RUMAH ROMBE . tidak ada yang tidak mengenal peristiwa ini, sebuah peristiwa yang dulu sempet membuat geger satu desa bahkan begitu ...

Cermis : Rumah Rombe



RUMAH ROMBE. tidak ada yang tidak mengenal peristiwa ini, sebuah peristiwa yang dulu sempet membuat geger satu desa bahkan begitu mengerikanya tragedi ini sehingga membuat banyak orang begidik ngeri tiap melihat saksi bisu peristiwa ini.sebelum saya mulai masuk ke bagian ceritanya, tidak ada salahnya bila saya kembali mengingatkan, bahwa peristiwa semacam ini sebenarnya banyak di sekeliling kita, hanya saja, apakah kita begitu peka untuk menyadarinya. karena apa yang akan kalian baca, merupakan satu dari sekian banyak


peristiwa-Peristiwa yang mungkin di luar nalar kita. manusia kadang terlalu kecil untuk tau apa yang tidak seharusnya di ketahui, dan mungkin ketidaktahuan itu adalah hal yang membuat manusia dapat bertahan di tengah banyaknya kengerian di sekeliling kita.

baiklah. cukup untuk intronya, jadi. mari kita mulai ceritanya.

tahun 2005, saya udah kelas 5 SD, sebelumnya, saya akan tulis kembali dimana saya tinggal.

saya tinggal di sebuah kecamatan dengan 2 desa yang di pisahkan oleh sungai kecil, jauh di hilir sungai ada sebuah pabrik gula, bekas peninggalan belanda. kita tidak akan membicarakan pabrik itu

karna nanti, akan ada waktunya untuk saya, mencertakan apa yang ada disna, ssuatu yang mungkin kadang tidak bisa di terima oleh akal sehat. kita masuk ke desa saya lebih dulu, karena apa yang akan saya ceritakan adalah salah satu bagian kelam yang pernah saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri

Desa saya, dulunya adalah sebuah rawa-rawa, sungai yang membelah desa, tidak lebih dari sungai kecil yang airnya mengalir dari sungai besar yang jauh di utara, karena Desa saya adalah bekas rawa-rawa membuat banyak orang berpikir ulang buat tinggal di tempat ini

tapi, yang saya pernah denger dari cerita bapak soal desa saya, adalah, hanya ada 7 orang yang pertama kali tinggal di wilayah ini, itu sebelum desa ini resmi di kenal.

7 orang ini, adalah cikal bakal yang membabat habis semua tumbuhan liar dan pohon besar untuk di jadikan tempat tinggal

namun yang harus di ketahui, sebelum 7 orang ini, rupanya, ada 1 keluarga yang lebih dahulu tinggal di desa ini. dia di kenal dengan nama Mbah puteri.

wanita paruh baya yang tinggal seorang diri di sebuah rumah tua peninggalan belanda.

disinilah keanehan itu terjadi.

konon, dari cerita bapak. rumah mbah puteri, adalah sebuah rumah yang menakutkan. ada perasaan ngeri setiap kali memandang, dan mbah puteri sendiri, hanya tinggal seorang diri, padahal, rumah itu, cukup besar untuk di tinggali sebuah keluarga besar.

disinilah saya patut bangga, kenapa? karena 7 orang yang pertama kali membuka lahan di desa ini adalah kakek saya, sekarang saya tau, kenapa kakek saya, bisa membagikan tanah yang luas untuk 10 anaknya.

10 anak bayangkan.

bapak sendiri adalah anak 3 dari 10 bersaudara.

6 orang lain, saya juga kenal. usia mereka hampir sama dengan kakek saya, dan saya tidak heran, tiap melihat mereka dan mendengar cerita bagaimana mereka menjadi yang pertama membuka lahan saya sangat bangga.

tapi. yang saya ceritain tidak ada hubunganya dengan mereka. karena, cerita ini di mulai

dari rumah MBAH PUTERI

seperti yang saya bilang. Mbah puteri hanya tinggal sendirian, beliau tidak memiliki seorang anak, apalagi cucu. jadi, apakah mbah puteri tidak memiliki suami?

jawabanya. TIDAK.

Mbah puteri dahulu memiliki suami, namun, mereka sudah meninggal.

apa saya baru saja bilang "mereka?"

ya. mereka yang saya maksud adalah lebih dari 1, Mbah puteri pernah menikah lebih dari 14 kali. awalnya saya tidak percaya mendengarnya, maksud saya.. mana ada orang yang bisa menikah sampai 14 kali, tapi kemudian saya percaya ketika cerita itu muncul dari

nyokap saya sendiri.

lalu, bagaimana bisa??

jawabanya. Mbah puteri rupanya bukan wanita sembarangan. banyak yang mengatakan, beliau berdarah ningrat, sehingga ilmunya sangat tinggi, lelaki yang menikahinya tak lebih dari lelaki yang tertarik dengan paras ayu beliau, namun

konon, Mbah Puteri memiliki perewangan (pengikut) , yang tidak pernah suka, Mbah puteri di nikahi oleh lelaki biasa, sehingga, banyak dari mereka yang akhirnya jatuh sakit kemudian meninggal.

cerita sekedar cerita, mitos terkadang hanya sebuah cerita usang. saya, kadang berpikir lagi

apakah itu benar?

sayangnya, saya tidak pernah bertemu dengan Mbah puteri, seinget saya, tapi, nyokap selalu membantah tiap kali saya ngomong saya tidak kenal sama mbah puteri.

nyokap akan bilang, bahwa waktu saya kecil, saya sering di gendong sama mbah puteri dan beliau sangat menyukai saya

setiap denger nyokap ngomong itu, saya, selalu merinding.

oke. lalu, sekarang, apa hubunganya dengan RUMAH ROMBE?

baiklah, setelah ini. kita masuk ke menu utamanya.

saya saranin buat kalian yang baca ini, saya tidak niat buat menakut2i kalian, atau membuat kalian berpikir bahwa apa yang saya tulis hanya omong kosong, tapi, saya cuma bisa bilang, KEJADIAN YANG AKAN saya CERITAIN ADALAH SATU DARI SEKIAN BANYAK HAL YANG BISA MENIMPA SIAPAPUN.

terkdang, kita tidak

sendirian.

saya ceritain dari awal kisah ini di buka. seperti yang saya bilang, waktu itu, saya masih kelas 5 SD pada tahun 2005.

saya masih tinggal bareng kakek saya, dan tentu saja saudara2 bapak, karena orang jaman dahulu kebanyakan bertetangga dengan saudara kandung mereka sendiri, termasuk bapak

di depan rumah saya, sekitar 300 meter, ada sebuah rumah besar, megah, luasnya sendiri bisa 6 kali luas rumah saya.

namun, semenjak pemiliknya meninggal, rumah itu, menjadi kosong.

rumah itu, adalah rumah milik Mbah Puteri.

setiap kali pulang ngaji, mau tidak mau, saya bakal lewat samping rumah itu, dan entah kenapa, setiap melihat rumah itu, ada satu titik kecil, rasa penasaran yang buat kadang kaki saya seolah di ajak untuk masuk kesana.

ya. seolah2 rumah itu bisa menarik rasa penasaran seseorang.

bertahun2 rumah itu di biarkan kosong begitu saja. rumput liar sudah mulai tumbuh di halamanya, terkadang bila ada waktu bapak dan tetangga ikut memotong rumput, biar terlihat lebih rapi. di depan rumah itu ada sebuah pohon mangga, pohonya, besar. jauh lebih besar dari pohon

mangga biasa.

