Biasa disebut Kuyang atau Palasik. Di Thailand ia disebut Krasoe. Namun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ia disebut Hantu Tuju. Se...

Cermis : Legenda Hantu Tuju - Kuyang



Biasa disebut Kuyang atau Palasik. Di Thailand ia disebut Krasoe. Namun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ia disebut Hantu Tuju.
Setting cerita ini diperkirakan sekitar tahun 1940an. Karena menurut kisah, saat itu sedang terjadi huru-hara masuknya Jepang ke Indonesia. Masa pendudukan jepang adalah masa yang sulit karena berbagai bahan makanan dikumpulkan untuk persiapan perang.

Di masa perang itu, masyarakat hidup susah. Beras jadinya langka. Untung di Kapuas Hulu banyak sungai, jadi masyarakat masih bisa hidup dengan konsumsi ikan juga hasil dari hutan.
Jadi ceritanya, di tengah belantara kalimantan barat, di salah satu kampung yang sekarang masuk wilayah kapuas hulu, tinggal sepasang suami istri bernama Upang dan Imas. Usia mereka masih mudah, masih di bawah 30an.
Karena ekonomi yang sulit, Imas setiap hari membantu suaminya. Setiap pagi sementara suaminya pergi mencari ikan dengan perahu, Imas masuk ke hutan mencari bahan makanan seperti daun paku atau pakis.
Begitulah keseharian sepasang suami istri muda itu. Hidupnya damai-damai saja. Sampai suatu ketika dari dukun beranak di kampungnya, Imas tahu dia hamil.
Hari itu Imas pulang ke rumah dengan perasaan senang. Dipakainya  baju paling bagus, walaupun sebenarnya ia tak punya baju bagus. Tapi dipilihnya yang paling bersih, yang paling wangi. Dimasaknya masakan enak. Ia siap memberi kabar baik pada Upang, suaminya.
Senja menjelang. Imas duduk di depan rumah menangi Upang. Sampai malam datang, Upang tak juga muncul. Imas khawatir, tak biasanya Upang pulang terlambat.
Waktu beranjak semakin malam. Imas sungguh khwatir. Imas menyalakan obor, ia berjalan melalui jalan kampung yang becek.
"Mau kemana kau Imas malam-malam begini?" Tanya salah satu tetangga.
"Mau mencari Bang Upang, tak biasanya dia ndak pulang" kata Imas.
Imas berjalan menuju tepi sungai. Ia akan menunggu Upang di sana. Jalannya cepat, pikirannya berkecamuk.
Apakah Upang berjumpa serdadu jepang lalu ditangkap dan dikirim sebagai pekerja paksa?. Membayangkan kemungkinan itu Imas merasa ngeri. Ia usid pikiran itu jauh-jauh.
Sesampai di tepi sungai Imas cukup lega karena Perahu Upang terikat pada salah satu dahan kayu. Tandanya Upang sudah di kampung. Tapi di mana? Imas tak berjumpa sepanjang jalan. Apakah sudah di rumah?. Imas kembali buru-buru melangkah pulang.
Udara malam itu terasa begitu dingin. Suara jangkrik bersahut-sahutan dengan suara kodok. Imas berjalan dengan cepat. Tapi angin malam yang kencang meniup obor yang Imas bawa. Imas menghentikan langkahnya.
Imas berjalan pelan, ia tak dapat melihat jalan. Rumah di kala itu jaraknya berjauhan, jadi cahaya lampu minyak dari dalam rumah penduduk tak dapat membantunya. Imas berjalan pelan, memastikan ia tak tersandung akar pohon atau terpleset becekan.
Saat melewati sebuah rumah, ia melihat lampu di rumah itu mati. Namun di bawah kolong rumah tampak cahaya berkilauan. Oh ya, rumah di kampung itu tinggi-tinggi. Tipikal rumah panggung melayu.
Terdorong keinginan hendak meminta api, Imas mendekati sumber cahaya tersebut.
