Korban Pesugihan Monyet Penulis :  https://twitter.com/ifandamn/status/1260916596773552129 Based on true story Seperti biasanya...

Cermis : Korban Pesugihan Monyet





Korban Pesugihan Monyet

Penulis : https://twitter.com/ifandamn/status/1260916596773552129

Based on true story

Seperti biasanya, iyan selalu berada di kiosnya untuk berjualan dan mencari rezeki memenuhi kebutuhan keluarganya. Awalnya kios itu milik bapaknya, namun setelah ia sudah menikah kini kios itu resmi menjadi miliknya dan dilanjutkan olehnya.

Yang namanya berjualan, kadang rame kadang sepi. Gak selalu ada untung dan gak menutup kemungkinan ada hal yang membuatnya rugi. Tapi mau bagaimana lagi, ia terus berharap ada rezeki setiap harinya untuk memberi makan keluarga kecilnya.

Suatu malam ketika ia sedang sendiri, ada seorang bapak-bapak yang menghampirinya dan mengajaknya mengobrol di bangku yang disediakan tepat didepan kiosnya.
"jang, kumaha rame jualan?" (jang, gimana rame jualannya?". Tanya si bapak itu kepada iyan.
"yaah namina ge jualan pak, sok aya rame na sok aya sepina" (yaah namanya juga jualan pak, ada ramenya ada juga sepinya). Begitu jawab iyan dengan santai.
Obrolan ringan pun mereka bicarakan cukup lama, karena memang malam itu situasi jalanan memang sepi dan kios tak ada pembeli
"ieu mah itung-itung ngabantuan dulur weh nu keur usaha, sok diamalkeun unggal peuting samemeh peureum" (ini mah itung² bantuin sodara aja yang lagi usaha, silakan diamalkan tiap malam sebelum tidur).
Bapak itu memberikan secarik kertas bertuliskan lafaz arab,
tapi mudah dipahami bahasanya seperti bahasa sunda/jawa kuno. Katanya sih itu jimat isim. (**menurut kepercayaan disini, isim tuh semacam jimat untuk memperlancar suatu usaha, baik itu jualan atau suatu hal yang lainnya**)
Setelah memberikan kertas yang diyakini jimat, bapak-bapak itu langsung pergi meninggalkan iyan.
Karena malam semakin larut bahkan kondisi warung juga sudah sepi, iyan pun menutup kiosnya dan beranjak pulang ke kontrakannya.
Ia memang bukan penduduk pribumi, melainkan perantauan dari kota lain. Tapi masih termasuk jawa barat juga.
"pak, tadi aya nu mere isim ceunah mah keur penglaris kios.. Yeuh isimna" (pak, tadi ada yang ngasih isim katanya buat penglaris kios, nih isimnya).
Iyan menyodorkan secarik kertas kepada bapaknya dan langsung pergi ke kamarnya menemui istrinya untuk tidur.
Mungkin bapaknya tau hal-hal yang mengenai benda suatu jimat atau benda sakral lainnya. Makanya iyan memberikannya saja kepada bapaknya untuk dilihat.
Keesokan harinya, bapaknya iyan pamit untuk pulang ke kampung halamannya. Beliau berpesan memang akan mencari tau kebenaran dari isim tersebut.
Setelah seminggu berlalu, entah hanya perasaan iyan saja atau memang nyata. Kiosnya mendadak sepi tanpa pembeli.
Tidak ada sama sekali orang berbelanja di kiosnya. Yang sebelumnya ada satu atau dua orang untuk sekedar mampir, namun memang tak ada satupun orang yang datang. Iyan pun mengabari bapaknya atas keadaan kios yang baru pertama kali mengalami sepi tanpa pembeli.
"teu nanaon meureun ieu teh proses tina amalan isimna.. Keun sugan isukan aya nu meuli.. Soalna bapak ieu geus ngamalkeun nu tina isim" (gapapa mungkin ini tuh proses dari amalan isimnya. Semoga besok ada yang beli. Soalnya bapak ini udah ngamalin dari isim)