Rumahnya sendiri menghadap ke utara. tidak ada pagar di sekelilingnya, hanya 2 pintu dengan corak eropa. lantainya, masih menggunakan bahan tekel.

saya pernah tanya nyokap, kenapa rumah itu di biarkan kosong, nyokap bilang, tidak ada yang mewarisi tanah dan rumah itu

sampai, suatu hari. saya lihat, sebuah mobil kijang lama berhenti di depan rumah itu.

rupanya, rumah itu sudah di beli, di miliki oleh seseorang, dan tidak akan lama lagi, rumah yang sudah kosong bertahun2 itu akan ada yang nempati lagi. saya, punya firasat buruk soal ini

Keluarga Rombe. itu yang pertama saya denger waktu nyokap ngobrol sama bapak.

Keluarga Rombe bukan orang asli jawa, seinget saya beliau berasal dari Kalimantan.

alasan kenapa beliau tinggal disini, adalah karena keluarga Rombe memiliki bisnis di bidang pembuatan bego (Sak untk padi)

Keluarga Rombe di pimpin oleh ibu paruh baya, mungkin usianya sekiranya kalau saya tidak salah 51 tahun, masih bugar, beliau menggunakan bahasa indonesia, belum bisa menggunakan bahasa jawa.

beliau memiliki 3 orang anak

yang paling tua adalah Mas Romi. usianya mungkin 21 tahun waktu itu. anak keduanya adalah seorang perempuan, namanya Mbak Rachel usaianya sekitar 18 tahun, dan yang bungsu namanya Tomi, 14 tahun.

penilaian saya tentang mereka, adalah , mereka keluarga baik2, bahkan baru pertama kali kenal mereka membagi-bagikan makanan ke tetangga, selain itu, mereka juga tidak pernah lupa menyapa tetangga. bukan kriteria orang kaya yang sombong.

lalu, semua di mulai pada saat itu.

suatu malam, Bu Rombe pernah bermimpi. beliau, di datangi oleh orang yang tubuhnya besar dan tinggi, kulitnya hitam pekat, sehingga wajahnya tidak kelihatan.

tidak hanya satu, melainkan bergerombol.

mereka, meminta bu Rombe mengikutinya. saya inget, karena bu Rombe pertama kali

menceritakan ini sama nyokap saya.

saya cuma curi dengar, dan karena waktu itu saya cuma anak kelas 5 SD mungkin pikir nyokap saya tidak akan mengerti. saya bisa lihat, mata bu Rombe berair seperti menangis, bibirnya gmetar. nyokap hanya mengatakan agar beliau tenang, sesekali mengelus bahu

kumpulan makhluk hitam itu, membawa bu Rombe bertemu dengan satu makhluk yang besarnya berkali2 lipat dari makhluk yang membawanya, sebegitu besarnya, sampe bu Rombe tidak bisa melihat wajahnya.

nyokap hanya mengatakan "Dalboh" (Hantu tinggi besar)

saat bertemu. Bu Rombe mendengar makhluk itu berbicara, bahwa mereka tidak keberatan keluarga bu Rombe tinggal disini, namun, mereka mengingatkan, untuk berhati2 selama tinggal di rumah ini.

Bu Rombe tidak mengerti maksud ucapan itu, saya cuma dengerin dan masih bisa lihat wajah

ngeri bu Rombe.

setelah itu, bu rombe terbangun begitu saja. sejak saat itu, banyak kejadian janggal terjadi, dan ini semua hanya menimpa bu Rombe.

mula2 waktu bu Rombe mendengar suara bising di dapur, beliau pergi untuk melihat, dan ketika sampai di dapur, beliau melihat

gayung melayang begitu saja. awalnya ini semua masih bisa di tahan oleh bu Rombe, karena beliau adalah kristen yang taat.

namun semakin lama, semakin menjadi-jadi. kamarnya bu Rombe ada di dekat ruang tamu, di lorong pertama, di samping jendelanya, ada pohon jambu air.

pernah waktu beliau sedang tidur, ada suara tawa cekikikan dari luar jendelanya, karena penasaran beliau mengintip lewat celah jendela, dan betapa terkejutnya beliau waktu melihat ada wanita bergaun merah duduk di salah satu tiang pohon jambu air, menatapnya dengan mata hitam

semua kejadian ini, hanya di ceritakan pada Nyokap. karena rumah saya adakah rumah yang paling dekat dengan rumah bu Rombe, selain itu nyokap bila ada kesulitan keuangan, Bu rombe lah yang selalu membantu.

nyokap pernah ngasih saran, untuk memanggil kiyai atau orang pintar

tapi bu Rombe menolaknya, beliau adalah umat kristen yang taat dan memanggil kiyai atau orang pintar tidak ada dalam imanya.

namun bukan berarti bu Rombe pasrah dengan keadaan ini. pernah ia, memanggil teman gerejanya. seorang wanita uzur, dan ketika wanita itu menetap semalam

wanita itu menjerit tak henti2 nya dan mengatakan bahwa rumah ini di bangun di tanah terkutuk.

hal ini sempat membuat orang2 desa berkumpul, karena wanita itu terus berteriak dan menjerit, seperti kesetanan. bu Rombe semakin takut.

sementara anak2 nya, tidak tau apa2

semua gangguan2 itu, rupanya terus berlanjut, dan menjadi semacam rutinitas bagi bu Rombe, sampai beliau tau, dimana tempat dan siapa penunggunya. hal ini, belum menimbulkan konflik kekerasan fisik.

sampai.

bu Rombe kembali bermimpi. mimpi yang sama, bertemu dengan makhluk hitam dan membawanya ke sosok besar dan tinggi itu lagi, kali ini suaranya marah, sangat marah sehingga Bu Rombe sampe menangis sejadi2nya keesokan harinya.

konon, beliau marah, karena

ada tamu yang tidak di undang.

sampe sini, saya bakal masuk ke cerita yang sebenarnya. tapi karena sudah larut saya lanjut besok saja, cerita ini masih panjang karena cerita ini tidak berakhir di keluarga bu Rombe, masih ada 2 keluarga lagi yang akan tertimpa bencana ini.

Hari berganti hari, dan saya bisa lihat sendiri perubahan yang terjadi dengan bu Rombe, beliau menjadi lebih kurus, pucat, dan tampak letih.

saya bisa menebak, bahwa mungkin tidur adalah hal yang paling dia hindari, mengingat ketika beliau bercerita ke nyokap bahwa makhluk itu semakin

intens menganggunya. menteror dengan nada marah yang bahkan Bu rombe sendiri tidak mengetahui sebabnya.

"Tamu tak di undang"

Nyokap selalu memberi saran agar bu Rombe mencari pertolongan, seseorang yang mungkin tau hal2 yang menganggunya, namun Bu rombe selalu menolaknya

beliau percaya dengan kekuatan tuhan dan imanya.

Siang itu, saya lagi makan di teras, saya kaget waktu Mbak Rachel nyamperin saya.
"Mak dimana?" tanyanya, wajahnya panik.

"gok pawon" (di dapur) kata saya.

Nyokap yang denger suara Mbak Rachel buru2 keluar, air matanya sekarang keluar

nyokap segera berlari dengan mbak Rachel menuju rumah. saya ikut di belakang mereka, begitu sampai di dalam rumah. Mbak rachel nunjuk kamar Bu Rombe

di bukanya pintu itu, dan seketika bau anyir bangkai tercium menyengat, begitu menyengat sampai saya tidak mau masuk lebih jauh

tapi saya bisa lihat dengan mata kepala saya sendiri. Bu rombe tengah terduduk di atas ranjangnya, matanya merah baru menangis, kondisinya benar2 tidak karuan, kemudian, beliau muntah.

Muntah cairan hitam yang saya yakin bukan darah, warnanya hampir sama dengan darah mengering tapi itu

bukan darah. karena bau anyir busuk itu berasal dari cairan itu.

