporak poranda-
kan isi kamar, berantakan sekali
"Wes ngene wae yo ndok, mengko mamakmu sing mbalekno adimu, saiki meneng anteng, turu yo, sesok mamak njokok"(sudah gini saja ya nak, nanti ibumu yang memulangkan adikmu, sekarang diam tenang, tidur ya, besok ibu jemput) kata Mbah Sugi seolah
memang sedang berbicara kepada seorang anak kecil yang berwujud,
"Titenono, sesok mbengi sampe aku ora iso gowo adikku, ndeloken,"(lihat saja, besok malam sampai aku gak bisa bawa adikku, lihat saja!) kata Ayu membentak dan mengancam Mbah Sugi
Mbah Sugi hanya diam, dan mendekati
Ayu sembari membaca beberapa rapalan untuk mengembalikan Ibu Jum dari tidur paksanya

Iya benar, Ayu sudah pergi dari tubuh Bu Jum atau Ibu mertua Tomo, namun, belum sadarkan diri, Mbah Sugi dan Pak RT mengangkat tubuh Bu Jum keatas ranjang merebahkannya, lalu pergi menemui Tomo
"Mo, mamak wes mari, wes rapopo, tapi nak iso sesok kerjone mulih rodok gasik yo, enek sing kudu diurus, Vero mbengi iki turu wae nang omahku, awak tunggu sampe mamakmu tangi, baru mulih nang omahku, yo ndok yo,"(Mo, ibu sudah baikan, sudah tidak apa-apa, tapi kalau bisa
besok kerjanya pulang agak cepat ya, ada yang harus diurus, Vero malam ini tidur di rumahku saja, kita tunggu sampe ibumu bangun, baru phlang kerumahku, ya nak ya) kata Mbah Sugi tenang dan senyum kepada kedua pasangan suami istri itu

Tak lama kemudian, terdengar suara perempuan
memanggil nama Vero, ya itu Bu Jum, memanggil nama Vero
Semua ikut kedalam kamar termasuk Mbah Sugi dan Pak RT
"Ono opo iki ndok?"(ada apa ini nak?) tanya Ibu sembari mencoba duduk dan memegang kepalanya, terlihat dari raut wajahnya, serupa sedang menahan sakit
"Kok ndase sakit iki?"(Kok kepalanya sakit ini?) tanya Bu Jum mengurut kepalanya sendiri
"Orapopo mak, orak ono opo-opo"(gak papa bu, gak ada apa-apa) jawab Vero tersenyum
"Sepurane buk, mbengi iki, sampean karo sing lain turu wae nang omahku, ben lueh aman, yo,"
(Maaf buk, malam ini, anda dngn yang lain tidur saja dirumahku, biar lebih aman, ya) kata Mbah Sugi tersenyum
"Loh, lah enek opo jane kok ndadak turu gene njenengan"(loh, lah ada apa sbenarnya kok sampai tudur ditempat anda) sahut Bu Jum bingung, bertanya-tanya dengan semua
"Ceritane dowo buk, wes sesok isuk tak ceritakno, saiki ayo mulih ngomahku, kasian vero ne ndue anak cilik,"(ceritanya panjang buk, sudah besok pagi aku ceritakan, sekarang ayo pulang kerumahku, kasian vero nya punya anak kecil) kata Mbah Sugi tenang
Vero dan yang lain pun menurut dengan perkataan Mbah Sugi

Mereka tidur dirumah Mbah Sugi untuk malam ini, malam yang panjang bagi Vero dan Tomo tentu saja
Sesampainya dirumah Mbah Sugi, Vero dan yang lain kecuali Pak RT yang sudah kembali kerumahnya sndiri
dipersilahkan untuk tidur dikamar belakang khusus tamu, sedang Tomo terpaksa harus tidur di kursi saat itu
"Amet yo le, mung iso neng jogan, rapopo toh, tapi nang kene anget kok, mung atos wae"(maaf ya nak, uma bisa di kursi, gak papa kan, tapi disini hangat kok,cuma keras saja)
kata Mbah Sugi sembari memberikan selimut tebal kepada Tomo,
"Ora popo Mbah, kulo sing kesuwon, karo amet wes ngerepotno Mbah,"(gak papa Mbah, saya yang terimakasih, dan minta maaf sudah merepotkan) jawab Tomo sungkan
"Wes ra usah dipikir, rak popo, kono gek merem, sesok akeh
