Saya berjumpa Mira di Jakarta, untuk urusan kerja. Kami sama-sama berasal dari Pontianak. Membuat kami jadi sedikit akrab. Bedanya, ...

Cermis: Sang Pengantin (ditaksir Jin)



Saya berjumpa Mira di Jakarta, untuk urusan kerja. Kami sama-sama berasal dari Pontianak. Membuat kami jadi sedikit akrab. Bedanya, sejak 10 tahun yang lalu Mira pindah ke salah satu kota di Banten bersama keluarganya.
Cerita ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, saat Mira pertamakali "ditaksir" oleh Makhluk yang bersemayam di sebuah pohon tua di depan rumahnya. Usia Mira 18 Tahun, mahasiswi semester pertama.
Waktu itu pukul 8 malam, Mira diantar pulang oleh seorang mahasiswa teman barunya. Mereka baru saja menyelesaikan masa ospek. Mira bilang cowok ini cukup tampan, namanya Ridwan. Malam itu, Ridwan mengantar Mira dengan Motor vespanya.
Rumah Mira berada di tepian kota, tidak terlalu ramai. Di sekitar rumahnya masih banyak pepohonan rindang.
"Terimakasih ya Wan udah mau nganter jam segini"
"Engga apa-apa. Daripada kamu ngangkot sendirian. Bahaya" kata Ridwan.
Mira bilang waktu itu ia memang mulai suka sama Ridwan. Jadi ia sangat senang malam itu.
Selepas melepas Ridwan pulang, Mira langsung masuk ke rumah. Ia lalu mandi karena badannya terlalu gerah dan terasa lengket karena keringat.
Saat Mandi, Mira mendengar langkah kami di kamarnya. Tapi ia tak ambil pusing karena palingan itu Ibunya. Ibunya kadang masuk ke kamar Mira untuk meletakkan pakaian Mira yang sudah kering.
Tapi saat ia keluar dari kamar mandi, ia tak menemukan tumpukan pakaian kering di atas kasurnya. Ia hanya mencium aroma mawar yang sangat pekat memenuhi kamarnya. Aroma itu nyaris membuatnya pusing.
Oh ya, kamar Mira letaknya di bagian depan rumah. Jadi jendela kamarnya itu menghadap jalan. Halaman mereka juga luas tanpa tanaman. Hanya rumput yang terhampar. Di depan rumahnya ada sebuah pohon besar di tepi jalan.
Nah disitulah Mira menyadari, jendela kamarnya terbuka. Tirainya berkibar tertiup angin malam yang dingin. Ia mengintip keluar, tak ada siapa-siapa. Ia hanya menatap pohon tua di depan rumahnya yang misterius.
Jendela itu jarang dibuka. Soalnya Mira takut aktivitasnya di kamar dilihat orang yang lewat di jalan. Apakah tadi ibunya masuk untuk membuka jendela? Tapi buat apa?
"Mama tadi ke kamar Mira ya?" Tanya Mira saat makan malam.
"Enggak, daritadi Mama nemenin Ayah"
"Loh kok tadi ada suara orang di kamar?"
"Siapa? Ayah sama Mama di kamar aja"
"Terus jendelanya kebuka"
"Kebuka?. Ada yang hilang?"
"Belum periksa sih"
Selesai makan, Mira dan Mamanya memeriksa kamar. Tidak ada satupun barang yang raib.
"Ya sudah, mungkin kamu salah dengar" kata Mamanya setelah memeriksa seluruh penjuru kamar.
"Mama cium aroma mawar gak?
"Aroma mawar apaan? Wong kamar kamu bau apek gini"
Mira merasa aneh. Jelas sekali kamarnya kini beraroma mawar. Mamanya kembali menemani Ayah Mira. Kondisi ayah Mira memang tak lagi sehat.
Mira telentang di kasurnya. Masih tak habis pikir.
Saat itulah dia membaca pesan BBM dari Ridwan.
"Itu cowok tetangga kamu ngeri juga ya. Masak pas aku nganterin kamu aku dipelototin mulu" begitu isi pesan Ridwan.