"Tolong" ucapnya, "Tolong"

nyokap langsung lari, mencari Pak RT.

Pak RT datang dan beberapa warga, tapi ketika mereka masuk, saya inget, Bu rombe malah tertawa cekikikan, kemudian berteriak lantang "METU" (Keluar)

bingung. itu yang saya yakin sekarang ada di dalam pikiran Pak RT dan bapak2, karena setiap kali Pak RT mengingatkan untuk istighfar, bu Rombe justru tertawa, "Opo iku istighfar istighfar. Imanmu jek sak jentik'e tanganku tidak usah gaya2 an"
(apa itu istighfar istighfar. imanmu saja

masih sekecil jari kelingkingku, tidak usah pamer)

tegang wajah semua orang, termasuk saya yang ada di baris paling belakang, sekedar mengintip, di luar rumah, orang2 berdatangan, semakin rame.

Mbak Rachel kemudian mendekat "Kamu siapa, Mama mana bisa bahasa jawa"

"Makmu!!"(ibumu) dia tertawa lagi, lebih keras dari sebelumnya. "Aku guk Makmu cah wedon" (Aku bukan ibumu anak gadis)

Pak RT cuma menahan Mbak Rachel agar tidak mendekatinya, sampai Mbah Gimon muncul, beliau masuk ke kamar dan melihat langsung apa yang ada di depanya

"Demit ASU" (Setan Anjing)

Mbah Gimon, itu tetangga jauh saya, keseharianya hanya berkebun, tapi beliau pernah menghadapi hal semacam ini, yaitu ketemplekan (kesurupan)

yang bikin saya takjub, Mbah Gimon tidak membaca Ayat suci untuk hal mistis semacam ini, karena setau saya

cara itu yang di lakukan untuk mengusir, sebaliknya, Mbah Gimon hanya menekan jari kaki Bu rombe, lalu bu Rombe menjerit sambil memaki2.

bapak2 inisiatif memegangi badan Bu rombe yang mulai mencakari wajahnya sendiri.

setelah beberapa saat, bu Rombe jatuh pingsan.

Mbah Gimon kemudian melotot melihat ke kamar Bu rombe, seperti ada yang beliau cari. "gok ndi iki?" (dimana ini?) katanya

"goleki nopo to pak?" (cari apa pak) kata warga yang kebingungan.

Mbah Gimon keluar dari kamar Bu rombe, berbelok masuk kamar Mbak Rachel, semua orang mengikuti

akhirnya, dia membawa keluar sebuah boneka beruang kecil.

"koen oleh iki tekan endi ndok" (kamu dapat darimana ini nak)

Mbak Rachel yang awalnya kebingungan, lalu menjawab. "di kasih mbah, sama seseorang waktu pulang sekolah"

"ojok2 ojok ojok gelem yo nduk, lek onok seng kek'i"

(jangan2 jangan, jangan mau lagi ya nak kalau ada yang ngasih2 lagi)

di robeknya boneka itu, dan di dalamnya, ada boneka kayu kecil, di ujungnya, ada beberapa helai rambut.

"onok seng tidak seneng ambek keluarga iki, pantes firasatku elek terus ben liwat omah iki"

(ada yang tidak suka sama keluarga ini, pantas saja firasatku jelek terus setiap melewati rumah ini)

nyokap saya maju, dan menceritakan semua.

"Oalah ngunu tah" (oalah begitu tah) kata mbah Gimon.

disnilah, Mbah Gimon akan membuka rahasia yang nanti bakal jadi bencana fatal

bagi keluarga Bu rombe.

Lanjut apa besok saja? sudah larut soalnya. hehe capek juga ngetik soalnya.

Bu rombe akhirnya tau apa yang menimpa mereka, termasuk maksud dari tamu itu yang rupanya, Mbak Rachel lah yang membawa benda asing masuk, ibaratnya ada tamu yang tidak di undang masuk ke kawasan yang padat makhluk begituan, hal itulah yang membuat mereka begitu murka

Mbah Gimon bertanya pada Bu rombe, apakah beliau setuju bila urusan soal rumah ini di serahkan sama beliau, karena sejujurnya mbah Gimon tidak tega melihat bu Rombe di siksa dengan cara seperti ini.

"saya Kristen, pak. jadi kurang percaya hal begituan. mohon maaf" ucap beliau

saya yang selalu nempel nyokap mendengar mbah Gimon mengatakan.

"Jaga Gandrang. iku seng neror awakmu, nek koen kepingin eroh" (Jaga Gandrang. itu yang neror dirimu bila kamu ingin tau)

nyokap menjelaskan pada bu Rombe, dan bu Rombe kemudian bertanya.

"apa itu Jaga Gandrang mbah?" tanya bu Rombe.

"Pasukan Jin" kata mbah Gimon. "Wes di tandur suwe ambek seng nduwe omah iki biyen, awakmu tidak di senengi asline gok kene, tidak di terimo, eroh akibate?"
(sudah lama di tanam oleh yang punya rumah ini dulu, kamu tidak di sukai sebenarny

disini, tidak di terima. tau akibatnya)

nyokap yang nerjemahin.

"apa akibatnya mbah?" kata bu Rombe.

"Apes, ajor, bosok. MATI" (sial, hancur, busuk, Mati) kata Mbah Gimon.

nyokap sampai tidak bisa menjelaskan itu pada bu Rombe, beliau hanya bersimpati, namun bu Rombe tampaknya tau apa yang di ucapkan Mbah Gimon.

"lalu saya harus apa mbah?"

"Di bongkar ae kabeh, nek awakmu gelem percoyo aku, aku isok paling mbongkar" (di bongkar saja semua, bila

kamu percaya saya, aku mungkin bisa membongkarnya)

bu Rombe, kemudian mengiyakan tawaran Mbah Gimon.

7 hari kata mbah gimon. beliau mau berpuasa terlebih dahulu.

saya inget. malam itu rame, karena sampe ngadain bantengan. potong kepala sapi, sampai tumpengan warga, semua itu, di tanggung oleh bu Rombe.

keesokan malamnya. Mbah gimon memulai ritualnya.

beliau hanya memutari rumah

beberapa kali tampak menancapkan pasak. pasaknya dari bambu kuning dan di ujungnya ada tali pocong.

bu Rombe hanya duduk di teras. sementara warga berkerumun melihat, seperti pertunjukkan. saya kadang radak nyengir kalau inget ini, maksud saya, hal yang kaya begini memang seharusnya

tidak perlu di buat seheboh ini. namun, omongan mulut ke mulut dan tentu maksud tujuan asli mbah gimon seolah menguburkan niat baik beliau menjadi ajang pamer ilmu.

saya tidak di bolehin keluar rumah, padahal banyak warga yang nonton langsung, akhirnya saya cuma bisa curi lihat dari

jendela kamar.

disini, malapetaka terjadi. saya tidak tau apa yang di lakukan mbah Gimon karena, 9 orang langsung, jatuh pingsan. hal ini membuat warga panik, tapi mbah Gimon hanya bilang mereka hanya kerasukan biasa, bukan hal serius.

kadang malapetaka kecil adalah pertanda untuk malapetaka yang lebih besar,

acara yang semua ramai, menjadi sepi, hening, saya yang di dalam rumah bahkan bisa merasakan angin sudah berubah, jauh lebih dingin. imbasnya, di mulai ketika, bu Rombe tiba2 menangis

bu Rombe menangis di teras rumah.

mbah Gimon yang melihat gelagat itu mendekatinya. ketika mbah Gimon mendekat, bu Rombe tertawa, cekikikan, kemudian menangis lagi, tertawa lagi, hal itu terus terjadi sepanjang malam.

disitulah Mbah Gimon tau dimana batasan dia harus berhenti.

esoknya, Mbah Gimon meminta maaf, dia tidak bisa lagi membantu bu Rombe, akibatnya, setiap malam. bu Rombe akan melakukan hal yang sama, tertawa, menangis, tertawa lagi, kemudian menangis lagi.

namun,

yang paling buruk dari itu adalah, di punggung bu Rombe, selalu di temukan luka lebam biru. padahal, beliau baik2 saja.

keluarga besar bu Rombe akhirnya menyarankan agar beliau meninggalkan rumah itu. bahkan pihak keluarga sampai harus melakukan pembersihan, namun, itu tidak

merubah apapun.

