Sematianak adalah makhluk halus yang senang meminum darah wanita yang barusaja melahirkan. Makhluk ini dikenal di daerah hulu sungai Ka...

Cermis : LEGENDA SEMATIANAK


Sematianak adalah makhluk halus yang senang meminum darah wanita yang barusaja melahirkan. Makhluk ini dikenal di daerah hulu sungai Kapuas, Kalimantan Barat.
Sematianak berukuran kecil mirip tuyul, berambut panjang dengan banyak kepangan di kepala menyerupai konde. Lidahnya sedikit panjang, serta memiliki mata besar yang tampak melotot. Keberadaannya ditandai dengan suara ketawa kecil yang melengking.
Kisah ini terjadi di salah satu kampung di pelosok kalimantan barat. Itu sekitar tahun 1979, bulan Desember. Usia umak waktu itu baru 10 tahun.
Malam itu pukul 7 malam, kampung sudah sepi. Hanya pancaran cahaya lampu minyak yang menembus sela-sela dinding rumah. Tak banyak rumah di sana, orang-orang lebih banyak tinggal di huma (ladang) untuk menjaga tanaman mereka.
Umak tak ingat waktu ia duduk di kelas berapa, yang dia ingat malam itu ia sedang menghafal perkalian dari catatannya di atas Sabak. Zaman itu buku dan pena adalah barang mewah
Saat itulah Ai Karom tiba-tiba mengetuk pintu. Inek buru-buru membuka. "Cepatlah ke rumah Long Milah, dia akan melahirkan" begitu info dari Ai Karom. Begitulah kebiasaan di kampung, bila ada yang membutuhkan maka seluruh isi kampung akan berkumpul.
Oh ya, Ai adalah sebutan untuk kakek sedangkan inek adalah panggilan untuk Nenek. Inek dalam cerita ini adalah nenek saya. Sedangkan Ai karom adalah tetangga berjarak dua rumah dari rumah Umak.
Malam itu, dengan membawa sebotol lampu minyak Umak dan Inek berjalan ke rumah Long Minah. Udara terasa begitu dingin, tanah masih lembab karena sorenya baru turun hujan. Abang dan kakak Umak di rumah, ditemani Ai yang sibuk menenun Jala Ikan.
Rumah Long Milah berada di ujung kampung, di kaki sebuah bukit. Untuk sampai ke rumah itu dari rumah Umak, paling tidak dibutuhkan waktu 10 menit. Namun perjalanan malam itu, terasa lebih panjang.
Umak dan Inek harus melewati kebun karet. Mak, kita tadi udah lewat pohon yang ini" kata umak menunjuk pohon karet yang diikat dengan kain merah. Kain itu biasanya jadi semacam batas antar pemilik kebun.
"Jangan bicara apapun. Ada yang iseng" kata Inek. Umak diam.
Setelah berjalan cup lama akhirnya mereka sampai di rumah Long Milah. Ai karom sudah di sana. Padahal, ai karom tadi masih di belakang karena harus memberi tahu warga lain di sisi lain kampung.
"Ada yang nakal ya?" Tanya Ai Karom.
"Biasa" sahut Inek. Umak waktu itu tak paham.
"Udah berapa lama?" Tanya Inek ke salah satu warga lain.
"7 jam" katanya. "Sepertinya ada yang mauk anak ini lahir malam".
Ternyata itu alasan Ai Karom keliling kampung mengundang warga. Jaga-jaga.
Maaf teman-teman boleh minta bantu follownya?. Maklum akun baru. Sengaja saya pisah dengan akun pribadi karena akun ini dikhususkan buat menyampaikan cerita umak.
Umak yang waktu itu masih kecil tidak terlalu peduli. Ia berkumpul dengan beberapa anak lain untuk bermain biji karet. Pesan inek "Jangan kemana-mana. Jangan berpisah. Jangan main belabok!"
Belabok artinya sembunyi. Maksudnya main petak umpet.
Ada sekitar 10 orang di sana, inek bersama dua tiga orang yang lain masuk membantu dukun beranak. Sesekali Long Milah meraung keras. Ai Karom bersama warga laki-laki lainnya duduk di ruang tamu sambil meminum kopi. Mereka menggulung tembakau dan merokok sambol bercakap.
Asap tembakau mengepul. Teriakan dari dalam semakin nyaring. Saat itulah umak mendengar suara tertawa kecil di bawah rumah. Oh ya, rumah di sana saat itu berupa rumah panggung. Itu untuk mencegah banjir dan gangguan binatang buas.
Suara ketawa itu tak terdengar jelas.
Inek keluar dari dalam. "Kalian dengar suara itu?" Tanya inek kepada para lelaki di ruang tamu. semua berpandangan. Itu sekitar pukul 9 malam.