kerjanan, oh iyo nak mengko enek nyawel, jarno wae yo, putune Mbah sering ngelindor soale,"(sudah tak usah dipikir, gak papa, sana buruan tidur, besok banyak kerjaan, oh iya, kalau nanti ada yang nyolek, biarkan saja ya, cucu Mbah sering ngigau soalnya) terang Mbah Sugi tersenyum
"Nggeh Mbah" kata Tomo
Mbah Sugi meninggalkan Tomo dan masuk kedalam kamarnya, tanpa mematikan lampu, mungkin untuk penerangan bagi Tomo

Tomo pun sudah diberitahu dimana dapur jika ingin mengambil air minum
Tapi, tanpa ba-bi-bu, Tomo langsung menggulung tubuhnya dengan selimut
Lalu, mencoba untuk tidur, karena hari ini, adalah hari yang cukup melelahkan

(Maaf, kemarin tidak jadi update, dan baru update sekarang, sekaligus gak bisa panjang-panjang, dan update-an selanjutnya adalah penutup untuk cerita ini, tapi tidak skrg, insha Alloh jika tidak ada
halangan, 2hari lagi, kita selesaikan ceritanya
Saat malam sudah menjadi sangat larut bahkan hampir mendekati pagi, Tomo terjaga karena merasa terganggu, beberapa kali kakinya dicolek entah oleh siapa, karena merasa geram, akhirnya Tomo membuka matanya, tepat saat ia membuka mata, Tomo melihat sosok anak kecil yang sedang ber-
main dengan jempol kaki Tomo
Ada 3 bocah yang sedang memainkan kaki Tomo, wajah mereka semua pucat, "tuyul iki mesti," gerutu Tomo dalam hatinya
"Heeh le, ijek wengi, aku arep turu, minggat kono,"(heh dek, masih malam, aku mau tidur, pergi sana) kata Tomo dengan mata menyipit
Ketiga bocah itu tidak menggubris ucapan Tomo mereka hanya senyum-senyum menatap satu sama lain
"haaah mbuhlah," kata Tomo pasrah dan kembali tidur
Nahas, saat akan menutup mata, ia dikejutkan dengan suara keras, semacam batu yang beradu dengan kayu, seakan ada yang melempar
Mendadak Tomo menjadi merinding, suasana pun menjadi tak enak malam itu, padahal ia sangatlah lelah
Keringat dinginnya mulai keluar, membasahi lehernya sendiri,
Ketika suasana menjadi normal, barulah ia berani untuk menutup mata, walaupun itu gagal, sosok pocong tiba-tiba saja
menjatuhi tubuhnya, ya tepat ditubuhnya, pocong itu jatuh dari atas atap, tidak tahu bagaimana ia sampai dirumah itu, dan saat itulah, Tomo melihat jelas bagaimana rupa dari wajah pocong itu, kulit yang terkelupas, menghitam, dan mata melotot seakan ingin keluar
Bau busuk yang menyengat, bahkan hidung yang hanya bersisakan tulang,
Ingin teriak tak bisa, ingin bergerak pun susah, dan kala sudah tak kuat, disitulah Tomo tak lagi mengingat apa-apa alias pingsan tak sadarkan diri
Pagi harinya Tomo dibangunkan oleh Mbah Sugi, Tomo terbangun mencoba mengingat-ingat, kejadian semalam, tapi seakan hilang dari kepalanya, mungkinkah itu hanya mimpi atau arep-arep(tindihan) atau bahkan memang itu yang sebenarnya teradi
Tak mau ambil pusing, Tomo pun bergegas untuk berbenah diri, dan berangkat kerja,
Vero dan Ibunya masih tetap harus diumah Mbah Sugi, setidaknya dirumah itu lebih ramai, dari pada dirumahnya sendiri
Singkat cerita, siang itu tak terjadi apa-apa, hanya angin lewat yang tak beraturan, hingga sorepun datang, bahkan belum bisa dikatakan sore, tepatnya sekitar jam setengah tiga, Tomo kembali dari kerja, seperti yang dikatakan Mbah Sugi ia harus pulang lebih awal
Sesampainya dirumah Mbah Sugi, Tomo dan Mbah Sugi sekaligus ditemani Pak RT pergi kerumah Pak Satyo, pemilik rumah kontrakan yang ditempati Tomo dan Vero

Syukurlah, pak Satyo berada dirumah hari itu,