Nasi sudah menjadi bubur. tepat 4 bulan setelah mereka pergi dari rumah itu, bu Rombe meninggal.

saya tidak tau karena apa beliau meninggal.

orang2 mengatakan beliau sakit keras, namun cuma nyokap saya yang bilang bila beliau di ikuti sejak kejadian malam itu

Nyokap bicara bukan karena dasar.

karena sebelum bu Rombe pindah, beliau menemui nyokap untuk pamit, dan ketika dia pamit, beliau mengatakan, umurnya tidak akan panjang, dan bila nanti beliau meninggal, beliau tidak mau di kuburkan di dekat tanah ini.

Kisah ini belum berakhir sampai disini, karena ada 2 keluarga yang kelak akan tinggal di rumah itu.

dan ada sebuah cerita dari mulut ke mulut, pernah suatu malam, di jendelanya, seseorang melihat bu Rombe, berdiri di sana, melotot memandang keluar rumah.

Sorry ya teman2, saya lagi ada kerjaan. saya bakal tetep lanjutin, tapi mungkin jam kalong , yang tidak biasa begadang di baca besok saja.

saya lanjutin nanti start jam 1 dinihari.. 🙏

bila ada yang berpikir kisah ini berakhir setelah bu Rombe meninggal, maka hal itu salah besar. justru, konon, cerita dari mulut ke mulut, bila seringkali ada yang melihat lampu di rumah itu menyala, padahal, rumah itu sudah di biarkan kosong.

saya bukan tidak pernah mengalaminya,

sebaliknya malah, saya pernah sekilas melihat bayangan seseorang melintas di jendelanya. perawakanya, menyerupai bu Rombe dengan rambut panjang keritingnya.

tapi, dari semua cerita tentang sosok menyerupai bu Rombe, tidak ada yang mengalahkan kisah ini.

pernah suatu malam. ada penjual Bakso lewat, saya pikir tidak ada orang seniat ini buat jualan pukul 1 dinihari, maksud saya, siapa juga yang mau makan bakso jam 1, hal itu yang di lakukan oleh penjual bakso ini, saya tau, sebelumnya dia gk pernah lewat sini.

lewatlah dia di depan rumah

kemudian, seseorang memanggil. "Bakso mas" kata suara yang memanggil, keluarlah yang konon kata si penjual, seorang wanita paruh baya mengenakan gaun tidur putih dari rumah tersebut.

si pedagang melayani seperti biasa, namun, kisah ini pertama kali di ceritakan oleh Mas Edi

Mas Edi kebetulan dapat giliran jaga, ketika Mas Edi melihat dari jauh gerobak bakso yang tengah berhenti, Mas Edi mendekatinya, berniat memesan untuk menambal perutnya yang lapar.

entah apes atau apa, ketika Mas Edi memperhatikan dengan seksama, yang di hadapanya, adalah sosok wanita

masalahnya, kaki wanita itu tidak menapak tanah.

Mas Edi menunggu lama sampai akhirnya tukang bakso itu kembali menjajakan daganganya. begitu sudah jauh dari rumah itu, Mas Edi menegur tukang Bakso itu.

"Mas Mas sini" kata Mas Edi, tidak yakin apakah harus memberitahu

"tadi, siapa mas yang beli baksonya?" tanya Mas Edi berusaha memancing pembicaraan.

"yang punya rumah kayanya sih mas, saya tidak tau. tidak biasa jual disini. kenapa ta mas?" tanya si pedagang.

"Masnya tau tidak kalau rumah itu sekarang kosong?"

si pedagang mulai menaruh curiga

"tadi, yang beli. mohon maaf mas, sepertinya kuntilanak mas" jawab mas Edi, alih2 si pedagang merasa takut, beliau justru sekarang tau alasan kenapa pertanyaan yang mengganjalnya sekarang terjawab.

"Oh pantes mas" kata si pedagang.

"pantes bagaimana maksudnya mas?"tanya mas Edi

"mana ada orang bayar bakso dengan daun"

setelah itu, pedagang bakso itu pun pergi.

saya rasa cerita ini cukup untuk menutup keluarga bu Rombe, dan kenapa rumah itu begitu terkenal dengan nama Rumah Rombe.

saya inget, nyokap baru ngasih tau, kalau kita akan pindah rumah. jujur, saya tidak suka di ajak pindah. meskipun masih satu desa hanya berganti RT, saya udah nyaman

2 bulan sebelum saya pindah. saya lihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumah bu Rombe. rupanya itu adalah mas Romi, di sampingnya ada seseorang, pria dan wanita, usianya setara dengan nyokap saya.

saya cuma melihat dari jauh, tampaknya, mas Romi sedang berbicara dengan mereka.

beberapa hari kemudian, saya akhirnya tau, bila rumah itu terjual kepada keluarga baru yang akan menempati rumah itu.

entah keluarga yang akan menempati rumah itu tau atau tidak namun, bila saya jadi mereka, saya akan pernah mau beli rumah itu sekalipun di jual dengan setengah harga

namun rupanya, keluarga ini begitu suka dengan rumah itu, karena keesokan harinya, mereka bertamu di rumah saya

mereka berasal dari jawa tengah, sebuah keluarga keristen. mereka juga bercerita memiliki 2 anak putera, namun, mereka akan datang 2 hari lagi.
yang tua seumuran dengan saya

yang bungsu, usianya masih 7 tahun, dan kemungkinan mereka juga akan pindah sekolah di sekitar sini.

dari semua keluarga yang bakal saya ceritain, keluarga inilah yang paling akrab dengan saya, karena mungkin mereka memiliki anak yang usianya sebaya dengan saya.

besoknya, saya di minta Pak Albert, nama bapak yang akan menempati rumah ini, dengan bu Eli, menyambut anak mereka, Stevanus dan Eeng, waktu saya lihat Stevanus, saya sempet minder, walaupun usianya sama dengan saya, perawakanya tinggi besar, namun, ketika saya melihat saudaranya si Eeng

saya tidak mau komentar apapun.

sebelumnya saya minta maaf, karena si Eeng rupanya memiliki kelainan mental, ada hal yang menarik perhatian saya dari Eeng, waktu pertama kali masuk.

secara mengejutkan dia berlari dengan gelagat seperti anak usia balita, dia berlarian kesana kemari

namun, mendadak dia berhenti di depan kamar yang dulu di pakai oleh bu Rombe, dia diam disana lama, kemudian mengatakan dengan senyuman ganjil.