"Sematianak" kata Ai Karom. Ia menghisap tembakau dalam-dalam.
"Sudah lama tak kejadian".
Ai Karom bangkit dari duduknya. "Bakar, kita ambil kayu gaharu di rumah". Pria bernama Bakar bangun dari duduknya. Mereka segera bergegas. Anak-anak sudah berhenti bermain sejak tadi. Beberapa tertidur, umak masih terjaga menyimak hal-hal aneh yang baru ditemuinya kali ini.
Umak bangkit dan berjalan pelan menuju kamar. Ia mengintip dari balik tirai. Suara tawa terdengar lagi. Di dalam, dukun beranak berusaha mengeluarkan bayi dengan mengurut perut. Dua warga lain di dekat kepala berusaha menenangkan. Mata Long Milah tampak melotot, lehernya tegang.
Long Milah berteriak kencang sambil berusaha mengerahkan seluruh tenaga untuk mengeluarkan anaknya, matanya melotot melirik ke jendela. Umak menatap ke sana. Sepasang mata kecil muncul dari kegelapan. Mata itu mengedip lalu hilang. Tawa itu muncul untuk kesekiaj kalinya.
Badan umak terasa menggigil. Ia merasa rumah itu di awasi. Ia kembali berbaring bersama anak-anak lain.
"Kau kenapa?" Tanya temannya. "Ndak ada apa-apa" sahutnya. Tatapan mata itu seperti membayangi dirinya.
Umak meringkuk. Sekujur tubuhnya dingin. Dari dalam ia mendengar pekik yang semakin sering. Keringatnya mengalir. Rasa takut membuatnya seperti mendengar tawa itu di dalam kepalanya. Kadang jauh, kadang seperti berbisik di telinganya.
Pukul 12 malam, di antara tidur dan bangun Umak mendengar suara tangis bayi dari dalam kamar. Suara tangis itu terdengar lantang, seperti merasakan sakit.
Umak tergopoh bangun. Orang-orang tampak sibuk. "Cepat bersihkan darahnya" seru umak pada warga yang lain. Bapak-bapak yang daritadi merokok di luar bergegas mengangkat air ke dalam kamar. Tangis bayi itu masih terdengar kencang di tengah kesepian malam.
Maaf belepotan. Maksudnya "inek" ya yang nyuruh bapak2. Umak cuma liatin doang. Masih sawan abis liat penampakan.
Anehnya, Ai Karom belum juga datang. Padahal itu sudah nyaris 3 jam dia pergi. Kalau hanya sekedar mengambil kayu gaharu ke rumahnya, 30 menit cukup. Kecuali kalau kayu gaharunya harus ditanam dulu.
Suara tangis bayi memecah malam. Disusul suara tawa menggema. Suara itu terdengar banyak, menggema. Seolah-olah rumah itu sudah dikepung. Pontang-panting bapak2 itu mengangkut air ke atas.
"laki macam apa kalian? Lari macam anak kecil" sergah inek.
"Kami ni, buaya pun kami lawan. Asal ada wujudnya. Ini setan, yang ada cuma ketawanya" sahut salah satu bapak.
Tawa bersahut-sahutan. Di dalam Long Milah meraung-raung berusaha mennggapai bayinya. Ia menendang2 menumpahkan baskom bekas memandikan bayi.
Baskom tumpah, air menggenang dan menetes melalui celah-celah lantai papan. Suasana hening. Lalu suara tawa itu seperti berkumpul di bawah rumah.
"Cepat cari Ai Karom" seri Inek. Umak menggigil ngeri. Tapi ia seperti terpanggil menatap ke bawah.
Dari sela papan Umak dapat melihat Sematianak di bawah rumah berusaha menggapai tetesan air bercampur darah itu. Menyadari sedang dilihat, semati anak bergerak cepat menempel ke bawah lantai dan membalas pandangan umak. Mata mereka bertatapan. Umak cuma bisa mematung.
Melihat Umak mengintip ke bawah, inek langsung menarik Umak dan menggendongnya. "Sedang apa kau?". Umak mematung. Tatapan mata kosong. Ilang semangat, begitu di sana diaebutnya. Kondisi saat seseorang seperti kehilangan kuasa atas dirinya.
Inek mengelus kepala umak sambil berbisik "Kusemongat, kusemongat, kusemongat". Ia seperti berusaha memanggil kembali "semangat" umak.
"Lihat ke bawah, ada apa" umak meminta bapak2 tadi ke bawah. Mereka hanya berpandangan. Suara tawa itu sayup-sayup masih terdengar tipis.
Dua orang bapak2 melompat ke bawah. Dengan lampu minyak yang mereka bawa mereka berusaha menerangi bagian bawah kamar. Tak ada siapa-siapa di sana.