Mendengar pernyataan dari bapaknya, mungkin memang itu proses dari jimatnya. Iyan pun tak merasakan khawatir berlebih dan kembali membuka kios seperti biasanya.
Lagi-lagi hari berikutnya kios mengalami keadaan sepi pembeli. Iyan pun mulai bingung karena kebutuhan untuk
sehari-hari pun tak terpenuhi lagi. Ia terpaksa meminjam ke tetangga untuk makan serta meminjam modal ke temannya karena barang yang berada di kios seperti sudah membasi. Makanan-makannya berupa makanan ringan seperti alot, padahal baru seminggu yang lalu ia membeli di grosir.
Dalam keadaan bingung juga, ia terpaksa harus menutup kios dan pulang ke kampung halamannya untuk sementara waktu.
Sepulangnya ke rumah dikampung halaman, iyan menerima perlakuan tidak enak oleh adik perempuannya yang bernama Yeyen. Sebab yeyen kesurupan dan menerkam iyan.
Memang bukan hal pertama baginya mendapati keadaan seperti itu, sebab Yeyen yang dari kecil memang "leumpeuh yuni" (gampang terpengaruh) baik itu oleh orang atau makhluk ghaib.
"SIA SAHA? REK NAON DATANG KADIEU?" (kamu siapa ? Mau apa datang kesini). Teriak yeyen yang kesurupan
"neng sadar ieu aa" (neng sadar, ini aa). Iyan mencoba melepaskan cengkraman yeyen.
Sudah terbiasa adik perempuannya kesurupan juga tidak menutupi dirinya takut, karena didalam tubuh adiknya terdapat makhluk asing yang memang tidak pernah ramah.
Dengan cepat juga adiknya sudah sadar sengan sendirinya. Menurut ibunya, yeyen semenjak dari minggu kemarin sering kesurupan tidak seperti biasanya.
Iyan kembali lagi memikirkan tentang sebuah jimat isim yang telah dikasihkan dan diamalkan oleh ayahnya.
"pak, sugan ieu lain tina amalan isim eta ? Soalna kajadian si neng asa mineng, jeung deuih kios ge teu payu wae" (pak, mungkin ini dari amalan isim itu ? Soalnya kejadian si neng kek sering, dan lagi kios juga gak laku mulu).
Mendengar pertanyaan tersebut, bapaknya hanya bisa menenangkan iyan dan mengucapkan sabar.
Iyan tidak mau ambil pusing, ia dan istrinya langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Karena kondisi adik perempuannya sudah kembali siuman.
Tepat di hari ke sembilan setelah jimat itu sudah diamalkan isinya, pada malam hari terjadi hujan angin didaerahnya. Rumahnya yang berada diatas perbukitan membuat khawatir, pasalnya takut akan adanya longsor atau hal lainnya.
Bapaknya menyuruh iyan untuk segera mengumandangkan adzan, sebab kepercayaannya jika terjadi hujan angin dan petir cara menangkalnya hanya adzan berdoa kepada Allah agar tidak terjadi hal-hal yang mengerikan.
Selesai mengumandangkan adzan dan hujan cukup reda, tiba-tiba terdengar gemuruh dari atas bukit. Mereka langsung berhamburan ke luar rumah melihat apa yang terjadi. Apakah sebuah batu atau tanah yang longsor kebawah. Namun gemuruh itu seperti bukan berasal dari bebatuan ataupun
tanah. Setelah diamati lebih lama, tiba-tiba terdapat banyak pasang mata menatap kearah keluarga iyan. Memang belum jelas terlihat apa yang terjadi, dan setelah bapaknya iyan menyoroti arah itu dengan lampu senter barulah terlihat banyak kawanan monyet yang sedang bergelantung
diatas dahan pepohonan. Menerima kontak langsung dengan manusia, para monyet itu berteriak-teriak tak karuan saat tersorot lampu senter.