Pintu diketuk tak lupa mengucap salam sebelumnya
Pintu pun dibuka dan Pak Satyo menampakan dirinya, namun, bukan senyum ramah yang Tomo dan yang lainnya dapat melainkan wajah pucat karena kaget dan panik, seakan memang ada yang tidak benar dengan keluarga ini

"Pie?"(gimana) tanya Pak Satyo
"Anakmu nendi Yo?"(anakmu dimana Yo?) Kata Mbah Sugi balik bertanya
"Enek kae nang njero, lah opo dee nggaroni boca-boca meneh"(ada itu didalam, lah apa dia mengganggu anak-anak lagi?) tanya Pak Satyo lagi
"Iki oleh melebu ora Yo"(ini boleh masuk gak Yo?) potong Pak RT
"Ho yo rene masok"(ho ya sini masok) kata Pak Satyo
Merekapun masuk dan duduk dikursi tamu, mata Tomo tak habis berkeliling menatap isi rumah yang megah,
"Ngene Yo, aku karo sing lain rene, enek sing arep tak rampongno, putumu, Ayu, rak siap-siap ngganggu wong sing manggon nang
omahmu, opo yo rak kasian koe karo anakmu, ben ke dee weroh anak e"(gini Yo, aku dngan yang lain kesini, ada yang harus diselesaikan, cucumu, Ayu, gak siap-siap neror orang yang tinggal dirumahmu, apa ya gak kasian kamu dengan anakmu, biarkan dia ketemu anaknya) terang Mbah Sugi
"Ora iso! Kae duduk putuku, aku rak tau ndue putu, anakku ora pernah mbojo!"(gak bisa! Itu bukan cucuku, aku gak pernah punya cucu, anakku gak pernah menikah) bentak Pak Satyo
"Wes iyo karep sak unen-unenmu arep ngomong opo, intine aku mung njalok Yo, tolong, sekali iki wae
men Wati ndelok anak e, nak ora ngono, Wati yo bakalan isik koyok ngono, opo koe gelem anakmu sengsoro dadi gendeng nyanti mati, opo yo ora gelem anakmu entok lanangan, opo kudu tak bongkar utek elekmu iku"(iya terserah sesukamu mau ngomong apa, intinya aku cuma minta Yo
tolong sekali ini saja, biar wati melihat anaknya, kalau tdak begitu, wati bakalan masih seperti itu, apa kamu mau anakmu sendangsa jadi gila sampai mati, apa ya gak mau anakmu dapat lelaki, apa harus aku bongkar otak busukmu itu!) ujar Mbah Sugi seperti menyimpan suatu rahasia
"Yo wes! Kapan?"(ya udah kapan?) tanya Pak Satyo membentak
"Mengko mbengi moro nang kontrakanmu, gowo wati, sampe ora teko, tak obong omah kae"(nanti malam datang kekontrakanmu, bawa wati, kalau gak datang, aku bakar rumah itu) jawab Mbah Sugi sekaligus mengancam
Setelah percakapan itu, Mbah Sugi dan yang lainnya keluar dari rumah dan menuju ke masjid, karena memang tepat adzan ashar telah berkumandang merdu
Diperjalanan Tomo yang sedari tadi hanya menyimak, kini ia bertanya-tanya, sebenarnya ada apa ini?
"Mbah tulung jujur mbah, kelakuan elek ora oleh ditutupi, sampean wong sing di segeni neng kene, enek opo karo Lek Satyo"(mbah tolong jujur mbah, kelakuan buruk gak boleh ditutupi, anda orang yang disegani disini, ada apa dengan pak Satyo?) tanya Tomo
"Hadeh le, angel iki, dudu masalah elek opo ora e, iki malah iso diomong aib e Satyo, mung seng weroh gur aku,"(hadeh nak, susah ini, bukan masalah jelek atau tidaknya, ini malah bisa dikatakan aibnya Satyo, cuma yang tahu ya cuma aku,) kata Mbah Sugi menghela nafas panjang
"Lah iyo, nak ngono, sampean yo melu andil neng aib e Satyo kae, aku ora nuduh sampean, mung ngopo ditutupi nak emang iku gawe ciloko wong lio Mbah,"(lah iy, kalau gitu, anda ya ikut andil dalam aibnya Satyo itu, aku bukan nuduh anda, cuma kenapa ditutupi kalau memang itu mem-
buat celaka orang lain Mbah) cerca Tomo seakan menyudutkan Mbah Sugi untuk bisa membuak mulutnya
