Bulan Mei, sekitaran Tahun 1986-1987. Dari Pontianak Gani menumpang kapal motor. Kapal Bandong, begitu disebutnya. Dari Pontianak ...

Cermis : Kiriman Santet Untuk Pak Guru - Part 1


Bulan Mei, sekitaran Tahun 1986-1987.
Dari Pontianak Gani menumpang kapal motor. Kapal Bandong, begitu disebutnya. Dari Pontianak ke kampung yang dituju setidaknya memakan waktu 10 hari. 7 hari dari Pontianak ke ibukota kecamatan, lalu 3 hari naik perahu kecil sampai kampung.
Gani adalah lulusan SPG, Sekolah Pendidikan Guru. Begitu lulus SPG, ia langsung menerima surat tugas untuk berangkat ke lokasi mengajar. Ke sebuah kampung yang bahkan tak ada di dalam peta.
Menjadi guru adalah permintaan Ayahnya. Ayah Gani telah tiada. Terlanjur nyebur, yaudah niatin aja yang ikhlas. Walau jauh, dijabanin juga.
Usia Gani baru 20 tahun. Wajahnya cukup tampan dengan kulit sawo matang. Badannya tegap karena Gani rajin berolahraga.
Setelah sampai di kota kecamatan maka Gani melanjutkan perjalanan ke kampung dengan naik perahu motor atau lebih dikenal dengan "tempel". Betapa kagum Gani melihat pepohonan lebat di sisi kanan sungai. Tak jarang ia melihat orang utan berayun dari dahan ke dahan.
Gani disambut Pak Burhan, kepala dusun di kampung yang dituju.
"Nak Gani malam ini menginap di rumah saya saja. Besok Nak Gani bisa melihat Rumah Guru di ujung kampung sana" kata Pak Burhan. Hari memang sudah beranjak petang kala Gani datang. Badannya juga sangat lelah.
Maka malam itu Gani menginap di rumah Pak Burhan. Belum ada penerangan di kampung itu. Masyarakat masih menggunakan lampu minyak. Tapi di rumah Pak Burhan, sudah menggunakan mesin diesel. Jadi lampu menyala kala malam.
Pak Burhan juga punya televisi hitam putih dengan parabola. Satu-satunya televisi di kampung itu. Maka malam itu pun sama seperti malam-malam lainnya. Orang-orang kampung berkumpul untuk menonton televisi.
"Namanya juga kampung. Tidak ada hiburan. Ini satu-satunya hiburan di sini"  kata Pak Burhan. Gani malah sibuk mengamati warga yang datang. Banyak anak-anak, calon muridnya, begitu pikirnya.
Di antara para penonton malam itu Gani melihat seorang gadis yang menarik perhatiannya. Rambutnya panjang dan legam. Kulitnya bersih, matanya tajam. Dan yang Gani suka, senyumnya manis bukan kepalang. Beberapa saat Gani terpana.
"Rara kami memanggilnya. Gadis paling cantik di sini" kata Pak Burhan. Gani terkaget hingga terbatuk-batuk.
"Tak apa pak guru, semua orang yang baru datang ke sini mengagumi cantiknya Rara. Normal itu " kata Pak Burhan.
Dan di antara penonton malam itu juga ada dua gadis yang melihat Gani dari kejauhan. Tak seperti yang lain yang sibuk menonton TV, mereka berdia sibuk menggosipkan Gani. Siapa gerangan pemuda itu? Itukah guru yang digosipkan akan datang itu?. Begitu kira-kira percakapan mereka.
Nama kedua gadis itu adalah Ida dan Bunga. Ida berbadan gemuk sedangkan Bunga berbadan tinggi semampai. Keduanya adalah penyebar berita paling top di kampung itu. Tukang gossip profesional.
Malam itu Gani tertidur lelap. Badannya terlalu lelah. Malam dibungkus gelap yang pekat. Gani pikir itu adalah awal untuk hari-harinya yang baru. Namun malam seperti menyimpan misteri tentang esok, lusa, dan seterusnya.
