Setelah botol itu diamankan Pak Ridwan semua berjalan baik. Tak ada lagi kejadian aneh. Kegiatan di sekolah juga berjalan normal. Tap...

Cermis : Kiriman Santet Untuk Pak Guru - Part 2 (Habis)




Setelah botol itu diamankan Pak Ridwan semua berjalan baik. Tak ada lagi kejadian aneh. Kegiatan di sekolah juga berjalan normal. Tapi hubungan Gani dan Rara, tak ada perkembangan. Masih sebatas gosip yang beredar saja.Tak terasa sudah 5 bulan Gani mengajar. Anak-anak sangat girang diajar oleh Gani. Ia guru yang tekun, rajin, dan sabar. Berbeda dengan guru sebelumnya, tempramental dan suka menghukum dengan kekerasan.
Gani sudah mengenal orang seluruh kampung. Orang-orang juga sangat suka dengan Pak Guru Gani karena Gani ramah ke semua orang. Tak jarang Gani ikut ke ladang membantu salah satu warga. Untuk mendapat pengalaman yang tak ia dapat di kota.
Suatu malam saat orang-orang kampung berkumpul untuk menonton televisi, Jafar mendekati Gani. Ia mencolek lengan Gani yang sedang fokus menonton.
"Ada apa?" Tanya Gani setengah berbisik.
"Ini" kata Jafar menyelipkan surat ke tangan Gani.
"Apa ini?" Tanga Gani heran.
Jafar memberi kode dengan bibirnya yang menunjuk pada gadis yang duduk di Pojokan. Rara.
Jantung Gani berdegub kencang. Disisipkannya surat itu ke saku celana. Ia tak dapat fokus menonton lagi.
Tak sabar. Gani memutuskan pulang. Dibukanya surat itu di dalam kamar. Dibacanya dibawah cahaya lentera yang remang.
Kepada Bang Gani

Mohon maaf apabila Rara lancang mengirim surat kepada Bang Gani. Tetapi, kabar yang beredar di kampung ini sudah berlarut-larut. Ada baiknya kita membicarakannya. Bila abang berkenan, temui aku di lanting besok siang pukul dua.

Salam,
Rara
Mau pecah rasanya jantung Gani. Ah itu akan menjadi pertemuan resmi pertama mereka. Berbulan-bulan menyapa saja malu rasanya. Ini Rara malah minta berjumpa. Mimpi apa Gani semalam? Ia sampai tertawa sendiri.
Paginya Gani tak dapat fokus mengajar. Pikirannya hanya ke Rara. Apa yang akan dibicarakan Rara?. Gani penasaran sekaligus degdegan.
Siang pukul 1 seusai mengajar, Gani sudah bersama Jafar di tepi sungai. Tak sabar ia menanti Rara. Oh ya, Gani mengajak Jafar agar ia tak hanya berdua dengan Rara. Khwatir menjadi fitnah atau gosip baru.
Rencananya saat Rata datang, Jafar akan melompat ke sungai seolah-olah sedang asik berenang. Gani ada di sana untuk menemani Jafar. Itu agar perjumpaan dengan Rara seperti tak direncanakan.
Tepat pukul 2. Ternyata Rara juga datang dengan strateginya. Ia datang membawa banyak pakaian kotor seolah-olah hendak mencuci. Maka Jafar taat dengan tugasnya. Dibukanya pakaian dan melompat ia ke sungai. Gani duduk di ujung lanting seolah menyemangatinya.
"Apa yang hendak Rara bicarakan?" tanya Gani kaku.
"Soal gosip itu. Apakah itu benar?" Rara balik bertanya.
Gani terdiam. Rara terlalu to the point. Ia tak menyangka kalimat seperti itu keluar dari mulut Rara, seorang gadis kampung.
"Kalau tidak kenapa? Kalau iya kenapa?" Tanya Gani.
"Kalau tidak. Ya abang harus tegas menjelaskan perasaan abang. Kalau iya, abang juga harus tegas melamar Rara bang". Saat itu waktu terasa berhenti. Jantung Gani berhenti berdegub. Ada jutaan kembang api pecah di dadanya.
