- Aroma Jagal Mustika - Based on true story Sumber  : https://twitter.com/koreyan666/status/1212774461566382080 Penulis : http...

Cermis : - Aroma Jagal Mustika -



- Aroma Jagal Mustika -
Based on true story
Penulis : https://twitter.com/koreyan666 (𝕲 . 𝙱 𝚛 𝚒 𝚗 𝚍)
Sebelum saya masuk kedalam cerita, saya cuma ingin meluruskan saja, karena banyak pertanyaan, mengapa di Kayu Aro menggunakan bahasa Jawa dan kenapa menggunakan #saktialamkerinci tapi tidak menggunakan bahasa kerinci asli
Pertama, Kayu Aro adalah bagian dari Kerinci, dan mayoritas penduduk Kayu Aro adalah orang jawa, yang dahulu memang dibawa dari Pulau Jawa dan menjadi pekerja kebun teh di Kayu Aro (yang sekarang dikenal dengan teh terbaik didunia, katanya). Namun, ada juga orang asli Kerincinya

Setiap desa pasti ada orang Kerinci asli, namun tetap saja, penduduk Kayu Aro masih menggunakan bahasa Jawa, yang tidak kental (bahasa jawa kasar)
Kedua, kenapa menggunakan #saktialamkerinci jawabannya adalah, Semboyan Kerinci adalah sakti alam kerinci, dan Kerinci cukup luas, saya
- sendiri masih hanya berfokus pada daerah Kayu Aro saja, bukan tak ingin meng eksplor seluruh Kerinci, tapi masih terbatas waktu dan jarak saja saat ini
Okay!
Cukup itu saja untuk yang sering ditanya, so!
saya persembahkan,
Aroma Jagal Mustika
Selamat membaca🤗
Alunan irama jawa terdengar merdu disetiap sudut desa. Tarian gemulai anak kecil semakin memeriahkan suasana sore itu. Terdengar jelas alat-alat musik tradisional sedang beradu hingga menimbulkan irama yang merdu. Sinden yang dikenal dengan nama Mak Jum bersenandung syahdu hingga
menghipnotis para penonton agar tetap tinggal dan menonton. Alunan irama jawa perlahan berhenti, menandakan waktu maghrib sudah tiba. Para penari dewasa sedang bersiap-siap untuk pertunjukan inti dari acara Jaran Kepang (Kuda Kepang).
Wajah mereka dihias rupawan hampir menyerupai dandanan ibu-ibu yang ingin pergi kepasar, putih dan menor sekali. Tapi, hal itu tentu terkesan biasa, karena memang begitulah aturannya.
Selang waktu berjalan, jam sudah menunjukan pukul 20.00 menandakan acara yang paling ditunggu
penonton akan segera dimulai. Para Penari Kuda Bambu mula-mula akan menari sempoyongan. “olang-aleng” begitulah para penari menyebut alunan yang semakin cepat. Tabuhan gendang yang mulai dipercepat. Para penari pun demikian, menari semakin cepat dan tak beraturan.
1, 2, 3! Dan BOO!
Satu persatu penari terjatuh, dari delapan penari, hanya dua yang tak terjatuh. Bagi para penonton yang terjatuh adalah penari yang baik, sedangkan yang tidak adalah penari yang buruk. Hal ini bukan dari lemah gemulainya cara mereka menari,
melainkan apa yang penari simpan dan jaga ketika menari. Namun, bagi penari sendiri, tidak begitu senang jika harus terjatuh ketika menari, alasannya simple, yang pertama karena ia akan kotor jika terjatuh,
dan yang kedua ia akan malu, ditonton orang ramai, sedangkan dirinya tidak sadarkan diri, namun dengan fisik yang masih terjaga.
Disaat itulah, penonton mulai sedikit tegang, kenapa? Bukankah mereka senang seharusnya? Penonton akan mulai tegang ketika para penari yang terjatuh mulai mencari “temannya”. Mereka akan mencari penonton yang memiliki “isian” atau semacam khodam yang ia dapat ditempat perguruan-
-mereka. Kadang, tanpa mencari, para penonton justru malah mengundang isian mereka untuk hadir dan unjuk gigi pada acara Jaranan itu. Menarik! Terlihat seperti debus yang dicampur dengan tabuhan jawa dan tarian lemah gemulai. Hal yang lucu adalah ketika salah satu dari penari
kedatangan tamu yang tidak diundang, seperti “Ketek Puteh”. Para penari sangatlah menghindari Ketek Puteh hadir ketika acara Jaranan, selain tidak diinginkan tentu saja sangat memalukan bagi para penari, karena tingkahnya yang tidak pernah diduga akan seperti apa.
Semakin malam acara tentu saja semakin meriah, isian yang tua-tua mulai berdatangan, dan semakin mememeriahkan acara. Hal yang menarik adalah para penari dan penonton yang harus mengeluarkan isian mereka dan mengembalikan kesadaran tubuh pemiliknya.
Ada yang mudah, ada yang susah. Yang mudah tentu saja cepat sadar, sedangkan yang susah itulah isian yang tua, terkadang isian akan meminta hal yang aneh, mulai dari meminta tabuhan gong yang beraneka suara, meminta daun yang susah dicari, dan lain sebagainya.
------------------
Chapter 1 - Intro
------------------
Malam berlalu, pagi sudah hampir datang, Oki dan yang lain kembali krumah masing2 setelah sebelumnya membereskan perkakas acara Jaranan tadi
Badan Oki terasa sakit sekali, lidahnya seperti mati rasa
"Nggar, tadi den makan apo?" (Nggar, tadi saya makan apa?) tnya Oki yang masih meludah-ludah karena risih dengan lidahnya yang tak jelas apa yang dirasakannya
"Ma den tau, den masuak lo tadi ma," (Mana saya tau, saya juga masuk tadi) jawab Linggar, -
-yang memang satu motor dengan Oki menuju kerumah
"Hoooo ncen Koplok" (hoooo emang goblok) sahut Oki geram
"Ngecek a dang? Ang nan ongok yo" (Ngomong apa kamu? Ang nan ongok yo) jawab Linggar dengan logat minangnya yang kental
Ya! Linggar asli orang Minang, orang tuanya berasal dari Padang dan Linggar baru pindah di Kayu Aro pd tahun 2009 setelah kejadian gempa Padang yang mengakibatkan rumahnya rusak parah, hingga keluarga mereka pindah dan membeli rumah didaerah Batu Lapang
Singkat cerita Linggar mulai mengenal satu persatu orang disekitar, dn salah satunya adalah Oki, Oki memang jauh lebih tua dari Linggar, Oki saat itu sudah kelas 2 SMA sedangkan Linggar masih kelas 3 SMP, tp karena badan Linggar besar, wajahnya punterlihat sama udia dengan Oki
Hingga pada suatu ketika mereka berdua memutuskan untuk ikut pada sebuah padepokan/perguruan silat Langgam Jiwo (bukan nama asli). Setahun berlalu ilmu tenaga dalam mereka semakin terasah, hingga mereka diajukan menjadi penari pada setiap acara Jaran Kepang
Mulanya, Oki dan Linggar hanya menjadi penari biasa saja, hingga mereka berdua bertekad untuk membuka "Kurungan" atau semacam membuka isian yang dijadikan sebagai penjaganya
Membuka Kurungan sendiri bukanlah sesuatu yang mudah, ada beberapa ritual yang harus-
dilsayakan dan juga pantangan yang harus tetap dijaga (koreksi jika berbeda dengan aturan buka Kurungan di padepokan lain)
------------------
Chapter 2 - Mustika Pertama
------------------
2 hari berlalu, Oki dan Linggar belum lama pulang dr sekolah, aktivitas seperti biasa, duduk santai diruangan depan sembari menyesap rokok dan kopi hitam mereka
(Maaf klo lama, lnjut ntar malam)
Tak berapa lama kemudian datang teman mereka yang lain, Karto, Erik, dan Alex, mereka bertiga termasuk dalam padepokan Langgam Jiwo yang juga sama-sama menjadi seorang penari
Kurungan merekapun berbeda-beda, Salah satu yang diketahui adalah Karto, dia didampingi oleh Banaspati sedari dia masih kecil (menurut cerita Oki)
Diantra mereka berlima Karto-lah yang memiliki khodam paling tua yang didapat bukan dr padepokan, melainkan adalah sebuah turunan dari sang Kakek
Obrolan ringan pun dimulai, hingga mereka terhenti pada obrolan yang cukup membuat semuanya berpikir
"Eh, nek awak narek pie?" (Eh kalau kita narik gimana?) tanya Alex yang tiba-tiba bertanya tentang masalah me-"narik"
Dalam dunia padepokan Langgam Jiwo, (mungkin di tempat lain juga) Narik adalah sebuah aktivitas mengambil pusaka atau harta yang tak kasat mata, baik dengan izin atau pun secara paksa
Alex sendiri ingin menguji kemampuannya yang sudah lama ia asa selama beberapa tahun belakangan
Selain untuk menambah ilmu bagi Alex, pusaka yang diincar juga bisa dijadikan uang, dan dijual ke tempat penadah benda keramat
Beberapa yang pernah Alex tarik adalah salah satunya Koin Emas bergambar Soekarno
Alex menjual koin itu dengan harga yang cukup fantastis, berkisar 500rb/keping
Berbeda dengan koin asli yang dikeluarka Bank Indonesia
Koin yang Alex dapat semacam koin yang sengaja ditanam dan ditutupi ajian agar tidak ditemukan orang lain
Namun sayangnya Alex terlalu kalap hingga hal ini menjadikan bomerang bagi dirinya
Selama 3minggu Alex tidak bisa keluar dari rumahnya, hal yang buruk saat itu adalah, ia selalu berteriak minta tolong
Entah kepada siapa, saat didatang Pak Men, pemilik padepokan Langgam Jiwo
Pak Men malah merasa geram dengan kelsayaan Alex
Pasalnya ia tidak memberi tahu kepada Pak Men bahwa dirinya telah menarik Benda Gaib yang seharusnya masih berada ditempat
Untuk balasan atas kesalahan itu Pak Men tidak mau menolongnya
Kembali ke pembicaraan
Karto, Erik, Linggar dan Oki terkejut mendengar penyataan Alex yang ingin kembali Narik