Esok harinya adalah hari Minggu. Tandanya hari itu Gani belum harus ke sekolah. Rencananya hari itu ia mau ke rumah guru. Hendak melihat dan membersihkannya. Dari pak Burhan Gani mendengar kalau rumah dinas itu baru saja ditinggalkan guru sebelumnya 5 bulan yang lalu.
Ditemani Pak Burhan, Gani berjalan ke ujung kampung. Ia melalui rumah-rumah penduduk yang rata2 berbentuk rumah panggung. Beberapa anak bermain gasing.
Langkah kaki Gani begitu ringan. Kampung itu terasa menyenangkan baginya.
Rumah dinas guru itu masih baru dibangun pemerintah 2 tahun lalu. Bisa dikatakan rumah paling baru di kampung itu. Saat Gani masuk, rumah itu penuh debu. Sarang laba-laba menghiasi dinding-dinding. Untung Gani sudah menyiapkan alat bersih-bersih. Didapatnya dari Pak Burhan.
"Bapak tak bisa menemani Nak Gani sepanjang hari. Bapak ada urusan. Kalau sudah selesai terserah Nak Gani mau langsung pindah kemari atau masih mah di rumah bapak dulu" kata Pak Burhan.
"Iya pak. Terimakasih bantuannya. Sepertinya saya akan tinggal di sini saja" kata Gani.
Pak Burhan pamit. Gani mulai membersihkan rumah itu. Rumah itu kecil, hanya ada kamar tamu, satu kamar lalu dapur. Beberapa peralatan dapur ada di sana, berdebu. Gani memeriksa semua sisi rumah. Di kamar juga masih ada ranjang kayu. Namun Gani kaget saat membuka pintu belakang.
Tepat di belakang rumah itu, 10 meter jauhnya, berbaris nisan-nisan dari kayu yang mulai melapuk. Gundukan-gundukan tanah itu jelas adalah pertanda itu adalah pekuburan. Gani bergidik.
Gani menutup pintu belakang rumah. Ia masih sedikit shock. Ingin ia kembali ke rumah Pak Burhan saja, tapi ia tidak enak. Terlanjur bilang akan tinggal di situ. Ia ingat lagi tujuannya ke kampung itu untuk mengabdi. "Ah kuburan hanya berisi orang mati" pikirnya.
Siang itu Gani terlalu lelah. Ia terlentang di atas tikar pandan yang dibawakan Pak Burhan tadi pagi. Tikar itu sudah diletakkannya di atas ranjang kayu. Angin berhembus memasuki sela-sela dinding. Udara hutan yang sejuk mengantarkan Gani ke dalam tidur yang lelap.
Gani terbangun saat hari sudah gelap. Gani panik, yang ia lihat hanya kegelapan. Ah iya, ia lupa meminjam lampu minyak. Ia meraba-raba tasnya untuk mencari senter yang ia bawa. Ia keluar, menutup pintu. Ia hendak ke Rumah Pak Burhan.
Tapi betapa kagetnya Gani ketika membuka pintu depan. Di depannya berdiri nisa berbaris-baris. Bulu kuduknya bergidik ngeri. Bukankah tadi kuburan2 itu hanya ada di belakang?.
Atau ia masih mengigau hingga salah membuka pintu. Ia berlari ke pintu yang lain dan membukanya. Sama saja, kuburan-kuburan itu berbaris di depannya. Gani menutup pintu kencang. Ia merafal doa yang ia bisa.
Gani kembali membuka pintu depan dengan pelan. Gani terkaget-kaget hampir melempar senternya.!Pak Burhan berdiri di sana. "Eh nak Gani, barusaja bapak mau mengucapkan salam. Nak Gani sudah makan?" Tanya Pak Burhan. Gani menyeka keringatnya.
"Belum pak" katanya lirih.
Malam itu Gani makan malam di rumah Pak Burhan.
"Kalau mau belanja buat keperluan, ada warung di ujung kampung sana. Tapi maklum kalau agak mahal, maklum di kampung" kata Pak Burhan.
