-- Perjanjian Uhang Pandak -- Based on true story Sumber  :  https://twitter.com/koreyan666/status/1242860473839570944 Penulis :...

Cermis : Perjanjian Uhang Pandak



-- Perjanjian Uhang Pandak --
Based on true story
Penulis : https://twitter.com/koreyan666 (𝕲 . 𝙱 𝚛 𝚒 𝚗 𝚍)


Uhang Pandak
FYI : Uhang Pandak atau biasa dikenal dengan orang bunian konon katanya adalah manusia dengan tubuh kecil/pendek dan memilik banyak bulu disekujur tubuhnya
Meskipun keberadaan masih dipertanyakan namun beberapa warga desa yang berada di kaki gunung Kerinci
Pernah beberapa kali bertemu dengan Uhang Pandak ini ketika sedang berada di kebun/ladang
Lantas, cerita yang akan aku share ke teman-teman semua adalah cerita dari seorang petani, sebut saja namanya Pak Erwin

Oke, semoga cerita ini bisa menamani teman teman semua
Tunggu aku di malam jum'at besok
Jangan lupa cuci tanganmu, dan siapkan cemilanmu
Selamat #malamjumat semuanya
Mari mulai bercerita,
Mohon untuk tidak berekspetasi terlalu jauh dengan cerita ini
Tahun 2010
Erwin sedang duduk santai dibawah pohon rindang, disamping gubuk kayunya. Ya gubuk tersebut milik Erwin sendiri yang ia bangun untuk menyimpan beberapa kebutuhan diladang. Lokasi ladang milik Erwin berada di kaki gunung Kerinci, mungkin lebih tepatnya di punggung
gunung itu sendiri. Karena ladang miliknya tidak terlalu jauh dari puncak gunung Kerinci, mungkin hanya membutuhkan waktu 4-3 jam saja.
Erwin adalah seorang petani biasa, tanpa kelebihan apapun, hanya sedikit keberanian yang ia miliki, memiliki satu orang anak yang masih lucu,
dan istrinya yang masih terlihat cantik, walaupun sudah berumur 35 tahun, begitu pula dengan Erwin yang pada saat itu berumur 38 tahun.
Erwin berhenti dari kegiatan mencangkul, karena melihat matahari yang sudah condong ke barat, itu artinya sudah hampir masuk waktu Dzuhur.
Seperti pada umumnya, entah orang tersebut sholat atau tidak, tetapi jika sudah mendekati waktu Dzuhur, maka kegiatan harus di hentikan, katanya Pamali. Tapi, bagi Erwin ia hanya ingin menghormati, meskipun dirinya tidak melaksanakan sholat
Seiring berjalannya waktu
Matahari sudah mulai menguning, saatnya untuk pulang kerumah, karena sudah 2 hari Erwin tidak pulang.
Ia harus menunggu kebunnya, agar tidak diporak porandakan oleh binatang, atau bahkan para perampok tanaman. Karena tanaman milik Erwin sudah hampir mendekati masa panen.
Ditambah dengan persediaan makanan miliknya sudah mulai habis, mau tidak mau dia harus pulang kerumah.
Singkat cerita, Erwin sudah sampai dirumah, makan malam bersama anak dan istrinya.
Percakapan pun di mulai, hanya obrolan ringan untuk menghibur meja makan.
"Pie sekolahmu ndok,"(Gimana sekolahmu nak?) tanya Erwin kepada anaknya, Linda.
"Nggak pie-pie yah,"(Gak gimana-gimana yah) jawab Linda tenang dengan menampakan gigi ompongnya.
"Mas, pie kentange, iso entuk akeh ora?"(Mas, gimana kentangnya, bisa dapat banya nggak?) tanya Leni
"Insha Alloh, dek, dungo wae,"(Insha Alloh dek, berdoa saja) jawab Erwin singkat, tak lupa tersenyum
Malam berlalu dengan gelak tawa keluarga kecil itu.
Pagi datang tanpa menyapa masyarakat desa, matahari pun masih malu-malu untuk tersenyum menyapa Kayu Aro
Erwin sudah terjaga, ia langsung bergegas untuk membeli beberapa makanan, dan rokok untuk kebutuhan beberapa hari kemudian. Ya! Erwin harus menginap lagi.
Tanpa ba-bi-bu, setelah mendapatkan semua kebutuhan, Erwin langsung menuju kekebun miliknya yang bisa dikatan cukup jauh.
Sesampainya diladang, Erwin langsung mengecek beberapa bedengan yang sekiranya perlu untuk dicek lebih intensif.
Dipertengahan hari, Erwin mendapat kabar dari istrinya, yang mengirim SMS ke Erwin, bahwa ada kemalangan, tetangga meninggal dunia.
Mendengar kabar duka Erwin
Langsung turun gunung untuk sekedar pergi melayat, dan mungkin ia akan kembali lagi setelah sholat ashar nanti, atau mungkin bisa kembali besok hari jika cuaca tidak terlalu memungkinkan
Diperjalanan pulang, melewati beberapa ladang milik orang lain, mata Erwin mendapati sebuah
pemandangan aneh, ia seakan melihat seorang monyet besar sedang mengotak-atik beberapa tanaman milik orang.
Merasa perduli, Erwin mengambil sembilah kayu, dan mencoba membidik lantas melempar kayu tersebut kearah monyet besar tersebut.
Namun, bukan rasa takut yang
didapat oleh monyet tersebut, ia hanya diam, dan tiba-tiba menatap ke arah Erwin. Erwin beringsut mundur satu langkah, heran, sekaligus sedikit takut, bagaimana kalau monyet itu menyerang.
Matanya masih terpaku dengan monyet tersebut,
Tiba-tiba saja, monyet tersebut, seolah
berdiri, dan Erwin baru tersadar, itu tidak mungkin monyet.
Badannya terlalu besar jika harus disebut monyet.
Merasa dirinya terancam, Erwin berjalan perlahan, dan meninggalkan monyet atau makhluk apapun itu tetap berada ditempat.
"Opo iku ntes?"(apa itu tadi?) tanya Erwin
Sampailah, Erwin dirumahnya, dan langsung mandi, juga sekalian berganti baju, untuk pergi melayat.

Singkat cerita, Erwin kembali kerumahnya setelah pergi melayat. Mengambil satu buah gelas, dan menuangkan bubuk kopi, dan menyeduhnya.
Otaknya berkecamuk, bertanya-tanya apa yang
baru saja ia lihat.
Manusia? Binatang? Ataukah Badut?
Ayolah, tidak mungkin ada badut di ladang seperti itu, jika pun ada, badut macam apa itu.
Erwin terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali keladang setelah sholat ashar. Takut terjadi apa-apa pada dirinya. Ia berani, tapi
tidak bodoh. Kalau manusia mungkin masih bisa ia lawan menggunakan pacul atau parang, tapi kalau binatang, mungkin sekali bacok mati, bagaimana dengan kelompoknya, tentu akan ikut menyerbu.

Selepas ashar, Erwin pergi kerumah temannya yang berada tidak jauh dari rumahnya, me-
nggunakan motor miliknya dan meluncur kerumah Hendri.
Sesampainya disana, lagi, kopi menyapa Erwin.