"Yo wes nak ngono, nak emang koe pengen weroh, sing mateni Ayu iku Satyo, sing mateni adine Ayu iku aku"(ya sudah kalau gitu, kalau memang kamu pengin tahu, yang membunuh Ayu itu
Satyo, sing mateni adine Ayu iku aku,) kata Mbah Sugi seakan menyesali perbuatannya
"Loh Mbah" kata Pak RT terkejut termasuk Tomo dengan ucapan Mbah Sugi, "bukane bunuh diri"lanjut Pak RT bertanya
"Opo yo enek, bocah cilik ndue pikiran go bunuh diri Te"(apa ya ada? Anak kecil
punya pikiran untuk bunuh diri Te) ujar Mbah Sugi
"Wes saiki ayo sembayang, mengko tekan omah tak ceritani seko awal ngopo iku sampe kedaden,"(sudah skrg ayo sholat, nanti sampai rumah aku ceritakan dari awal kebapa itu sampai kejadian) terang Mbah Sugi
Sedangkan Tomo dan Pak RT terdiam mendengar pengakuan itu, kenapa bisa sekejam itu, seorang yang seakan disucikan didesa tersebut adalah seorang pembunuh, bahkan membunuh anak yang belum lahir, jangan untuk melawan, menangis dan berteriakpun belum saatnya
Tomo hanya diam & brjlan
Setelah melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yang taat, mbah Sugi dan Tomo serta Pak RT kembali kerumah Mbah Sugi untuk melanjtkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda
Sesampainya dirumah, tak lupa Vero membuatkan kopi untu ketiga orang tersebut yang salah satunya adlh
Tuan rumah sendiri, ya itu juga atas inisiatif sebagai tamu saja
Percakapan berlanjut hingga kopi datang,
"Vero, iso njaluk tulung?"(vero, bisa minta tolong?) tanya Mbah Sugi
"Iso mbah, pie"(bisa mbah, gimana) tanya Vero balik
"Koe karo ibukmu kan durong mangan, aku yo podo
Oleh ora yo nak aku njalok tolong, tuku bakso kono nang simpang ngarep, gowo wae onda e mbah, dijak ibukmu sisan,"(kamu dngn ibumu kan belum makan, aku ya sama, boleh gak kalau aku minta tolong, beli bakso sana disimpang depan, bawa saja motor mbah, ajak sekalian ibumu) ujar Mbah
Sugi
"Wes men aku wae Mbah,"(sudah biar aku saja Mbah) sahut Tomo, namun, seakan Mbah Sugi memberi isyarat 'tidak' kpada Tomo
"Aku enek perlu mbek koe, malah minggat,"(aku ada perlu denganmu malah pergi) kata Mbah Sugi
"Yo wes mbah,"(ya sudah mbah) kata Vero senyum
"Iki duite, aku bakso, koe karo ibukmu yo kudu tuku, berarti tuku 5"(ini uangnya, aku bakso, kamu dan ibumu harus beli, berarti beli 5) kata Mbah Sugi sembari memberikan kunci motor sekaligus uang untuk membeli bakso
Secara tidak langsung itu hanya alibi Mbah Sugi
agar pembicaraan mereka tidak diketahui oleh Vero dan Ibunya
Vero pun pergi, ditemani oleh ibunya,
"Ngene, jadi waktu iku," lanjut mbah Sugi bercerita, semua pasang telinga mendengarkan secara seksama
"Ayu iki ora ndue Bapak, lebih tepate iku, Wati meteng tapi ora weroh
sopo sing metengi, mergane yo watine mbelis, lahirlah Ayu tanpa Bapak, sedurunge Ayu lahir, digawelah omah sing mbok panggoni iku Mo, men iso nutupi aib e keluarga, tapi yo tetap wae, tonggo yo weroh, nah bar iku, luih 5 tahun nek rak salah, Ayu yo wes gede waktu iku
jebule Wati yo meteng meneh, yo podo, rak weroh sopo lanange, nah konangane karo Satyo iku, pas wes meteng 5 bulan, Satyo ne kesetanen, rak nggadek, ngamok lah Satyo karo Wati, mergo Satyo iso diomong wong sugeh neng kampong iki, dadi isin ngonolah nak enek aeng weroh,
Sidane, ditutupilah, aib iku, tapi yo meneh, tonggo yo weroh, akhire, Satyo jalok tulung karo aku, nggo nggugurke anak e Wati sing keri iku, lebih tepate, jenat e bojoku sing mateni anak e Wati, si Ayu ne iku weroh adine mati, mergo dipendem neng mburi omah iku,