Terbayang oleh Gani bagaimana barang dagangan didistribusikan dari kota ke kampung itu. Berhari-hari diangkut dengan kapal bandung dan perahu. Tentu biaya distribusinya akan sangat mahal.
"Oh ya pak, saya mau tanya lagi" Gani tampak malu.
"Tanya apa?"
"Itu Rumah guru-nya tidak ada kamar mandi ya?"
"Bwahahaha, di sini tidak ada namanya kamar mandi. Kalau mandi, semua orang ke sungai. Di lanting".
Gani ingat saat ia datang. Lanting memang ramai dengan warga yang mandi.  Anak-anak berlompatan riang ke air yang begitu sejuk.
"Wah, saya harus mandi pak. Tadi kotor karena beberes"
"Ya sudah, biar anak saya yang temani". Pak Burhan pun memanggil Jafar, anaknya.
Ditemani Jafar yang berusia 11 tahun, malam itu Gani pergi ke sungai untuk mandi. Waktu menunjukan pukul setengah 8.
"Abang dari Pontianak kah?" Tanya Jafar.
"Iya, kenapa?"
"Nanak kalau Jafar udah bosar, Jafar Mauk sekulah di Pontianak"
Begitulah Gani berusaha ngobrol dengan Jafar. Agar tidak terlalu sepi. Walau banyak kosakata Jafat yang tak Gani mengerti. Bermodal senter mereka memecah malam. Langit tampak cerah dengan hamparan bintang.
Walau malam terasa begitu dingin, tapi air sungai terasa begitu hangat. Segar sekali rasanya ketika Gani berendam di sana. Setengah Jam Gani berendam di air sambil berbicara dengan Jafar. Dan saat itulah Gani melihat pemandangan yang tak biasa.
Di seberang sungai, di antara rerimbunan pohon Gani melihat sebuah bola api terbang melesat cepat.
"Apa itu? Meteor kah?" Tanya Gani
Jafar mematung tak menjawab.
"Boh kita pulang copat" kata Jafar beberapa saat kemudian. Melihat Jafar panik, Gani segera menyelesaikan mandinya.
Gani dan Jafar pulang dengan langkah kaki yang lebih cepat.
Sesampai di rumah pak Burhan, Gani menceritakan apa yang ia lihat.
"Itu namanya Pulong, santet, atau guna-guna. Di sini orang-orang masih sangat percaya mistis.Tapi jangan khawatir, kalau tidak bikin salah. Semua aman"
Baru dua hari di kampung itu, Gani sudah mengalami dua peristiwa mistis. Ingin ia malam itu menginap di rumah Pak Burhan saja. Tapi ia tak ingin merepotkan. Ketika waktu beranjak larut, Gani pamit pulang.
"Bawalah ini untuk di rumah" kata Pak Burhan menyerahlan lentera.
Di samping pak Burhan berdiri Jafar dengan dengan sarung di pundaknya.
"Kalau Boleh, Jafar malam ini akaj tidur bersama Bapak. Supaya bapak tidak sendirian. Sekalian adaptasi dengan rumah baru" kata Pak Burhan. Gani menatap Jafar.
"Boleh pak, dengan senang hati kalau Jafar mau"
Malam itu Jafar menginap di rumah guru bersama Gani. Jafar cepat terlelap. Namun bayangan kejadian hari itu membuat Gani sulit tidur. Tempat baru, masih asing baginya. Ia hanya berharap semua akan baik-baik saja.
Besok harinya. Pertama kalinya Gani ke sekolah.
Sekolah itu terbuat dari kayu. Dindingnya sudah menua. Ada 3 kelas dengan masing-masing sekat di tengahnya. Anak-anak sudah berbaris di depan sekolah pagi itu.
Gani sempat bingung. Seharusnya ia disambut pak kepala sekolah. Anak-anak menatap Gani dengan penasaran. Saat Gani sedang bengong, tiba-tiba suara lonceng mengagetkannya. Seorang pria berusia 50an barusaja membunyikannya.