Obrolan panjang terjadi, mulai dari harga kentang yang saat ini sedang naik, dan membuat wajah Erwin terlihat girang, berhubung pula sebentar lagi akan datang bulan puasa
Setidaknya ia memiliki simpanan uang untuk persiapan lebaran. (Jauh sekali mikirnya Erwin)

"Eh, Hen, koe weroh ra,"(Eh, Hen kamu tahu nggak,...") kata Erwin
"Ora,"(Nggak) potong Hendri
"Jaran koe, ngene, koe weruh ra, ladang sing enek gubuk apik e kae gone sopo?"
(Jaran(kuda)kamu, gini, kamu tahu gak, ladang yang ada gubuk bagusnya itu punya siapa?)
"Oh, sing ladang cabe kae"(oh yang ladang cabai itu?) jawab Henri sembari menyulut rokok kreteknya.
"Ha iyo,"
"Lah pie?"(Lah kenapa?) tanya Hendri menyelidik.
"Aku ndelok enek sing aneh mau"
(Aku lihat ada yang aneh tadi) kata Erwin
"Aneh pie? koe ndelok monyet gedi po?"(Aneh kenapa? kamu lihat monyet besar apa?) jawab Hendri menebak pertanyaan Erwin.
"IYO COK! Loh kok koe weroh"(Iya cok, lah kok kamu tahu)
"Sing ndelok yo ra mung koe,
mulo ojo nginep teros, men weroh perkembangan ngono, ki tak ceritani, jarene sing ndue iku njalok tolong karo demit"(Yang lihat ya gak cuma kamu, makannya jangan menginap terus, biar tahu perkembangan gitu, ini aku ceritain, katanya yang punya itu minta tolong sama setan) tutur
Hendri

"Ah! tenane, emang demit iso ladang?"(Ah! yang bener! emang setan bisa ngeladang?) kata Erwin penasaran.
"Ha yo takoni demite dewe kono,"(Ha ya tanyain setannya aja sana) jawab Hendri tersenyum gemas.
"Jaran kon,"
"wes rak sah dipikir"(dah, gak usah dipikirin)
Erwin mencoba untuk melupakan pembahasan tersebut dan mencoba untuk tidak berpikir hal itu.
Namun, pemandangan aneh diladang menjadikan sebuah tanda tanya besar bagi dirinya.

Entah itu, makhluk halus atau tidak, Erwin berusaha keras untuk tidak memikirkannya
Keesokan harinya, Erwin kembali ke ladangnya, diperjalanan menuju ladang, semua terasa aman, dan damai. Terlebih dengan embun yang masih menggantung diatas pohon. Menambah suasana semakin asri.

Namun tidak setelah ia mendapati ladang dan tanamannya
Ia terkejut, mendadak semua pertanyaan menyerbu kedalam otaknya, "ada apa?"
ya, terlihat di pandangannya, ladang dan tanamannya porak poranda, meskipun tidak semua, namun, sudah terbayang oleh Erwin kerugian yang harus ia tanggung.

"Celeng kimak" maki Erwin, yang belum sempat
menurunkan peralatan yang iia bawa di ranselnya.

Erwin merasa marah, bahkan semua sumpah serapah keluar dari mulut Erwin.

Tidak sampai disitu, ketika kakinya mencoba melangkah kedalam gubuknya, hanya berniat untuk meredam emosinya yang mendadak memanas,
nahas!
Matanya kembali mendapati, beberapa stock kebutuhannya untuk beberapa hari kedepan, sudah raip atau sudah menjadi sampah lebih tepatnya.
Mulai dari gula, kopi, rokok, dan roti, yang tersisa hanya sampah yang berserakan dilantai gubuknya.

"Ya Alloh gusti, paringono dalan
padang, salah opo aku iki gusti, doh,"(Ya Alloh gusti, tunjukanlah jalan terang, salah apa aku ini gusti, duh)
ratap Erwin sembari memungut sampah yang bertebaran dilantai.

Ya. Itu musibah kedua yang harus ia hadapi hari ini, setelah hancur sebagian tanaman miliknya
Dan, tentu saja, untuk hari ini, Erwin akan memiliki banyak pekerjaan

Erwin mencoba untuk tetap tenang, dan sabar.
Beruntungnya, Erwin ada membawa kopi, gula, satu gantang beras, dan beberapa buah telur, juga tak lupa mie instan.
Erwin pun ada menyelipkan 3 bungkus rokok yang ia selipkan diatap gubuk. (diantara SENG dan Kayu penyanggah)
Cukup bagi Erwin bertahan diatas dengan bekal seadanya.

Tanpa basa-basi lagi, Erwin langsung mengerjakan beberapa bedengan yang hancur,

(ISOMA DULU, HEHE)
Malam pun datang, Erwin, masih terjebak dengan api unggun, dan ditemani mp3 playernya,
Suasana diluar tidak terlalu bagus untuk dinikmati, terlebih Erwin sendirian.
Erwin memilih untuk tetap didalam gubuk, api yang hanya berukuran kecil, cukup untuk mmbantu menghangatkan tubuhnya
Malam semakin larut, Erwin mencoba untuk tidur, namun, tidak bisa. Entah karena kopi yang ia teguk beberapa menit yang lalu, entah karena memang belum terasa mengantuk.
mp3 player miliknya sudah ia matikan agar esok tidak kehabisan daya, dan suasana pun menjadi semakin gelap
Angin yang berhembus ditengah pepohonan mendukung kengerian malam itu. Suara jangkrik yang berbunyi semakin menambah kesepian yang terjadi.
Erwin merasa takut malam ini, dan tidak seperti biasanya.

Mendadak, Erwin mendengar suara langkah kaki, yang berjalan mengitari gubuk milik
-nya
Keringat dingin mulai keluar, ingin keluar dari gubuk dan memastikan siapa itu, ternyata Erwin tidak memilik cukup nyali akan hal itu, alih-alih ia hanya bisa berdiam diri, dan menahan rasa takutnya

Langkah tersebut semakin cepat, dan kini seakan serupa orang berlari
Hingga secara tiba-tiba langkah tersebut berhenti, tepat didepan pintu gubuk milik Erwin.
"Sopo? Ojo guyon mbengi-mbengi aku ra ngganggu," (Siapa? jangan becanda malam-malam, aku nggak mengganggu) kata Erwin kepada hal yang berada didepan pintu tersebut.
Tidak ada jawaban,
yang terdengar jelas hanyalah suara jangkrik, nafas Erwin, percikan api, dan suara nafas yang mengarah ke pintu gubuk

Erwin merasa bingung harus berbuat apa, ingin minta tolong dan berteriak, siapa yang akan mendengarkan? Tidak ada satu orang pun yang berada diladang,
Merasa dirinya terancam, dan bercampur dengan rasa takut yang luar biasa belum pernah ia rasakan, Erwin segera mengambil sembilah Parang, yang baru tadi sore ia bersihkan.
Perlahan-lahan, ia turun dari tempat duduk sekaligus berfungsi sbg ranjang, berjalan mendekat kearah pintu
"Sopo?" kata Erwin masih dalam keadaan takut, "Cok, nak ngene ceritane, iso mati keweden aku, san iki nek misal iki maling, bacok ndas e deloklah"(Cok, kalau begini ceritanya, bisa mati ketakutan aku, habis ini kalau misal ini maling, bacok kepalanya, lihat saja) lanjtu Erwin
menggerutu dalam hatinya

1
2
3
BOOO!
"HUUUUUUUUAAAAAAAAA" jerit Erwin terkejut, dan mendadak beringsut mundur.

"Heh! SOPO KOE, EH OPO KOE!" kata Erwin dengan merangkak mundur, seolah ingin menghindar dari sosok tersebut.
Namun, sosok itu hanya memandang Erwin nanar.
Malah semakin mendekat,
Secara kasat mata, sosok tersebut adalah nyata, bukan makhluk halus, tapi entahlah secara batin (begitulah penjelas Erwin saat itu)
Wujudnya serupa manusia, namun memiliki bulu yang tidak terlalu lebat, badannya sedikit membungkuk seperti orang yang sudah
tua, dan (maaf) pendek/kecil
yang terlihat sangat berbeda adalah, kakinya.
Kakinya tidak menghadap ke depan, tidak selayaknya manusia normal, namun, kakinya menghadap kebelakang(terbalik)

Sosok itu berjalan membungkuk dan mendekat ke rak yang berisikan gula, dan beberapa makanan
"OH! TERNYATA KOE SENG MALING," kata Erwin yang kini sedikit sadar bahwa yang ia hadapi adalah bukan hantu atau dedemit lainnya, lebih tepatnya ia berhadapan oleh makhluk primitif, (kata Erwin, karena ia terlihat sangat nyata, dan memakan beberapa gula)
Erwin pun mencoba untuk berdiri, dan mendekati sosok tersebut.
"Berarti koe juga sing ngobrak-abrik ladangku,"(berarti juga kamu yang mengobrak-abrik ladangku,) kata Erwin yang kini menjadi sedikit berani, dengan menggenggam parangnya yang sempat terjatuh tadi
Sosok yang tak tahu apa namanya itu hanya memandang Erwin, terlihat dari raut wajahnya, sosok tersebut merasakan penyesalan, terlihat bahwa ia hanya butuh makan.