"Ante"

waktu itu, saya belum paham apa yang dia bicarakan, sampai Stevanus mengatakan Eeng biasanya berbicara dengan logat kurang sempurna

saya berdiam diri sebentar sebelum saya berpikir, "Ante" terdengar seperti ucapan "Tante"

saya merinding mendengarnya.

saya mencoba bersikap biasa saja, terutama saat saya ada di dalam rumah itu, suasana gk enak sangat terasa, pak Albert, meminta saya ikut berkeliling rumah, melihat ada apa saja. sebenarnya saya gk mau, tapi Stvenus waktu itu cerita mau ngajak saya maen game.

game waktu itu adalah hal yang

sangat mahal, jadi saya iyain.

sebelumnya, saya cuma pernah ke rumah ini gk lebih melewati kamar bu Rombe, di sebelahnya masih ada 2 kamar lagi, yang saya perkirakan adalah kamar Mbak ravhel dan mas Romi dulu, namun hari ini, saya baru tau, bila rumah ini rupanya sebesar ini.

kalau kalian tau kebanyakan rumah belanda, rata2 di bangun dengan pondasi yang tinggi, saya gk tau kenapa, karena kebanyakan rumah model belanda selalu memiliki tangga untuk naik maupun turun, dan sekarang saya tau, rupanya letak kamar mandi jauh di bawah, saya harus menuruni anak tangga

yang tingginya gk lebih dari 1 meter, disna ada bberapa pintu kamar dan dapur, dapurnya sendiri masih menggunakan tungku dan beralaskan tanah, sementara lantai di atas menggunakan tekel.

dari semua tempat di rumah ini, suasana paling menakutkan memang di area dapur dan kamar mandi

bulukuduk saya merinding, pak Albert hanya melihat ke sekeliling, namun perasaan saya semakin gk enak waktu pak Albert membuka pintu demi pintu di area dapur, seperti firasat muncul begitu saja.

di dalam kamar2 itu, hanya ada ranjang tua, temboknya pengap dan sedikit bau

bila kalian ingin membayangkan, bayangkan saja sebuah ruangan di dalam penjara. nyaris seperti itu suasana kamar di lantai bawah.

setelah saya balik, saya sampe keikiran gk mau lagi balik ke rumah itu sementara waktu,

rupanya, gangguan2 itu mulai bermunculan, ketika saya denger Stevanus bercerita.

Stevanus menggunakan kamar nomer 2, yang dulu menjadi kamar Mbak Rachel, sementara si Eeng, menggunakan kamar yang dulu di gunakan bu Rombe, kamar ke 3 tentu di gunakan pak Albert dan bu Eli

Stevanus pernah cerita, waktu tengah malam, dia terbangun karena tiba2 merasa haus, karena air ada di dapur, maka ia pergi kesana sendirian, begitu menuruni tangga, Vanus merasa dirinya tidak sendirian.

setelah mengambil air di kendi dan menuangnya dlam gelas, Vanus mendngar suara

suaranya seperti ranjang reot ketika di duduki. "Krieeeet" , suaranya berasal dari satu kamar.

penasaran, Vanus mendekat. suaranya semakin keras, sampai Vanus berdiri di depan kamar itu. tanganya sudah siap membuka pintu, namun Pak Albert menepuk bahunya.

"sudah minumnya."

Vanus kaget. Pak Albert meminta Venus kembali ke kamarnya, keesokan harinya, pintu itu di segel oleh Pak Albert.

saya yang denger tidak komentar sama sekali, bahkan waktu Venus bilang. "mau tidak menginap di rumahku malam ini, papa tidak ada di rumah malam ini, jadi kita buka kamarnya"

saya cuma nyengir, kemudian menolaknya keras2.

kejadian berkutnya waktu saya maen game sama Venus, tahun sgitu yang bisa saya maenin cuma game mario, sama game circus. pas saya lagi asyik2 maen, saya denger suara berisik dari kamar si Eeng, Venus baru aja tidur, membiarkan saya maen sendirian

awalnya saya acuhin suara itu, tapi suaranya semakin menjadi2. saya rada kesel, walaupun kelainan, si Eeng ini pecicilan dan gk bisa diem, saya inisiatif buat lihat apa yang dia lakuin, ketika saya buka pintu, saya kaget waktu si Eeng sedang ngunyah sesuatu, awalnya saya cuma lihat doang

sampe saya sadar, yang dia gigit rupanya kecoak hidup. saya lari bangunin Venus, dan begitu dia bangun, kami kembali menemui Eeng, Venus membuka mulutnya dan dia benar2 nelen itu binatang.

"Eeng gk pernah kaya gini" kata Venus, "nanti biat saya aduin Mami"

saya akhirnya pamit

tapi, sebelum saya keluar rumah, saya bisa lihat Eeng nyengir ke arah saya terus menerus, kaya dia ngelihatin saya entah kenapa. saya udah mulai mikir yang tidak2 tentang anak ini.

jujur saya gk suka sama si Eeng, dan saya juga tau si Eeng juga gk suka saya, tapi karena dia cuma anak berkebutuhan khusus buat saya kadang harus jaga sikap, sedangkan dia, bersikap seenaknya.

saya biasa ngobrol sama Vanus di teras, dan kalian tau apa yang Eeng lakukan, cuma ngelihatin saya

dia ngelihatin saya dari jendela, nyengir, jelas saja saya terganggu. tiap saya aduin ke Vanus dan Vanus akan marah si Eeng akan bilang dengan ucapanya yang gk jelas. "ante au ain"

anehnya, di telinga saya terdengar, "Tante mau main"

saya putusin menghindari rumah itu.

suatu hari pulang dari sekolah, saya di panggil pak Albert, di tanya ini itu kenapa saya tidak pernah maen kesini lagi, saya gk bisa jawab, Pak Albert ngajak ke halaman belakang, dimana dulu itu adalah tempat kamar mandi lama, jadi semenjak pak Albert tinggal disni beliau membangun

kamar mandi baru.

area di sekelilingnya di tutup oleh pagar bambu, disana, banyak ayam kate di lepas, pak Albert mengatakan kalau beliau suka sekali berternak ayam kate, waktu saya cuma ngelamun ngelihatin ayam2nya, pak Albert mendadak bilang.

"kamu bisa lihat ya?"

saya kaget

"lihat apa nggih pak?" tanya saya

"lihat begituan" katanya.

"mboten pak, mboten saget kulo" (tidak pak, tidak bisa saya)

"Oh" pak Alber tersenyum lalu berucap "kalau gitu, bisa merasakan pasti kan?"

saya cuma bengong melihat pak Albert

disini saya baru tau rupanya meski beliau kristen tapi beliau bisa melihat hal2 begituan. saya kaget, lebih ke tidak nyangka, beda banget sama almarhumah bu Rombe, yang beragama kristen dan gk prcaya hal yang begituan.

"kamu mau tak kasih tau ada apa saja disini?"

mendengar itu, saya, diem

"kamarnya si Eeng" kata pak Albert, "ada wanitanya, apa sebelumnya, kamar itu di pake wanita, siapa namanya, sebentar, Mamah rombe ya"

membicarakan hal seperti ini di tempat kejadian buat saya gemetar, gimana saya gk gemetar, kalau mereka denger bagaimana nasib saya.

rupanya pak Albert tidak menghentikan pembicaraan ini padahal saya udah nunjukin gelagat gk nyaman.

"si Eeng berasa di mong(jaga) sama dia. kamu juga hati2 ya, kalau kamu nunjukin ketidaksukaanmu sama Eeng takutnya dia apa2 in kamu" Pak Albert bicara itu sambil tertawa, saya ?

pucet

"yang paling jahat ada di dapur dan kamar mandi lama, kayaknya penunggu tetap, bentuknya mirip pasukan jin" kata Pak Albert, "wajahnya serem, gk pernah ketawa kayanya, di kamarnya ada mbah2 tua, gk cuma satu, tapi banyak sekali" pak Albert menerawang jauh

"saya penasaran, rumah ini sepertinya di bangun di atas tanah pembantaian"

kemudian pak Albert nunjuk pohon jambu air, "Kamu tau apa yang ada disana.. katanya, "Kuntilanak merah, di sebelahnya ada 4 kuntilanak putih jg"

"tau bedanya?" ucap pak Alberth, saya semakin gk nyaman

"yang merah itu ganas, yang putih jg sama, tapi, yang merah biasanya maen fisik, tampaknya dia gk suka sama saya" Pak Albert nyengir kembali.

setelah lama, akhirnya saya beranikan diri untk bertanya.