"Woh ini Toh saudara Abdul Gani, guru dari Pontianak. Akhirnya datang juga" kata Pak Ridwan. Kepala Sekolah di sekolah itu. Dari logatnya, Gani tahu Pak Ridwan juga pendatang.
"Bapak Pak Ridwan?"
"Benar"
"Syukurlah, saya pikir saya harus menghadapi anak2 ini sendirian"
"Lah saya juga tiap hari mengajar mereka sendiri"
"Loh guru lain?"
"Tidak ada. Hanya saya sendiri. Sekarang ditambah kamu. Hahaha". Gani cukup kaget. Dipikirnya setidaknya ada 6 guru untuk 6 kelas.
"Sudahlah, tak kenalkan dulu dengan murid-murid di sini"
Pagi itu Gani diperkenalkan sebagai Guru baru. Anak-anak tampak senang. Kini mereka punya guru selain pak Ridwan.

Pak Ridwan sebanrnya guru Agama. Tapi karena tak ada guru, ia kini mengajar semua kelas, semua mata pelajaran.
"Kamu mengajar kelas 4 sampai 6. Saya kelas 1 sampai kelas 3" kata Pak Ridwan
"Tapi bukannya bapak lebih berpengalaman?" Tanya Gani.
"Kamu jelas lebih pintar dari saya. Ajarkan anak itu dengan baik". Pak Ridwan begitu rendah hati. Gani dibuat kagum olehnya.
"Bapak tinggal dimana?" Tanya Gani siang itu di bawah pohon akasia di depan kelas. Itu waktu istirahat. Tak ada ruang guru, disitulah biasa pak ridwan menunggu waktu.
"Saya dan keluarga di kampung sebelah. 10 km dari sini" kata Pak Ridwan.
Kampung sebelah sejauh itu? Gani kaget.
"Di sini kampung2 memang berjauhan" kata Pak Ridwan.
"Lalu bapak ke sini pakai apa?" Tanya  Gani.
"Naik sepeda" katanya sambil menunjuk Sepeda ontel yang tersandar di sisi sekolah. "Atau numpang perahu warga sesekali" katanya
"Kenapa bapak tidak tinggal di rumah guru saja? Bukankah sudah lama kosong?" Tanya Gani. Pak Ridwan terdiam.
"Kalau untuk sementara sih tidak apa-apa. Tapi kalau untuk waktu lama, sebaiknya dipikir-pikir" kata Pak Ridwan. Ia menghisap rokoknya dalam.
Waktu masuk tiba, mereka mengakhiri percakapan siang itu.
Setelah hari itu semua berjalan normal. gani sudah mulai kenal dengan warga sekitar. Ia juga mulai terbiasa dengan rumah yang ditinggalinya. Walau satu yang masih mengganjalnya, tak ada toilet. Ia harus jauh-jauh ke sungai hanya untuk buang air.
Urusan buang air ini lebih rumit daripada urusan gangguan setan beberapa waktu lalu. Gangguan itu sudah Gani anggap sebagai cara alam menyambutnya.
Suatu malam perut Gani teramat sangat sakit. Ia tak tahan lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 9. Diambilnya senter dan ia segera pergi ke sungai. Segera ia masuk ke dalam bilik jamban dan mengunci pintu dari dalam. Malam hening.
Lalu dari luar terdengar suara tangis dan kecipak air.  Siapa itu?. Sontak saja bulu kuduk Gani merinding. Ia segera menyelesaikan "pertapaan"nya. Saat Gani sedang cebok, suara tangis itu perlahan menghilang.
Gani keluar dari Jamban perlahan. Dilihatnya seorang gadis duduk di ujung lanting. Di sampingnya diletakkan sebuah lentera.  Wanita itu menoleh sambil menggosok matanya. Pantukan cahaya lentera itu membuat Gani mengenal wanita itu. Wajah terindah yang pernah Gani lihat.