"Yo wes pek'en"(ya udah ambillah) kata Erwin, "Sesok aku arep bali, tak tinggali pangananku nang kene, aku mung
njalok tolong, jogokke ladangku, ojo mbok rusak, nak sempet mbok rusak, rak tak wei panganan,"(besok aku akan pulang, aku tinggalkan makananku disini, aku cuma minta tolong, jagakan ladangku, jangan kau rusak, kalau sempat kau rusak, gak aku beri makanan) kata Erwin yang entah
mendapat ide dari mana, tapi, seakan ucapan Erwin seperti sangat meyakinkan dan penuh dengan kesungguhan.

Kini Erwin tidak lagi takut dengan sosok tersebut, malah, Erwin memberikan pula rokok yang ia bawa
Dipagi harinya Erwin pulang dari ladang, dan meninggalkan beberapa
bedengan yang masih terlihat rusak, sosok aneh semalam sudah pergi sejak Erwin menyuruh untuk keluar dari gubuk karena memang Erwin ingin segera tidur

Dalam perjalan, Erwin berinisiatif untuk memberi tahu temannya Hendri tentang apa yang ia lihat malam tadi
(kita lanjut malam besok, maaf nggak bisa update terlalu panjang, insha Alloh kita bertemu esok malam, JANGAN LUPA CUCI TANGAN)
Sesampainya dirumah Erwin, langsung bercerita kepada istrinya, namun, tidak terlalu dibenarkan oleh istrinya,
"Hala paling mung bocah ndaki gunung iku mas, terus kentekan rokok,"(Hala, paling itu cuma bocah ndaki gunung, terus kehabisan rokok,) kata istri Erwin
"Mosok seh,
mosok macak e ngono kui,"(Masak sih, masak bentuknya seperti itu,) sanggah Erwin.

Namun istrinya hanya meringis mendengar ucapan Erwin. Erwin tidak mengambil pusing tentang jawaban istrinya, ia lalu pergi mandi, dan keluar menuju kerumah Hendri.
Kebetulan hari itu Hendri tidak
pergi keladang.
Erwin pun datang dengan membawa sebungkus kopi sachset.
Tentu saja disambut ramah oleh Hendri.

Pembicaraan pun dimulai, mulai dari hal kecil hingga berat, dan sampailah kepada tujuan Erwin sebenarnya, bahwa ia melihat lagi apa yang ia ceritakan kepada Hendri
kemarin.

"Koe yakin iku wong pendek?"(Kamu yakin itu uhang pandak?) tanya Hendri menyelidik Erwin. (FYI : beberapa masyarakat sekitar sering menyebut uhang pandak dengan nama wong pendek)

"Iyo Ndri, tenan aku,"(iya ndri, beneran aku) jawab Erwin meyakinkan Hendri
"Terus pie?"(Terus gimana?) tanya Hendri lagi, kini wajah terlihat penasaran.
"Yo rak enek, mung tak tinggal, aku mung ngomong, ojo obrak-abrek ladangku, nek mbok obrak-abrek ladangku rak tak wei panganan,"(Ya gak ada, cuma aku tinggal, aku cuma bilang, jangan obrak-abrik ladangk
kalau kau obrak-abrik ladangku, gak aku kasih makanan) ujar si Erwin, dengan santai menyeruput kopinya, dan menyulut sebatang rokok kretek yang baru saja ia beli diwarung.
"Wah, gendeng, koe opo yo wes weroh mbanget, iku asli uwong, eh, maksudku, makhluk urep ngono, yo napak
sikile? opo ora demit iku?"(Wah, gila, kamu apa ya udah tahu banget, itu asli manusia, eh maksudku, makhluk hidup gitu? apa napak kakinya? apa nggak setan itu?) sanggah Hendri, dan kini wajah terlihat khawatir

Seketika itu pula, Erwin merasa ada yang sebenarnya Hendri tahu,
"Koe weroh toh Ndri?"(kamu tahu toh ndri) tanya Erwin
"Yo weroh rak weroh Win,"(ya tahu, gak tahu win) jawab Hendri sekonyong-konyongnya, "Ngene, awak iku rak weroh, wong pendek iku demit opo menungso, opo kewan, jare wong tuo mbien, iku jelmaan jenglot, jarene yo suku asli,
jarene juga, iku mung monyet, makane aku ora iso mastike tenanan, tapi, sing aku weroh, mbien enek seng pernah berurusan karo wong pendek kui,"(gini, kita nggak tahu, uhan pandak itu hantu, apa manusia, apa hewan, katanya orang tua dulu, itu jelmaan jenglot, ada yang bilang itu
suku asli, ada juga yang bilang, itu cuma monyet, makannya aku gak bisa memastikan, tapi, yang aku tahu, dulu ada yang pernah berurusan sama uhang pandak itu,) ujar Hendri

"Ho, ngene wae ndri, pie nak ngko mbengi koe melu aku munggah, nak ladangku orak popo yo awak jarke ndisek
tapi, nak ladangku ajor, baru awak golek weroh pie carane dee lungo,"(Ho, gini aja ndri, gimana kalau nanti malam kamu ikut aku keatas, kalau ladangku gak papa, ya kita biarin aja dulu, tapi, kalau ladangku hancur, baru kita cari tahu gimana caranya dia pergi,.) jawab Erwin tegas
"Haa, po yo rak kesel koe, baru mau isuk tekan, ngko munggah meneh,"(Haa, apa nggak capek kamu, baru juga pagi tadi sampai, nanti mau keatas lagi,) kata Hendri, "Lagian yo, nak wong pendek kae ijek mbok kei panganan yo dee bakalan tetep neng kono jogo ladangmu, malah koyok kirek
nunggoni ladangmu,"(Lagian ya, kalau uhan pandak itu, masih kamu kasih makanan, ya dia tetap disana, menjaga ladangmu, malah kayak anjing, nunggui ladangmu,) kata lanjut Hendri

"Yo juga yo, yo wes sesok nggak usah tak wei panganan, awak ndelok reaksine,"(ya juga ya, ya sudah
besok nggak usah aku kasih makanan, kita lihat reaksinya gimana) jawab Erwin santai
"Wes rak usah nggolek molo, dilitneh poso, royo, rak ndue panenan sokor ke, sekali kue ngek i mangan dee, podo ae kue wes bersedia nggo makani dee, nak koe rak ngek i dee mangan, yo reaksine podo
koyok bojomu rak mbok kei duet bulanan, nak orak mencak-mencak koyok kirek arep manak, malah iso lueh parah, westalah jarke sek, nyanti siap wayae, intine ojo sembarangan, awak tunggu sampe kue bar panen,"(Udah jangan cari perkara, sebentar lagi, puasa, lebaran, nggak punya
panenan sukurin kamu, sekali kamu kasih dia makan, sama aja kamu sudah bersedia untuk memberi makan dia, kalau kamu nggak kasih dia makan, ya reaksinya sama kayak istrimu nggak kamu kasih uang bulanan, kalau nggak marah-marah kayak anjing mau beranak, malah bisa lebih parah,
udahlah biarin aja dulu, sampai waktunya aja, intinya jangan sembarangan, kita tunggu sampai kamu selesai panen,) ujar Hendri, meyakinkan Erwin untuk tidak berbuat sembarang.

"Hooo asu, bojoku mbok padakke kirek po,"(Hoo asu, istriku kamu samakan dengan anjing apa) jawab Erwin
Hendri hanya tertawa, Erwin pun tahu, bahwa memang Hendri bercanda, dan sadar, bahwa istrinya juga punya emosi yang tidak terkontrol.