Lantaran Ayu ora dianggep putu, digebok lah Ayu mbek Satyo karo pacol bekas nggo nggali kuburan iku, matilah Ayu nang kono, nangeng pintere Satyo, Ayu sengojo digantong, sedurunge diresik i getih e men rak konangan nak dee dipateni, geger lah sedeso pas iku, yo Te yo"
Ayu ini nggak punya Bapak, lbih tepatnya itu Wati hamil tanpa tahu siapa yang menghamilinya, karena Watinya yang nakal, lahirlah Ayu tanpa Bapak, sebelum Ayu lahir, dibuatlah rumah yang kamu tempati itu Mo, untuk menutupi aib keluarga, tapi ya tetap tetangga tahu akan hal itu,
Nah setelah itu, 5 tahun kalau gak salah, Ayu sudah cukup besar saat itu, ternyata Wati hamil lagi, ya lagi, tanpa tahu siaap lelakinya, ketahuann oleh Satyo ketika usia kandunga 5 bulanan, kesetanan lah Satyo gak jelas, marah mengetahui hal itu, karena Satyo bisa dibilang orang
kaya dikampung ini, jadi malulah kalau ada yang tau, tapi ya lagi, tetangga tetap tahu aib itu, akhirnya Satyo minta kepadaku untuk menggugurkan kandungannya, lebih tepatnya istriku yang membunuh anaknya Wati, si Ayu tahu, kalau adiknya mati, karena dikubur dibelakang halaman
Lantaran Ayu tidak dianggap oleh Satyo sebgai cucu, dipukullah dia menggunakan cangkul yang digunakan untuk menggali kuburan itu, matilah Ayu disitu, tapi pintarnya Satyo, Ayu sengaja digantung, yang sbelumnya lukanya dibersihkan agar tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya
Ayu dibunuh, hebohlah satu desa, ya kan Te) terang Mbah Sugi bercerita panjang lebar, Pak RT dan Tomo menyimak dengan seksama, tanpa menyela satupun
"Aku yo nyese wes ngiyoke omongane Satyo, tapi jenenge nyesel yo mesti keri, mung matine Ayu lah sing iso ketutup sampe saiki"
(Aky ya nyesal, sudah mengiyakan ucapan Satuo, tapu namanya nyesel ya pasti diakhir, cuma matinya Ayulah yang bisa tertutup sampai sekarang) lanjut Mbah Sugi sembari menyeruput kopinya yang mulai dingin
"Vero wes mbalek ayo mangan, awak siapke mengko mbengi"(vero sudah balik,
ayo makan, kita siapkan nanti malam) kata Mbah Sugi lagi, karena memang Vero sudah kembalu, dan memang Mbah Sugi sudah lapar saat itu,
Mereka berlima makan bersama sembari menunggu kehadiran malam untuk menyelesaikan masalah itu
Dan harus selesai malam itu juga
(Ternyata gak bisa lanjut malam ini lurd, mataku rak kuat, pedes, tanganku juga pegel ngetik,😭kita lanjut besok ya😭maafkan diriku yang bikin kamu menunggu😭😁, besok pasti siap, aku janji, ketemu besok malam,😘)
Malam itu, selepas makan malam, berkumandanglah adzan isya, suaranya merdu, menggelegar disetiap penjuru desa, Mbah Sugi dan Tomo bergegas mengambil air wudhu, dan sholat berjamaah dirumah, bersama dengan yang lainnya pula

Setelah kejadian malam itu, Tomo hanya kembali kerumah
sekadar untuk mengambil pakaian dan mandi saja, orang yang dulunya berani, kini sedikit takut dengan hal gaib semacamnya, entah karena mengganggu atau apa, yang jelas, Tomo tidak seberani sebelum tinggal dirumah itu
Setelah melaksanakan sholat, dan tak lupa memanjatkan doa
keselamatan bagi diri masing-masing, sekaligus kelancaran dalam menghadapi masalah nanti, Tomo dan Mbah Sugi juga Vero pergi kerumahnya, sedangkan Bu Jum atau mertua Tomo, sudah kembali kerumahnya dijemput oleh suaminya