"Kamu Rara bukan? Kenapa kamu ada di sini malam-malam?" Tanya Gani.
Rara tak menyahut. Diambilnya lentera sambil berdiri.
"Maaf kalau saya mengganggu bapak" katanya sambil berjalan meniti kayu untuk meninggalkan Gani.
Gani ingin mengejar Rara, tapi perutnya kembali terasa sakit. Buru-buru ia masuk ke bilik jamban. Lalu beberapa saat kemudian....
Terdengar lagi suara tangis. Lebih sedih, lebih menyayat.
Kenapa Rara kembali?.  Kali ini Gani tak buru-buru menyelesaikan prosesi buang hajatnya. Suara tangis itu kian lirih.
Setelah selesai, Gani kembali keluar. Tapi tepat sebelum pintu dibuka terdengar suara orang menyeburkan diri ke sungai.
"Rara!" Seru Gani. Tapi tak ada siapa-siapa. Tak ada lentera.  Yang tersisa hanya hening.
Gani menyenter ke sungai, ke sisi-sisi lanting. Tak ada tanda seorangpun di sana. Apakah tadi hanya halusinasinya saja?. Gani berusaha menenangkan diri.
Gani pulang dengan dada yang cemas. Bagaimana bila tadi benar Rara yang menyeburkan diri. Hatinya begitu was-was.
Yang naksir Pak Gani mana suaranyaaa? Haha
Pagi itu Gani mengajar dengan perasaan tak tenang. Bagaimana kabar Rara? Di Jam istirahat ia duduk di depan sekolah. Lalu lewatlh Bunga dan Ida yang membawa cucian dari sungai.
"Bunga! Ida!" Seru Gani berlari mendekat.
"Ada apa pak guru?" Tanya Bunga sambil senyum-senyum. Di sampingnya Ida memilin2 rambut.
"Kalian lihat Rara pagi ini?"
"Ah saya pikir Pak Guru mau bertanya soal kami, Rara rupanya" kata Bunga
"Bukan begitu. Soalnya tadi malam..."
"Kenapa tadi malam? Pak Guru dan Rara?"
"Sudahlah. Ketemu Rara tidak pagi ini?" Gani tak melanjutkan ceritanya.
"Ada pak Guru. Tadi ketemu di Sungai. Tapi sudah buru-buru pulang"
"Sukurlah"
"Senang nian sepertinya pak guru ini Ida" kata Bunga.
"Apa pak guru mau titip salam ke Rara?" Tanya Ida menggoda.
"Tidak! Terimakasih" kata Gani. Hatinya lega, Rara baik-baik saja. Tapi kini ia bertanya, suara apa gerangan malam tadi. Suara tangis itu jelas didengarnya.
Ah berurusan dengan Bunga dan Ida itu rumit. Karena tak butuh waktu lama, menyebarlah gosip di penjuru kampung kalau Gani menyukai Rara. Walaupun pada kenyataannya rasa itu memang ada, tapi Gani tidak pernah mengatakan itu.
Maka suatu hari ketika Gani berbelanja bahan makanan di warung, terdengarlah sebuah kalimat dari Uju Idoy yang sedang nongkrong minum kopi di depan warung.
"Oh inilah rupanya Pak Guru Gani yang mengincar dara kampung kita. Sudahlah pak, di kota banyak. Jangan ambil jatah kami"
Gani berusaha bertingkah normal.
"Maaf bang, itu hanya gosip saja" kata Gani. Ia lalu beranjak pergi. Di saat yang sama, Rara datang hendak berbelanja. Mereka berselintasan. Rara dan Gani sama-sama menunduk tak saling melirik. Tapi Gani sungguh ingin menatap matanya.
"Bapak suka kah dengan Kak Rara?" Tanya Jafar suatu sore saat Ia dan Gani mandi di sungai.
"Siapa yang bilang begitu?"
"Urang dituk udah tau semua" orang di sini sudah tau semua, itu maksudnya.
"Haha, kamu masih kecil. Tidak perlu bahas soal perasaan" kata Gani.