"Cowok tetangga? Di mana?" Tanya Mira. Tapi chat Mira tak kunjung di balas sampai Mira tertidur dengan aroma mawar yang masih memenuhi kamarnya.
Besoknya di kampus Mira berusaha mencari Ridwan. Tapi kata teman-temannya Ridwan tidak masuk hari itu. Mira resah, Ridwan hilang entah kemana. Seminggu lamanya Ridwan tak kunjung masuk.
Sepekan kemudian. Ridwan menemui Mira di kantin. Ada bekas luka di jidatnya.
"maaf aku ngabain chat kamu" kata Ridwan.
"Kenapa?. Kamu kenapa Wan?"
"Kayaknya kita gak usah dekat-delat lagi deh"
"Loh kok gitu?" Mira heran.
"Gue mau aman" kata Ridwan.
Saat itu Mira tak mengerti bahaya apa yang mengintai Ridwan sehingga Ridwan merasa tidak aman. Dia pikir Ridwan hanya mencari alasan saja. Mira sempat patah hati.
Beberapa waktu Mira melupakan hal-hal aneh yang terjadi di kamarnya. Juga soal Ridwan. Perasaan itu sudah dikuburnya dalam-dalam. Hingga suatu malam, saat Mira sedang mengerjakan tugas terjadi sesuatu yang membuat jantungnya kembali berdegub kencang
Saat Mira sedang fokus mengerjakan tugas tiba-tiba ia merasakan udara dingin seperti memeluk tubuhnya. Ia menoleh, jendela kamarnya terbuka. Mira sedikit panik. Ia berjalan mengendap mendekati jendela.
Di sana, di bawah pohon di depan rumahnya Mira melihat sesosok pria tinggi besar berdiri tegak menghadap kamarnya. Tak tampak begitu jelas, namun cahaya bulan malam itu cukup terang untuk menangkap siluetnya. Tubuh Mira gemetar.
Mira buru-buru menutup jendela. Dantungnya berdegub kencang. Ia kembali ke mejanya, ia berkeringat. Ia tak bisa kembali fokus ke tugasnya. Siapa sosok itu? Misterius.
Aroma mawar kembali memenuhi kamarnya. Malam itu Mira tertidur di Sofa. Tak berani ia kembali ke kamarnya.
Sejak saat itu Mira merasa dirinya diawasi. Entah oleh siapa. Pintu kamarnya kini dikunci total, dipaku supaya tak dapat lagi dibuka. Mira berusaha berpikiran positif, namun ada ketakutan yang bersamayam dalam dadanya.
Gangguan itu sempat hilanh sampai Mira dekat dengan Yoga, teman sekelas Mira di semester 2. Yoga baik, perhatian, dan senang melakukan hal-hal yang menurut Mira romantis.
Di suatu hari Minggu, Yoga datang untuk menjemput Mira. Mira tentu sangat senang, itu kencan pertama mereka. Setelah selesai berdandan, Mira pergi bersama Yoga.
"Tadi siapa?" Tanya Yoga di jalan.
"Siapa apanya?" Tanya Mira heran.
"Itu yang di depan rumah? Nongkrong dekat pohon"
Deg! Mira kaget. Apakah sosok yang sama dengan yang ia lihat?.
"Bukan siapa-siapa, paling tetangga" sahut Mira. Hatinya tak tenang.
Hari yang seharusnya menyenangkan itu menjadi rusak karena cerita Yoga. Sepanjang kencan Mira terus mengkhawatirkan Yoga. Ia ingat Ridwan juga pernah melihat sosok itu, dan Ridwan menghilang dari hidupnya.
Malam itu Yoga mengantar Mira pulang. Belum larut, baru pukul 7 malam. Sesampai di depan rumah, Mira menatap pada pohon di depan rumahnya.
"Kamu lihat apa?" Tanya Yoga.
"Kamu yakin tadi lihat orang di situ?"
"Iya, ia ngeliatin aku selama aku nunggu kamu"
"Aneh" kata Mira.
"Aneh kenapa?" Tanya Yoga.
"Nanti aku ceritain. Tapi engga sekrang".
Yoga lalu pamit. Mira masuk ke rumah sambil menoleh menatap pohon itu. Bulu kuduknya bergidik.