Mereka tak terhitung jumlahnya, sebab masih banyak sepertinya kawanan monyet itu yang tidak tersoroti.
"geura arasup deui ka imah buru" (cepat kembali lagi masuk ke rumah). Perintah bapaknya iyan ke semua keluarganya yang melihat kejadian aneh itu.
Langsung saja mereka berlarian kembali masuk ke rumah dan menutup semua akses masuk agar para monyet tidak bisa memasukinya.
Terdengar suara teriakan monyet-monyet yang tadinya berada di pepohonan, kini sudah berada diatas genting rumah. Para monyet itu berhamburan dan mengelilingi rumah.
"bapak.. Kumaha ieu ? Ibu mah sieun" (bapak, gimana ini ? Ibu tuh takut)
*kretak...kretakk*
*kraakk...kraaakk*
Suara dari genting yang sepertinya mulai pecah dan suara pintu bahkan jendela yang dipaksa untuk terbuka.
Keluarga iyan sangat ketakutan mengalami kejadian itu, tak ada yang bersuara sama sekali mengingat kengerian yang ditimbulkan monyet.
Setelah lama kemudian suara-suara teriakan bahkan pergerakan pun mulai mereda. Iyan beserta bapaknya mencoba untuk melihat kondisinya lewat gorden jendela.
"pak, jigana geus euweuh monyetna" (pak, kek nya udah gaada monyetnya).
Mereka berdua pun keluar rumah untuk mengecek
apakah memang benar sudah tidak ada kawanan nonyet atau masih ada. Ternyata memang sudah tak ada kawanan monyet itu dan entah pergi kemana mereka.
Namun kembali lagi yeyen kesurupan untuk kesekian kalinya. Yang lebih aneh, kali ini pergerakan yeyen sangat lincah.
Layaknya seekor monyet, yeyen berlari melompat kesana kemari dan berdirinya pun seperti monyet. Tak ingin yeyen berulah lebih, bapaknya langsung merangkul dan mendekap tubuh putrinya itu. Sempat ada gigitan di tangan bapaknya, namun beliau hanya bisa menahannya dan menyuruh iyan
pergi ke seorang ustadz yang terkenal didaerahnya untuk mengobati yeyen yang sedang kesurupan.
Iyan pun mengiyakan dan bergegas pergi menemui sang ustadz. Rupanya ustadz tersebut seperti sudah tau ketika didatangi iyan pada tengah malam itu. Mereka berdua langsung kembali
ke rumah iyan. Di perjalanan pulang, nampaknya para warga pun ikut mengawal mereka berdua. Katanya para warga mendengar kegaduhan yang terjadi dirumah iyan dan melihat apa yang telah terjadi.
Sesampainya dirumah, tubuh yeyen sudah terikat diatas ranjang. Kedua tangan dan kakinya
di ikat sebuah tali dari kain samping, mulutnya pun tak luput di ikat menggunakan syal.
Melihat kondisi adiknya, iyan merasa iba dan mencoba untuk membukakan ikatan. Tapi bapaknya melarang agar tidak ada sesuatu hal yang mencelakakan dirinya sendiri atau oranglain.
Para warga berkerumun berdesakan melihat kondisi yeyen yang meronta-ronta akibat kesurupan. Sang ustadz pun mulai "menjinakkan" sosok yang bersemayam ditubuh yeyen dan mencoba berkomunikasi.
"SAHA ANJEUN ? NAHA BISA ANJEUN KADIEU?" (siapa kamu ? Kenapa bisa kamu kesini?)
Tatapan yeyen langsung mengarah ke iyan yang memang berada dekat dengannya. Tatapannya begitu tajam dengan raut wajah yang menyeramkan. Sosok dibalik tubuh yeyen pun akhirnya berbicara kepada iyan
"BODO SIA MAH.. KU AING DIBERE JIMAT KALAHKAH DIBIKEUN KA BAPAK MANEH"
(bodoh kamu.. Saya kasih jimat malah dikasih ke bapakmu)
"AING PA MONYET TITAHAN DUKUN NU MERE JIMAT ITU, MUN TADINA MANEH NU NGAMALKEUN, MANEH NU BAKAL KU AING DIBAWA KA NAGARA KAMI" (aku pa monyet/silumany monyet pesuruh dukun yang ngasih jimat itu, tadinya kamu yang harus