Obrolan pun selesai, Erwin kembali, kerumahnya.
Selepas pembicaraan dengan Hendri, beberapa hari setelahnya, Erwin pun mengajak Hendri untuk melihat aktivitas uhang pandak tersebut, namun, setiap kali ingin melihat, selalu saja, uhan pandak tersebut tidak berada di ladang, dan bahkan saat ketika ditunggu dan menginap digubuk
uhang pandak tersebut tidak juga datang
Namun, hal yang anehnya adalah, tanaman milik Erwin terlihat sangat subur, tapi Erwin tidak berpikir bahwa itu adalah ulah tangan si uhang pandak, melainkan hanya obat-obatan yang ia siram setiap tiga hari sekali atau seminggu sekali
dan yang menyadari adanya kejanggalan adalah Hendri.
Menurut Hendri, tidak mungkin sesubur itu, menimbang, obat yang digunakan Erwin adalah obat murah, bibit yang digunakan juga bukan bibit terbaik, Hendri masih betanya2 dengan hal itu, namun ia tidak mau berkata kepada Erwin
Setelah masa panen tiba, saat itu, tepat dimana 2 minggu sebelum lebaran.
Saat panen, beberapa petani pun dibawa oleh Erwin untuk membantu pekerjaan agar cepat selesai.
Benar, buah yang dihasilkan cukup besar, orang-orang yang bekerja pun ada yang heran ada yang iri, ada pula
yang kagum dengan hasil kerja tangan Erwin.
Ada yang bertannya kepada Erwin tentang bibit yang ia pakai, namun, Erwin hanya menjawab "bibit biasa". Erwin belum menyadari sebuah keanehan, ia hanya mengandalkan kata "keberuntungan, mungkin itu adalah rezeki"
2 hari berlangsung, Erwin dan petani lainnya selesai memanen tanamannya.
Keuntungan yang didapatkan Erwin tidak bisa terbilang sedikit, sangat banyak dengan skala lahan yang tidak terlalu besar.
Erwin pun pulang dengan wajah sumringah, seolah hidupnya sedang dlam puncak kejayaan
Tak lupa pula Erwin menyumbangkan sedikit hasilnya ke masjid desa, dan Sebagiannya lagi diberikan kepada istri tercintanya untuk membeli beberapa keperluan hari raya,
ya meskipun tidak semua.

Setelah panen itu, Erwin masih pergi keladang selama 3 hari sekali, tujuannya
adalah memberikan makanan kepada uhang pandak, yang tidak terlihat selama beberapa hari oleh Erwin atau sekedar untuk merapikan dan membersihkan sampah bekas panen.

Namun, selama lebaran berlangsung, Erwin tidak pernah datang keladang, tentu saja, Erwin dan keluarga ingin meraya
kan lebaran bersama keluarganya, melepas penat untuk beberapa hari.

Namun, dari sinilah terlihatnya sebuah perjanjian yang secara tidak langsung adalah perjanjian yang sakral dengan uhang pandak.
(BUKAN #GIVEAWAY! Cuma bagi-bagi rezeki, Jawab pertanyaan ini! siapa nama istri Erwin? dan jawab di twit ini
Hadiahnya cuma pulsa 10K, pemenangnya adalah yang ngepolow aku😂, kita lanjut besok lagi, 1 atau 2 hari lagi, aku nggak janji)
Selepas lebaran, tepatnya 2 minggu setelah Lebaran usai. Erwin berniat untuk kembali keladang, untuk bekerja seperti mana biasanya.
Sesampainya diladang, tidak ada tanda-tanda aneh dari ladang milik Erwin. Hingga beberapa hari,
Erwin siap untuk menanam kembali. Selama itu pula, tidak ditemukannya jejak atau tanda dari kemunculan si Uhang Pandak tersebut. Bahkan, Erwin rela menunggunya hingga tengah malam saat ia menginap di ladangnya, namun tetap saja tidak membuahkan hasil.
Akhirnya Erwin menyimpulkan bahwa Uhang Pandak tersebut sudah memiliki tempat lain untuk mencari makan.
Setelah selesai menanam, dan hanya tinggal merawat tanamannya. Baru beberapa kejadian tak wajar muncul.
Siang itu, tepatnya hari Rabu,
Erwin datang ke ladang seperti mana biasanya, dengan membawa bekal untuk tiga hari kedepan. Sesampainya di tempat tujuan, matanya pun dikejutkan dengan hancurnya beberapa bedengan miliknya, yang membuat tidak wajar adalah bedengan milik
Erwin hancur seperti terlidas oleh satu unit buldozer, rata bahkan seperti akan dibuat sebuah jalan.
Erwin heran dengan kejadian tersebut, “siapa yang berbuat demikian?”
Mengetahui hal itu, Erwin langsung menelepon temannya Hendri untuk segera naik keladangnya. Kebetulan pula,
ladang milik Hendri tidak terlalu jauh dari ladang milik Erwin.
“Weh arep nggawe jalan offroad po win? Roto temen?”(Weh mau buat jalan offroad apa win? Rata banget?) tanya Hendri dengan guyonan biasanya.
“Offroad dengkolmu!” maki Erwin tanpa melihat Hendri.
“Pie?”(Gimana?) tanya Hendri lagi.
“Embuh iki, kok iso ngene yo?”(Nggak tahu ini, kok bisa begini ya?) jawab Erwin seakan bertanya kepada dirinya sendiri.
“Wes tak kandani, ojo ngulah, malah ngulah koe,”(Udah aku bilangin, jangan ngulah, malah ngulah kamu) jawab Hendri singkat sembari menyulut rokoknya yang sempat mati.
“Aku ora ngulah yo,”(Aku nggak ngulah ya)
“Nak ora ngulah kok iso ngene, nengdi enek buldozer tekan nduor ngene, tapak e yo ora enek iki, nak orak wong pendek kae lah yo sopo?”(Kalau nggak berulah kok bisa begini, mana ada buldozer sampe diatas sini, tapaknya ya juga gak ada ini, kalau bukan
Uhang Pandak itu siapa lagi?) kata Hendri asal, tapi seolah sudah yakin bahwasannya itu adalah ulah dari Uhang Pandak.
Erwin menghembuskan nafas dengan berat. Pikirannya kini menjadi kacau, tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“Njok kudu pie ndri?”(Terus harus gimana ndri?) tanya Erwin dengan wajah bingung seakan terlihat putus asa.
“Nak menurutku loh yo, iki nak mbok baleni nandor meneh, yo bakal ngene meneh tanduranmu, aku wani njamin,”
(Kalau menurutku loh ya, ini kalau kamu ulangi menanam lagi, ya bakalan begini lagi tanamanmu, aku berani jamin) ujar Hendri dengan serius.
“Kok iso?”(Kok bisa?)
“Yo mboh, kok iso, ngene loh yo, kan aku wes ngomong, awak nggak ngerti ijek adep-adepan mbek sopo, nak menungso
gebuki yo mandek, nak kewan, bedil ndase juga mati, nak memedi, ngajeni juga wes lungo, ha wong pendek iki ki opo, kan awak ora weroh, dee iku opo? jalan siji-sijine yo mbok dol ladangmu koe golek ladang baru,”
(Ya nggak tahu, kok bisa, gini loh ya, kan aku udah bilang, kita nggak tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang, kalau manusia gebukin juga berhenti, kalau hewan, tembak kepalanya juga mati, kalau setan, dingajiin juga udah pergi, ha Uhang Pandak ini apa, kan kita nggak tahu,
dia itu apa? Jalan satu-satunya ya kamu jual ladangmu, kamu cari ladang yang baru) ujar Hendri panjang lebar.
“ngedol ladang rak sepenak cangkemmu mengo, ladang neng nduwuran ngene iki gek opo yo enek seng gelem,”(Ngejual ladang nggak segampang mulutmu menganga,
ladang di atas seperti ini siapa yang mau,) kata Erwin
Hendri hanya diam, dan ikut meratapi apa yang dihadapi oleh Erwin temannya. Hendri hanya berpikir, mungkin ini baru sebuah teguran, dan ia meyakini akan ada lagi, permasalahan lain yang akan menerjang.
(Jadi makhluk apa Uhang Pandak ini? Hantukah? Hewankah? Atau hanya makhluk primitif? Tulis jawaban kalian kolom komentar)