"Koe wes pernah mangan Ginjal bakar gak lex?"(kamu udah pernah makan ginjal bakar gak lex?) sahut Karto yang gemas dengan ucapan Alex
"Ehem, kalian lai bisa pakai baso indonesia raya se nak kok ndak dapek baso minang, kalian kiro den asbak disiko?" (Ehem, kalian bisa kan pakai bahasa indonesia raya saja kalau gak bisa bahasa minang, kalian kira saya asbak disini"
kata Linggar yang juga ikut geram bukan karena alex melainkan karena teman-temannya menggunakan bahasa jawa, dan ia merasa asing
"Iya wes, kita bahasa Indonesia raya saja," kata Erik setuju dengan medok jawanya
"Jadi gini ya lex, Pertama, Pak Men udah kecewa sama kamu karna kamu narik gak minta izin dulu, kedua, kamu narik ditempat yang salah," lanjut Karto menyanggah ajakan Alex tadi
"Ya udah kita minta izin aja sama Pak Men!" tegas Alex. Sedangkan yang lain hanya mendengarkan tanpa bersuara
"Loh kok malah minta izin! Alasannya apa coba kita narik?" Jawab Karto
"Ya kamu tau, alasannya cuma duit apa lagi?" kata Alex dngan gayanya yang memang tengil
"Wah, ajor iki cah, wes, konco utek e dempet nang silet yo ngene" (wah, rusak ini, temen otaknya dempet di pantat ya gini) sahut Karto tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sikap Alex yang terlalu egois
"Lah emang mau narik dimana dan apa?" Tanya Linggar tiba-tiba setelah terdiam sesaat, yang lain terbelalak heran mendengar Linggar yang seakan penasaran dengan niat Alex
"saya pengin merah delima di danau pecco" jawab Alex serius tanpa senyum dan dengan nada datar
"Lah ngapain narik kalau gitu, dipasar yang jual juga banyak ditoko cincin" kata Linggar polos
"Bukan yang itu Nggar, ini merah delima asli, kabar yang beredar, ditengah padepokan sebelah, cuma ada beberapa merah delima asli yang ditanam oleh ajudannya S******o,
terlepas siapapun yang menanam saya gak perduli, tp yang jelas itu mahal dong, selain mahal juga berkhasiat," jelas Alex sembari menyesap rokok yang hampir memutung
"Gini deh lex, pikiranmu kenapa keduit terus sih?" Tanya Karto lagi
"Semua manusia butuh uang kali Kar, santai aja sih," jawab Alex masih tetap tengil
Karto terdiam sesaat, seolah sedang memikirkan sesuatu, hingga akhir keluar kalimat dari lisannya dengan nada menantang
"Oke saya ikut!" Kata Karto, membuat ke empat temannya bereaksi heran, bukankah tadi Karto yang menahan niat Alex untuk kembali melsayakan aktivitas menarik benda pusaka, dan sekarang malah dia ikut-ikutan ingin melsayakannya
"Serius Mas?" Tanya Oki menyelidik mendekatkan wajahnya -
-ke arah Karto
"Iyo, tapi dengan syarat," jawab Karto
"Yah, ninggo syarat cok, opo syarate?" (yah, pake syarat cok, apq syaratnya?) sahut Alex bertanya
"Iyo lah, harus iku, syarate simple, saya gak mau kalau cuma merah delima yang diambil, lah wong disana banyak mustika kenapa
-harus ngambil satu toh," jelas Karto
"Emang enek opo ae?"(emang ada apa aja) tanya Oki penasaran, sedang Linggar kembali meng-Ehem, tanda harus kembali dengan bahsa indonesia agar dia jelas
"Banyak pastilah yo, tapi katanya yang paling mantab cuma 4, ada keris pasti itu,
ada Popok Wewe, ada batu MD, nah yang satu saya lupa," jelas Karto
Mendengar penjelasan itu keempat teman Karto berpikir dalam-dalam, benda sebagus itu sangat mahal dan tentu sangat berkhasiat bagi mereka
Ditambah mereka semua mendengar kata Popok Wewe, itu adalah yang paling-
-diidam-idamkan oleh banyak murid padepokan
(Ingat Thread saya yang sebelumnya mengenai Popok Wewe? Khasiatnya ada di thread ini)
"Uda gini aja, nanti malam kita ke pecco, kita pastikan aja, ada apa aja disana, setuju?" Ajak Linggar yang mimik wajahnya terlihat sumringah
"saya gak ikut yo, nenekku lagi sakit, gak bisa ditinggal" kata Erik
"Yawes rapopo, salam wae nggo uwek"(ya udah gak apa, salam aja buat nenek) sahut Karto menenangkan
"Mantab iku, ya wes nanti malam kita kumpul dirumahmu ya Ki," jawab Alex yang sekarang terlihat lebih senang
"Jangan lupa, siapin minyak, karo bontot, mana tau ngeleh mengko Lex," (jangan lupa, siapin minyak, sama bontot, mana tau lapar nanti lex) kata Karto kepada Alex hanya untuk mengingat apa saja yang aa dibawa
(masih lanjut di chapter 1, 🙏lanjut besok, ngantuk ngger, bertemu dimalam minggu nggeh🙏)
Adzan isya sudah bergema dipenjuru desa, dan tibalah saatnya mereka akan memastikan mustika apa saja yang ada di Aroma Pecco
Mereka sudah berkumpul sedari maghrib, terkecuali Erik yang tidak bisa ikut karena neneknya yang sedang sakit
Jam sudah menunjukan pukul 8.30 malam
Motor sudah dinyalakan, mereka mulai melaju menuju Aroma Pecco
Ditemani dengan malam yang gerimis tidak membuat mereka mengurungkan niatnya
Belum terlalu malam untuk mengeksplor apa saja yang ada disana,
"kuntilanak juga isih dandan yamene" (kuntilanak juga masih dandan sekarang) kata Alex kepada Karto dengan nada tengilnya, meskipun sebenarnya diantara mereka berempat Alex lah yang paling pensayat, tapi mulut besarnya itulah yang membuat orang lain menganggap bahwa Alex adalah
pemberani
Seketika Alex berkata "kuntilanak juga isih dandan yamene" (kuntilanak juga masih dandan sekarang) kata Alex kepada Karto dengan nada tengilnya, meskipun sebenarnya diantara mereka berempat Alex lah yang paling pensayat, tapi mulut besarnya itulah yang membuat orang -
- lain menganggap bahwa Alex adalah pemberani
Seketika Alex berkata seperti itu, mata Karto tertuju dipersimpangan desa sebelum sampai di Aroma Pecco, ya, itu adalah persimpangan Bento
Karto terkejut melihat sosok yang sudah sangat familiar baginya, sosok yang sangat ditsayatkan
oleh banyak orang karena penampilannya, bukan kuntilanak melainkan Pocong, sosok ini memang sering menampakan dirinya dipersimpangan itu, dan kabarnya ia jail dengan orang yang berhenti dipersimpangan itu, baik itu hanya sekedar nongkrong atau hanya sekedar berteduh ketika hujan
"Lex guleng lex!" Teriak Karto keada Alex, sedangkan Oki dan Linggar masih tertinggal dibelakang
"Anj**g!!! Tenane koe, gas Kar GAS!!!" (Anj**g!!! Serius kamu, gas Kar GAS!!!) Sahut Alex histeris ketsayatan
Meskipun berilmu tapi melihat sosok serupa dengan Pocong, tetap saja -
-mereka ketsayatan
"Cangkemmu Lex, elek mbanget!" (Mulutmu lex, jelek banget!) kata Karto
Entah karma dari ucapan Alex atau memang sial, Karto justru sekarang merasa tsayat, Keringat dingin keluar dari lehernya
Sesampainya di Aroma Pecco, Alex dan Karto mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuhnya dipondok tempat peristirahatan para pengunjung wisata pada siang harinya
Tak lama kemudian, Oki dan Linggar pun datang, gerimis sudah mulai berhenti, mereka menunggu agar sedikit lebih malam untuk melanjutkan niatnya
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam, sudah cukup malam untuk mulai beraktivitas
Karto dan yang lainnya mengambil langkah pergi menuju arah "Blek Kulon" /sumur yang arah kebarat
Disana Karto menyuruh yang lainnya untuk tetap merapal agar tidak mengundang isiannya
Sunyi mulai menemani malam mereka, suara semilir angin berhembus, menambah keseraman bagi Alex, buluk kuduknya mulai berdiri, tp dia tetap pandai menyembunyikannya
Tak ada yang bicara, hanya batin mereka yang bersuara
Nahas, 1, 2, 3, Boo! Alex tak sadarkan diri
Tergeletak dan akhirnya dia dimasuki sosok perempuan, salah satu penunggu tempat itu,
"Pie le? Gelem popok wewe?"(gimana nak? Mau popok wewe) kata sosok yang ada pada diri Alex, hingga setelahnya tertawa tak karuan dan kemudian diam
Karto masih tetap fokus dengan kerjaannya, sedangkan Oki dan Linggar menemani Alex yang tak sadarkan diri
Sukma Karto berkelana mencari apa saja yang ada didalam tempat itu, hingga ia bertemu dengan penunggu danau (sama seperti yang ada pada thread sebelumnya) ular besar yang-
-melingkari danau Aroma Pecco
"Rak usah nggolek molo, muleh kono, ora usah diganggu opo sing wis ono nang kene"(gak usah cari perkara, pulang sana, gak usah diganggu apa yang sudah ada disini) kata Ular besar itu kepada Sukma Karto
"Nggeh Mbah, kulo wangsol rien"(baik mbah, saya pamit) kata Sukma Karto
Sebelum Sukmanya kembali keraga Karto, ia melihat sesuatu yang sangat menarik, berada diatas pohon, namun dijaga oleh sosok yang mengerikan, serupa perempuan tua yang sangat kucel
"Kui mesti popok wewe" (itu pasti popok wewe) batin Karto
Hingga ia kembali ke raganya
Kala matanya terbuka, sosok hitam besar, mengejutkan dirinya, "MULEH!!!" Bentak sosok itu tetap didepan matanya
Karto ingat betul, matanya merah, bertaring dan sangat bau
Karto beringsut mundur satu langkah, tak menjawab
"Kar, Alex, ngulah"
"Oh ca pant*k terae"(oh emang anak pant*k) maki Karto
Karto mendekatinya dan tak berapa lama Alex kembali sadar, nafasnya cepat, seperti habis berlari jauh