"Mak, imas mau minta api mak" kata Imas dari kejauhan. Iya mendekat sosok itu. Sosok itu menoleh, dan alangkah kagetnya Imas. Sebuah pemandangan mengerikan terpampang di depannya.
Sosok itu adalah Hantu Tuju. Imas dapat menyaksikan jelas kepala itu hanya tersambung dengan organ-organ yang menggantung di lehernya yang seperti terpenggal. Organ-organ itu seperti berapi, tapi darah yang menetes ke tanah tak membakar apapun. Hilang. Lesap begitu saja.
Imas mengenal wajah itu, Imas tahu rumah siapa itu. Imas terdiam, tubuhnya kaku. Kepala itu mendekat, mata itu menatap mata Imas dalam.
"Jangan kau ceritakan pada siapapun, jangan!" Bisik Hantu Tuju itu. Wajahnya mengancam. Imas dapat merasakan udara dingin menusuk-nusuk dadanya.
Hantu itu kemudian terbang, menghilang di antara rerimbunan pohon. Imas masih mematung. Hilang semangat. Tubuhnya kaku, bibirnya bergetar. Dahsat sekali rasa takut itu menghantamnya.
Setelah kesadarannya kembali utuh. Imas kembali berjalan ke rumahnya dengan tubuh yang lemah. Energinya seperti terserap habis. Ia melihat lampu di rumahnya menyala.
"Darimana saja kau? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Tanya Upang. Upang sudah di rumah saat Imas sampai.
"Aku mencarimu Bang" kata Imas.
"Tak perlulah kau mencariku Imas. Aku laki-laki dewasa, badanku kuat. Tak ada yang perlu kau khwatirkan" kata Upang.
"Aku khwatir Bang" kata Imas.
"Halah, aku tak perlu kau khawatirkan" kata Upang. Imas tertunduk sedih. Ia bahkan lupa menceritakan kehamilannya. Tubuhnya lemah, dan Upang malah marah-marah.
"Kalau begitu kita makan yuk bang. Abang pasti capek kerja seharian" kata Imas.
"Aku sudah makan duluan. Tadi perutku lapar" kata Upang.
"Baiklah" kata Imas. Ia masuk ke dapur untuk makan namun semua makanan yang ia siapkan sudah habis.
"Abang habiskan bang?" Tanya Imas.
"Iya. Kenapa? Kupikir kau sudah makan. Lagipula kau hanya di rumah, pastilah kau tidak terlalu lapar bukan?"
"Kalau begitu Imas masak ikan yang abang tangkap saja"
"Tidak ada ikan. Aku tidak dapat apa-apa hari ini Imas" kata Upang.
Malam itu Upang tertidur duluan, sedangkan Imas masih terjaga dengan perut yang lapar. Pikirannya berkecamuk. Masih terbayang juga Hantu Tuju yang ia lihat malam itu. Masih terbayang wajah itu, wajah yang ia kenal, yang malam itu begitu mengerikan.
Rehat dulu. Boleh bantu like dan retweet ya. Terimakasih yang berkenan follow. Nanti saya lanjut lagi.
Yang nyimak absen dulu dong
Besok paginya seperti biasa Imas pergi ke hutan. Setelah mencari bahan makanan, imas juga mencari pohon bemban yang nantinya akan dia anyam menjadi tikar. Ah, Imas ingin anaknya lahir di atas tikar baru yang akan ia anyam.
Malam itu Upang pulang seperti biasa. Saat matahari tenggelam, Upang sudah di rumah.
"Ada yang mau aku bilang bang?"
"Ada apa?"
"Aku mengandung bang" kata Imas. Ah sudah dari siang ia ingin menyampaikan itu.
"Mengandung?"
"Iya Bang, kita akan punya anak"
Tapi wajah Upang tak terlihat senang. Wajahnya kaku, seperti batang bemban yang belum dikeringkan. Imas dapat melihat tatapan gusar Upang.
"Mungkin Mak Salmah salah" kata Upang. Mak Salmah adalah mama dukun beranak di kampung itu.