Erwin meminta kepada Hendri untuk menginap diladang malam ini.
Hendri pun meng-iyakan permintaan temannya, dan menginap digubuk Erwin, juga sekaligus memastikan apa yang sebenarnya terjadi diladang Erwin.
Sore pun berganti malam, setidaknya, malam itu tidak hujan dan membuat suasana tidak terlalu menyeramkan.
Api unggun pun sudah menyala, tidak terlalu besar, namun cukup membuat hangat badan.
Hendri menikmati malamnya ditempat duduk yang ada diluar dengan kopi dan senandung lagu cinta dari radio miliknya.
Ya, hingga malam pun larut tidak ada tanda-tanda aneh yang muncul.
Sekitar jam 2 malam, Erwin dan Hendri tak kunjung bisa melelapkan matanya.
“Kok aku rak iso turu yo?”(Kok aku gak bisa tidur ya?) kata Hendri
“Podo ndri, ngopo yo, ndengaren”(Sama ndri, ngapa ya, tumben) jawab Erwin menyilangkan tangannya dikepalanya.
Tiba-tiba saja, terdengar suara brisik dari luar, entah seperti apa suaranya, namun, sangat berisik.
Erwin dan Hendri sama-sama melotot mendengar suara tersebut, dan berdiri.
Seakan sama-sama bertanya “ada apa?” tanpa saling mengeluarkan suara.
Erwin dan Hendri langsung keluar dari gubuk tak lupa masing-masing membawa sembilah parang.
Satu
Dua
Tiga
Brak! Pintu terbuka
Tidak ada apa-apa, hanya suara angin yang kencang menghebuskan beberapa pohon
“Iku mau uduk suoro angin, yakin sung sumpah sumprit”(Itu tadi bukan suara angin, yakin sung sumpah sumprit) kata Hendri.
“Njok opo jal?”(Terus apa dong?) tanya Erwin penasaran, sembari mencari-cari, arah dari suara berisik.
Maaf kanda dan dinda semuanya karena thread ini penyelesaiannya sangat lama, dikarenakan kondisi dan waktu yang sangat tidak pas untuk melanjutkannya
Disamping itu, aku juga cukup sibuk dengan skripsi
Tapi, tenang saja, thread ini akan ttap aku lanjutkan
Besok ini aku akan update
Mohon pengertiannya kanda dan dinda sekalian
Silahkan kanda dan dinda keliling dithread teman-teman yang lain untuk menemani malam kalian atau bisa membaca threadku sebelumnya

Sampai bertemu di malam minggu
Hendri, dan Erwin menjadi sedikit ketakutan dengan kejadian dan suara aneh tersebut. Sebenarnya tidak ada yang aneh jika berbicara tentang hal menyeramkan disebuah gunung.
Banyak sekali kejadian yang tidak masuk logika jika berada di gunung. Mulai dari suara tangis, minta tolong, atau bahkan penampakan yang tidak biasa, dan tentu saja itu tidak kepada semua orang, beberapa memang ada yang terpilih untuk mendapati hal ganjil tersebut.
Kembali ke Erwin dan Hendri yang saat ini masih saja, berdiam diri, saling memandang bertanya satu sama lain tanpa berucap, hanya menggunakan gerak mata saja. Tidak ada yang tahu suara apa itu.
Erwin dan Hendri kembali masuk kedalam gubuk, dan mencoba untuk lebih tenang. Hendri memutuskan untuk membuat teh hangat, untuk menghangatkan tubuh mereka. Belum sempat air dalam panci mendidih, suara tersebut kembali lagi,
(FYI: menurut Erwin suara itu seperti suara gemuruh, dicampur dengan suara orang berlari yang menerobos semak belukar tanpa suara langkah kaki, mohon dicermati sendiri ya, aku gak bisa kasih penjelasan lebih detailnya, bayangkan saja, kalian yang menjadi Erwin dan suara itu bisa
- kalian ciptakan sendiri)

“Jane opo toh yo?”(Sebenarnya apa sih?) kata Hendri sudah mulai kesal dengan suara tersebut. Kesal yang dicampur rasa takut.

“Yo mboh!”(Ya entah!) jawab Erwin.
Mereka kembali keluar dengan menggunakan sembilah parang yang sama seperti sebelumnya, ditambah dengan senter milik Hendri. Saat mereka sudah berada diluar, dan berhenti untuk saling mengamati sekeliling. Lagi! suara itu menghilang, namun, tidak lama, hanya persekian detik saja.
Lalu secara tiba-tiba dan dari arah yang tak terduga, suara itu kembali muncul, dan kini semakin jelas. Saat suara itu mulai mendekat, dan semakin dekat. Suara itu kembali menghilang.
Waaaah ada kesalahan teknis sepertinya.... hehe sabar sebentar aku perbaiki
Erwin dan Hendri, mengamati sekelilingnya, Hendri menyorotkan lampu senter di sekelilingnya, dan apa yang terlihat oleh Hendri, membuat dirinya terdiam, dan mematung, seakan jantung berhenti memompa darah dan membuat dirinya menjadi beku. (puitis amat nying)
Erwin yang menyadari Hendri sedang berdiri seolah mematung, menepuk pundak Hendri,
“Win, kae opo?”(Win itu apa?) kata Hendri, lirih, seakan mengisyaratkan untuk tidak bersuara lebih keras.
“Opo?” tanya Erwin penasaran.
“Kae loh, enek moto, kuning, menungso opo beruang kae,”(Itu loh, ada mata, kuning, manusia atau beruang itu) kata Hendri yang terlihat sangat takut dan wajahnya terlihat pucat pasi.
“Demit kui,” (setan itu) kata Erwin
Mereka tidak berani mengambil resiko untuk mendekat dan memastikan apa sebenarnya sesuatu yang menyala serupa mata kucing kala disorot dengan lampu yang terang, namun berwarna sedikit kekuningan.
Hal yang tidak diduga oleh Erwin dan Hendri adalah, ternyata itu buka Cuma sepasang mata saja, terlihat ada struktur tubuh yang melengkapinya, dan kini menjadi banyak, yang bersinar tanpa disorot senter. Sepasang mata itu mengelilingi ladang milik Erwin.
Melihat kondisi semakin tidak memungkinkan, perlahan namun pasti, Erwin dan Hendri, mundur dan mendekati gubuknya.
Mengunci pintu gubuk dan meringkuk serupa orang yang sangat ketakutan.
“Opo kui Ndri? Aku wedi,”(Apa itu ndri? Aku takut) kata Erwin lirih
“Wes meneng lah, aku yo wedi loh, gek akeh mbianget,”(Sudah diamlah, aku ya juga takut, mana rame banget lagi) kata Hendri yang juga ikut ketakutan.
Tidak lama setelah itu, Hendri, kembali keluar dari gubuk untuk memastikan sosok tersebut masih ada atau tidak.
Saat dilihat, ternyata sosok tersebut sudah tidak ada. Hendri pun merasa sedikit tenang karena sosok tersebut sudah tidak ada disekeliling mereka.
Hendri pun masuk kedalam gubuk dan mencoba untuk menenangkan diri, walaupun tidak akan sepenuhnya dapat tenang.
“Mulih wae yok,” (pulang saja yuk) kata Erwin.
“Gendeng, ayene ngejek bali, beruange tangi caplok gulumu sokor,”(Gila, sekarang ngajakin pulang, beruangnya bangun, dimakan lehermu sukurin) jawa Hendri.
“Lah timbang ra iso turu ngene,”(dari pada nggak bisa tidur gini) kata Erwin sembari menyeruput kopi yang masih terasa panas.
“Aku weroh sopo seng pernah berurusan karo iki Win, jenenge Pak Sam, Samto nak nggak salah jenenge,
wong deso sebelah, dee pernah koyok kue ngene, ngko nak wes rodok terang, awak muleh, mbengine awak rono, ladangmu jarke seklah, rung tukol juga,”(Aku tahu siapa yang pernah berurusan dengan hal seperti ini, namanya Pak Sam, Samto kalau nggak salah, orang desa sebelah,
dia pernah seperti kamu gini, nanti kalau sudah agak terang, kita pulang, malamnya kita kerumahnya, ladangmu biarkan saja dulu, belum tumbuh juga) ujar Hendri menjelaskan apa yang pernah ia dengar.
“Hah, mikiri tanduran, nak wes ngene, kok wegah aku ngurusi,”
(Hah, mikirin tanaman, kalau sudah begini, kok malas rasanya ngurusin)
Di pagi harinya, tepatnya sesudah subuh, matahari sudah sedikit malu-malu menampakan dirinya. Hendri dan Erwin, mulai berjalan turun untuk kembali kerumah, berharap sampai rumah bisa tidur, karena memang
semalaman tidak bisa tidur.