Setengah jam kemudian HP Mira berdering. Nomor tak dikenal. Ternyata dari Fian, sahabat Yoga.
"Yoga kecelakaan" itu informasi singkat yang Mira dapat. Mira kaget bukan kepalang. Apakah ada hubungan dengan sosok di pohon depan rumah?
Malam itu juga Mira mengambil parang terbesar di dapur rumahnya, berjalan dia dengan buru-buru ke depan rumah. Mamanya yang melihat kejadian itu panik dan mengejarnya.
"Mir? Ada apa Mir? Nyebut Mir! Nyebut!" Seru ibunya.
"Itu pohon iblis Ma. Mira mau tebang pohonnya"
"Sudahlah Mir. Jangan ngaco begini Mir"
"Pohon ini sudah ngancurin hidup Mira ma!" Pekik Mira dalam pelukannya Mamanya. Dalam hatinya dia beristighfar.
Malam itu setelah Mira tenang, ia bercerita tengang semua hal yang ia alami kepada Mamanya. Mama Mira hanya terdiam, masih setengah percaya.
"Kalau memang ada yang ganggu, kita tunggu pak Itam datang. Dia lebih tahu urusan beginian" begitu kata Mama Mira. Pak Itam adalah sepupu Mama Mira. Ia ada urusan di Jakarta dan kabarnya hendak mampir ke rumah mereka.
Malam itu Mira tak tenang. Besok ia harus menjenguk Yoga. Entah kenapa Mira sangat percaya ini ada hubungan dengan sosok itu. Ia langsung teringat luka-luka Ridwan.
Pagi itu sebelum menjenguk Yoga, Mira harus menghadiri kelas salah satu mata kuliah. Setelah kelas selesai, ia tak langsung ke rumah sakit. Yang ia cari adalah Ridwan.
Setelah berusaha mencari, akhirnya Ridwan ditemukan di perpustakaan. Mira menarik tangan lengan baju Ridwan. Ridwan tentu kaget.
"Kenapa?" Tanya Ridwan
"Ceritakan padaku, apa yang terjadi malam itu!" Bisik Mira.
"Yang mana?"
"Saat kamu nganterin aku pulang"
Malam itu Sepulang dari mengantarkan Mira, Ridwan merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa seperti sedang membonceng seseorang. Udara dingin seperti bertiup di tengkuknya.
Berkali-kali Ridwan melihat ke sepion, tidak ada siapa-siapa. Ridwan berusaha menenangkan diri tapi bulu kuduknya kian berdiri. Saat itulah Ridwan dikagetkan dengan seorang bapak-bapak naik sepeda melintas di depannya.
Ridwan membelokkan motornya dengan tiba-tiba. Ia terlempar dari motornya dan menghantam aspal. Hanya sedikit luka. Ia segera bangkit.
Di balik kegelapan ia melihat sosok yang ia kenal. Pria yang ia lihat di depan rumah Rima.
Setelah peristiwa itu, seorang teman Ridwan yang mengaku anak Indiehome menasihati Ridwan agar menjauhi Mira. Ada sosok yang menjaga Mira katanya.
Hari itu Mira batal menjenguk Yoga. Ada yang harus ia selesaikan. Ia tak mau Yoga kenapa-napa karena dirinya. Hatinya patah, tapi apa boleh buat. Seperti dikutuk, Begitulah perasaan Mira hari itu. Hancur.
"Woy goblok! Apa salah gue ama lo? Kenapa lo hancurin hidup gue?" Teriak Mira sore itu di samping pohon di depan rumahnya. pikirannya kalut. Mira merasakan sesuatu yang dingin menyentuh wajahnya, seperti hendak menyeka airmata yang mengalir dari matanya.
Malam itu dalam tidurnya Mira bermimpi berada di sebuah tempat berwarna putih. Sejauh mata memandang hanya ada kekosongan. Sekitar 5 meter di depannya berdiri seseorang yang dikenalnya. Yoga.