"Bapak tidak takut?"

Pak Albert kemudian mengatakan "Tuhan yang menciptakan mereka"

"kenapa harus takut?"

saya antara kagum dan bingung, sampe akhirnya saya inget dan ngomong "nama pemilik sebelumnya memang bu Rombe pak" "katanya beliau meninggal karena"

pak Albert memotong ucapan saya "di SANTET ya"

"saya yakin pasti di SANTET."

"bapak tau darimana?" tanya saya,

"Bau daun jarak. di kamarnya menyengat bau daun jarak, dan juga masih ada makhluk yang membawa santetnya" ucap pak Albert.

"maksudnya pak?"

"si Eeng, sekarang sedang maen sama Jin'nya, dia yang menyerupai Mamah Rombe

"bapak gk takut Eeng kenapa2" tanya saya khawatir.

"kenapa takut?" "pada dasarnya mereka kaya kita, butuh teman, mungkin mereka bisa lihat kalau Eeng tidak seperti kebanyakan manusia"

"gimana maksudnya pak?"

"menurut kamu mereka jahat apa tidak?"

"jahat pak" kata saya lagi

"mereka jahat karena sudah membawa maut pada bu Rombe"

Pak Albert cuma tersenyum kemudian balik bertanya, "yang jahat mereka apa yang nyuruh?"

saya tertegun "yang nyuruh pak"

"bener" kata pak Albert "di agama saya mengajarkan kedamaian, tapi pada dasarnya manusia memang serakah"

"mereka tidak lebih dari objek sebagai jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu. kalau mereka sudah menganggu, itu karena awalnya terganggu, disini kita harus banyak bercermin, hidup berdampingan lebih baik"

Pak Albert kaya tau sesuatu yang ada dalam diri saya, semua kalimatnya monohok

seolah memukul saya dengan anggapan bahwa semua makhluk semacam itu ya jahat padahal ada sisi lain yang bisa di ambil bila kita bijaksana.

saya akhirnya yakin bila pak Albert memang sudah benar menempati rumah ini, tapi, saya gk tau bila dia menyembunyikan sesuatu, karena ketika saya tau

saya sangat prihatin dengan akhir keluarga ini.

Minggu pagi adalah hari kartun bagi anak2, karena saya gk punya tv, dan satu desa yang punya bisa di hitung jari, saya pergi ke rumah Vanus, saya inget Vanus pamit mau ke warung, akhirnya cuma saya yang nonton tv di ruang tengah

Eeng ada di kamar. jarak antara ruang tengah dan kamar Eeng hanya beberapa langkah saja, pas saya lagi asyik2 nya nonton kartun, saya kaget waktu Eeng teriak kenceng, si Eeng ini memang kerjaanya aneh2, saya gk sekali dua kali lihat dia ngomong sendiri, lompat2 sendiri, sekarang teriak

akhirnya saya ngecek dan buka pintu kamarnya. di rumah sedang kosong, pak Albert dan bu Eli ada acara di gereja.

begitu saya lihat apa yang terjadi, saya panik, si Eeng seperti orang ayan, dengan posisi tidur di lantai, dia menjerit, kaki dan tanganya bergerak2, saya yang kebingungan

akhirnya lari mendekatinya, begitu tepat di depan Eeng, punggung si Eeng tiba2 nekuk, badanya gk normal asli, kaya ada tenaga yang gede nekuk badanya dia.

saya akhirnya lari keluar rumah, di depan, ada Vanus baru balik dari warung, saya langsung bilang. "Eeng.. kerasukan"

kami masuk berbarengan, pas pintu di buka, saya lihat Eeng lagi tiduran di atas ranjang. tampak gk terjadi apa2. Vanus, lihat saya dengan wajah bingung. saya, lebih bingung lagi.

saya jelasin tapi Vanus cuma iya iya aja, saya berencana mau cerita ke pak Albert, tapi kayanya dia gk bakal

peduli. toh dia yang ngebiarin Eeng maen2 sama begituan.

besoknya, saya denger berita mengejutkan, pak Albert dan Bu Eli, mau cerai. disini saya baru tau, ternyata dari semua orang yang tinggal di keluarga ini, rupanya bu Eli yang paling tersiksa, dan sekarang saya paham, kenapa beliau

sekarang jauh lebih kurus.

saya tidak mau cari tau, tapi Vanus cerita kalau awalnya bu Eli ngajak pindah rumah lagi, tapi pak Albert menolak keras2, beliau beralasan sudah nyaman tinggal di lingkungan ini.

Bu Eli akhirnya mengalah, tapi bagai api dalam sekam, teror yang di lalui

Bu Eli buat saya mikir lagi, apa yang di lakukan bu Eli sehingga mereka menganggu sebegitu hebatnya sama beliau, rupanya, ada sesuatu yang janggal dengan semua ini, dan ini di mulai oleh Pak Albert sendiri.

bu Eli mengancam akan pergi dengan Eeng, si Vanus akan ikut pak Albert

rupanya ini di tentang lebih keras, Eeng tetap tinggal, Vanus boleh pergi dengan bu Eli, saya yang denger mereka selalu bertengkar, bikin saya gk nyaman terlebih Vanus merasa dirinya gk di inginkan, sedangkan adeknya yang memiliki kekurangan justru di perebutkan.

saya cuma bisa bersimpati

akhirnya Vanus dan Eeng tetap tinggal di tempat ini, saya akhirnya tanya apa yang membuat bu Eli gk nyaman.

rupanya, awalnya dari luka misterius di tubuh bu Eli. saya yang denger langsung curiga, gejalanya mirip seperti bu Rombe, "lebamnya dimana?" kata saya

"di badan, biru2"

pernah waktu pak Albert tidak di rumah, bu Eli sedang mau beristirahat, lalu, tepat saat dia merebahkan badanya, tubuhnya seperti di tekan dengan sangat keras, sebegitu kerasnya sampai tidak bisa menjerit dan itu terjadi sampai pagi, pas pak Albert pulang, bu Eli menangis

bu Eli menceritakan semuanya, tapi, Pak Abert hanya mengatakan mungkin efek kelelahan, semua terus terjadi sampai, akhirnya setiap bu Eli tidur, mulai bermimpi aneh2, salah satunya, dia di kepung oleh makhluk hitam yang besar2, bu Eli hanya bisa menjerit, melihat mereka marah

ini terus berlangsung, seperti teror yang tidak ada habisnya, yang membuat bu Eli akhirnya tidak kuat, ketika dia melihat Eeng, badanya panas, dan dari hidungnya keluar darah terus menerus, setiap mau di bawa ke rumah sakit, pak Albert akan menolaknya, mengatakan ini hnya sakit biasa

Bu Eli akhirnya pergi setelah tidak sanggup lagi untuk tinggal.

Vanus akhirnya sadar, ketika dia mengatakan "ada yang gk beres sama rumah ini, setelah tinggal disini keluarga saya kaya tertimpa sial terus"

saya cuma bisa ngebatin "firasat saya tidak enak sama si Eeng"

Apa yang saya khawatirin rupanya bener, Eeng, anak yang hiperaktif itu mendadak menjadi anak pendiem, bahkan terkadang seharian hanya mengurung diri dalam kamar, saya merasa ada yang di sembunyikan.

selama ini saya gk pernah menghabiskan waktu sama Eeng namun, hari ini, ketika saya lihat

dia ada di dalam kamarnya, saya mendekatinya, mencoba berinteraksi dengan dia.

setiap saya ajak dia bicara, dia hanya mengatakan, "ati" "ati" awalnya saya pikir itu hati2 , ternyata itu adalah "Mati"

semakin lama, pak Albert juga terlihat mencuritidakan, beberapa kali saya denger

Pak Albert jadi bahan omongan warga, mulai dari dia yang sering keluar rumah malam2 buat pasang dupa, atau teman2 nya yang prilaku dan penampilanya aneh, hal ini membuat banyak warga cemas.