ngamalin jimatnya, kamu juga yang bakal aku bawa ke negara ghaib kami).
Mendengar ucapannya, pak ustadz menanyakan keberadaan jimat tersebut kepada bapaknya iyan.
"JUG ANJEUN MULANG KA JATI ASAL ULAH NGAGANGGU DEUI KULAWARGI KAULA" (sana kamu pergi ke asalnya jangan ganggu lagi
keluarga saya). Pak ustadz mencoba untuk memperingati sosok dibalik tubuh yeyen. Tapi sosok itu malah tertawa keras menimbulkan kengerian kepada siapa saja yang menyaksikan.
"KUSABAB JELEMA BODO ETA TEU DAEK, ADINA KU AING REK DIBAWA" (sebab orang bodoh itu gak mau, adiknya
yang bakal aku bawa). Sosok itu pun kembali tertawa dengan seram.
Ustadz itu langsung mengambil secarik kertas yang digenggam oleh bapaknya iyan. Dan mulai untuk melafalkan do'a-do'a kepada Allah.
Sosok dibalik tubuh yeyen itu meronta-ronta kesakitan akitab menerima dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh ustadz itu.
"PANAS..PANASSS... ARRHHH"
"KUAING MOAL DILEPASKEUN IEU BUDAK, REK DIBAWA" (aku gak bakal ngelepasin anak ini, mau dibawa).
Mendengar perkataan dari siluman itu, pak ustadz langsung meminta korek dan wadah untuk tempat pembakaran jimat.
"TONG MACEM-MACEM SIA JELEMA RENDAHAN.. MONTONG DIDURUK JIMATNA" (jangan macem² kamu manusia rendahan.. jangan dibakar jimatnya). Kembali sosok itu berteriak.
"anjeun kudu eling, dunya ieu mung Alloh nu kagungan. Teu aya daya sareung upaya anging pitulung Allah nu kawasa" (kamu harus sadar, dunia ini hanya Allah yang memiliki. Tak ada daya dan upaya selain pertolongan Allah Yang Maha Kuasa). Uatsadz itu pun langsung membakar jimatnya
dan berkata bahwa siapa saja yang bersekutu dengan jin dan menduakan Allah, maka dosa besar.
Sebelum sosok itu pergi dari tubuh yeyen, kembali ia menatap tajam iyan dan berkata "AING MOAL CICING" (aku gak bakal diem).
Lalu sosok itu pun sudah tak ada dibarengi yeyen yang
meringis kesakitan setelah siuman. Para warga yang menyaksikan pun akhirnya membubarkan diri.
Tali yang tadinya mengikat tubuh yeyen sudah dilepaskan dan menyuruh yeyen agar beristirahat.
Pak ustadz memanggil iyan dan bapaknya untuk berbincang sebentar mengenai masalah itu.
"jigana ieu dukun ngayakeun pesugihan monyet, terus neang tumbal kangge kajayaan manehna jeung deuih ngabohongan jimat isim ieu mawa panglaris dagangan" (kek nya dukun ini ngadain pesugihan monyet, terus nyari tumbal buat kejayaan dirinya dan ngebohongin jimat isim itu membawa
penglaris untuk jualan).
Mendengar pernyataan tersebut, baik iyan ataupun bapaknya sangat menyesali perbuatannya dan segera bertobat meminta ampunan kepada Allah.
Ustadz tersebut juga berpesan jangan sesekali percaya kepada orang yang baru dijumpai ataupun yang sudah lama
kenal dan mengiming-imingi sesuatu kekayaan yang instan dengan cara hal seperti kemarin. Orang awam tentunya jadi sasaran empuk untuk dijadikan teman atau korban dari ilmu hitam. Beliau pun berpesan agar selalu mawas diri dan ingat kepada Allah dalam setiap saat.
Kejadian yang sudah berlalu dijadikan pelajaran dan cara agar meningkatkan keimanan kepada Allah. Tidak ada kekuatan dan pertolongan selain dari Allah Sang Maha Kuasa.

---TAMAT---

Penulis : https://twitter.com/ifandamn/status/1260916596773552129

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.