Dengan perasaan yang amburadul, Erwin dan Hendri perjalan cepat, dan tak lupa mengamati sekeliling mereka. Siapa tahu saja, ada Beruang yang sedang ngelilir.
Sesampainya dirumah, wajah bingung menyambut Erwin didepan pintu.
“Loh mas, Seko ndi?”(Loh mas, dari mana?) tanya Leni terheran melihat Erwin yang saat ini berada didepan pintu rumah.
“Yo ko ladang toh, lah seko endi meneh, po yo rak nyawang, nggawani parang ngene,”(Ya dari ladang toh, lah dari mana lagi, apa gak lihat, bawa parang begini,)
jawab Erwin, “Ngopo e rai mu dek? Koyok ndelok demit.”(Ngapa wajahmu dek? Kayak lihat hantu.) lanjut Erwin bertanya dengan wajah penasaran, yang tergambar jelas pada lekukan dahinya.
“Seko ladang? Mangkat jam piro?”(Dari ladang? Berangkat jam berapa?)
tanya Leni dengan wajah memerah.
“Mangkat pie, baru juga mulih,”(Berangkat gimana, baru juga pulang), kata Erwin. “Ngopo ee?”(Kenapa kamu?) tanya Erwin penasaran.
“Lah nak sampena seko ladang, terus sing mau mbengi mulih nggawe kopi njok ngeloni aku sopo mas?”
(Lah kalau kamu dari ladang, terus yang tadi malam pulang bikin kopi terus meluk aku siapa mas?) kata Leni dengan wajah ketakutan.
“Weh-Weh! Rak gawe-gawe koe dek, aku baru mulih, mau mbengi aku nginep karo Hendri, ngelindor opo koe?”(Weh-Weh! Nggak buat-buat kamu dek, aku baru
pulang ini, tadi malam aku menginap dengan Hendri, ngigau kamu ya?) jawab Erwin belum percaya, tapi sedikit risau.
“Uduk mas, ora ngimpi aku yo, tenan, lah wong, jaremu aku kon nggorengke ubi mbarang mau mbengi,”(Bukan mas, nggak mimpi aku ya, benaran, orang katamu aku
suruh nggoreng ubi segala semalam) jawab Leni “Lah nak orak sampean, sopo iku mas?”(Lah kalau bukan kamu, siapa itu mas?) kini wajah Leni sudah mulai pucat, takut hal yang tidak-tidak terjadi.
“Tapi, ora nganu toh dek?”(Tapi nggak nganu kan dek?”) tanya Erwin memastikan kejadian semalam.
“Opo?” Leni kembali bertanya.
“Iku, ora nggawe kuping toh,”(itu, nggak buat telinga kan?) tanya Erwin lagi.
“Koyok e ora loh mas, ora keroso soale mas,”(Kayaknya nggak deh mas, nggak kerasa soalnya mas) jawab Leni, masih terlihat pucat.
"Yo ojo koyok e toh yo,"(Ya jangan kayaknya toh ya) jawab Erwin cemas, “Wes, ngko bar jikok anak, langsung mulih nang gene mamak yo,
mas nggak mulih ngko mbengi, ono masalah nang ladang, timbang kejadian meneh, turu ndisek nang gene mamak yo, turuti ae omonganku, ojo kakean tekon, seng penting kabeh selamet.”(sudah, nanti setelah jemput anak, langsung pulang ke tempat ibu, mas nggak bisa pulang nanti malam,
ada masalah di ladang, ketimbang kejadian lagi, tidur saja dirumah ibu ya, turuti saja omonganku, jangan bertanya, yang penting kita semua selamat.) lanjut Erwin dan langsung masuk kedalam kamar.
Tanpa menjawab Leni yang mengerti dengan gelagat serius suaminya, hanya mengangguk mengartikan bahwasannya ia menuruti keinginan suaminya.
Leni langsung mengemas beberapa pakaian untuk beberapa hari kedepan, Erwin juga sudah berkata kalau, untuk sementara saja Leni harus tidur
dirumah mertua, berhubung tidak pula terlalu jauh dari rumahnya sendiri. Erwin juga berpesan, untuk tidak mengatakan kepada orang tuanya bahwa ada sedikit masalah di ladang, supaya orang rumah pun tidak merasa panik. Leni juga menuruti semua kemauan Erwin tanpa bertanya.
Setidaknya dia akan menerima jawaban jika masalah selesai atau malah semakin memburuk.
Leni kembali memutar ingatannya. Mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Mungkinkah ia bermimpi? Tapi tidak, ia merasakan pelukan yang cukup hangat tadi malam. Leni pun cukup meyakini,
bahwa tidak ada kejadian yang tidak diinginkan malam tadi. (You know lah ya)
Erwin, yang masih berada didalam kamar, mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, semakin dicoba malah semakin tidak bisa tidur. Pikirannya berkelana mengitari sudut kejadian yang telah terlewat.
Mengamati setiap inchi yang terjadi, dan memikirkan kejadian yang menimpa istri tercintanya. “Opo aku ketiban sial yo”(Apa aku ketiban sial ya?) tanya Erwin kepada dirinya sendiri.
Karena badan terasa lelah dan tidak tidur semalam suntuk, Erwin tanpa sadar pun tertidur dengan sendirinya.
Belum ada yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah ini sebuah efek samping dari perjanjian yang
terjadi scara tidak langsung oleh Uhang Pendek yang belum tahu pasti makhluk apa itu.