"Salah bagaimana?"
"Sudahlah Imas, jangan berkhayal. Tak mungkin kita akan punya anak" kata Upang. Ia membaringkan badannya, tidur membelakangi Imas.
Imas berdiri di depan rumah Mak Salmah. Badannya terasa gemetar. Apakah benar Mak Salmah salah? Apakah ia harus memeriksanya lagi?. Ia tak dapat membuat keputusan.
"Hei Imas, masuklah! Kenapa kau berdiri di situ seperti tunggul kayu?" Seru Mak Salmah.
Imas pun naik ke tangga rumah Mak Salmah. Badannya panas dingin.
Mak Salmah cekatan memeriksa Imas.
"Tak perlu takut Imas. Semua baik-baik saja" kata Mak Salmah.
"Kandunganmu sehat luar biasa" tambahnya.
Sebelum Imas pergi, Mak Salmah memberikan sebuah gelang dari kulit kayu.
"Pakailah ini, ini akan membuat kau aman Imas."
Imas mengangguk.
"Mintak rela Mak" kata Imas setengah berbisik.
Gelang kulit kayu itu dipercaya orang dulu dulu sebagai penangkal hantu Tuju. Imas heran kenapa Mak Salmah memberikan gelang itu padanya. Tapi gelang itu tetap dikenakannya.
Sementara itu sikap Upang benar-benar berubah. Ia lebih sering pulang malam. Tak jarang ia pulang dengan aroma arak yang menyengat. Imas benar-benar merasa sedih.
Hingga usia kehamilan 6 bulan Imas benar-benar merasa makin sendirian. Upang kadang berhari-hari tak pulang. Kabar tak sedap beredar. Upang punya istri lain di kampung yang lain. Gila gak sih? Lagi hamil dapat kabar suami selingkuh?.
Tapi Imas tidak langsung percaya. Ia tak yakin Upang setega itu padanya. Benar bahwa pernikahan mereka adalah hasil perjodohan. Tapi Diawal pernikahan Imas dapat merasakan Upang mencintainya.
Tapi kabar angin itu semakin sering terdengar. Setiap Imas mencoba mengkomfirmasi kebenaran Upang hanya marah-marah.
Hingga di suatu siang saat Imas pulang dari hutan ia menemukan pakaiannya sudah dimasukkan ke dalam keranjang, diletakkan di teras bersama barang lainnya.
"Pergilah Imas, sudah tak ada yang bisa kututupi. Uni hamil, dia butuh tempat yang layak. Uni akan tinggal di sini" kata Upang. Dari dalam rumah keluar Uni, wanita lain yang dinikahi Upang diam-diam. Bukan main hancurnya hati Imas.
Imas tak menyangka Upang sejahat itu padanya. Siang itu juga, Imas membawa pakaian dan barang-barang miliknya dari rumah itu. Tetangga yang melihat menawarkan bantuan, tapi Imas menolak. Tak mau ia bergantung pada siapapun lagi.
Imas menyusuri jalan yang biasanya ia lalui menuju hutan. Orang-orang tak tahu nasibnya, ia menghilang setelah itu.
Kejadian besar terjadi di kampung itu dua bulan kemudian. Orang-orang berkumpul membawa obor mengelilingi rumah Mak Salmah.
"Keluar kau dukun iblis!" Seru warga yang marah. Bukan tanpa alasan, beberapa kali warga melihat hantu Tuju di kampung itu. Warga cemas.
Orang yang berubah menjadi hantu tuju biasanya adalah penganut ilmu hitam, yang tujuannya bermacam-macam. Ada yang karena terikat janji, ada yang murni untuk kekuatan.
Mak Salmah dicurigai sebagai Hantu Tuju. Garis di lehernya katanya menjadi penanda. Orang-orang percaya, penganut ilmu itu mempunya garis di lehernya sebagai bekas kepalanya yang dilepas. Warga marah, mereka meradang.