"Mulih yok, sing ndue ngamok,"(pulang yok, yang punya marah) kata Karto, Oki dan Linggar yang dari tadi terdiam, hanya mengangguk pertanda setuju
"Kok mulih, enek popok wewe nang nduwor wet iku"(kok pulang, ada popok wewe di atas pohon itu)
sahut Alex sembari menunjuk salah satu pohon yang ada dsekitar mereka
"Wes rak sah golek molo ke, wes tak omong fokus, mulo nak wden iku ojo mbok tahan" (udah gak usah cari perkara, udah ku bilang fokus, makannya kalau tsayat itu jangan ditahan) kata Karto geram "saiki muleh sek,
- enek seng harus tak omongke"(sekarang pulang dulu, ada yang harus saya omongin) lanjut Karto berdiri dan berjalan menuju ke motor mereka, diikuti oleh yang lain
Alex hanya terdiam tak menjawab, ia merasa sedikit bersalah karena tidak fokus dengan tujuan utama
Lanjut besok malam nggeh🙏 soalnya ada kerjaan yang numpuk😁🙏
(Selamat malam, Lanjut yuk)
Malam itu mereka kembali kerumah masing-masing, Karto belum membicarakan apa yang sebenarnya akan dia bicarakan
Menimbang cuaca kembali tidak bersahabat
Tidak terjadi apa-apa saat mereka pulang dari Aroma Pecco
Namun, sepanjang perjalanan menuju kerumah, Karto tidak bicara satu kata pun, meski Alex mengajak Karto berbicara, ia hanya terdiam membisu tak menjawab apapun
Mereka sudah sampai dirumah masing-masing, malampun dilalui dengan tenang, tak ada gangguan, kecuali Karto
Hingga ia tiba dirumah, ia masih terdiam, ada yang dipikirkannya, banyak sekali kalimat yang berkecamuk dalam otaknya
Terlebih ketika ia bertemu dengan Ular penunggu danau Aroma Pecco
Tak sedetikpun Ular itu menghilang dari pikirannya
Karto mulai memejamkan mata, berikhtiar, memanjatkan puji-pujian, dan meminta petunjuk, sebenarnya apa yang ia pikirkan
Pikirannya kembali mengembara ke danau itu
Kala matanya terbuka, sosok hitam besar dengan mata merahnya itu kembali muncul didepan matanya
Sontak Karto terkejut dengan apa yang ia lihat, sosok itu hanya diam dan menatap Karto dengan mata merahnya
Karto hanya terkejut, dia tak tsayat, untuk malam ini dia mengejutkan Karto kedua kalinya, hingga dia bersuara tanpa membuka mulutnya
"Melu saya"(ikut saya) kata sosok hitam itu, ya, wujudnya serupa Genderuwo, tapi tak bisa meyakinkan, apa benar itu genderuwo atau tidak
Karto hanya diam dan mengikuti sosok itu keluar dari kamarnya
Ia seolah terhipnotis dengan apa yang sosok itu ucapkan, berjalan menyusuri malam yang gelap, entah sudah sampai mana ia berjalan,
hingga ia berhenti pada sebuah pohon tinggi, tidak besar, dan sedikit berwarna putih, sesuai warnanya, pohon itu disebut dengan nama Kayu Puteh
Karto terbelalak, heran, kenapa dia bisa berada disana, hingga ia sadar bahwa dirinya berada di Kayu Puteh
Seolah disambut oleh tuan rumah, kedatangan Karto disambut oleh sosok hitam lagi, tapi kali ini lebih besar badannya, matanya sama seperti yang sebelumnya merah menyala,
namun taringnya lebih panjang, bahkan hampir panjang hampir sampai kakinya
Sosok itu cukup membuat nyali Karto menciut, keringat dingin bercampur dengan angin yang semilir semakin membuat tubuh Karto tidak karuan
(Hape saya tadi mati, maaf😁)
Tidak hanya itu, disekelilingnya terdapat sosok seram yang lain, mungkin itu selirnya, ada sosok perempuan dengan pakaian khas jawa, parasnya cantik dan anggun, menggunakan selendang dilehernya dan berdiri mematung dengan senyum yang mengerikan, meski cantik tetap saja dia bukan-
-manusia, Karto meyakini itu (kalian bisa membayangkan sendiri wajahnya)
Sosok hitam besar yang berada dirumah Karto tak nampak saat ini, mungkinkah dia berubah menjadi sosok yang lebih menyeramkan seperti yang ada didepan matanya saat ini? Karto tidak tahu sama sekali
"Nuwunsewu, ono opo kulo digowo ing kene?"(maaf, ada apa saya dibawa kesini) tanya Karto tegas, ia tsayat, tapi tidak terlalu tsayat dan masih berani untuk berbicara
Sosok itu tidak menjawab, masih menatap diam dengan wajah yang menyeramkan, tak lama kemudian, sosok perempuan yang ada disekelilingnya melambaikan tangannya seolah meminta Karto untuk mendekat, lambaian tangannya luwes bak seorang penari, tidak hanya satu ada 7 -
-sosok perempuan dengan pakaian yang sama dan wajah yang berbeda beda
Karto perlahan mengambil langkah untuk mendekat, satu dua langkah terpaksa ia tapaki, hingga kini Karto berada tepat didepan sosok hitam menyeramkan itu
"ADUS!" Jawab sosok hitam itu tanpa membuka mulutnya, suaranya bergema, hingga perlahan sosok itu menghilang lenyap entah kemana, Karto yang hanya diam mengamati, ternyata iya menemukan sebuah sumur kecil (mirip dengan sumur yang ada diperkebunan, tempat petani-
-menyimpan air) yang dialiri sebuah mata air, Karto sangat ragu antara menuruti sosok ini atau bukan, dalam pikirannya berkecamuk, iya atau tidak, saling bergelut dalam pikirannya, jika ia tidak melsayakan apa yang diucap sosok itu, jelas saja ia akan kembali diikuti oleh-
-makhluk yang jelas saja tidak patut untuk dijadikan teman bicara
Tanpa pikir panjang, Karto membuka semua pakaiannya hingga tak sehelai benang pun ada ditubuhnya
Saat ia mulai mendekat, ia dikejutkan dengan jatuhnya sebuah benda didalam sumur itu, seketika itu pula, air didalam-
sumur bercahaya, dan benda yang jatuh itu adalah 7 buah jeruk nipis, Karto semakin tidak kuat menahan dingin saat ini, tak perlu berlama-lama dan tak perlu memikirkan dari mana asal semua ini, yang dipikirannya hanyalah lekas selesai dan lekas pulang,
setidaknya ia menemukan sesuatu di Kayu Puteh
Setelah air mulai dicampur dengan air jeruk, satu siraman air dari tangan membasahi kepala Karto, seketika itu pula, semua penghuni tempat muncul, baik dari memedi kelas amatir hingga kelas kakap, termasuk pula yang sangat Karto-
-tsayati, bungkusan berwarna putih as pocong
Makhluk-makhluk ini seakan sedang menonton sebuah pertujukan, diam dan menikmati
Karto sudah mulai menggigil, tak tahan lagi harus berada didalamnya, hingga ia beranjak dari sumur itu,
saat itulah pertanyaan Karto terjawab
Sosok hitam tersebut menghantarkan Karto kesebuah mustika berwarna hijau, entah apa namanya? Sejenis batu berwarna hijau, Karto tidak bisa memastikan itu batu apa, tetapi, pada saat digenggam, tangan karto terasa hangat, tidak panas,
hanya hangat, dan menjalar keseluruh tubuh, badan yang awalnya menggigil menjadi hangat, tidak panas tidak pula dingin, hal itu terjadi selaras dengan perginya makhluk-makhluk yang tadi sempat menonton Karto mandi
Karto yang seakan sumringah melihat apa yang dia dapat,
segera ia memakai pakaian dan pergi menuju pulang kerumahnya
Sial, perjalanan yang harus dihadapi karto sangatlah jauh, ia harus berjalan kiloan meter untuk sampai kerumah, ada rasa geram karena dituntun ketempat yang cukup jauh,
entah berapa puluh dedemit yang ia temui, mulai yang standar baginya hingga yang paling Karto tsayati
Meski tsayat, apalah yang bisa ia perbuat selain menahan dan mempercepat jalannya
Lebih dari satu jam ia berjalan, hingga akhirnya ia sampai didepan pintu rumah
Sebelum ia masuk kedalam rumah, terdengar suara berbisik ditelinganya
"Ojo dicolno" (jangan dilepaskan) suara yang entah dari mana datangnya, Karto tersentak dan buru-buru masuk kedalam rumah, saat melihat jam, sial, sudah hampir subuh
"Seko endi koe Kar?"(darimana kamu Kar?) tanya Bapaknya yang keluar dari kamar
"Oh, seko gene Oki pak, enek perlu nggo acara sesok pak, kok wes tangi pak?"(oh, dari tempat Oki pak, ada perlu untuk acara besok pak, kok udah bangun pak?) jawab Karto seraya bertanya
"Mripate rak ndeleng po, ki wes arep suboh, arep nggugah menungso deso ndisit"(matanya gak liat apa, ini sudah mau subuh, mau membangunkan manusia desa dulu) jawab Bapaknya sembari berjalan kekamar mandi untuk mengambil air wudhu
Karto langsung masuk kedalam kamar,
sembari menunggu adzan subuh, ia memandangi benda yang ia dapat,
"Nak emang koe apik, tetap mbek saya, nak koe elek, lungo seko uripku"(kalau emang kamu baik, tetap bersamsaya, kalau kamu buruk, pergi dari hidupku) kata-
Karto membatin sembari menatap mustika itu sebelum ia meletakannya kedalam kotak berisi pusaka yang ia kumpulkan sembari mengucap Bismillah
------------------
Chapter 3 - Mustika Kedua
------------------
(Sepertinya harus dilanjut besok deh, nggak ngerti kepala mendadak puyeng+mual, terimakasih yang masih setia menunggu, ceritanya masih panjang semoga gak bosan untuk tetap membaca, kita ketemu 2 hari lagi)
Satu jam lagi yaa, jam 11 kita mulai, pas malam jumat😁
Keesokan harinya, tepat selepas sholat ashar, Karto pergi kerumah Oki. Sesampainya disana, seperti biasa Oki masih bergulat dengan kasurnya. Merangkai mimpi diatas pulau kapas yang ia sebut dengan tahta.