(FYI : Karenakan kemisteriusannya, Uhang Pandak ini pernah menjadi penelitian National Geographic loh gaes, biar tahu aja, banyak kok yang buat artikel ini, kalau penasaran silahkan nggugling)
(Maaf kanda dan dindaku sekalian, aku terlambat lagi untuk update thread ini, karena memang ada beberapa musibah yang sedang terjadi, jadi berhubung malam ini ada WiFi, aku akan lanjutkan threadnya, insha Alloh akan selesai pada malam ini juga)
-----------------------------------
Selepas adzan ashar berkumandang, Erwin pun sudah terjaga dari tempat tidurnya. Ia tidak mendapati istrinya Leni berada dirumah. ‘Ah, mungkin sudah pergi kerumah ibu’ begitulah batinnya.
Erwin pergi menuju kekamar mandi, sekadar untuk menyegarkan kembali tubuhnya.
Leni sudah pergi kerumah ibu sejak siang tadi, tertutur dari sms yang ia kirim. Ia pun tidak lupa dengan kewajibannya sebagai istri. Sebelum pergi, Leni sudah menyiapkan beberapa makanan untuk Erwin. Sungguh istri yang pengertian.
Setelah mandi, dan makan, Erwin pergi kerumah Hendri, untuk menepati perkataan Hendri, yang akan mengajaknya kerumah seseorang yang pernah berurusan dengan Uhang Pandak, Pak Samto.
Sesampainya dirumah Hendri, ternyata Erwin sudah ditunggu oleh Hendri didepan rumahnya, -
- dengan segelas kopi diatas meja terasnya. Sambutan yang hangat.
“Sido?”(Jadi?) tanya Erwin sembari mendekat dan duduk disebelah Hendri.
“Ha yo sido, gari mangkat, tapi kosek, kopiku durong sat,”
(Ha ya jadi, tinggal berangkat, tapi bentar, kopiku belum surut) jawab Hendri sembari menyeruput kopinya, yang ternyata kopi itu masih sangat panas, terlihat dari kepulan asap yang keluar dari gelas tersebut.
“Mbok aku gawekno siji,”(Mbok aku dibuatkan satu) kata Erwin
“Wegah, gaween dewe, lah bojomu po rak nggawekno kopi,”(Ogah, bikin sendri, lah apa istrimu gak buatkan kamu kopi,) jawab Hendri ketus.
“Nah iku masalahe, bojoku mau mbengi jarene dikeloni karo aku, jadi saiki dee tak kon moleh gene mamak,”
(Nah itu masalahnya, istriku semalam katanya dipeluk sama aku, jadi sekarang dia aku suruh pulang kerumah mamak) kata Erwin yang kini wajahnya berubah menjadi sangat khawatir.
“Weh gendruwo mesti,”(Weh gendruwo pasti) kata Hendri menebak.
“Mungkin, tapi jarene Leni, dee ora nggawe kuping loh ndri”(Mungkin, tapi kata Leni, dia ngga buat telinga loh ndri) jawab Erwin, “Yo mung ngeloni ngono ae, rak diapa-apakno, beruntung e iku, mung aku wedine, iki mergo ulah e wong pendek kae, aku jadi sial,
mrembete nyanti tekan keluarga ku,”(Ya Cuma meluk gitu aja, nggak diapa-apain, beruntungnya itu. Cuma aku takut ini karena ulah Uhang Pandak itu, aku jadi sial, menjalarnya sampai keluargaku) lanjut Erwin ketakutan. Kini wajahnya terlihat sangat ketakutan. Sedang Hendri, hanya -
- khusuk mendengar perkataan Erwin sembari menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Begitu pula dengan Erwin, melihat kopi tersebut sudah mulai dingin, Erwin menyesap rokoknya yang baru saja menyala, dan meneguk kopi milik Hendri, hingga tinggal seperempat.
“Wah Murko koe”(Wah murka kamu) kata Hendri melihat Erwin yang meneguk kopinya yang masih hangat.
“Wes yok,”
“Ya yoklah”
Mereka berdua akhirnya pergi kerumah Pak Samto, menggunakan motor milik Erwin.
Ternyata cukup jauh rumah milik Pak Samto, dari rumah Hendri.
Mereka berdua bertanya-tanya kepada orang sekitar didesa sebelah, dimana rumah Pak Samto, namun, hanya sedikit yang tahu siapa Pak Samto ini. Hingga Erwin dan Hendri tiba disebuah persimpangan, terlihat disana ada sebuah warung.
Hendri pun beranjak dari motor dan berjalan kewarung tersebut, untuk membeli sebungkus rokok dan sekalian bertanya dimana tepatnya rumah milik Pak Samto itu, siapa tahu, pemilik warung ini dapat memberi petunjuk lebih jelas dari pada orang-orang sebelumnya.
“Permisi buk, tahu rumahnya Pak Samto?” tanya Hendri, dengan khas medok jawanya.
“Oh Pak Sam, iyo, lurus bae ke arah timur, nanti kalau ada rumah warna merah, nah itu rumahnyo, idak jauh dari sini,” kata pemilik warung menunjukan jalannya cukup detail.
Akhirnya Hendri dan Erwin bergegas menuju rumah Pak Sam tersebut, dan benar mereka menemukan rumah warna merah, rumahnya sangat bagus untuk kelas petani biasa, bahkan, rumahnya paling berwarna dan bagus diantar rumah-rumah sebelumnya.
Erwin dan Hendri memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah berwarna merah itu, yang katanya adalah milik Pak Sam.
Saat pintu rumah di ketuk, ada jawaban dari dalam rumah. Tidak ada yang aneh, seseorang dari dalam menjawab seperti mana biasanya orang kedatangan tamu.
“Siapa?” kata seorang Bapak-bapak yang terlihat sudah cukup berumur, tampak dari rambut yang terlihat sedikit beruban.
“Benar ini rumah Pak Samto?” tanya Hendri dengan nada yang begitu sopan.
“Iya, itu saya sendiri, cari siapa ya dek?” kata orang tersebut yang ternyata adalah
Pak Samto itu sendiri, lantas bertanya menyelidik kepada Erwin dan Hendri yang belum ia kenali.
“Perkenalkan saya Hendri, dan ini teman saya Erwin, kami ada perlu dengan bapak,” kata Hendri memperkenalkan diri mereka,
“Tapi, bisa kita berbicara sedikit privasi pak, soalnya ini menyangkut apa yang pernah bapak alami,” lanjut Hendri langsung menuju ke point.
“Oh begitu ya, ya sudah silahkan masuk,” kata Pa Sam yang tampak bingung dan mempersilahkan Erwin dan Hendri masuk kedalam rumah.
Erwin dan Hendri pun masuk kedalam rumah dan dipersilahkan untuk duduk.
“Ada apa?” tanya Pak Sam yang begitu sangat menyelidik.
“Begini pak,” pembicaraan pun diambil alih oleh Pemiliknya, Erwin.
“Beberapa bulan lalu, tanpa sengaja, aku bertemu sama sosok yang bisa dikatakan Uhang Pandak pak, nah aku gak sadar kalau ternyata memberinya makanan adalah hal yang salah, jadi, sudah ada beberapa minggu, ia tidak saya berikan makan, yang berakibat, ladang saya rusak parah, -
- dan aku pun merasa sial gitu pak, istrinya saya didatangi makhluk halus, yang menyerupai seperti saya. Tujuan kami datang kesini adalah untuk meminta bantuan kepada bapak, bagaimana lepas dari perjanjian yang tidak disengaja itu,” -
- lanjut Erwin bercerita dari awal, yang disimpulkan cukup singkat.
“Oh, itu. Tunggu sebentar ya, biar aku buatkan minum dulu biar santai, duduk saja disini,” kata Pak Sam dengan sopan dan dengan logat khas Kerinci aslinya.
Erwin dan Hendri pun menyetujui dengan isyarat mengangguk dan tersenyum kepada Pak Sam. Kini Pak Sam sudah paham dengan tujuan orang yang baru ia kenal itu.
Tidak sampai dari 15 menit menunggu, minuman hangat sudah disuguhkan oleh Pak Sam, dan beberapa makanan ringan yang masih tersusun acak didalam toples kaca.
“Ayo di nikmati,” kata Pak Sam mempersilahkan, “Jadi begini ya dek,
bukan bapak tidak mau membantu, tapi sejujurnya pun bapak tidak tahu bagaimana bapak bisa keluar dari perjanjian itu,” lanjut Pak Sam bercerita.
“Loh, Maksudnya?” tanya Hendri menyelidik.
“Iya, bapak tidak pernah tahu bagaimana caranya, mau tanya pun kesiapa dek, dukun?
Percuma, nggak ada gunanya, jadi waktu itu, bapak biarkan saja ladang itu, hingga sampai mereka nggak pernah datang lagi, intinya begini, hasil panen yang sempat ia kerjakan itulah yang ia minta kembali, jadi mereka minta dibayar begitulah kira-kira,” kata Pak Sam.
“Sesimple itu ya pak? Tapi, kok kemarin sampai ramai sekali mereka datang waktu kami menginap diladang pak, mereka berbondong-bondong datang, seolah meneror malam kami, dan mendadak menghilang,” ujar Hendri.
“Waduh, bapak tidak sampai sebegitu menakutkannya dek, bapak hanya dirusak saja ladangnya, nggak sampai menakut-nakuti begitu,” kata Pak Sam, “atau mungkin yang sebenarnya kalian hadapi bukan uhang pandaknya, tapi mungkin sosok jin yang menyerupai makhluk bunian itu,”
- lanjut Pak Sam seakan memberikan jalan baru pada masalah Erwin.
“Sebenarnya Uhang Pandak ini apa pak?” tanya Erwin tiba-tiba.