Malam itu, api berkobar membakar rumah Mak Salmah. Tak satupun yang melihat Mak Salmah keluar.
Dari kejauhan, kepala Mak Salmah melayang. Ia melihat rumahnya terbakar bersama jasadnya. Jadi udah pada ngerti kan kenapa Imas takut pas mau ketemu Mak Salmah lagi? Terus dia heran pas Mak Salmah ngasih gelang. Soalnya Imas tau Mak Salmah itu hantu Tuju.
"Mak!" Panggil Imas dari belakang Hantu Tuju Mak Salmah. Ia memegang perutnya yang sudah hamil tua.
Ya, malam itu Imas pergi dari gubuk di tengah hutan untuk mencari Mak Salmah. Waktu melahirkan sudah dekat.
Oke, sampai di sini dulu. Lanjut pas sahur. Urusan pelakor belum selesai. Urusan Imas juga belum selesai. Ini baru 3/4 cerita. Masih 1/4 lagi yang serunya.
Tahukah kalian apabila Kepala hantu tuju gak balik ke badannya saat matahari terbit maka itu tandanya riwayatnya berakhir?. Itu artinya, ketika nanti matahari terbit maka berakhir sudah riwayat Mak Salmah.
Imas dapat merasakan kesedihan yang dalam dimata Mak Salmah. Namun sejujurnya badannya juga gemetaran. Tapi rasa takut itu dikalahkan oleh upayanya melahirkan anaknya. "Mak, bantu aku mak" kata Imas.
Jadi selama ini Imas tinggal di hutan. Di sebuah gubuk bekas warga. Sehari-hari ia makan dari hasil hutan. Memastikan ia terus hidup bersama bayi di perutnya.
Malam itu, di gubuknya di tengah hutan, Imas berusaha melahirkan sendiri bayi yang dikandungnya. Mak Salmah dalam bentuk hantu Tujunya memberi instruksi seadanya. Ya namanya juga hantu Tuju, gak punya tangan buat bantu.
Menjelang dini shubuh hari, sesosok bayi dilahirkannya dalam hening. Tak ada suara. Hanya jangkrik yang berisik di luar.
"Ada apa Mak? Ada apa?"
"Dia tidak ada Imas. Dia tidak ada"
Bayi itu lahir tak bernyawa. Imas meraung sejadi-jadinya.
Ya, Bayi yang dinantikan Imas tidak selamat. Bayi itu telah meninggal. Semua energi Imas seperti terserap habis.
"Maafkan aku Imas. Seandainya tubuhku masih lengkap, pastilah aku akan menolongmu" kata Mak Salmah. Imas meraung dan menangis.
Ketika hari menjelang pagi.
"Maafkan aku Imas, tapi sebentar lagi aku harus pergi. Kau kuatlah di sini. Dunia ini jahat Imas. Bilau kita tak menerkam, kitalah yang diterkam" kata Mak Salmah. Imas dapat merasakan kesedihan memenuhi gubuk itu.
"Boleh aku minta tolong Mak Salmah untuk terakhir kalinya?" Tanya Imas.
"Apa itu Imas?"
"Berikan aku ilmu itu Mak, berikan au ilmu hantu Tuju" pinta Imas.
"Tak takutkah nasibmu berakhir seperti aku?" Tanya Mak Salmah.
"Aku sudah tak peduli Mak. Giliranku menerkam. Aku sudah tak punya siapa-siapa. Ini takdirku Mak" kata Imas.
Maka sebelum Matahari terbit. Diwariskanlah ilmu itu. Ilmu yang membuat Imas dapat menjelma menjadi hantu Tuju. Salit hati Imas telah membuatnya menjadi manusia yang berbeda. Setengah manusia, setengah hantu.
Kehidupan Upang dan Uni berlangsung normal. Upang begitu mencintai Uni. Uni dulu adalah kekasih Upang. Mereka tinggal di kampung yang berbeda. Tapi suatu waktu Uni dan keluarganya menghilang. Orang bilang diculik tentara jepang.