“Heh! Tangi!”(heh! Bangun!) kata Karto yang sontak mengejutkan Oki dan membuat ia terbangun dari mimpinya.
“Pant*k! Opo sih mas, ngganggu tenan,”(Pant*k! Apa sih, mengganggu sekali) jawab Oki yang separuh sadar.
“Eh! Tangi toh, saya nggowo kopi iki, enek seng atek tak omongke mbek kue, serius, ini tentang Alex,”(eh! Bangun toh, saya bawa kopi ini, ada yang mau saya omongin sama kamu, serius, ini tentang Alex) terang Karto yang membuat Oki terpaksa untuk bangun dari tempat tidurnya dan
pergi ke belakang sekedar mencuci muka, dan membuat kopi yang sudah dibawa oleh Karto.
Setelah selesai, kopipun sudah bisa diminum dan dinikmati bersama, Karto mulai membuka pembicaraan dengan menyesap rokok yang ia nyalakan beberapa detik yang lalu.
“Jare arep ngomong tentang Alex?!” (katanya mau ngomong tentang Alex,) tanya Oki yang mulai geram dengan basa-basi Karto.
“Iki jane uduk masalah Alex, sih, tapi masalah mau mbengi,” (ini sebenarnya bukan masalah Alex, sih, tapi masalah tadi malam) terang Karto.
“Pie? Pie?” (gimana? Gimana?) tanya Oki menyelidik.
“Mau mbengi saya dituntun karo wong ireng, koyok genderuwo ngono kae lah,
saya digowo neng Kayu Puteh, dan ke ngerti opo sing tak intokke seko kono,” (tadi malam saya dituntun sama orang hitam, kayak genderuwo gitu lah, saya dibawa ke Kayu Puteh, dan kamu tau apa yang saya dapatkan dari sana,) Oki hanya memandang dan menunggu Karto melanjutkan ucapannya,
“saya nemu watu Ki, ijo wornoe tapi ora weroh jenenge,”(saya dapat batu Ki, hijau warnanya tapi nggak tahu namanya) lanjut Karto sembari melihatkan batu yang ia dapat semalam.
Oki yang melihat batu itu, melihat dan menyelidik, bertanya-tanya , batu apa itu? “opo iki nogo sosro mas?”(apa itu nogo sosro mas?) tanya Oki, sembari mengamati batu berwarna hijau itu
“Upilmu kui, nogososro kok ijo! emboh saya ra weroh opo jenenge, sing jadi masalah iki, uduk jeneng batune, tapi isine,” (Upilmu itu, nogososro kok hijau, nggak tau saya apa namanya, yang jadi masalah bukan nama batunya, tapi isinya) kata Karto serius.
“Kok panas yo mas, isine koyoke wong gedi iki mas”(kok panas ya mas, isinya kayaknya orang besar ini mas) kata Oki sembari merasakan apa yang ada didalamnya dan menggenggam batu itu.
“saya wedi e Ki, saya wedi nak iki elek, nak apik rapopo,”(saya tsayat e Ki, saya tsayat kalau ini buruk, kalau baik gapapa,) kata Karto sedikit memasang wajah cemas.
Ia masih tetap tsayat, karena baginya, jin seperti ini tidak pernah bisa di tawar-tawar,
kecuali dia sudah mendapatkan apa yang ia mau, dan biasanya akan terlihat aslinya ketika dia sudah berbuat onar.
“Koyok e, niat nggo narek MD neng Pecco dibatalke wae lah yo Ki, saya nggak yakin soale,”
(Kayaknya, niat untuk narik MD di Pecco dibatalkan saja lah ya Ki, saya nggak yakin soalnya) lanjut Karto.
“Podo mas, iki koyok e nak dilanjutke iso jadi pekoro iki mas, ngerti dewe toh mas, Alex ke pie boca e, nak wes ndue karep, mboh pie carane bakalan lanjot cah kae mas,
mung yo saya juga emoh nek cah kae knek opo-opo,”(Sama mas, ini kayaknya kalau dilanjutkan bisa jadi perkara ini mas, tahu sendiri toh mas, Alex gimana anaknya, kalau sudah punya keinginan, bagaimanapun caranya harus lanjut anak itu mas, tapi ya saya juga nggak mau kalau anak itu-
-kena apa-apa) jawab Oki, sembari menikmati rokok dan kopinya, memasang raut wajah yang juga ikut cemas.
“Lah yo iku, nyegah e pie, cah kae nak ra enek awak, yo bakalan nggolek sing lio, rak eleng kue pie dee pas narek emas kae pie? Awak rak enek,
-yo dee nekat karo padepokan sebelah, ncen cah kae golek molo wae kerjanane,”(Lah ya itu, mencegahnya gimana, anak itu kalau gak ada kita, ya bakalan nyari yang lain, nggak ingat kamu gimana dia waktu narik emas itu gimana? Kita gak ada, ya dia nekat sama padepokan sebelah, emang
anak itu cari perkara aja kerjaannya) ujar Karto panjang lebar.
Benar sekali, diantara mereka berlima Alex adalah sosok yang paling susah diajak kompromi, dan pada intinya dia sangat egois. Apapun akan dia tempuh walau harus menahan ketsayatan.
Alasannya cuma satu, uang, uang dan uang.
Tak berapa lama, Oki beranjak dari tempatnya, dan mengambil kalender. Tepat sekali, malam nanti adalah malam selasa kliwon. Saat dimana rakyat dedemit keluar(infonya ini didapat dari penuturan Karto sendiri).
“Mengko mbengi kliwon mas,”(nanti malam kliwon mas) kata Oki yang datang dan membawa kalender yang diambil dari dinding rumahnya. Karto yang tekejut, langsung merebut kalendernya dan memastikan kebenaran yang dikatakan Oki.
Wajah Karto sontak berubah menjadi semakin cemas.
Alex tentu saja sudah tahu tentang malam ini, dan hingga sekarang dia tidak ada muncul. Mungkinkah Alex sudah mencari teman lain untuk tetap melsayakan niatnya mengincar semua pusaka yang ada disana.
“Koe rak enek ketok Alex po?”(kamu nggak ada liat Alex apa?) tanya Karto setelah-
-menghembuskan nafas berat.
“Ora mas, kan saya micek mau,”(nggak mas, kan saya tidur tadi) jawab Oki.
“Iki kudu dicegah Ki, nek ora, mboh bencana opo sing bakal kedaden”(ini harus dicegah Ki, kalau tidak, entak bencana apa yang bakalan terjadi) kata Karto serius.
“Bencana pie mas, kok ngawur riko nak ngomong,”(Bencana gimana mas, kok ngawur anda kalau bicara) jawab Oki.
“Kae sing jogo MD, ulo sing njogo pecco, pas saya nerawang wingi, saya diparani mbek Ulo iku, ijek kelingan kue, jarene Dalan Putos kae isone putus mergo nogo,
sak ngertiku, siji-sijine ulo sing pacakane koyok nogo yo mong enek nng Pecco iku Ki,”(itu yang jaga MD, ular yang menjaga Pecco, waktu saya nerawang kemarin, saya didatangi sama ular itu. Masih ingat kamu, katanya Dalan Putos itu bisa putus karna ulah Naga,
sepengetahuanku, satu-satunya ular yang bentuknya seperti naga, ya cuma ada di Pecco itu Ki,) terang Karto menjelaskan kepada Oki. “Nak sempert Alex nekat, teros sing ndue rak terimo, danau pecco iku tumplek neng desone dewe, lah po yo ora bencana jenenge,”
(Kalau sampai Alex nekat, terus yang punya nggak terima, danau pecco itu jatuh ke desa kita, lah apa itu buka bencana namanya,) lanjut Karto menjelaskan.
Karto nampak sekali cemas dengan apa yang akan terjadi, walaupun semua itu bisa saja tidak -
-terjadi, Karto hanya tsayat, karena ulah satu orang, warga sekitar bisa menjadi dampaknya. Lagi dan lagi, Karto selalu meyakini, Jin tidak pernah bisa ditawar-tawar sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
Pikiran Karto menjadi buntu, cemas sekali rasanya, tidak bisa lagi Karto berpikir dengan tenang jika sudah menyangkut penunggu ditempat yang jelas-jelas sudah tua. Hal yang tidak diinginkan tentu saja bisa terjadi. Walau kemungkinannya hanya 1%.