Mira mendekat. Semakin ia mendekat semakin tercium aroma mawar. Aroma yang Mira kenal. Saat tubuhnya dan tubuh Yoga begitu dekat, ia menyadari sesuatu. Itu bukan Yoga. Seorang pria tinggi besar, berambut putih, berwajah tampan menatap matanya dalam.
Mira terbangun terengah-engah. Jantungnya berdegub kencang. Aroma mawar tercium jelas di kamarnya. Jendelanya terbuka menganga.
Menulis cerita ini gak bisa buru2. Beberapa hal harus saya komfirmasi ulang ke Mira. Soalnya dia baca thread ini. Mira ada di antara kalian hahahahahaha.
Seminggu kemudian Pak Itam datang. Pak Itam punya sedikit pengetahuan tentang hal-hal ghaib. Dulu di Pesantren beliau sempat diam-diam belajar amalan-amalan terkait ilmu2 ghaib.
Setelah mendengar cerita Mira, pak Itam menyimpulkan kalau benar ada Setan yang menyukai Mira. Setan ini dari golongan Jin kafir.
"Kenapa dia mengincar saya?"
"Tidak tahu, ini kejadian langka" jawab Pak Itam.
Pak Itam memutuskan melakukan Ruqyah. Mira diruqyah malam itu juga. Benar adanya, setelah diruqyah ada ketenangan yang terasa di hati Mira.
Dan pohon itu, ternyata tidak berada di wilayah tanah milik kelarga Mira. Mereka tak dapat menebang pohon itu begitu saja.
Semua berjalan normal hingga memasuki tahun kedua kuliah. Namun selama itu Mira masih tak berani dekat dengan pria. Yoga masih selalu mengejarnya, namun Mira memilih menghindar.
Apesnya, pada sebuah mata kuliah Yoga dan Mira harus ada di satu kelompok yang sama. Mira benar-benar tak dapat menghindar.
Mereka tak banyak bercakap selama mengerjakan tugas kuliah. Namun Yoga berusaha mendekati Mira malam itu, saat Mira menunggu angkot di tepi jalan.
"Sudahlah Mir, kenapa kita harus takut?. Kita manusia adalah makhluk paling mulia, merekalah yang harus takut ke kita"
"Aku sayang sama kamu Mir. Buatku ini semua bullshit!" Seru Yoga
"Aku juga sayang kamu, aku enggak mau kamu kenapa-napa" sahut Mira.
"Enggak! Kita enggak akan kenapa-napa" Yoga tetap kokoh untuk bersama Mira.
"Tunggu di sini sebentar" kata Yoga. Tak lama kemudian ia datang dengan motornya.
"Aku antar pulang" kata yoga.
"Jangan nekat Yog!"
"Kita buktikan kita enggak akan kenapa-napa".
Mira termenung. Mungkin memang sudah waktunya ia melupakan kejadian aneh itu.
Malam itu langit tampak cerah. Udara tak begitu dingin. Motor Yoga melaju di tengah keramaian menuju tepi kota. Mira memeluk Yoga penuh rindu. "Memang sudah waktunya untuk hidup normal" pikirnya.
Sesampai di rumah Mira dan Yoga sama-sama menatap pohon itu. Lengang, hening. "Seharusnya dia sudah tak menggangguku lagi" kata Mira.
Maka serta merta Yoga tiba-tiba merasa pusing, kepalanya seperti berputar-putar. Tubuhnya oleng. Namun sekian detik kemudian ia berdiri tegap menatap Mira dengan tajam. "Aku masih di sini" katanya. Lalu Yoga tumbang dan pingsan.
Mira berlari ke dalam memanggil mamanya. Mamanya yang sedang bersama Ayahnya buru-buru keluar. Tapi Yoga tidak ada di sana. Motornya juga menghilang. Kemana dia? Benar-benar aneh. HP Mira berbunyi, pesan dari Yoga.
"Ternyata aku salah"
Setelah itu urusan percintaan Mira benar-benar kacau. Jangankan teman dekat, menjadi teman Mira saja sepertinya laki-laki pada menghindar. Mereka seperti tak betah berada di dekat Mira.
Mira sempat menghubungi RT/RW di wilayah rumahnya untuk mendapat izin menebang pohon. Tapi pak RT bilang warga pasti tak setuju karena pohon itu memang sudah lama dikenal angker. Mereka takut menebang pohon itu hanya membuat masalah menjadi lebih runyam.