Upang yang patah hatinya harus menerima kenyataan pahit. Untuk memgobati hatinya, dijodohkanlah ia dengan Imas, perempuan yatim piatu paling cantik di kampung itu. Upang berusaha menerima Imas.
Namun setelah menikah, Upang mengetahui keberadaan Uni. Mereka tinggal di danau, memelihara ikan. Perasaan sayang Upang ke Uni kembali tumbuh. Hingga diam-diam, Upang memutuskan menikahi Uni.
Upang tidak tahu bagaimana harus menyampaikan hal itu pada Imas. Disembunyikannya kabar itu. Namun Uni ternyata hamil. Bahagia sekali Upang mendengar kabar itu. Ia bahkan tidak peduli bahwa Imas juga sedang hamil.
Demi cintanya kepada Uni, Upang mengambil keputusan ekstrim. Imas diusir dari rumah. Upang memilih Uni, satu-satunya wanita yang dikasihinya.
Upang tak pernah tahu, itu akan menjadi keputusan yang sangat disesalinya. itu adalah keputusan paling bodoh yang pernah ia pilih.
Siang itu, seusai menguburkan bayinya. Juga kepala Mak Salmah, Imas merencanakan sebuah pembalasan.
Upang sedang menghisap rokok tembakau di luar malam itu. Uni yang usia kandungannya mulai menua sudah rebahan di dalam. Walau Unang tak mengizinkan Uni berkerja selama mengandung, tapi urusan membersihkan rumah juga membuat Uni begitu letih.
Maka seiring angin yang bertiup kencang mengahantam jendela, lampu minyak di rumah itu padam. Secepat itu sesosok kepala terbang dengan tetesan darah bercahaya bagai api menyala-nyala melayang masuk ke rumah.
Dari dalam kamar terdengar pekik teriakan Uni.
"Abangggg!"
Upang kaget bukan kepalang. Dimatikannya rokok dan disambarnya parang yang tergantung di dinding.
Upang dapat melihat sosok itu, sosok hantu Tuju. Wajah itu begitu ia kenal. Imas menatapnya tajam. Suara imas menggema.
"Kau renggut bahagiaku, maka kau tak pantas bahagia Upang!!!!"
Upang menggigil, tertunduk.
Hantu Tuju itu lalu terbang melalui jendela. Angin bertiup kencang, pintu jendela tertutup kencang.
"Uni, Uni!" Kata Upang sambil berusaha menyalakan lampu minyak.
Upang tak mampu menahan tangisnya. Dihadapannya terbujur wanita yang dicintainya. Terlentang dengan mata terbelalak. Kulitnya keriput seperti menempel kepada tulang. Lehernya robek. Tangannya kaku seperti orang sedang berusaha menggapai sesuatu. Pemandangan mengerikan.
Sementara itu di luar warga berkerumun membawa obor. Mereka mengejar sosok hantu tuju yang tak sengaja dilihat salah satu warga. Hantu itu terbang ke arah hutan.
Dengan amarah luar biasa, Upang menyambar parang dan bergabung dengan warga. "Imas! Hantu Tuju itu adalah Imas. Aku lihat dengan mata dan kepalaku sendiri" serunya.
Maka bergegaslah mereka ke hutan, menyusuri setiap sisi hutan. Hingga mereka menemukan gubuk reot dengan atap bocor dimana-mana. Barang-barang seadanya ada di sana. Tapi tak ada siapapun.
Kain bekas darah melahirkan masih teronggok di sana, juga dua kuburan baru menjadi saksi bisu kepergian Imas malam itu. Melihat kondisi gubuk, muncul penyesalan luar biasa dalam diri Upang.
Warga menggali kuburan dan menemukan kepala Mak Salmah dan bayi Imas. Kepala Mak Salmah membusuk, dimakan belatung. Aromanya menusuk membuat semua yang ada di situ merasa mual.
Setelah hari itu, tak ada yang tahu kemana perginya Imas. Seperti di telan bumi, Imas kembali menghilang.


0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.