Mendadak saja, ketika pikiran Karto berkecamuk, batu yang berada dimeja, tiba-tiba saja bergetar dan berubah warna menjadi merah kehitaman, seperti merah darah kental. Sontak saja hal itu membuat keduanya beringsut mundur. Tsayat, heran dan terkejut. “apa yang terjadi”
Oki yang terparangah melihat hal itu tidak tahu harus berbuat apa, Karto yang iku terkejut melihat hal ganjil itu, juga tahu harus berbuat apa
"Awak gowo gene Pak Men wae mas ngko mbengi"(kita bawa saja ke tempat Pak Men nanti malam) kata Oki yang wajahnya sangat memucat
"Yo rak iso, iki seloso kliwon, wonge yo metu"(ya gak bisa, ini selasa kliwon, orangnya ya keluar) jawab Karto yang juga masih cemas
Oki yang mendengar jawaban itu kembali terdiam dan kembali berpikir
Batunya masih menyala berwarna merah, dan masih bergetar, tidak tahu apa yang terjadi dengan batu itu, Karto mengamati batu itu dengan wajah khawatir
Membatin rapalan yang ia ketahui
Mata Karto mulai tertutup
Tak berapa lama batu yang semula memerah serupa darah kini makin mengerikan, batu itu berubah menjadi hitam kelam, pekat sekali
Melihat hal itu Karto menjadi geram
Ia raih batu yang berada diatas meja itu, namun, hal yang lain malah terjadi, batu itu justru seperti sedang berada
dalam api yang besar
Panas sekali, tangan Karto seakan melepuh, meskipun tidak secara fisik
"Ki, guangen wae lah iku watune, pant*k tenan kok,"(ki, buang sajalah batunya, pant*k bener kok) ujar Karto memaki batu itu
"Weh! Wegah! Wedi! Dudu hakku ngguang kui mas"(weh! Wegah! Tsayat! Bukan hakku membuang itu mas) jawab Oki ketsayatan
Dengan terpaksa Karto melepas bajunya, dan mengambil dengan beralaskan baju yang ia kenakan
Usahanya sia-sia, baju yang ia gunakan untuk alas tangan, juga ikut panas
"Wes ngene ae lah Ki, batune koe sing nggowo, ora panas ora nak dicekel koe, bar iki awak lungo gene Pak Men, saiki wae, wes muleh ladang koyok e wonge"(udah gini aja lah Ki, batunya kamu aja yang bawa, nggak panas nggak kalau dipegan kamu, habis ini kita tempat Pak Men) ujarnya
"Yo wes yo"(ya udah yok) jawab Oki
Mereka berduapun pergi kerumah Pak Men, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Oki, tapi tetap harus menggunakan motor agar tidak terlalu lama sampai, jaraknya hanya satu kilometer saja dari rumah Oki
Diperjalanan Oki serasa melihat hal ganjil
Benar dugaan Oki, batu itu ditunggu oleh sosok hitam besar, persis seperti yang dideskripsikan oleh Karto
Oki tidak bersuara, dia hanya diam dan menunduk saja
Tidak lama mereka sampai di rumah Pak Men
Benar Pak Men sudah berada dirumah, bahkan baru sampai dirumah
"Kulonuwon" kata Karto dan Oki mengucap salam
"Monggo, nang dapor Kar, Ki,"(monggo, didapur Kar, Ki) jawab Pak Men yang berteriak dari arah dapur
Mereka langsung masuk kedalam dapur, dan bersalaman dengan Pak Men
"Baru muleh, Pak?"(baru pulang, Pak?) kata Oki membuka percakapan
"Iyo Ki, kesel, nyemprot gene Mbah Paidan"(iya Ki, capek, nyemprot tempatnya Mbah Paidan) jawab Pak Men "sek tak gaweke kopi sek,"(sebentar saya buatkan kopi dulu) lanjut Pak Men beranjak dari duduknya
"Nggak usah Pak, awak bar ngopi ntes"(nggak usah Pak, kita baru saja ngopi)
kata Oki
"Wes meneng toh, antengo neng kene, enak-enak kopiku, rak kalah mbek gene Mak Jum"(sudah diam toh, tenang saja disini, enak-enak kopiu, gak kalah sama punyanya Mak Jum) sahut Pak Men
"Sakjane loh Pak..."(sebenarnya loh Pak...) kata Karto terpotong
"Wes.. saya wes weroh"
(Sudah. saya sudah tahu) potong Pak Men, "mulo ngopi ndisek men sing cerito iso anteng, koe arep ngomongke watu iku toh"(makannya ngopi dulu biar cerita bisa tenang, kalu mau ngobrolin batu itu kan) lanjut Pak Men menebak tujuan mereka
Oki dan Karto sudah tidak heran dengan kelebihan Pak Men yang mengetahui tujuan kedatangan mereka
Mereka hanya diam sembari menunggu kopi mereka datang, ya itu kopi kedua untuk sore ini bagi mereka
(Break ya, kosanku banjir, 😭lanjut besok selepas isya Insha Alloh)
"Jadi pie arepan?"(jadi mau gimana?) tanya Pak Men sembari menyuguhkan kopi untuk mereka
Pak Men juga tidak ketinggalan dengan kopinya sendiri
"Ngene loh Pak, saya bingong, ora enek angen ora enek gludok, batune murop dewe pak, tros jadi ireng koyok ngene iki"(gini loh Pak,-
-saya bingung, nggak ada angin nggak ada petir, kok batunya menyala sendiri, terus tau-tau jadi hitam begini pak) jawab Karto menceritakan kronologis singkat dan melihatkan apa yang terjadi dengan batu itu
Pak Men memegang batunya, dan tidak ada reaksi apapun darinya
Ia hanya memandang seolah mengamati apa yang ada didalam batu itu
"Batune ora popo, isine sing nggawe molo, iki iso jadi apik yo iso jadi elek, yo tergantong kue, mung iki awale elek"(batunya gak apa-apa, isinya yang bikin perkara, ini bisa jadi baik ya bisa jadi buruk, tergant-
-ung kamunya gimana) tutur Pak Men menjelaskan
Oki dan Karto hanya mengernyitkan dahinya seolah tak paham
"Pie sih Pak? Rak dong saya ee"(gimana sih pak? Gak paham saya) tanya karto kebingungan
"Intine batune simpen wae, men tinggal sek neng kene, sesok wes maleh koyok pertama,"
(Intinya batunya simpan aja, biar tinggal disini dulu, besok sudah balik kayak semula) jawab Pak Karto mencoba meredam kebingungan Karto juga Oki
"Oh yo lah pak," kata Karto "oh iyo pak, iki masalah Alex, de e arep jokok MD nang pecco"(oh iya pak, ini masalah Alex, dia mau ambil-
-MD di Pecco) lanjut Karto
"Jarke wae, nganti tuek rak bakalan MD iku munggah, ngko bar isya mrene, kancani saya rono, awak deleng ca kae narek,"(biarkan saja, sampai tua gak bakalan MD itu keluar, nanti selepas isya kesini, temani saya kesana, kita liat mereka narik) ujar Pak Men
"Berarti de e wes oleh konco Pak?"(berarti dia udah dapat teman Pak?) tanya Oki
"Kok leh heran, koyok ra weroh cah kae pie,"(kok ya heran, kayak gak tau dia gimana) jawab Pak Men
Selepas berbincang-bincang dengan Pak Men, hari sudah hampir petang, Karto dan Oki
kembali ke rumah masing-masing sedangkan batu ditinggal ditempat Pak Men
Selepas adzan maghrib, dan menunaikan ibadah sholat, Karto bersiap-siap kerumah Oki
Malam ini selasa kliwon, dan Alex belum juga menampakan batang hidungnya, itu artinya Alex juga masih bersiap-siap untuk
pergi ke Aroma Pecco
Malam ini, cuaca sedang berbaik hati dengan warga Batu Lapang, bahkan Kayu Aro
Karto berjalan melewati jalanan setapak menuju kerumah Oki, semua berjalan tenang hingga ia berpapasan dengan tempat yang cukup disakralkan didesa
Sebutla namanya Bak Pemandian Umum
Letaknya tepat dibawah pohon besar, dan kerap digunakan untuk mandi warga atau pun mandi malam untuk para murid padepokan Langgam Jiwo
Bulu kuduk Karto serasa berdiri, malam ini tak seperti biasanya
Namun, Karto tetap mencoba tenang
Hingga ia dikejutkan dengan suara jatuh dari atas pohon
Suaranya serupa dengan jatuhnya buah nangka yang sudah masaka
Merasa terkejut, Karto sempat mengeluarkan kata kasar
"Pant*k" maki Karto karena terkejut
"Isih awan, rak usah ngetok"(masih siang, gak usah menampakan diri) gumam Karto
Ya, hari belum terlihat malam, serasa aneh jika Karto ditsayati dengan hantu sedini itu
Selepas ia berkata seperti itu, tiba-tiba saja, ada sesuatu yang menggelinding menyebrang kejalan
Karto sempat terkejut, dan memang tak penasaran, karena dalam pengelihatannya, bentuknya bulat dan hitam
Apalagi kalau bukan kepala yang iseng melintas dan mengganggu perjalanan Karto
Suara aneh mulai terdengar, jalanan memang terlihat sangat sepi, karena Karto mencari
jalan pintas untuk cepat sampai dirumah Oki, berhubung motornya sedang dibawa bapaknya pergi bekerja
Pencahayaan hanya berasal dari lampu senter yang cukup redup
Samar-samar terlihat sosok putih menggantung diatas pohon
"Kok rame mbanget yo mbengi iki"(kok rame-
-sekali ya malam ini) gumam Karto lagi
Selaras dengan gumaman Karto sosok balutan kain Putih terbang melintas jalan setapak
"Iki baru saya gilo, asu!"(ini baru saya tsayat, asu) maki Karto
Kini Karto ketsayatan, entah apa salahnya dia harus ditsayati oleh dedemit sedini ini
Karto langsung mempercepat langkahnya, ditemani dengan nyanyian jawa yang tak tau berasal dari mana
Karto tetap mempercepat langkahnya, meskipun mendengar senandung jawa yang cukup membuat dia merinding
Karto sadar bahwa dibelakangnya ia masih diikuti oleh sosok yang ia tsayati, 'pocong'
Ia tak berani melihat kebelakang, sekuatnya ia berusaha untuk berjalan sampai dirumah Oki
Sudah cukup lama ia berjalan akhirnya Karto sampai ditempat tujuan
Dengan keringat yang menetes dari keningnya, ia menggedor rumah Oki, syukurlah Oki ada dirumah
"Asu, saya dideni guleng Ki"(asu, saya ditsayati guling Ki) bisik Karto, agar tidak terdengar oleh orang tuanya Oki
"Kok iso?"(kok bisa?) tanya Oki
"Takonanmu, nyeleneh"(pertanyaanmu, aneh) jawab Karto "yo emboh kok iso, jal takon mbek pocong e sisan"(ya gak tau kok bisa, coba tanya ke pocongnya sekalian) lanjut Karto
Seperti biasa, Oki mempersilahkan Karto duduk dan membuatkan kopi untuknya
Oki membicarakan tentang rencana apa yang akan dilsayakan Alex nanti, sekaligus, bersiap-siap untuk pergi ke rumah Pak Men sebelum jam 9
Mendengar suara adzan Karto da Oki bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat, secara sendiri-sendiri
Ketika sholat, tepat pada-
-rakaat terakhir, Karto mendengar bisikan yang entah datangnya dari mana, suaranya mendesis, halus sekali, dekat pula dengan telinga, "rencang, ampil kondur" begitulah kata-katanya
Karto hanya diam, meski terkejut dia hanya diam dan berusaha tetap khusuk melaksanakan sholat
Selepas sholat, dan berdoa, ia bertanya-tanya, siapa tadi, apa artinya?