Perlahan-lahan mereka berjalan, Menimbang Vero juga membawa
nyawa dalam perutnya
Tomo menuntun dan merangkulnya, seakan takut jika istrinya tersandung oleh batu
Sesampainya disana, Pak Satyo belum muncul, mungkin sebentar lagi
Vero tak berani masuk kedalam rumah, jiwanya seakan menolak untuk kembali tinggal dirumah itu
"Jane wes ikhlasno wae pie sih mas, rak usah diladeni, awak metu wae teko omah iki, jarno wae duet hilang sing penting anak e awak ora,"(sbenarnya sudah ikhlaskan saja gimana sih mas, gak usah ditanggapi, kita keluar dari sini, biarkan saja uang hilang yang penting anak kita tdk)
kata Vero kesal dengan keadaan yang menimpanya
"Lah ngopo baru saiki sampean mikire ngono ndok, wes telat yo,"(lah ngapa baru sekarang kamu mikirnya begitu nak, sudah telat ya) kata Mbah Sugi dengan matanya yang menyelidik kedalam rumah,
Pintu rumah sudah dibuka, lampu pun sudah
menyala,
"Maksud e telat?" Tanya Vero menyelidik
"Yo telat ndok, Ayu wes ngenali ambumu, nak ket pertama, kalian keganggu terus minggat, yo rak bakalan nyanti ngene iki, wes tenangno atimu, mari iki awakmu aman, anakmu juga"(ya telat nak, Ayu sudah mengenali baumu, kalau dari
awal, kalian terganggu terus pergi, ya gak sampai begini jadinya, sudah tenangkan hatimu, selesai ini kamu aman, anakmu juga) terang Mbah Sugi menenangkan Vero, Tomo hanya diam dan merangkul Vero
Satu, dua, tiga, boo!
Ada sesuatu yang menggebrak benda didalam rumah, cukup keras,
Tak ada yang bersuara, lagi, lagi dan lagi, barang-barang dirumah seakan saling beradu satu sama lain, hingga menghasilkan suara gaduh dari dalam,
Mbah Sugi masuk kedalam rumah, dan memeriksa apa yang terjadi,
"Ndi adiku,"(mana adikku) bentak Ayu yang saat itu mendadak muncul
didepan Mbah Sugi
"Njaluk o mbek emakmu ndok, sedelok ngkas, emakmu rene,"(minta sama ibumu nak, sebentar lagi, ibumu datang) jawab Mbah Sugi tenang
Perlahan Ayu menghilang dari tatapan Mbah Sugi
"Hooo bocah gendeng, tunggal mbek mamak e"(hooo bocah gendeng, sama kaya ibunya)
gerutu Mbah Sugi lirih
Mbah Sugi kembali keluar menemui Tomo dan Vero yang saat itu sedang duduk diteras
Selang beberapa saat, Ayu muncul dengan suara menggelegar ditelinga mereka bertiga
"Aku rak gelem nunggu!"(aku gak mau menunggu) kata Ayu dengan suara khasnya yang kecil
serupa bocah yang masih imut-imut
Tomo melihatnya, ia berdiri diujung tembok, raut wajahnya yang menggambarkan amarah yang tak terkendali, dan senyumnya yang sangat membuat Tomo begidik ngeri untuk terus menatapnya
Tak lama kemudian setelah hal itu terjadi, datanglah Satyo ber-
sama dengan anaknya Wati
Wati yang saat itu berpakaian ala ibu-ibu hamil dengan daster seadanya, ya serupa orang stress pada umumnya, tapi kali ini ia tampil dengan wajah bersih,
Seperti biasa, ia selalu menyebut nama Ayu, Ayu, dan Ayu
"Ndoook, mreneo ndok,"(nak, kesini nak)
kata Mbah Sugi memanggil Wati
"Anakku nendi Mbah?"(anakku dimana mbah?) tanya Wati dengan tatapan bingung
"Enek nng njero, mlebu oo ndok, celok wae, anakmu neng njero"(ada didalam, masuklah nak, panggil saja, anakmu didalam) jawab Mbah Sugi
"Pie kue Yo? Wes siap?"
(Gimana kamu Yo? Sudah siap?) tanya Mbah Sugi kepada Pak Satyo
"Siap ngopo?" kata Pak Satyo balik bertanya
"Siap diobong raimu nang kene!"(siap dibakar mukamu disini!) kata Mbah Sugi dengan mata melotot, seakan itu yang akan dilakukan
"Weh! Sampean ojo kurang ajar Mbah!"