Sosok itu tak pernah muncul lagi, tak pernah ada aroma mawar yang aneh di kamarnya seperti dulu. Apa yang dia mau? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Di tahun ketiga kuliah, barulah Mira kenal dengan seorang Junior bernama Gadis. Gadis adalah seorang anak indigo, lulusan sebuah pesantren pula.
"Kak, sepertinya kakak ada yang nutupin" kata Gadis pada suatu sore seusai mereka rapat himpunan. Oh ya, untuk menyibukkan diri Mira sengaja ikut berorganisasi.
"Ditutup bagaimana?"
"Iya, aura kakak kayak dikunci gitu"
"Kok kamu bisa tahu?"
"Kata orang sih aku ada kemampuan kak" sahut Gadis. Saat itulah Mira mengerti kenapa laki-laki cenderung antipati padanya.
Pas denger cerita bagian ini saya kesel banget sama si setan. Udah cintanya bertepuk sebelah tangan, masih posesif pula.
Mira banyak bercerita pada Gadis soal peristiwa-peristiwa yang dilaluinya. Menurut Gadis, itu kejadian langka. Ia pernah mendengar soal manusia ditaksir Jin, tapi tak sampai tahap mengganggu.
"Gimana kalau Jin-nya diajak bicara kak?" Tanya Gadis
"Ngobrol sama Jin?"
"Iya, biar tahu apa maunya"
Sebuah ide yang aneh dari Gadis. Tapi karena sudah terlalu frustasi, Mira setuju.
Suatu malam Gadis menginap di rumah Mira.
"Dia masih di situ kak, ngeliatin kakak mulu" kata Gadis saat melintasi pohon itu.
"Bagaimana caranya kami akan ngobrol?" Tanya Mira.
"Ingat mimpi kakak? Kita masuk lewat situ" kata Gadis.
Lalu Mira disuruh berbaring. Gadis memegang tangan Mira. Sesuatu yang hangat menjalar dari tangan ke sekujur tubuhnya.
Di ruang putih kosong itu Mira melihat sosok itu lagi. Sosok pria tampan berambut putih. Mereka bertatapan. Mira menyadari mata itu berwarna biru seperti Topaz. Tak ada kata-kata yang keluar. Tapi Mira dapat merasakan mereka sedang bercakap-cakap.
Mira terbangun terengah-engah.
"Kenapa kak?" Tanya Gadis.
"Dia marah" kata Mira.
"Apa yang terjadi?"
"Dia bilang mau menikahi aku"
"Terus?"
"Terus aku tolak. Aku bilang aku enggak mau. Aku suruh dia pergi, jangan ganggu akulagi"
"Kakak ngomong gitu?"
"Kita enggak ngomong. Cuma dialognya kayak ada di dalam kepala".
Gadis tercenung.
"Sepertinya dia beneran marah kak. Aku bisa rasain energinya" kaya Gadis.
Mira mencium aroma mawar memenuhi kamarnya. Jendela kamarnya juga terbuka.
"Kamu mencium Aroma mawar?" tanya Mira.
"Mawar? Ini aroma bangkai" kata Gadis. Mira kaget, kenapa aroma yang tercium berbeda.
"Ini aroma dia, dia barusaja dari sini" kata Gadis.
Jadi sebenarnya yang terjadi barusan adalah Gadis memanggil Jin itu untuk masuk ke dalam Mira. Singkatnya dialog Mira dan Jin dilakukan dalam keadaan kesurupan.
"Pasti yang kakak lihat Jin-nya ganteng" kata Gadis
"Benar"
"Iya, dia mengubah dirinya di hadapan kakak. Karena dia suka kakak" kaya Gadis.
Malam itu Mira tak dapat tidur. Malam semakin larut namun ia tak dapat memejam. Ia ingat ancaman itu. "Kau akan tahu akibatnya Mira".
Suara itu seperti berbisik halus padanya.
Setelah kejadian itu keadaan Ayah Mira memburuk. Beberapa kali Mira harus bolak-balik Rumah Sakit menemani Ayahnya. Sampai pada suatu ayahnya benar-benar koma.