Karto keluar disusul dengan Oki yang sudah selesai sholat dikamar sebelah
"Mas, saya dibisik i"(mas, saya dibisikin) kata Oki berbisik kepada Karto
"Loh kok podo Ki"(loh kok sama Ki) sahut Karto mengernyitkan
dahinya
"Lah, iso yo bareng, opo jarene?"(lah, bisa ya bareng, apa katanya?) lanjut Karto bertanya
"Emboh mas, rak weroh artine saya, seng saya weroh suorone, enek nyebut 'rencang' artine konco, salok e rak weroh saya, 'ampil kondor' opo opo mau"(entah mas, gak ngerti artinya saya-
-yang saya tau suaranya, ada menyebutkan kata 'rencang' artinya teman, selebihnya gak paham saya, 'ampil kondor' atau apa tadi) terang Oki
"Ampil kondur" ralat Karto
Oki menyetujui ralatan Karto dengan isyarat jari telunjuk menunjuk kearah wajah Karto, tanda meng-iyakan pernyataan
Segera Oki dan Karto beranjak dan menuju kerumah Pak Men, mungkin beliau sudah menunggu
Karto dan Oki menyalakan motornya dan bergegas kerumah Pak Men setelah berpamitan dengan orang tuanya
Singkat cerita tak ada yang terjadi selama perjalanan, kecuali Karto yang masih dibuntuti oleh sosok yang tadi 'pocing'
Sesampainya dirumah Pak Men, benar sekali, Pak Men sudah menunggu mereka berdua, tetapi disana Pak Men tidak sendiri, ada Pak Yok yang berada disebelah Pak Men
Pak Men dan Pak Yok duduk diteras rumahnya menikmati kopi dan sembari menunggu kedatangan Karto dan Oki
"Wih, kok ngganteng koncomu Kar?"(wih, kok ganteng temanmu Kar?) tanya Pak Yok yang tersenyum melihat Karto
"Lah, Oki kok ngganteng pie toh Pak, pacakan koyok welot ngganteng-
-seko endi? Hahaha"(lah, Oki ganteng gimana toh Pak, bentuknya kayak belut ganteng dari mana? Haha) jawab Karto sembari berjalan menuju Pak Yok dan Pak Men dan menyalami mereka berdua
Pak Men terlihat tersenyum geli, mendengar Pak Yok yang mengatakan hal itu
"Uduk Oki, nak Oki saya yo weroh pacakan koyok welot, buktine urong tau saya ndelok dee nggandeng wedokan"(bukan Oki, kalau Oki saya ya tau bentuknya kayak belut, buktinya belum pernah saya lihat dia menggandeng perempuan) ujar Pak Yok masih tersenyum
"Yo teros wae, nyek teros ae"
(Iya terus aja, hina terus aja) potong Oki, yang justru malah ikut gemas
"Haha, iku sing ngetotke koe Kar, gulingan"(haha, itu yang ngikutin kamu Kar, gulingan) kata Pak Yok
Mendengar hal itu, wajah Oki dan Karto mendadak berubah menjadi pucat
"Ah riko Pak, westalah, ojo diomong"
(Ah Pak, sudahlah jangan dibicarakan) sahut Karto mencoba meredam kecemasannya
Karto pun memalingkan pembicaraan ke hal yang baru saja ia alami, termasuk kejadian yang juga dialami Oki
Rupanya, 'Ampil Kondur' artinya adalah 'bawa pulang'
Bahasa jawa kuno atau biasa disebut
Bahasa kromo inggil
Bahasa yang sudah tidak pernah digunakan dikalangan jawa daerah Kayu Aro, lebih tepatnya tidak digunakan oleh kaum muda
Lantas, maksud dari bisikan itu menuju pada satu orang, dan Pak Men menerka bahwa yang dimaksud adalah Alex
Kemungkinan besar Ia akan dibawa
oleh sosok yang berada dialam lain, jika ia melsayakan sesuatu yang salah

Pembicaraan sudah mulai menjurus pada niat Alex yang akan menarik MD di Aroma Pecco
Pak Men justru tidak ingin mencegahnya, melainkan membiarkan Alex tetap melsayakan itu, tetapi tetap harus dipantaub
Bagaimanapun juga, Alex adalah salah satu muridnya yang cukup berpotensi dalam hal mistis
Pak Men juga sudah mendengar bahwa Alex akan ditemani oleh seorang guru padepokan 'sebelah' yang juga masih anak murid dari Pak Men yang sudah cukup tua
Pembicaraan berlangsung cukup lama hingga tak sadar jam sudah menunjukan pulul 11 malam
Karto, Oki, Pak Men dan Pak Yok bergegas menuju ke Aroma Pecco
Selama perjalan semua berjalan lancar, kecuali Karto, lagi lagi Karto, dan ia masih tetap saja diikuti oleh pocong
Entah kenapa
Karto yang menyadari itu, sedikit emosi dan geram
"Anj*ng MINGGAT TOH!" Maki Karto yang membuat Oki hanya heran, ya, walaupun Oki paham akan hal itu
Selaras dengan makian itu, Pocong itu pun menghilang entah kemana
Karto bersyukur akan hal itu, perasaannya sudah lebih tenang
Sesampainya disana, mereka langsung mencati tempat menunggu kehadiran Alex dan yang lain
Suasana sangat mencekam malam itu, terang, dan bulanpun memancarkan sinarnya, menambah kengerian yang ada disana
Beberapa dedemitpun ikut bergabung dengan mereka
walaupun yang menyadari hanya Pak Men dan Pak Yok, tapi tentu saja Pak Men dan Pak Yok tidak membuat Karto dan Oki panik
Mulai dari Kuntilanak, Pocong, Gendruwo, juga pemilik popok yang ada dipohon seberang
Dan masih banyak lagi,
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya Alex dan yang lainnya datang, mereka berempat salah satunya juga mereka kenal, termasuk guru padepokan sebelah
Karto dan Oki terbelalak melihat apa yang ia lihat
Linggar juga berada disana
Karto, Oki dan yang lainnya tidak mengambil tindakan, hanya bergumam dalam hati masing-masing, mereka masih mengamati apa yang akan terjadi nantinya
Semua orang yang datang bersama Alex sudah berada ditengah danau, mereka berdiri disebuah pondok(hampir mirip pentas,sih) dan menyiapkan semuanya, mulai dari minyak-minyakan, pusaka pembantu, sesaji lengkap dengan ayam (ingkung)
Setelah semua keprluan disiapkan, Alex, Linggar dan dua orang lainnya mulai menghadap satu sama lain duduk membuat lingkaran
Sedang Karto dan Oki dan lainnya masih mengamati
"Perasaanku rak kpenak iki Yok"(perasaanku gak enak ini Yok) bisik Pak Men kepada Pak Yok
"Pie?"(gimana) balas Pak Yok berbisik
"saya wedi sing digowo iki malah uduk Alex"(saya tsayat yang dibawa ini bukanlah Alex) ujar Pak Men
"wes deleng wae, ngko nak enek opo-opo, baru awak e dewe mudon"(udah lihat aja, nanti kalau ada apa-apa, baru kita turun) jawab Pak Yok menenang-
-kan Pak Men yang merasa khawatir, tak seperti saat pertama tiba dilokasi
Karto mencuri dengar bisik-bisik antara Pak Yok dan Pak Men, mungkin yang mereka maksud adalah Linggar, tapi, Karto lebih memilih diam dan pura pura tidak mendengar
Bulan semakin terang menyinari danau, cahayanya memantul, dan menyelinap diantara dedaunan pohon-pohon besar
Malam semakin larut, suasana menjadi semakin mencekam, satu persatu dedemit mulai menunjukan dirinya secara gamblang, dan mendekat kearah pondok tempat Alex dan yang lain-
-nya berada
Jelas saja mereka tidak suka tempatnya diganggu oleh manusia serakah, tidak bisa menahan nafsu untuk sekadar membiarkan apa yang sudah tertanam oleh alam
Suara cekikian yang entah berasal dari mana membuat Oki sedikit tsayat
Suara gemuruh dan kilat yang terkadang me-
-nyambar, meskipun jelas jelas tidak ada hujan, bahlan awan mendung pun tak ada terlihat
Air didanau yang semula tenang, kini seolah terombang-ambing serupa air dalam ember yang sengaja diguncangkan
Suasana yang semula hanya mencekam, kini berubah menjadi sangat mencekam
Oki berpegangan ditangan Karto, dan Karto membiarkan hal itu, dia paham bahwa Oki sedang ketsayatan
Kini, angin yang mulai berhembus kencang dan menerbangkan daundaun yang jatuh kedasar tanah
Aroma kemenyam tercium kuat,
Satu persatu pusak dan mustika perlahan keluar
Semua pasang mata menyaksikan itu, air didanau membentuk pusaran, dan mulailah pusaka atau ajimat, dan mustika keluar dari pusaran itu
Yang pertama keluar adalah popok wewe, kedua keris (entah apa namanya saya lupa), ketiga keris semar mesem, dan yang keempat adalah yang paling
utama yaitu MD atau merah delima
Pusaka dan mustis itu berjajar lurus keatas dan mendekat kearah pondok tempat Alex dan yang lainnya berada
Pak Yok dan Pak Men yang menyadari hal itu, mulai merapal beberapa bacaan yang Karto sendiri belum pernah mendengarnya
Tetapi, pusaka dan mustika itu seolah sedang melawan untuk mendekat kearah pondok
Karto dan Oki yang mengamati sembari menahan ngeri, melihat keempat orang yang berada dipondok itu berdiri dan menghadap kearah keempat pusaka dan mustika itu