(Weh! Anda jangan kurang ajar Mbah!) sahut Pak Satyo tak terima dengan ucapan Mbah Sugi
Mbah Sugi hanya diam menyaksikan raut wajah Satyo yang cemas, dan Mbah Sugi hanya tersenyum kecut dengan Pak Satyo
"Rene melu aku"(sini ikut aku) ajak Mbah Sugi masuk kedalam rumah
"Mo, koe neng kene wae yo, jogo bojomu, nek kerungu sing rak kepenak, ojo digatekno, ojo melebu sedurunge tak celok"(mo, kamu disini aja ya, jaga istrimu, kalau dengar suara yang tidak mengenakan, biarkan saja, jangan masuk sebelum aku suruh) ujar Mbah Sugi kepada Tomo
Tak berapa lama, Pak RT datang, katanya hanya untuk memastikan bahwa tidak ada warga yang menonton hal ini
Setelah Mbah Sugi masuk, Suasana didalam rmh mendadak menjadi lembab, dingin, terkadang panas, campur menjadi satu,
Disitulah datang sosok Ayu dengan senyum yang mengerikan
Serupa dengan film horor ditelevisi, Wati melihat sosok Ayu lagi, wajahnya tersenyum senang, matanya berkaca, terharu dan bahagia
Namun, tidak dengan Ayu, senyumnya bkanlah untuk hal yang bahagia, melainkan senyum yang begitu satir, tatapan tajam menatap Pak Satyo, kakeknya sndri
Entah apa yang ada pada benak Pak Satyo saat itu
"Ngopo ndelokno aku koyo ngono, rak terimo tak pateni koe!"(ngapa melihat aku seperti itu, gak terima aku bunuh kamu!) bentak Satyo kpada Ayu
Sontak, Mbah Sugi mengucap istighfar dan memukul kepala Satyo, cukup keras
Tapi tidak terlalu keras,
"Kui putumu yo mbol!"(itu cucumu ya mbol) kata Mbah Sugi geram dengan ucapan Satyo,
"Opo Pak? Sampean sing mateni Ayu?"(apa Pak? Bapak yang bunuh Ayu?) tanya Wati mendadak seakan kewarasannya kembali seperti semula
Pak Satyo hanya terdiam
Tak bisa berkata apapun, hal itu ternyata ia sembunyikan dari anaknya sendiri Wati
"Iku putumu Pak, getehku, dagingku,"(itu cucumu Pak, darahku, dagingku) kata Wati memberontak, sketika itu pula Ayu menghilang entah kemana
Mendadak angin berhembus kencang entah dari mana
asalnya,
Wat menangis, menyesali perbuatan bapaknya sendiri,
Mbah Sugi berjalan kebelakang mencari cangkul dan mengambilnya
"Kuborke putumu sing nggenah, aku nyesel wes mbantoni koe,"(kubur cucumu yang benar, aku nyesel sudah membantumu) kata Mbah Sugi sembari melempar cangkul
dihadapan Pak Satyo
"Wegah!"(ogah!) jawab Pak Satyo
Mendadak dan tanpa disadari oleh Mbah Sugi, dan Pak Satyo, Wati meraih cangkul tersebut dan menancapkan kepala Satyo,
"Wati! Edan kon, iki bapakmu, kok malah mbok pacol ndase!"(wati! Gila kamu, ini bapakmu, kok malah di
cangkul kepalanya!) kata Mbah Sugi yang terkejut dan beringsung mundur
Darah mengucur dari kepala Pak Satyo, dan isi kepalanya terlihat saat kepala Cangkul itu ditarik oleh Wati, Mbah Sugi kalah mental melihat hal itu, bahkan kejadian itu lebih menyeramkan dari pada bertemu
100 dedemit sekalipun
Hal itu sangat membekas diingatan Mbah Sugi
"Aku Ayu, hahaha" kata Wati, sembari tertawa, ya ternyata itu adalah Ayu yang meminjam raga Wati
"Saiki ndi adiku"(sekarang aman adikku!) lanjut Ayu berkata dengan suara Wati, bertanya kembali tentang adiknya
"Melu aku"(ikut aku) kata Mbah Sugi mengajak Ayu untuk mengikutinya
Sedang mata Mbah Sugi tak henti menatap darah yang mengalir kental dari kepala Pak Satyo
"Adikmu enek neng njero kene, nek koe arep nggowo adikmu, iki bongkar wae, adikmu enek neng njero kuburan iki"
(Adikmu ada didalam sini, kalau kamu mau bawa adikmu, ini bongkar saja, adikmu ada didalam kuburan ini) kata Mbah Sugi sembari membuka papan, yang ternyata selama ini menutupi kuburan anaknya Wati yang belum sempat diberi nama itu