"Mengapa begitu cepat Ra? Yakinkah kau dengan abang?" Tanya Gani. Maka siang itu Rara menceritakan sebuah rahasia yang besar. Sebuah Rahasia yang kemudian menjadi rahasia mereka berdua. Tapi ya akhirnya bocor ke saya sih. Hahahahaha
Rara dilahirkan dengan sebuah kemampuan aneh. Dia dapat melihat sosok yang tak dapat dilihat orang. Kalau orang sekarang menyebutnya Indigo. Sejak dilahirkan ia punya seorang kembaran Ghaib yang selalu menemaninya.
Kembar ghaibnya ini selalu mencampuri hidup Rara. Sejak kecil ia seperti selalu dilindungi dan dibela. Ini membuat Rara tak punya banyak teman.
Pernah suatu waktu ada anak yang membully Rara. Kembarannya marah, besoknya Temannya itu sakit perut dengan sangat parah. Tak sembuh sampai Rara meminta agar temannya dimaafkan.
Pernah ada guru yang memukul Rara karena terlambat mengumpulkan PR. Tak lama kemudian sang guru mengidap kencing darah. Tak sembuh juga sampai Rara menyuruh kembarannya memaafkan.
Kembaran Rara mencampuri banyak hal di hidup Rara. Termasuk soal jodoh. Karena itulah Rara tak pernah punya kekasih. Karena kembarannya selalu ikut campur dan menunjukkan sisi buruk pria-pria yang mendekati Rara.
Salah satu pria yang pernah menaksir Rara adalah Uju Idoy. Tapi pada Uju Idoy memang Rara tak punya rasa. Tanpa ditunjukkan sisi buruknya, Rara juga sudah tau kalau Idoy berperangai buruk.
Idoy adalah pemabuk, penjudi, dan maling kambuhan. Kalau sudah habis uangnya, maka satu persatu ayam di kampung itu akan hilang. Lalu ia akan menghilang, tinggal di kampung lain berbulan-bulan.
Rara juga bilang, Idoy pernah mencoba memeletnya lewat minuman. Tapi Kembarannya memperingatkannya sehingga Rara tidak meminum minuman dari Idoy.
Kembarannya pernah bilang mau mengusili Idoy. Tapi Rara melarang karena menurutnya Idoy belum berlebihan kepadanya. Rara hanya meminta ia dilindungi saja.
Tapi ternyata kembarannya itu tidak mendengar perkataan Rara. Idoy tetap diusili. Kelaminnya dibuat bengkak. Rara pun marah karena kembarannya tak mendengar perkataannya. Maka dicarilah orang pintar, Rara ingin terlepas dari kembarannya.
Kalian tahu siapa yang membantu Rara? Yaitu Ai Karom yang usianya sudah sangat renta.  80an usianya waktu itu. Ai Karom memisahkan Rara denga kembarannya.
"Kapan kalian berpisah?" Tanya Gani pada Rara.
"Malam itu, malam saat abang berjumpa Rara di sini. Rara sedih melepasnya. Tapi Rara terlanjur emosi saat berniat lepas darinya" kata Rara.
Maka terjawablah sudah siapa gerangan yang menangis malam itu.
Oh ya Ai Karom tinggal di kampung yang lumayan jauh dari kampung itu. Tapi karena kesaktiannya ia memang cukup dikenal.
Kalian yang sudah membaca cerita cerita saya pasti tahu siapa Ai Karom. Jadi saya tak perlu menjelaskan lagi ya.
"Apa hubungan dia dengan saya?" Tanya Gani penasaran. Sungguh ia baru saja mendapat informasi yang aneh. Yang susah dipercaya nalar. Tapi di kampung di ujung kalimantan itu, semua bisa terjadi.
"Waktu abang datang. Dia bilang ke saya kalau Abang laki-laki yang baik. Dia akan sangat setuju kalau Rara berjodoh dengan abang"
"Jadi?"