Angin malam berhembus kencang dari sela-sela dinding kayu. Lampu minyak di rumah itu padam sekaligus. Dua bapak-bapak yang turun juga naik dengan lampu minyak yang mati. Umak masih dipelukan Inek.
Kali ini giliran dukun beranak yang menjerit. Benar-benar malam yang kacau. Inek mennggendong umak ke dalam kamar. "Hidupkan pelita! Cepat!" Seru Inek. Pelita adalah cara menyebut lampu minyak di sana.
Seorang bapak masuk membawa pelita. Benar ternyata, bayi di tangan dukun beranak telah raib. Jendela terbuka lebar. Angin malam berhembus dingin. Dalam diam, semua orang di situ merasakan panik. Ai Karom, orang pintar di kampung itu belum juga muncul.
Terdengar tawa dari balik rindang pohon di sisi rumah. "Di sana!" Seru salah satu warga perempuan yang daritadi membantu proses lahiran. Mereka tergopoh-gopoh keluar rumah dan menuju sumber suara.
Maka di sanalah semua orang dapat melihat sesosok mahkluk kecil berambut panjang dengan baju putih lusuh berjongkok menjilati bayi yang masih merah. Bayi itu tampak diam, ilang semangat.
Saat itulah Ai Karom datang dengan mangkuk berisi kayu gaharu yang telah di bakar.
"Memang jahannam, enyahlah makhluk terkutuk!"
Ai Karom seperti merafal mantra. Semua orang terdiam. Aroma kayu gaharu menyeruak. Ai karom meniupkan asapnya pelan.
Sematianak itu meringis, ia bergerak seperti orang mabuk. Lalu ia tertawa keras sekali. Ia lalu menghilang dibalik kegelapan dengan tawa memantul.
Dukun beranak buru-buru mengambil bayi tersebut. Dirapalnya "kusemongat...kusemongat" berulang-ulang. Sedang Inek berdiri di samping Ai Karom.
"Kemana kau lama sekali?" Tanya Inek. Umak dipelukannya sudah mulai baikan.
"Diganggu. Mereka tak mau aku datang ke sini?"
"Mereka?"
"Iya, orang di balik ini semua"
Beberapa hari setelah kejadian itu, dari cerita Long Milah barulah sebuah fakta terkuak. Bahwa suaminya, tak percaya anak yang dikandung Long Milah adalah anaknya. Ia menuduh Long Milah selingkuh.
Mereka bertengkar hebat seminggu sebelumnya. Suaminya bersumpah tak akan membiarkan anak itu hidup. Suaminya lalu pergi entah kemana.
Dan di hari ia merasakan sakit hendak melahirkan, itu adalah 2 minggu sebelum waktu seharusnya. Menurut hitungannya, belum waktunya anak itu lahir. Makanya, sebenarnya sepanjang hari ia berusaha agar anak itu tak lahir. Ia tahu bahaya yang menanti anaknya.
Jadi jerit kesakitan itu adalah upaya terkuatnya menahan anak itu agar tak keluar sementara berjam-jam ia merasa tekanan besar di perutnya seperti mendorong anaknya keluar.
Kalau kata Ai karom, mungkin saja dilakukan bila suaminya nekat berdukun untuk memanfaatkan Sematianak. Selain sematianak, ada makhluk lain yang mencegah Ai karom datang tepat waktu.
Orang yang darahnya dijilat Sematianak biasanya akan sakit berkepanjangan. Namun berkat Ai Karom, Long Milah dapat pulih lebih cepat.
Yang masih terasa aneh, kenapa makhluk yang satunya sempat mengusili Umak dan Inek. Jadi sama seperti Inek, ai karom juga dibuat berputar-putar berjam-jam. Ai Karom sudah berusaha merafal mantra dan doa, tapi begitu kuat. Sampai setelah perlawanan, ia bisa keluar dari jebakan.
Sebulan kemudian, suami Long milah muncul di kampung. Ia membawa Ling Milah dan anaknya pindah. Anehnya Long Milah setuju. Dan orang di kampung tak ada yang bisa menahan.
Dan itu adalah pengalaman pertama Umak melihat makhluk2 ghaib. Umak bukan anak indiehome ya, tapi beberapa kali setelahnya ia melihat penampakan makhluk lain. Usianya baru 10 tahun waktu itu, dan cerita ini dibawanya selama 40 tahun.
Sekian cerita ini. Senang rasanya bisa membagikan cerita yang tersimpan puluhan tahun lamanya. Mungkin sematianak tak begitu akrab, bahkan tak banyak yang tahu. Tapi ingatan Umak tentang makhluk ini begitu kuat.
Di era sekarang aja masih banyak cerita yang aneh-aneh, apalagi 40 tahun lalu di kampung yang nyaris di tengah hutan. Kata orang, tempat Jin buang anak. Kampung itu aja sampai sekarang belum ada di gugle maps.

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.