Melihat betapa bahayanya Ayu ketika meminjam
raga Wati, akhirnya Mbah Sugi berinisiatif untuk meraih cangkul tersebut, dan mulai menggali
Ternyata galian itu tidaj terlalu dalam bahkan satu meter pun tidak sampai
Ditemukanlah satu bungkusan kecil, berwarna putih, ketika dibuka, terdapat tulang kecil, hampir sama
dengan tulang ayam, bahkan lebih kecil dari tulang ayam sekalipun
"Sesok awak nterno adikmu yo, mengko tak deleh nang sebelah omahmu"(besok kita antarkan adikmu ya, nanti aku taruh disebelah rumahmu(makam))terang Mbah Sug menenangkan Wati
"Matursuwun" kata Ayu lirih
dan pergi dari tubuh Wati,
Watipun mendadak tak sadarkan diri,
Mbah Sugi memanggil Vero dan Tomo, untuk masuk kedalam rumah, dan Pak RT mengikutinya
"Astaga ya Alloh mas," kata Vero terkejut, melihat darah dan kepala dengan luka yang menganga
Tentu saja yang lainnya juga sama
Terkejut dengan apa yang mereka lihat
Mbah Sugi datang dari arah belakang dengan membawa bungkusan kecil itu,
"Ayu sing macol ndase,"(Ayu yang macul kepalanya) kata Mbah Sugi sedikit begidik melihat darah yang melimpah,
"Wes ojo didelok, Vero mbek Tomo wes aman"
(Sudah jangan dilihat, Vero dan Tomo sudah aman) lanjut Mbah Sugi
Sedang Vero masih menangis dipelukan Tomo
"Te, aku njalok tolong karo koe, umumke nang mesjid sesok bar subuh, nak Satyo ninggal"(Te, aku minta tolong sama kamu, umumkan dimasjid, kalau Satyo mati) kata Mbah Sugi
"Nggeh Mbah" jawab Pak RT yang masih melihat Satyo yang terkapar bermandikan darah dikepalanya
"Vero karo Tomo, nggolek o kontrakan liane, masalah ganti rugine, sesok diurus karo sedulur e Satyo,"(Vero dan Tomo, carilah kontrakan lainnya, masalah ganti rugi, besok diurus dgn
saudaranya Satyo) kata Mbah Sugi kepada Tomo dan Vero
"Ayu wes ketemu adine, tapi ora menutup kemungkinan, dee bakal mbalek, malah iso jadi bakal nunggoni omah iki selawase"(Ayu sudah ketemu adiknya, tapi gak menutup kemungkinan dia bakal kembali, malah bisa jadi tinggal
selamanya dirumah ini) lanjut Mbah Sugi menerangkan
"Nggeh mbah, matursuwun," hawab Tomo tanpa senyum
Malam itulah akhir dari hidup Satyo yang tidak mau mengakui cucunya,
Keesokan paginya, selepas subuh dan sesuai intrupsi Mbah Sugi, diumumkanlah kepda warga bahwa Satyo meninggl
Tentu saja warga bertanya-tanya akan hal itu, jelas saja mereka akn tahu, Mbah Sugi memberi penjelas kepada warga untuk tidak membicarakan kejadian nahas itu kepada desa lain atau kepada yang belum tahu, karena itu adalah aib yang harus dijaga bersama
Sedangkan Wati, setelah penguburan jenazah bapaknya dan juga anaknya, Wati dibawa kekota sebelah untuk dimasukan kedalam rumah sakit jiwa,
Hingga sekarang Wati masih berada dikamar yang sama, dirumah sakit jiwa yang sama, tak banyak informasi yang dapat diambil dari Wati
Namun, setelah kejadian nahas itu, rumah itu sengaja dibuat kosong, hingga pada tahun 2014-an rumah tersebut dibuat sebagai kantor distribusi
Ayu masih sering menampakan diri dengan orang yang berada disekitar rumah, tapi lebih kerap menampakan diri kepada perempuan yang sedang
Hamil,
Vero dan Tomo, kini sudah memiliki rumah sendiri dan tidak lagi berada didesa tersebut, bahkan mereka pindah kekota sebelah,
Sesekali Tomo sering melihat bayangan Ayu tersenyum, sama saat ia melihat Ayu tersenyum seram kali pertamanya diteras rumah
Begitupun dengan Vero
Vero melahirkan anak tersebut dengan normal dan kini tumbuh menjadi anak yang lucu, saat ini umurnya sudah mnginjak 10tahun kurang, dan anaknya perempuan
-Selesai-

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.