"Iya. Karena abang tak kunjung mendekati Rara maka Rara memulai duluan. Abang satu-satunya laki-laki yang dia setujui"
Mungin kalian sama seperti saya. Suka dengan semangat Rara ngomong duluan. Daripada disamber orang terus gigit jari?. Hahaha
"Saya suka kamu Ra" kata Gani. Dan di saat itulah Rara merasakan  jantungnya juga berdegub kencang. Aliran sungai tiba-tiba seperti bergelombang. Jafar yang sedang berenang panik dan segera naik ke lanting.
"Ada apa ini?" Tanya Gani heran
"Sepertinya dia senang" kata Rara
Tak berapa lama kemudian Bunga dan Ida datang membawa pakaian kotor. Rara buru-buru menyelesaikan cuciannya. Gani melepas bajunya dan melompat ke Sungai. Jafar sudah naik karena jemarinya mulai keriput.
Gani berenang hilir mudik meluapkan bahagianya. Kalau tak ada ada Bunga dan Ida, sudah diteriakkannya nama Rara agar burung-burung di seberang sana tahu kalau Gani mencintai Rara.
Tanpa berteriak sekalipun, Melihat Rara dan Gani berduaan saja sudah membuat Bunga dan Ida punya bahan gosip baru. Berita hangat akan segera beredar seisi kampung.
Dan gosip itu sampai juga ke telinga Uju Idoy. Geram hatinya mendengar pujaan hatinya dekat dengan guru dari kota.
Maka di sini kalian akan tahu hubungan antara Uju Idoy, Rara, Guru yang lama, dan peristiwa yang akan dihadapi Gani.
Kita flashback dulu ke Pak Guru sebelum Gani. Namanya Suta. Pria usia 25an. Pindahan dari kabupaten lain. Dipindahkan karena punya kasus di sekolah sebelumnya.
Sama seperti Gani, sejak datang ke kampung itu, Suta jatuh hati pada Rara.
Saban hari Suta selalu berusaha mendekati Rara. Rara sungguh risih karena ia tak menyukai Suta. Kabar bahwa Suta adalah guru berperangai buruk juga sudah sampai ke telinga Rara.
Suta jarang sekali ikut mengajar, ia membiarkan pak Ridwan mengajar sendirian. Alasannya bermacam-macam. Sekalinya masuk, ada saja murid yang dipukuli. Tempramental, dan tak sabaran.
Walaupun demikian sebagian anak tetap senang dengan keberadaan Suta. Setidaknya guru di sekolah mereka tak hanya satu. Kasihan juga mereka dengan Pak Ridwan.
Tentu kabar Suta mengejar Rara juga tersebar di penjuru kampung berkat Bunga dan Ida. Orang tua Rara juga setuju, kapan lagi punya menantu pegawai negeri. Tapi ada juga yang tak suka, Uju Idoy yang tak rela buah hatinya dicuri.
Kembaran ghaib Rara juga sudah berang. Dibuatnya perut Suta membengkak hingga 7 hari 7 malam. Kejadian yang cukup menghebohkan itu ditutup dengan Suta yang muntah darah di hari kedelapan.
Itu juga karena Rara yang meminta kembarannya berhenti.
Orang-orang kampung heboh karena Pak Guru Suta mendapat kiriman guna-guna. Padahal guna-guna yang sesungguhny belum dikirim, masih dalam rencana Uju Idoy.
Dan Ketika Idoy mengirim guna-gunanya. Teror tiada henti menyerang Suta.  Dan botol yang ditemukan Gani adalah salah satu yang tersisa dari serangan itu.
Suta Gila hingga Dinas memutuskan memindahkan Suta ke kota. Agar mendapat perawatan yang layak.
Rara dan Gani jarang bertemu berdua. Mereka saling berkirim surat lewat Jafar. Nanti saat libur sekolah, Gani berencana melamar Rara. Betapa senang hati Gani, telah ditemukan pujaan hatinya. Rara Nur Salamah.