Menyadari suatu hal, Mira gemetaran. Keringat dingin mengalir. Apakah Jin itu begitu jahatnya?.
Gadis bilang ke Mira kalau Jin bisa saja sejahat itu. Dan menurut Gadis, kekuatan Jin yang satu ini memang luar biasa. Kalau harus melawan ia tidak sanggup.
"Tapi kalau mbak Mira mau, kita bisa pergi ke rumah guru saya" kata Gadis. Mira tak punya banyak pilihan.
Mira mengakhiri percakapan dk telepon siang itu. Mira tengah menjaga ayahnya.
Sore pukul 6. Seusai shalat maghrib, Mira berdiri menunggu di depan Rumah Sakit. Sebuah mobil abu-abu tua berhenti di hadapannya. Jendela dibuka, Gadis tersenyum pada Mira.
"Yuk kak naik! Kita harus sampai di sana jam 9" kata gadis.
Mira naik ke mobil. Tapi ia sedikit kaget. Ia mengenal pria yang duduk memegang setir. Yoga.
"Kok kamu?" Tanya Mira.
"Sudah jangan kaget" kata Gadis.
"Kak Yoga yang suruh aku deketin kak Mira di kampus" tambahnya.
"Biar aku tahu keadaan kamu" kata Yoga. Matanya fokus ke depan melihat jalanan.
"Jadi?" Bisik Mira
"Iya aku tahu aku gak bisa dekat sama kamu. Bahaya buat kita.Jadi pas tau Gadis masuk kampus kita, aku suruh gadis deketin kamu" kata Yoga.
"Terus kenapa sekarang kamu ikut?" Tanya Mira heran.
"Kata gadis ini bisa jadi berbahaya, aku mau ada di dekat kamu"
Mira tercenung. Ternyata selama ini Yoga tak pernah benar2 hilang dari hidupnya. Yoga ada, mengamatinya melalui Gadis. Saat itu ingin rasanya ia menangis.
Dan ternyata setan yang satu ini sepertinya sangat suka dengan adegan kecelakaan. Seperti ditutup penglihatannya, Yoga tak menyadari ada mobil lain melaju ke arah mereka. Ia membanting stir, mobil berputar.
Mobil terguling setelah tertabrak. Ada hening yang panjang setelah dentum kedua mobil yang bertabrakan.
Ambula meraung-raung membawa Mira yang koma. Yoga dan Gadis hanya luka-luka. Mereka duduk di samping Mira sambil saling menatap. Mereka melakukan sebuah kesalahan.
Mira kembali di ruang putih itu. Pria berambut putih bermata biru itu berdiri di hadapannya. Dialog kembali terjadi di kepala Mira.
"Bagaimana? Sudah berubah pikiran?" Tanya sosok itu.
"Kenapa aku di sini?" Tanya Mira.
"Karena kamu, adalah pengantinku"
"Enggak, aku enggak akan pernah sama kamu. Aku mau pulang!" Seru Mira. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi dengan dirinya. Ia ingat kecelakaan itu.
Di rumah sakit Yoga, Gadis, dan Mama Mira menunggu di luar. Mira langsung dilarikan ke UGD.
"Kita harus melakukan sesuatu" kata Gadis ke Yoga.
"Ngelakuin apa?"
"Kita enggak boleh biarin Mira sendirian"
"Harus gimana?"
"Kita kirim doa kak" kata Gadis.
"Kamu harus menerima saya" kata sosok itu.
"Kenapa saya harus menerima kamu?" Pekik Mira.
"Karena ayah kamu, bersamaku" katanya. Entah darimana, Mira dapat melihat ayahnya berpakaian serba putih berdiri di samping sosok itu.
"Ayah, ayo kita pulang yah" kata Mira. Tapi ayahnya hanya diam mematung.
"Kau apakan ayahku?" Tanga Mira.
"Ayahmu pulang, kalau kamu tinggal di sini" katanya. Sungguh pilihan yang sulit.
Sementara itu Dokter berusaha menyelamatkan Mira di ruang UGD. Mamanya menunggu di luar. Gadis dan Yoga memanjatkan doa yang panjang setelah sholat Isya.