Hampir dekat dengan pondok
Tiba-tiba saja, entah karna apa, semua pusaka dan mustika itu menghilang lenyap dari pandangan mereka, termasuk pula Karto dan Oki
Sedang Pak Yok dan Pak Men masih duduk bersila dan menutup matanya
"saya weroh Yok"(saya tau yok) kata Pak Men berbisik
"Yo saya juga, ngko wae cerito nang ngomah"(ya saya juga, nanti aja cerita dirumah) balas Pak Yok

Selang beberapa saat, terdengar suara hentakan yang entah berasal dari mana, suaranya seperti tanah yang dihantam oleh benda besar
Selaras dengan suara itu, air danau yang semula membentuk pusaran menjadi tenang beberapa saat hingga akhirnya meletup keatas keatas, seperti ada bom yang meledak didalm air
Cahaya bulan yang menerangi Aroma Pecco saat itu, menambah jelas apa yang terjadi pada air danauw
Air itu berubah menjadi warna merah menyala, terang sekali, berkilau, lantas seketika itu terdengar suara laki-laki yang sedang tertawa terbahak-bahak serupa sedang menonton komedi
Suara itu terdengar pula oleh Karto dan yang lainnya, Oki lagi-lagi kembali mencengkram tangan Karto pertanda tsayat dan terkejut
"Ah Anj*ng" maki Alex yang suaranya terdengar, bahkan suaranya bergema
"Sopo mau sing rak fokus, malah mileh sing laine"(siapa tadi yang gak fokus
malah memilih yang lain) kata salah satu yang berada dipondok, wajahnya samar-samar tak terlihat
Tak ada jawaban dari percakapan itu, terlihat dari jauh semua wajah memasang raut wajah yang kesal, kecuali Linggar
Hening sesaat, hingga akhirnya mereka pergi meninggalkan pondok dan merapikan semua perlengkapan
Setelah semua pergi dari pondok dan lampu motor mulai menjauh dari Aroma Pecco, Karto dan yang lainnya mendekati pondok dan memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal
"Kok aneh mau yo Pak?"(kok aneh tadi ya Pak?) tanya Karto
"Yo ora aneh, pusoko neng kene iki bedo mbek sing nggon lio, nak sing njokok wong serakah koyo ngono mana iso, nak arep pengen MD yo MD wae ojo mikir liane, lah pengen MD kabeh arep di pek, yo ra iso"(ya gak aneh,
pusaka disini ini berbeda dengan yang ada ditempat lain, kalau mau MD ya MD aja, jangan mikir yang lain, lah pengin MD semua mau diambil, ya mana bisa) tutur Pak Yok menjawab pertanyaan Karto
Hingga pada akhirnya mereka pu pergi kembali kerumah masing-masing
Selepas itu semua berjalan lancar tak ada yang terjadi,
Hingga keesokan harinya kabar tidak menyenangkan terdengar oleh Karto dan Oki mengenai Alex dan Linggar
(Sorry tadi lagi cari makan, lapar, gak berani keluar malam minggu)
Next
Menjelang Sholat Isya, Oki dan Karto pergi kerumah Alex
Sesampainya disana sudah berkerumun para tetangga
"Ono opo iki Pak? Kok rame?" (ada apa ini pak? Kok rame?) tanya Karto dengan salah satu warga
"Emboh iki Kar, urung weruh, jare ketempelan demit"(gak tau ini Kar, belum tahu, katanya ketempelan setan) jawab salah satu warga tadi
Karto dan Oki langsung menerobos kedalam,
Mata mereka mendapati tubuh Alex terbujur ksaya dengan mata melotot tanpa bergerak
"Pie buk kok iso kedaden koyok ngene meneh?"(gimana ini buk kok bisa kejadian kayak gini lagi?) tanya Karto kepada Ibunya Alex, sesudah mengucap salam dan menyalami orang tua Alex
"Emboh loh Kar, bocah gor kakean pola tenan, Pak Men karo Pak Yok isih nang dalan arep mrene"
(Gak tau loh Kar, anak banyak ulah sekali, Pak Men dan Pak Yok masih dijalan menuju kesini) jawab Ibunya Alex yang memasang raut wajah dongkol bercampur sedih
Bacaan surat yasin sudah selesai dikumandangkan, para warga yang turut hadir akhirnya pulang kerumah masing-masing
setelah diperintahkan oleh Pak Yok
Kini dirumah itu hanya tinggal Alex dan keluarga, Pak Yok Pak Men Karto dan juga Oki
Semua saling beradu pandang ketika Pak Yok berkata yang sebenarnya
"Anakmu isih di gowo mbek demit, iso mbalek, koe tenang wae, iki kejadiane podo karo Linggar
mung Linggar isih penak obatane, nek Alex iki yo memang digowo,"(anakmu masih dibawa sama setan, bisa pulang, tenang saja kamu, ini kejadiannya sama seperti Linggar, cuma Linggar masih mudah diobati, kalau Alex ini ya memang dibawa) terang Pak Yok
"Bener berarti sing wingi Pak"
(Benar berarti yang kemari Pak) sahut Karto
"Iyo Kar, demit kae memang wes weroh karo niatane bocah iki, alhamdulillah e, uduk Linggar sing digowo, nek iyo, kasian jek cilik dadi emplokan demit"(iya Kar, setan itu memang sudah tahu dengan niatnya anak ini, alhamdulillah, bukan
Linggar yang dibawa, kalau iya, kasian masih kecil jadi makanan setan) jawab Pak Yok
"Terus iki pie Pak?"(terus bagaimana ini Pak?) tanya Karto lagi
"Yo arep pie, ora enek sing iso dilakokno kecuali ikhtiar, tapi insha Alloh, Alex rak bakal sui nang kono, deknen pasti mbalek"
(Ya mau bagaimana lagi, belum ada yang bisa dilsayakan kecuali ikhtiar, tapi insha Alloh, Alex gak bakal lama disana, dia pasti kembali) tutur Pak Yok menenangkan situasi yang bersedih
Pak Yok menceritakan semuanya apa yang telah terjadi pada Alex
Kata Pak Yok, mungkin itu adalah sebuah ganjaran baginya karena terlalu serakah, dan nafsu akan hal yang serupa
Pak Yok dan Pak Men berpamitan setelah mencoba menjelaskan apa yang sudah terjadi
Sehari berlalu, Linggar sudah bisa beraktivitas seperti biasa, namun, dia sekarang menjadi pribadi yang berbeda dan tidak lagi bergabung dengan Karto dan kawan-kawan lainnya
Ia lebih memilih untuk menjaga jarak dengan Karto, dkk, itupun juga sesuai yang diminta oleh orang tuany
Karto, dkk. mencoba untuk memahami akan hal itu, orang tuanya tentu tidak mau anaknya bisa saja nanti menjadi korban serupa Alex, ditambah Linggar sudah lama diwanti-wanti oleh Ibunya untuk tidak mengikuti dunia padepokan seperti itu, dengan alasan adat yang jelas sudah berbeda
dan juga alasan menyangkut masalah akidah dan agama
Malam itu, tepat malam Jumat, para warga sudah selesai membaca yasin dirumah Alex, tak tertinggal pula Karto dan Oki, sama seperti warga yang baik, yasinan hanya untuk membantu mendoakan agar Alex lekas sembuh
Setelah semua warga keluar dan kembali kerumah masing-masing, mata Alex yang semula bisa terutup layaknya orang tidur, kini kembali melotot seolah marah
Selaras dengan itu matanya mengeluarkan air mata
Melihat hal itu, tangisan Ibunya Alex menjadi semakin kencang
Pak Yok mengambil tindakan, dan mencoba untuk menerawang "rogo sukmo" (begtulah katany)
cukup lama Pak Yok terdiam dan bersila, dibantu pula dengan Pak Men, ada sekitar 15 menit suasana rumah menjadi hening dan mengerikan
Tawa menggelegar terdengar, suaranya sama seperti suara -
tawa saat berada di Aroma Pecco dua hari yang lau
Tak hanya itu, pintu belakang rumah Alex seah digedor kencang, hingga membuat orang tua Alex menjadi ketsayatan
Angin kencang menyeruak masuk kedalam rumah, selaras dengan kembalinya Pak Men dan Pak Yok dari merogo sukmo
"Alex iso mbalek tapi ono sarate"(alex bisa pulang tapi ada syaratnya) ujar Pak Yok
"Opo sarate Pak?"(apa syaratnya Pak) kata Ibunya Alex
"Alex kudu dimandeni banyu 7 sumur, sumur ke7 iku yo banyu pecco iku dewe, karo de e kudu dimandeni neng tengah-tengah Pecco"(Alex harus
dimandikan air 7 sumur, sumur ke7 itu ya air pecco itu sendiri, dan dia harus dimandikan ditengah-tengah Pecco) tutur Pak Yok dengan wajah serius
"Enek meneh Pak?"(ada lagi Pak?) tanya Ibunya Alex lagi
"Ono,"(ada) jawab Pak Yok seolah menahan perkataannya
"7 ndas ayam ireng, awak e di gawe ingkong, sebarno karo warga go gawe sukuran, geteh e di deleh nang 7 sumur sing dijikok iku mau, siap gawe sukuran, balungan ayam dipendem karo debok pisang sing wis diisi karo balungane ayam mau"(7 kepala ayam hitam, tubuhnya di buat Ingkung
sebar ke para tetangga atau buat sukuran, darahnya ditaruh di 7 sumur yang diambil itu, selesai sukuran, tulang ayam itu ditanam dengan batang pisang yang sudah diisi oleh tulang itu tadi) Lanjut Pak Yok
Sepertinya itu hal yang mudah bukan?