Hingga Malam Jahannam itu tiba. Malam paling mengerikan dalam hidup Abdul Gani, Pak Guru dari Kota.
Pukul 12 malam, Gani masih terjaga. Hujan turun deras di luar. Petir menyambar, gemuruh bersahut-sahutan. Gani sedang menulis surat untuk Rara.
Tiba-tiba seluruh penjuru rumah seperti digedor puluhan orang. Gani kaget. Dinyalakan senter, dibukanya jendela. Yang ia lihat adalah pemandangan makam yang seharusnya ada di belakang rumahnya.
Ia menyenter ke tanah, penuh genangan darah. Hujan itu berwarna merah. Gani panik dan berusaha merafal doa doa. Tapi ketika ia membuka mata, sesosok pocong menyeringai di depannya.
Gani berusaha melepaskan diri, ia balas mencekik pocong itu hingga mata pocong itu seperti meleleh keluar dari matanya. Bau busuk menyengat tercium dari lendir di tangan Gani.
Gani menutup jendela rapat namun suara itu semakin jelas terdengar. Tak berhenti di situ, perutnya terasa begitu sakit. Gani terduduk menahan rasa sakit di perutnya. Perlahan-lahan perutnya membengkak. Gani mengerang.
Gani masuk ke kamar masuk ke dalam selimut. Tapi selimut itu semakin kencang mencekiknya. Gani mengerang kesakitan. Tubuhnya remuk dan pingsan.
Gani terbangun di bawah guyuran hujan. Badannya kini dibungkus kain kafan. Ia terbaring di dalam lubang kuburan. 10 orang berdiri mengelilingi, menyeringai, dan mulai menimbunkan Tanah kepada Gani.
Gani berusaha bangkit dan merobek kain kafan yang menbungkusnya. Orang-orang itu terus menimbun tak peduli Gani mulai berusaha keluar dengan terengah-engah.
Gani berlari meninggalkan orang-orang itu. Ia terus berlari di tengah makam namun makam itu seperti tak berujung.
Sementara Gani berlari, dari makam-makam itu keluar mayat-mayat. Di sana disebut Hantu Bangket. Mayat-mayat itu menyeringai dan berusaha mengejar Gani.
Gani berusaha menghindar tapi cakaran-cakaran itu melukai badannya. Rasanya begitu perih.
Gani mencabut nisan dan menghantamkan pada mayat-mayat itu. Tapi ia kalah Jumlah, Gani berjalan mundur dan terjatuh ke dalam lubang kubur tadi. Sementara 10 orang itu tetap menimbun perlahan.
Saat itulah Gani melihat wajah orang itu. Wajah orang-orang itu sama semua, wajah Idoy yang menyeringai.
Gani teringat Rara. Kini Rara tidak ada yang menjaga. Idoy bisa melakukan apapun pada Rara.
Rara! Rara! Rara! Pekiknya.
Yang sebenarnya terjadi malam itu adalah warga kampung panik karena di tengah hujan deras malam itu terdengar teriakan seseorang berlari. Orang itu adalah Pak Guru Gani.
Di tengah hujan pak Guru Gani berlari dengan baju yang robek karena dirobek oleh dirinya sendiri. Ia berteriak-teriak membuat warga kaget dan keluar rumah.
Pak Burhan yang mengetahui hal itu langsung mengajak warga mengamankan Gani. Pak Burhan pernah melihat kejadian itu, nyaris sama. Itu yang terjadi pada pak Guru Suta.
Pak Burhan dan warga berusaha menangkap Gani. Tapi Gani terus melawan. Ia berusaha lari walau warga menyerangnya sekaligus. Tenaganya begitu kuat.
Gani bahkan mengambil kayu dan memukuli beberapa warga.
"Jangan biarkan dia lepas. Bahaya buat dia" kata Pak Burhan.
Gani berjalan mundur sambil menghalau warga. Namun tanah becek sisa hujan membuat jalan licin. Di sebuah jalan yang menurun, Gani tergelincir dan jatuh terlentang. Orang-orang berusaha menggapainya tapi wajah Gani menyimpan ketakutan.