Yang terjadi kemudian adalah Dokter keluar ruang operasi dengan wajah penuh penyesalan.
Keheningan seperti mengisi lorong-lorong rumah sakit.
Mira telah tiada.
Yoga dan Gadis yang kembali dari musholla hanya bisa terdiam. Yoga masuk ke dalam menyusul Mama Mira. Mereka hanya bertatapan. Air mata mama Mira telah tumpah. Yoga juga tak dapat menahan sedihnya.
Sementara itu, Ayah Mira malah terbangun dari komanya. Mendengar kabar itu Mama Mira langsung menyeka airmatanya. Ia tak mau Ayah Mira kaget. Ia meninggalkan Yoga dan Gadis bersama Mira.
"Mana Mira?" Tanya Ayah Mira.
"Ada, sedang pulang" mamanya berbohong.
"Panggil Mira, panggil Mira kemari!"
"Iya nanti ya Yah, nanti Mira kemari"
"Sekarang, saya mau bertemu sekarang"
Sementara itu Yoga tak kuasa menahan tangis. Ia menggenggam erat tangan Mira.
"Jangan pergi Mir, jangan pergi" bisiknya lirih.
Mira telah mengenakan baju berwarna putih. Ada rangkaian bunga mawar di tangannya. Di ruangan putih itu kini berdiri sebuah sepasang singgasana. Sosok itu memegang tangan Mira.
"Terimakasih kamu sudah mau tetap di sini"
Dan kalian tahu? Kalau kejadian ini tak terjadi, mustahil Mira bisa cerita ke saya.
Sosok Yoga muncul di sana. Di ruang putih itu. Dengan baju putih juga.
"Pulang Mir, tempat lo bukan di sini" kata Yoga.
Sosok itu mencengkram tangan Mira kencang sekali.
Namun Yoga memegang tangan Mira yang lain.
Mira dapat merasakan ada dia energi besar seperti sedang beradu di dalam tubuhnya.
"Kamu tetap di sini!"Sergah sosok itu. Perlahan-lahan sosok itu berubah menjadi hitam, menyeramkan. Mira dapat melihat liur menetes dari mulutnya yang lebar.
"Bawa aku pulang Yog!!!" Seru Mira. Mira dapat merasakan energi Yoga membesar. Pegangan sosok itu terlepas.
Tangan sosok itu seperti terbakar. Mira dan Yoga berlari, lalu mendadak gelap.
Lalu Mira membuka mata, Yoga menangis di hadapannya.
"Yog, kamu kenapa?"
Yoga dan Gadis berpandangan.
"Suster! Dokter! Mira masih hidup!"
Seru Yoga. Dokter kembali masuk, Yoga dan Gadis diminta keluar.
Yoga menemui Mama Mira yang sedang menemani Ayah Mira.
"Ma, Mira kembali bersama kita" bisik Yoga. Mama Mira terbelalak kaget bukan kepalang. Bagaimana bisa? Pikirnya.
Peristiwa itu memang di luar nalar. Tapi kata Gadis, peristiwa Mati Suri itu bukan hal yang asing. Sering terjadi.
Setelah peristiwa itu, ayah Mira berangsur membaik. Mira juga pulih dengan cepat.
Mira menceritakan semua hal yang dia alami pada Gadis dan Yoga. Gadis bilang itu bisajadi adalah perwujudan Qorin Yoga. Qorin adalah kembaran setiap manusia yang lahir dalam bentuk Jin.
Lagipula, ajal manusia tak dapat dipercepat atau diperlambat. Semua itu sudah suratan Tuhan. Mira memang belum ditakdirkan untuk pergi.
Pohon di depan rumah Mira masih berdiri sampai sekarang. Tapi gangguan sudah tak muncul lagi. Sesekali Mira melihat sosok itu di sana tapi ia tampak tak berani mendekat.
Kini Mira sudah tinggal di Jakarta. Ia masih sesekali pulang ke rumah. Hubungan Mira dengan pacarnya juga baik-baik saja. Bahkan kabarnya sudah hendak menikah.

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.