Vanus juga merasa ada yang berubah dari adiknya, setiap malam, dia seperti mendengar suara

yang berasal dari kamar adiknya, Eeng. suaranya seperti suara tertawa, hanya saja, itu suara perempuan.

waktu itu malam hari, saya kebetulan lagi maen ke rumahnya Vanus, tiba2 saya kaget waktu ada yang bertamu malam hari, rupanya itu Mbah Timan, siapa Mbah Timan?

beliau adlah ketua RW

Pak Albert yang menemui mbah Timan, di dampingi pak RT. saya gk sengaja curi denger obrolan mereka tampak serius.

"jangan lakukan pak." kata mbah Timan, "kasihan, begitu2 juga dia anak bapak, darah daging anda"

saya mencoba mengorek informasi

apa yang di katakan Mbah Timan mendapat penolakan, seolah Pak Albert tidak paham ke arah mana tujuan dari percakapan mereka, saya sendiri melihat Eeng semakin pucat, badanya bahkan terlihat seperti tulang di balut kulit.

Vanus mengatakan si Eeng sekarang lebih sering muntah

masalahnya, setelah dia muntah, hidungnya akan mengeluarkan darah.

puncak dari tragedi ini terjadi, ketika Jumat kliwon, saya di kejutkan dengan teriakan dari Vanus.

dia menjerit meminta tlong, warga yang mendengar segera berkumpul, Vanus segera membawa mereka masuk ke dalam rumah

disana, Eeng terbujur kaku dengan mata melotot.

saya shock bukan maen. karena baru kali ini, saya lihat seeorang meninggal dengan cara tidak wajar seperti ini.

kejadian tidak wajar ini jadi berita besar, banyak yang menuduh Eeng meninggal karena di tumbalkan oleh Pak Albert.

Pak Albert sendiri sedang tidak ada di tempat, karena beliau sedang ada urusan seperti biasanya, namun begitu beliau pulang dan mendengar berita ini, Pak Albert tampak

menangis seperti anak kecil.

bu Eli datang ke rumah itu lagi, amarahnya memuncak dan terjadilah pertengkaran hebat sampai semua warga bisa mendengar apa yang terjadi,

seperti warga, Bu Eli menuduh kematian Eeng ada hubunganya dengan Pak Albert namun, tidak ada bukti apapun.

rentetan kejadian ini masih mengganjal di pikiran saya, namun saya juga gk bisa membuktikan apapun, tapi, satu hal yang gk pernah saya lupain adalah, kepergian Pak Albert dari rumah itu menyisahkan satu masalah yang paling fatal.

konon, ada satu warga, yang pernah melihat, Pak Albert

menggali tanah belakang rumah, di samping kamar mandi lama.

galianya menyerupai kuburan, namun, ukuranya tidak terlalu besar, dan rumor yang menyebar, itu adalah kuburan milik Eeng.

walaupun itu sekedar rumor, namun, sejak denger itu, setiap saya kepikiran halaman belakang

rumah Rombe, saya kebayang kalimat Eeng "Ati" yang berarti "MATI"

mau di tuntaskan sekarang ke keluarga terakhir apa besok saja?

Oke saya tuntaskan malam ini.

Keluarga yang terakhir jujur saya gk begitu kenal, karena waku mereka menempati rumah Rombe, saya udah pindah rumah. tapi, saya masih sering maen buat inget2 kejadian apa saja yang terjadi, bisa di bilang disini, pak Albert rupanya membuka petaka yang sebenarnya

Keluarga yang terakhir adalah suami isteri yang baru di karuniai anak masih bayi, mereka berasal dari keluarga muslim setahu saya, karena saat pertama mereka menempati rumah itu, di adakan pengajian dan syukuran, lalu, dimana cerita ini di mulai.

ceritanya di mulai ketika mereka sudah sebulan menempati rumah ini.

kabar dari yang saya denger, setiap malam hari, terdengar suara tangisan bayi mereka yang tidak mau berhenti, sang ibu seringkali menimang2 untuk membuat si bayi tenang, kamar yang ia pakai adalah kamar

bekas Eeng dan bu Rombe.

semakin larut, si bayi semakin menjadi2, tangisanya membuat sang ayah heran, karena ini terjadi hampir setiap hari. namun, anehnya, ketika jendela kamar itu di buka, si bayi berhenti menangis,.

bayi, kadang memiliki pengelihatan yang jauh lebih sensitif

lalu, apa yang membuat si bayi menangis manakala jendela masih tertutup, rupanya, ada sesuatu yang senantiasa menganggu bayi itu saat ada di kamar bekas si Eeng.

mungkinkah itu Eeng?

lalu, kenapa si Bayi berhenti menangis manakala jendela itu di buka, rupanya, dulu Eeng sngat takut

dengan kuntilanak merah di pohon jambu tepat di samping kamar, pertanyaanya, kemana jin yang dulu selalu bermain bersama Eeng. kunci jawabanya adalah Pak Albert lah yang menjadi sumber dari masalah ini.

bagaimana saya bisa tau?

karena, Mbah Timan lah yang akhirnya harus membereskan

semuanya.

saya akan coba susun detail dari semua kisah ini lewat sudut pandang Mbah Timan ketika beliau menceritakan ini pada kakek saya. saya harap kalian bisa memperhatikan setiap detail karena rupanya semua kejadian ini berhubungan satu sama lain.

jujur nuntasin cerita ini dinihari seperti ini bikin saya merinding, tapi saya udah janji mau nyelesaiin malam ini jadi, ayo kita lanjut.

kalian ingat dengan Mbah puteri, si pemilik rumah yang pertama, rupanya suami beliau yang pertama adalah pemilik sebenarnya rumah ini, seorang Londo namun beliau sudah meninggal karena hal misterius, disini, Mbah Timan mengatakan bila Mbah Puteri rupanya adalah Bahu Laweyan

apa itu Bahu Laweyan. konon, mereka yang seorang bahu Laweyan adalah mereka yang di ikuti oleh pasukan Jin, dan siapapun yang menikahi Bahu Laweyan akan mendapatkan petaka berupa kemalangan, kesialan bahkan kematian. hal inilah yang terjadi kepada 14 mantan suami Mbah Puteri

yang mengerikan adalah, semua jasad mantan suaminya, di kuburkan di bawah pondasi rumah, itulah alasan kenapa, Rumah ini tinggi di beberapa tempat, sedangkan tanah dapur lebih rendah dari tempat yang lain.

Mbah Puteri sendiri menyadari dirinya seorang Bahu Laweyan, sehingga akhirnya beliau membuat perjanjian bahwa ia tidak akan pernah menikah lagi setelah pernikahanya ke 14, sebagai gantinya, ia mendapat satu batu pusaka sebagai imbal balik segala kesialan itu,

batu itu, di simpan Mbah Puteri tepat di salah satu kamar dapur yang di jaga oleh Nenek2 dan pasukan Jin, sehingga tanah di sana menjadi tanah keramat.

Tanah yang tidak akan bisa sembarangan di tinggali apalagi di jadikan hunian bagi mereka yang tidak tau sejarahnya

semeninggalnya Mbah Puteri.