Rara Rara Rara panggilnya.
Rara yang terbangun dan mendengar kabar itu sedang berlari ke arah Gani. Diraihnya tangan Gani, digenggamnya erat.
"Rara di sini Bang Gani. Rara di sini" katanya.
Gani dapat merasakan tangan lembut menggenggam tangannya. Tapi idoy terus menguburnya dengan tanah. Dada Gani terasa sesak.
Seorang warga gang ditugaskan Pak Burhan ke Rumah Gani saat melihat Gani mengamuk tadi datang membawa botol yang sama dengan yang Gani temukan.
"Pak, saya menemukan ini"  kata Warga itu.
Pak Burhan memegang botol itu.
"Ajak dua orang lagi pergi ke Hulu. Panggil Ai Karom"
Pak Burhan mendekati Rara. "Ada kiriman untuk pak Guru, entah siapa yang mengirimnya" kata Pak Burhan menunjukkan botol itu. Rara teringat sesuatu.
"Boleh saya musnahkan pak?" Tanya Rara.
"Tidak boleh sembarangan"
"Saya bisa pak" kata Rara menyambar botol itu.
Rara lalu berlari ke sungai membawa botol itu. Sementara warga mengangkat Gani yang tampak lemas ke rumah Pak Burhan.
Rara melempar botol itu ke sungai. Dari dalam sungai keluar sosok yang Rara kenal. Kembarannya yang sudah menjelma dalam bentuk lain.
"Bantu aku memusnahkannya. Temukan siapa pengirimnya" kata Rara sambil menangis.
"Kubilang juga apa. Kau membutuhkanku Rara" kata sosok itu
Besok paginga barulah Ai Karom datang. Kondisi Gani masih payah. Ia masih seperti orang mengigau.
Gani terjebak dalam halusinasinya. Apa yang ia alami hanya terjadi di kepalanya. Orang-orang jadi melihatnya seperti orang gila.
Pak Ridwan menyerahkan botol yang pernah ditemukan Gani.
"Bahaya memang, kalau tak cepat ditangani dia bisa gila selamanya" kata Ai Karom.
"Kalau boleh tahu, apakah botol ini yang dipakai menyerang Nak Gani?" Tanya Ai Karom.
"Bukan, ternyata serangan juga pernah dikirim ke nak Suta. Guru sebelumnya. Itu botol yang ditemukan Gani setelah Suta pergi" kata Pak Burhan.
"Dulu saya pikir Suta itu pura-pura gila. Tapi ketika Gani menunjukkan botol ini saya menyadari kalau Suta dikirimi sesuatu. Makanya saat nak Gani mengamuk tadi malam, saya suruh warga mencari botol itu di rumahnya" kata pak Burhan.
"Kemana botol satunya?"
"Saya musnahkan ai" kata Rara.
Ai Karom hanya manggut-manggut.
Dengan obat dan mantra dari Ai Karom, seminggu kemudian Gani pulih semula. Ia menceritakan apa yang ia lihat pada Rara, dan Rara menceritakan hal yang terjadi sebenarnya.
Keesokan harinya, Kampung dihebohkan oleh Perahu Uju Idoy yang karam-karam. Teman-temannya selamat, tapi Uju Idoy hilang. Ada yang bilang diterkam buaya.
"Sadis kamu!" Kata Rara pada kembarannya.
"Itu pantas untuknya" kata suadaranya yang kini mengambil bentuk seekor buaya itu.
Dan ketika Libur sekolah tiba, Gani datang ke rumah Rara untuk melamar. Orang tua Rara tentu setuju berat. Pernikahan segera dilangsungkan. Dan Gani resmilah menjadi penduduk kampung itu.
Gani mengajar di sana selama 15 tahun dan memutuskan mengajak Rara pindah ke Pontianak sejak tahun 2000an.
Banyak cerita menarik Pak Guru Gani selama mengajar. Tapi pengalamannya terkait hal mistis ini masih diingatnya hingga sekarang.

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.