Gambar Ilustrasi Bojonegoro, 2015 "Kiriman Yang Ditanam" based on true story https://twitter.com/ilhambahari17/status/...

Cermis : Kiriman Yang Ditanam


Gambar Ilustrasi
Bojonegoro, 2015
"Kiriman Yang Ditanam"
based on true story

Waktu itu saya mendengarkan carita dari budhe saya yang sedang berbincang dengan beberapa saudara saya, tentang apa yang dialami oleh tempat usahanya.Budhe punya usaha rias pengantin dan penyewaan alat alat pengantin. Budhe adalah sebutan untuk kakak perempuan dari ibu atau bapak kita kalau dijawa.Budhe merasa beberapa hari belakangan terlihat usaha miliknya sedikit sepi pelanggan. Tidak seperti biasanya yang setiap hari pasti ada yang entah itu menyewa baju atau hanya untuk merias.Melihat ada yang janggal dengan tokonya, Pakdhe memberikan beberapa doa doa yang dia bisa untuk kelancaran dan kenormalan tempat usahanya.

 Pakdhe adalah orang yang sedikit agamis, dan budhe adalah orang yang tidak begitu percaya akan hal hal yang mistis.Ia selalu berfikir bahwa itu adalah hal yang lumrah dalam usaha. Hari demi hari setelah pakdhe memberikan doa doanya, tidak ada yang berubah dari toko tersebut, toko itu tetap sepi pengunjung.

Mendengar cerita itu saya menjadi ingat dengan pembina pramuka saya yang pintar akan hal hal seperti "itu", sebut saja Roi. Saya bicara ke budhe "dhe, aku lo enek konco sing iso ngerti koyok ngunuwi" (Dhe, saya punya teman yang mengerti tentang hal hal seperti itu).Budhe minghiraukan, tapi nenek saya berkata "Yo jajal to takoko, gapopo" (Iya coba ditanyakan, gapapa).
Malam harinya saya berkunjung kerumah kak Roi, disitu saya menceritakan semua apa yang terjadi dengan toko budhe saya. Kak Roi langsung mengajak saya untuk melihat toko budhe saya.Sebenarnya kak Roi juga bisa melihat toko budhe dari rumahnya, tapi dia ingin memastikan langsung ke toko tersebut.

Setelah sampai di toko dengan ditemani saya dan nenek, kak Roi mulai melihat sekeliling toko tersebut. Sedikit berdiam, entah apa yang dilakukannya, ia berkata "nek kene enek makhluk wedok telu, sing pertama iku pancene deke uwes manggon nek kene suwe,sing keloro iku wong wedok tuo, lan sing ketelu iki yaiku makhluk kiriman, enek sing ngirim ndek toko iki, lan dipendem"
(Disini ada tiga makhluk perempuan, yang pertama itu memang dia sudah lama berada disini, yang kedua adalah sosok perempuan tua, yang ketiga adalah makhluk kiriman, ada yang menggirim di toko ini, dan dikubur).Kak Roi melihat semua yang ada ditoko budhe, termasuk makhluk yang dikirimkan ke toko budhe. 

Seketika itu saya, kak Roi dan nenek mencari cari apa yang ditanam disekitar toko tersebut. Tidak ada yang ditemukan.kak Roi berkata "ndek kene nek mendem" (Disini tempatnya mengubur) dengan menunjuk tempatnya. Disamping toiletlah tempatnya, dibawah lantai kramik.Toko budhe berbentuk kotak bersegi, dimana toilet berada di pojok kiri belakang, dan didepan toilet itu adalah kamar. Sedangakan di samping pintu kamar ada lemari, serta sofa dan beberapa etalase yang berada di samping tembok penyekat antara toilet dangan ruang utama toko.

Dengan melihat sifat budhe yang tidak begitu percaya akan hal hal mistis, tidak mungkin rasaya untuk mengabil barang "kiriman" Itu dengan membongkar keramik toko tersebut.Akhirnya kak Roi mencoba untuk mengambilnya dengan cara lain, dengan cara gaib yang ia bisa.Malam itu selesai dengan pengambilan benda yang ditanam di toko budhe. Nenek memberikan amplop kepada saya, yang ditujukan kepada kak Roi yang sudah pulang.

Paginya saya kembali kerumah kak Roi untuk memberikan amplop yang diberi nenek, kak Roi menolaknya "opo iki ? Gausah"(Apa ini ? Tidakusah). "Mboh ko mbah kok, wes to terimo ae gapopo" Kataku (tidak tahu dari nenek, sudahlah terima saja). Kak Roi menerimanya "sepurane, aku yo gak wani mbukak iki. Soale aku niate cuma nulung, nek mengko aku nerimo kabeh aku wedi nek dindo sing gak apik karo wong"(Maaf saya juga tidak berani membuka ini, karena niat saya cuma menolong, nanti kalau saya menerima semuanya saya takut disangka yang tidak baik sama orang). 

Kak Roi tidak mau di sangka dukun karena setiap membantu dia diberi imbalan.Lama berbincang di rumah kak Roi, tiba - tiba kak Roi bilang kalau nanti malam dia akan ke toko lagi. "Engko bengi aku ape nek tokone budhe mu maneh" (Nanti malam saya mau ke toko budhe mu lagi).Lha kenopo kak ? Gak yo wes bar to debengi ?"(kenapa kak ? Bukannya tadi malam sudah selesai ?).

Disitu kak Roi menceritakan apa yang terjadi pada malam ketika ia pulang dari toko budhe. Selepas pulang ia masuk kerumah, tak berapa lama pintu rumah ada yang mengetuk.Mendengar suara ketukan tersebut sontak ibu kak Roi berniat membukanya. 

Memiliki firasat tidak enak, dalam hati kak Roi berkata "lha kan pager omah lak wes tak kunci, kok iso enek sing ndodok lawang" (Kan pagar rumah sudah saya kunci, kok bisa ada yang mengetuk pintu).Kak Roi pun melarang ibunya membuka pintu rumah. "Mboten usah buk, kulo mawon sing mbukak" (Tidak usah buk, saya saja yang membukakan).



0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.