Pasukan Jin itu tetap tinggal disana, menjaga batu pusaka yang di tinggalkan Mbah Puteri. kemudian, kepemilikan beralih ke tangan bu Rombe. disini, bu Rombe tidak tahu menau musibah apa yang beliau peroleh ketika tanpa sengaja ia menemukan batu itu

namun, bu Rombe tidak menyadarinya karena cara menemukan batu itu hanya melalui mimpi beliau.

Apa yang bu Rombe lakukan membuat pasukan Jin Murka sehingga akhirnya mereka mulai menganggu, membuat pikiran bu Rombe semakin kacau, manakala manusia sudah semakin lemah,

memudahkan mereka di kuasai akal dan pikiranya.

Jin Perempuan yang di kirim untuk menyakiti bu Rombe melalui anaknya Rachel, rupanya mendatangkan konflik dengan pasukan Jin Rumah itu, yang merasa terganggu.

ketika energi negatif bertemu dengan energi negatif, akibatnya adalah

tolak menolak.

Jin Perempuan itu rupanya cukup kuat sehingga ia menuntaskan segalanya saat bu Rombe semakin lemah dan lemah, hingga akhirnya meregang nyawa.

sayangnya ketika Jin Santet sudah menunaikan tugasnya, kontraknya terhadap si pengirim akan di anggap lunas, sehingga

akhirnya jin perempuan itu menetap di kamar bu Rombe.

disinilah Pak Albert tahu tentang batu Pusaka itu dari Jin perempuan yang kebetulan menyukai Eeng, syarat yang di tawarkan adalah nyawa Eeng.

Pak Albert setuju dengan syarat itu,

kontrak yang di jalin manusia dan bangsa jin memang bersifat mengikat, sehingga konsekuensi apapun harus di terima, salah satunya adalah, serangan masif pasukan jin terhadap bu Eli,

namun hal itu tidak juga di indahkan oleh pak Albert yang sebegitu inginya dengan batu Pusaka yang

konon bisa mengangkat derajat manusia.

Mbah Timan, memperingatkan Pak Albert atas konsekuensi yang dia buat. Pasukan Jin itu bersifat menjaga, tidak menyerang, karena sebelum jauh ada mereka disini, Rumah ini sudah berdiri di tanah yang di tinggali bermacam2 makhluk ganas

salah satunya, kuntilanak merah.

namun, karena ada pasukan jin itu, semua memiliki daerahnya masing2,

yang buat saya sedikit merinding dengan cerita ini adalah, korban tumbal akan senantiasa penasaran, itulah alasan kenapa Eeng tidak pernah meninggalkan kamar itu.

dengan semua kesimpulan yang Mbah Timan ceritakan membuat saya jadi tau, Pak Albert berhasil mendapatkan batunya, konsekuensi yang dia dapat, keluarganya hancur, Eeng tewas sebagai tumbal, sekarang semua yang ada disana, menjadi bebas, dan hal ini menimpa keluarga ini.

terorr yang paling sering mereka dapat adalah, setiap malam, seringkali terdengar suara wanita menangis dan bila di cari suaranya menghilang, ketika tidak di cari, suaranya akan terdengar lagi, ini terjadi sepanjang malam.

di dapur, rupanya di tinggali oleh makhluk

berperawakan besar, sayangnya ia hanya menganggu dengan menjatuhkan barang2 dapur.

di siang hari, kadangkala si isteri selalu mendengar suara kaki berlarian, terkadang ranjang berdencit seolah2 ada yang menginjak2 ranjangnya.

beberapa kali sudah di adakan pengajian hingga memanggil orang pintar, hampir semua menjawab dengan jawaban yang sama.

Tanah ini, bukan tanah yang cocok untuk tempat tinggal. sebegitu hitamnya tempat itu, sampai akhirnya, ketika malam hari, dimana sang ibu pergi untuk membuang air

saat ia kembali, jabang bayi yang ia tinggalkan di dalam kamar, menghilang.

yang pertama kali menawarkan bantuan tentu saja. Mbah Timan, yang di bantu para warga. mereka semua di minta berkumpul di luar rumah, sementara mbah Timan membaca ayat suci

warga yang di kirim sebelumnya, mengkonfirmasi tidak menemukan apapun.

suasana saat itu tegang.

sampai akhirnya, Mbah Timan memerintahkan warga mengambil barang2 dapur yang bisa di bawa khususnya yang menimbulkan suara.

di bantu warga, barang2 segera di tabuh, riuh suasana seperti

sebuah pesta, dan Mbah Timan mulai berjalan memutari rumah, satu demi satu. beliau melihat makhluk2 itu, memenuhi segala tempat, menari mengikuti tabuhan barang2 dapur warga.

ketika berhenti tepat di kamar mandi lama, Mbah Timan melihat sosok nenek tua, tubuhnya 3 kali tubuh

Timan, rambutnya panjang sampai menyentuh tanah. begitu melihat Mbah Timan, wajah makhluk itu melotot marah.

"kembalikan. itu bukan anakmu"

makhluk itu tidak menggubris, "jangan sampai saya menggunakan cara yang kasar utk meminta"

para warga yang sedari tadi mengikuti Mbah Timan menabuh semakin keras, sebegitu kerasnya, sampai makhluk itu menari2 mengikuti tabuhan warga.

Mbah Timan segera mengambil bayi yang ada di kakinya, di sembunyikan di bawah pohon seukuran mata kaki, yang anehnya, sebelumnya

para warga tidak ada yang bisa melihat, ada bayi disana.

Bayi di kembalikan dengan selamat ke pangkuan orang tuanya, lalu Mbah Timan berujar.

"Rumah ini tidak baik untuk di tinggali, yang baru saja ngambil bayi kamu itu Wewe gombel, sebelumnya dia tidak pernah berani kesini"

"tapi sekarang jadi berani, karena rumah ini, sangat dingin." "namun kalau panjenengan masih ingin tinggal, saya sarankan siap mental, yang disini bukan hanya kuntilanak, wewe gombel, tapi masih banyak lagi. jadi saya serahkan keputusanya sama kalian"

mendengar itu, pasangan suami isteri itu akhirnya mengikuti apa yang Mbah Timan katakan.

mereka hanya menempati rumah itu tidak lebih dari 2 bulan, selebihnya hingga saat ini, rumah itu di biarkan kosong.

menjadi monumen paling di hindari bahkan hingga saat ini.

terakhir saya lihat rumah itu 4 bulan yang lalu, masih kokoh berdiri meski tanda kehidupan tidak terlihat sama sekali. yang pertama kali saya inget setiap kali melihat rumah itu adalah kejadian2 yang membuat saya kembali berpikir, betapa kecilnya saya di tengah rahasia2 yang tidak saya phami sebagai

manusia.

begitu kecil nan polos.

sekali lagi, saya tidak berniat menakut-nakuti, saya hanya sekedar berbagi, ada kalanya hal-hal seperti ini bisa menjadi pelajaran untuk mawas diri, bahwa sebagai manusia tidak sepantasnya kita bersombong diri, dengan menghalalkan segala cara untuk meraih

apa yang kita ingini.

yang jelas, tidak akan ada orang di desa saya yang bakal melupakan satu dari ratusan hal2 di luar nalar itu yang pernah terjadi di sini.

saya tutup thread ini dengan satu pesan,

ADA YANG LEBIH BESAR DARI APA YANG KITA SEBUT DENGAN DUNIA INI, JADI KENAPA KITA TIDAK MEMINTA KEPADANYA SAJA. BUKAN KEPADA, YANG MENYEKUTUKANYA.

terimakasih sudah mau membaca cerita saya. mungkin lain waktu saya bisa berbagi cerita yang lain. 

Wassalam.

By SimpleMan @simplem81378523


0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.