----------------
Chapter 4 - Penjagal Mustika
----------------
(Pada Chapter ini, akan saya jelaskan sesuai apa yang telah disampaikan oleh narasumber, dan akan menjadi chapter akhir dari thread ini, semoga malam besok bisa diselesaikan,)

Bertemu lagi besok malam😘
(Maaf menunggu lama, dan gak tepat waktu, saya Ujian kemarin😁🙏)
Mari kita lanjutkan
Hari berlalu, Alex masih dalam kondisi yang sangat memprihatinkan,
Syukuran belum dilaksanakan, Pak Yok dan Pak Men masih mencari bberapa perlengkapa untuk syukuran tersebut,
Sedangkan keluarga Alex sibuk mencari ayam cemani, karena pada dasarnya ayam hitam ini
sangat sulit didapatkan didaerag Kayu Aro
Ditambah dengan 7 ekor ayam, keluarga sempat kebingungan mencari kemana jenis ayam seperti itu
Hingga pada akhirnya Pak Yok memberi tahu bahwa anaknya yang berada di Kota Padang akan kembali, dan Pak Yok meminta tolong untuk membawakan
ayam cemani,
bukan pula perkara mudah untuk mencari ayam jenis itu
Entahlah! Demi kembalinya Alex, keluarga pasti akan berusaha semaksimal mungkin
Hingga sudah lebih dari beberapa malam, Alex masih dalam keadaan sama,
Sampai saat dimana acara syukuran dimulai
Malam itu tepat dibulan purnama, dan sekitar jam setengah 12, keluarga membawa Alex ketempat pemandian, Aroma Pecco
Sesampainya disana hal yang tak terduga pun terjadi
Ada syarat yang sepertinya lupa atau entah bagaimana tidak disampakan oleh Pak Yok saat malam itu
Ternyata hal dilupakan adalah
"Kabeh sing ndue penggawean nang lemah iki pas kae, kudu melu mandi,"(semua yang ikut dalam kegiatan kemarin, harus iku mandi) kata Pak Yok
"Njok pie terose"(terus bagaimana?) tanya Karto yang juga ikut dalam memandikan itu
"Yo disusol"(ya dijemput)
kata Pak Yok
Akhirnya dengan malas, Karto menjemput Linggar dan dua orang lainnya untuk ikut dalam acara pembersihan malam ini
Sedangkan yang lain menunggu dan mempersiapkan semuanya
Sesampainya Karto dirumah Linggar, hal yang sudah dipikirkan selama perjalanan terjadi
Ia disambut oleh makhluk hitam besar yang serupa dengan hari
Karto mengabaikannya, yang jadi pernasalahannya lagi adalah saat bertemu dengan orang tua Linggar
"Maaf buk, malam-malam mode ko mangganggu," (maaf buk, malam-malam begini mengganggu) kata Karto saat pintu rumah Linggar dibuka, dan disambut dengan wajah kusamnya Ibu Linggar
"Baa?"(bagaimana?) tanya Ibu Linggar ketus
"Giko buk, awak dapek amanat dari Pak Yok
untuak manjampuik Linggar, karano si Alex harus dimandikan, jadi..."(begini buk, saya dapat amanat dari Pak Yok untuk menjemput Linggar, karena Alex harus dimandikan, jadi...) terang Karto terpotong
"Ndak ang caliak hari lah malam ko?"(tak kau lihat hari sudah malam ini?) kata
Ibu Linggar dengan nada membentak
"Iyo wak tau buk, tapi masalahnyo, kok Linggar ndak ikuik, Alex ndak bisa dimandikan do buk, karano Linggar ikuik juo wakatu Alex pai narik barang,"(iya saya tau buk, tapi masalahnya, kalau Linggar nggak ikut, Alex gak bisa dimandikan buk,
karena Linggar ikut andil waktu Alex pergi narik barang) terang Karto sabar
"Ndeh! Ha yo tunggulah santa!"(ndeh! Ya sudah tunggu lah sebentar) sahut Ibu Linggar menahan emosi
Walaupun Linggar tidak salah, Linggar tetap ikut andil didalamnya
Selang beberapa saat, Linggar keluar dengan pakaian yang sudah lengkap, seolah sudah mendengar pembicaraan tadi
"Pai wak lai"(pergi kita lagi?) ajak Linggar
"Ang pai-pai se, jampuik yang duo lai, lai tau ang rumahnyo kan?"(kamu pergi-pergi saja, jemput yang dua lagi,
kamu tau kan rumahnya?) tanya Karto
Linggar hanya mengangguk seolah paham,
"Langsuang se ka pecco, den lah telpon apak-apak tu, tu ceknyo iyo nyo sadang dijalan kini ma"(langsung saja ke pecco, saya sudah telepon bapak-bapak itu, terus katanya iya mereka sedang dijalan)
kata Linggar
"Lai sabana ko? Main-main den pacahan kaniang ang beko"(bener nih? Main-main saya percahin keningmu nanti) sahut Karto meyakinkan Linggar
"Iyo da, kami lah tau mah, apak-apak tu ngecek patang"(iya bang, kami sudah tau, bapak-bapak itu bilang kemarin) terang Linggar
Sesampainya kembali ke aroma Pecco, benar, dua orang lainnya sudah sampai disana
Proses memandikan Alex akan segera dimulai
Linggar dan dua lainnya bersedia untuk memandikan Alex,
Alex dipapah menuju kearah pondok ditengah danau, dan Linggar membawa air yang sudah diambil dari
7 sumur tempo hari, sedangkan yang lain menunggu diatas termasuk pula Pak Yok dan Karto
Air sudah diguyurkan kebadan Alex, (fyi: Linggar dan dua lainnya hanya menggunakan air danau saja)
Mulai dari kepala hingga kaki, cuaca yang begitu dingin tentu membuat
Linggar dan yang lainnya merasa menggigil ditambah harus ikut mandi dengan air danau yang hampir mendekati seperti es
Pada saat proses pemandian Alex
Hal-hal biasa yang sering terjadi pada tempat seram terjadi
Penghuni Aroma Pecco mulai berdatangan, mulai suara-suara
aneh, nyanyian kidung jawa, hingga tangis derita seorang perempuan yang biasa kita sebut kuntilanak

Namun yang mendengar dan melihat hal itu hanya mereka yang bisa mendengar dan melihat, sedangkan Ibunya Alex, dan Bapaknya tidak dapat mendengar dan melihat hal itu
Semua berkumpul membentuk lingkaran ditengah-tengah danau, air danau sudah mulai bergelombang, membentuk pusaran angin
Pemandangan yang pernah terlihat oleh Karto dan Pak Yok pun kembali terjadi, pusaka dan mustika keluar dari dalam danau, hal itu hanya menandakan bahwa
Penunggu tertinggi disana sudah mengembalikan sukma Alex
MD yang diincar oleh Alex dan yang lain bersinar terang, walau orang tua Alex tak bisa melihatnya
Tapi mustika itu terlihat sangat indah sekali
Mustika dan pusaka lainnya kembali menghilang dan air pun ikut menjadi tenang
Acara pemandian telah selesai
Alex belum juga sadarkan diri, Linggar dan dua lainnya memapah Alex keatas, dan kembali memakaikan pakaian untuk Alex
"Saiki Alex wes dimandeni yo,"(sekarang Alex sudah dimandikan ya) kata Pak Yok
"saya mung njalok karo sampean-sampean mas,"
(saya hanya minta sama kalian mas) lanjut Pak Yok memandang 2 orang yang ikut dalam kegiatan narik pusoko
"Ojo pisan diulangi, opo meneh nggowo ca sing elmune sak upel, iki nyowo taruhane, saya weroh sampean mbien anak buah e Pak Men, tapi ojo libatno anak buah e Men, mbahayani"
(Jangan diulangi lagi, apa lagi bawa anak yang ilmunya seupil, ini nyawa taruhannya, saya tau kalian dulu anak buahnya Pak Men, tapi jang libatkan anak buahnya Men) terang Pak Yok menasehati dua orang tersebut
Akhirnya Alex dan keluarga juga yang lainnya pulang kerumah
Sesampainya dirumah Alex belum juga sadarkan diri
"Wes tenang wae, sesok tangi bocah e, ijek enek syarat sing urung dipenuhi"(udah tenang aja, besok bangun anknya, masih ada syarat yang belum dipenuhi) terang Pak Yok menenangkan orang tua Alex
Keesokan harinya acara syukuran dilaksanakan, semua syarat yang diberikan kepada keluarga dipenuhi dengan baik
Syukuran sudah dilaksanakan dan tulang-tulang pun sudah dikumpulkan dan sudah dimasukan kedalam batang pisang
Pada proses ini Karto dan Pak Yok yang mengambil alih
Tepat jam 12 malam harinya
Karto dan Pak Yok membungkus batang pisang yang sudah diisi tulang ayam cemani tadi dengan menggunakan kain mori (kafan)
Karto dan Pak Yok mulai menggali, hingga terasa cukup dalam Karto dan Pak Yok siap untuk mengubur batang pisang itu
Saat mulai mengubur, terdengar suara jeritan dari dalam, dan itu suara Alex menjerit
"Wes rapopo, karma kui, jarke wae, delok ngkas mari, tangi, tangi iku"(udah gapapa, karma itu, biarkan saja sebentar lagi sembuh, bangun, bangun itu) terang Pak Yok dengan raut wajah santai
Karto masih mendengarkan jeritan Alex dari dalam, jeritan itu seolah sedang menggambarkan Alex sedang disiksa atau entahlah, seolah sedang dalam kesakitan yang luar biasa
Tidak ada yang berani memanggil Pak Yok, karena memang sebelumnya sudah diberikan perintah untuk tidak
mengganggu dalam proses penguburan
Batang pisang yang hampir mirip dengan pocongan itu membuat Karto sedikit ngeri melihatnya
Satu tumpuk tanah mulai menimbun tubuh pisang tersebut
Ditemani dengan jeritan Alex dan cekikikan perempuan yang entah datang dari mana
Hingga semua tubuh tertutup rapat dengan tanah
Pak Yok memberikan tanda serupa nisan tapi bukan nisan, hanya untuk tanda saja, tak lebih dari itu
Selepas itu Karto dan Pak Yok membersihkan dirinya dan kembali masuk kedalam rumah
Saat itu pula Alex terbangun dengan wajah yang menyesal, tangis dari matanya menggambarkan bahwa mungkin saja dia kapok dengan apa yang terjadi
"Ojo diulangi meneh yo Lex, cukop peng pindo iki koe gawe geger mamak bapakmu"(jangan diulangi lagi ya Lex, cukup dua kali saja
kamu membuat gempar mamak bapakmu) kata Pak Yok dengan nada lembut
"Nggeh Pak, ngapurone wes gawe salah"(iya Pak, maaf sudah buat salah) jawab Alex dengan tangis yang masih terisak
Satu persatu pun pulang kembali kerumah masing-masing dan sejak saat itulah Alex menjadi
Pribadi yang pendiam, berubah total
Tidak pernah ada yang tau bagaiman Tuhan memberi hidayah pada hambanya bukan?
Bukan bermaksud untuk menggurui
Kadang Tuhan punya rencana sendiri untuk membuat manusia itu berubah, baik itu selamanya atau hanya sementara, semua kembali pada diri masing-masing
Dari prilsaya Alex tentu kita semua tahu, jangan jadi orang yang tamak dan yang lainnya
-Tamat-

Sumber  : https://twitter.com/koreyan666/status/1212774461566382080

0 komentar:

Note: Only a member of this blog may post a comment.