"Kalau bisa nosah mih bapak suka dengan kak Rara. Nanak bapak pulang macam guru sebelumnya" sebaiknya bapak tidak menyukai kak Rara. Nanti bapak pulang seperti guru sebelum ini.
Ucapan Jafar itu mengagetkan Gani.
Dari Jafar Gani tau kalau guru sebelumnya juga menyukai Rara. Namun setelah setahun bertugas, ia minta dipindahkan dengan alasan kesehatan. Bahkan saat petugas Dinas datang, ia tampak seperti orang gila. Orang kampung percaya itu hanya ekting, karena tak betah.
Di suatu hari minggu, Gani sedang membersihkan area depan rumah dinasnya. Rumput-rumput sudah tinggi, jadi dihabiskan hari itu dengan menebasnya. Ia juga membersihkan bagian samping dan belakang. Soal kuburan itu, ia tak lagi khawatir. Sudah 3 bulan tak ada kejadian apa-apa.
Saat sedang membersihkan rumput atau disana disebut "mabau", Gani menemukan sebuah botol kecil berisi minyak. Botol yang ditutup potongan kayu itu ditemukannya di sela rumput. Karena rasa penasaran, botol itu disimpannya di saku celana.
Dan malam itu menjadi malam yang mengerikan.
Pukul 12 malam. Dinding rumah tiba-tiba diketuk keras. Gani terjaga dari tidurnya. "Ada apa?" Pikirnya. Buru-buru ia keluar dan membuka pintu depan. Betapa kaget Gani melihat pekuburan itu kini ada di depannya.
Lalu ia berlari ke pintu belakang. Pekuburan itu juga ada di sana.
Kejadian itu disusul aroma busuk yang menyengat. Gani kembali ke pintu depan, lalu kuburan itu juga di sana.
Ia melompat keluar dan di sekitarnya hanya ada kuburan. Ia dapat merasakan kakinya semakin dingin.
Lalu Gani panik dan kehilangan kesadarannya.
Pagi itu, Gani terbangun oleh hujan yang turun rintik. Ia terbaring di depan teras. Tubuhnya terasa begitu lelah. Apakah kejadian malam itu hanya mimpi?. Entahlah tapi kalau mimpi, kenapa tidurnya berpindah?. Gani tak habis pikir.
Pagi itu dengan tubuh yang terasa mulai demam, Gani tetap pergi ke sekolah. Namun semua panik kala mengajar, Gani kembali pingsan.
Gani terbangun di rumah Pak Burhan. Di luar Pak Burhan sedang mengobrol dengan Pak Ridwan. Ia keluar dengan badan lemah.
"Wah Pak gani sudah bangun?" Kata Pak Ridwan.
"Kalau masih sakit istirahat saja dulu. Kami sedang menunggu bidan desa dari kampung sebelah" kata Pak Burhan.
"Pak, Rumah itu aneh." kata Gani. Gani lalu menceritakan semua kejadian aneh yang dialaminya.
"Apakah ada hal aneh yang nak Gani melihat sesuatu yang aneh di rumah itu?"
"Kemarin saya menemukan ini" kata Gani mengeluarkan botol yang ditemukan.
"Dari kondisi botolnya, sepertinya ini sudah lama di sana. Jadi jelas Pak Gani bukan targetnya" kata Pak Burhan.
"Memangnya ini apa?"
"Pulongan, ini santet, guna-guna" kata Pak Burhan.
"Kalau barang ini dimusnahkan, berarti rumah itu aman?" Tangan Gani.
"Tidak semudah itu memusnahkan" kata Pak Burhan.
"Kalau begitu biar saya yang bawa, saya amankan" kata Pak Ridwan. Pak Ridwan memasukkan botol itu ke sakunya.
Kalau guna-guna itu tak ditujukan padanya, lalu kenapa ada di situ?. Gani teringat cerita Jafat, soal guru sebelumnya yang dikira pura-pura Gila. Bagaimana kalau ia benar-benar gila?.

 Bersambung >>

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.