“Wah itu pun sampai sekarang bapak tidak bisa menjawab, ada yang bilang itu manusia, ada yang bilang hantu, tidak pernah ada yang tahu dek,”
- jawab Pak Sam sembari tersenyum, “buat apa juga kita mencari tahu tentang hal yang tidak ingin diketahui kan dek, membahayakan diri sendiri itu tidak baik,” lanjut Pak Sam.
“Saya mencari tahu agar kehidupan saya kembali normal lagi pak, agar keluarga saya tidak diteror oleh hal semacam ini lagi,” kata Erwin yang sedikit dongkol.
“Begini, tadi sudah bapak katakan, intinya, uhang pandak ini,
hanya meminta bayaran kepadamu atas pekerjaan yang sudah ia lakukan pada lahanmu,” kata Pak Sam seakan meyakinkan.
Tidak ada jawaban atau perkataan lagi dari mulur Erwin dan Hendri ketika Pak Sam mengatakan hal itu kedua kalinya. Suasana pun menjadi canggung, hening,
mungkin hanya suara nafas Hendri yang terdengar jelas.
“Maaf pak, boleh merokok kan ya pak?” tanya Hendri kepada Pak Sam, berusaha untuk mencairkan suasana agar tidak terlihat begitu canggung.
“Oh iya silahkan, ndak masalah, bapak pun merokok jugo,”
- kata Pak Sam yang masih tersenyum.
Hendri pun menyulut rokoknya, dan menghisapnya, kemudian menyeruput teh yang sudah dihidangkan oleh Pak Sam.
Terlihat ada kecanggungan antara Pak Sam dan Erwin, mungkin karena nada bicara Erwin yang meninggi saat ia terakhir berbicara.
Karena sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, dan situasi pun sudah tidak sehangat saat pertama kali menginjakan kaki dirumah Pak Samto itu, akhirnya Erwin dan Hendri berpamitan untuk kembali pulang.
Pak Samto pun mempersilahkan mereka berdua pulang kerumahnya dengan senyum yang ikhlas.
Diperjalanan tidak ada satu katapun keluar dari mulut Erwin, ia hanya terdiam memikirkan bagaimana cara menghadapi uhang pandak ini.
Walau akhirnya selalu menuju pada gang yang tak bersimpang bahkan buntu.
“Win, koyok e jalan siji-sijine koe kudu ngedol ladang lah win, soale wes rak enek jalan meneh, koe kerungu toh omonge pak Sam mau, nak dukun pun bingong kudu pie,”
(Win, sepertinya jalan satu-satunya kamu harus jual ladang deh win, soalnya sudah nggak ada jalan lagi, kamu dengar kan ucapan Pak Sam tadi, kalau dukun pun bingung harus bagaimana)
“Iyo ndri, njok bojoku wes keteror iki, pie metune,”(Iya ndri, terus istriku sudah diteror ini,
- gimana keluarnya) kata Erwin bertanya.
“Yo wes nak soal iku, serahke wae mbek gusti Alloh, nak menurutku yo, kejadian seng menimpa bojomu iku rak ono hubungane mbek wong pendek kae, opo yo mungkin wong pendek kerja sama karo gendruwo, kan yo ora koyoke,
- lebih apike bojomu diresiki, yo akeh-akeh ae sembayang, percoyolah, setanpun emoh nyedek, bukan aku nyeramahi yo, mung ngewei saran men ojo terlalu jeru mikirke seng awak ora reti ujunge pie,”(Ya sudah kalau soal itu, serahkan saja sama gusti Alloh, kalau menurutku ya,
- kejadian yang menimpa istrimu itu tidak ada kaitannya dengan uhang pendek itu, apa ya mungkin uhang pandak itu kerja sama dengan Gendruwo, kan sepertinya tidak, lebih baik istri kamu dibersihkan, ya setidaknya banyak-banyaklah sholat,
- percayalah, setanpun enggan mendekat, bukan aku menceramahi ya, tapi Cuma memberi saran supaya tidak terlalu dalam memikirkan hal yang kita tidak pernah tahu ujungnya,)
Erwin terdiam mendengar ucapan dari Hendri. Mungkin ada benarnya, keluarganya selama ini kurang atau bahkan bisa dikatakan tidak dekat dengan akan Sang Pencipta.
Apapun masalahnya jelas saja hanya Tuhan yang membuat dan memberikan solusi dari masalahnya, setidak dengan doa dan berusaha, manusia bisa mendapatkan solusi dari setiap masalahnya
Sehari setelah itu, Erwin pun menjempu istri dan anaknya untuk kembali dibawa pulang kerumah.
Erwin pun menceritakan kepada Leni, apa yang sebenarnya terjadi di ladang. Leni pun mengerti dan paham akan keadaan Erwin saat itu yang tidak pernah tahu bahwa sejatinya ia tidak pernah membuat janji kepada Uhang Pandak.
Malam harinya, terbesit pikiran Erwin tentang ucapan Hendri, yang pada intinya itu adalah agar keluarga Erwin lebih dekat lagi kepada Tuhan. Terbesit lah sebuah ide yang sejujurnya ia pun tidak tahu cara ini akan berhasil atau tidak.
Erwin pun mengadakan sebuah syukuran dirumahnya, dengan tujuan agar rumahnya lebih sejuk lagi dari sebelumnya, dan tujuan yang kedua adalah upaya agar tidak ada lagi gangguan dari uhang pandak tersebut.
Leni pun menyetujui hal itu, bahkan sangat mendukung keputusan yang dibuat oleh Erwin.
Beberapa hari setelahnya, Syukuran pun diadakan, beberapa tetangga pun datang, termasuk juga Hendri, Buya yang mengimami pengajian pun melantunkan ayat suci dengan merdu saat itu.
Erwin tidak berpikir lagi, entah ini berhasil atau tidak usaha ini, setidaknya ia sudah mencoba.
“Sesok iki aku arep ladang, mana tahu yo mbek sukuran sederhana iki wong pendek kae iso mandek ngganggu aku,”(Besok ini aku mau ke ladang, mana tahu ya dengan sukuran sederhana ini uhang pandak itu tidak lagi menggangguku.)
Keesokan harinya pun Erwin kembali keladang, dengan bekal seadanya dan seperti biasa, membawa parang dan juga cangkul, seperti mana bisanya.
Namun, bedanya ada, Erwin membawa satu buah ayam yang sudah dimasak, (dibuat menjadi ingkung, nggak tahu deh nama aslinya apa, hehe)
dan beberapa sayuran.
Sesampainya diladang, memang benar, ladang miliknya sudah tidak lagi seperti sebuah ladang, melainkan seperti tanah lapang yang sangat rata. Ia hanya menghela nafas panjang.
Tidak ada yang dilakukan Erwin selama seharian, hanya duduk sembari merokok dan menikmati kopinya didepan gubuk sembari memandang ladang miliknya yang seakan terlindas oleh sebuah alat berat.
“Nak pancene iki balesane aku ngaku salah, aku njalok ngapuro, mbuh koe kabeh kerungu opo ora, aku wes rak peduli, aku wes njalok ngapuro,”(Kalau memang ini balasannya, aku mengaku salah, aku minta maaf, entah kamu mendengarnya atau tidak,
aku sudah tidak perduli, aku sudah minta maaf) kata Erwin kepada alam yang mendengar, dengan niat ditujukan kepada uhang pandak.
Sore sebelum Erwin kembali kerumah, ia taruh ayam yang sudah ia siapkan, dan ia taruh didalam gubuknya.
“Iki panganan terakhir go koe, aku wes emoh ngopeni koe, aku harap koe yo iso lungo dan ora ngganggu urepku meneh, anggep iki sebagai bayaran atas kerjananmu selama iki mbantu aku, matursuwon”(Ini makanan terakhir untukmu, aku sudah nggak mau mengurusimu,
aku harap kamu bisa pergi dan tidak mengganggu hidupku lagi, anggap ini sbg bayaran atas kerjaanmu selama ini membantu aku, Terimakasih) kata Erwin dalam hatinya, dan berdoa kepada Tuhan semoga saja, uhang pandak tersebut mendengar dan paham dengan niat baik
- Erwin dalam meminta maaf.
Erwin pun pulang dengan langkah yang lega, dan kembali kerumahnya untuk bertemu dengan keluarga kecilnya, semoga tidak ada lagi kejadian semacam ini.
Setelah hari itu,
Erwin tidak pernah lagi menginjakan kaki di ladang miliknya, dan menjual ladang miliknya dengan harga yang seadanya saja. Karena, terjual atau tidak Erwin sudah tidak peduli lagi.
Beruntungnya, Ladang miliknya terjual, melalui perantara Hendri.
Sejak saat itu, Erwin kembali membeli sebuah bidang tanah di desa yang cukup jauh dari rumahnya, untuk ia jadikan kembali lahan pertanian miliknya.
Keberadaan Uhang Pandak sendiri hingga kini masih menjadi tanda tanya besar bagi sebagian masyarakat Kerinci bahkan Dunia. Tidak ada yang mengetahui secara pasti, bahkan wujud berupa foto atau gambar pun masih simpang siur keasliannya.
Aku sebagai penulis pada thread ini tidak bermaksud untuk menggiring opini dalam menilai Uhang Pandak ini seperti apa rupa dan wataknya. Karena, aku hanya berbagi cerita dari seseorang yang sudah memberi izin untuk dapat di angkat menjadi sebuah cerita sederhana.
-Selesai -

Sumber  : https://twitter.com/koreyan666/status/1242860473839570944

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.